“Laki-laki kok nganggur di rumah! Makan di belakang saja. Jangan duduk semeja sama tamu.” Selama tiga tahun, Arkana Pramudya—Arkan—dianggap pengangguran dan beban oleh keluarga istrinya, Laras Wijaya. Pada hari jadi pernikahan mereka, Laras menjatuhkan talak karena malu memiliki suami yang dianggap miskin. Ia tak tahu Arkan adalah pewaris tunggal Grup Pramudya sekaligus pemegang saham pengendali PT Nusa Karya, tempatnya bekerja. Setelah perceraian resmi, Arkan mengambil tanggung jawab sebagai CEO. Namun, kebangkitan Arkan bukan sekadar pamer kekayaan: pelanggaran anggaran harus dibuktikan, konflik warisan mengancam perusahaan, dan Reno—orang yang memanfaatkan ambisi Laras—kembali membawa fitnah. Saat penyesalan datang terlambat dan Laras meminta kesempatan kedua, Arkan harus memilih hidup yang dibangun atas rasa hormat, bukan rasa bersalah. Bersama Nadine Prasetya, teman lama sekaligus CEO yang setara dengannya, Arkan belajar bahwa memaafkan tak berarti harus kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BayouDarda Novelis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 - Hampir Mengaku (1)
Piring berisi sayur lodeh dari Bu Yuni masih berada di atas meja ketika aku membaca pesan yang masuk ke ponselku.
Pak, dokumen rapat direksi sudah saya siapkan. Mohon konfirmasi waktu untuk pembahasan besok.
Pesan Pak Surya kusimpan dulu. Di ruang tengah, suara televisi bercampur dengan bunyi sendok. Ibu Retno sedang menelepon seseorang, sementara Laras duduk di seberangku sambil memeriksa ponselnya.
"Katanya Bu Yuni datang lagi?" Laras bertanya tanpa mengangkat kepala.
"Iya. Tadi sore."
"Ngapain?"
"Mengantar makanan."
Laras meletakkan ponselnya. "Kamu cerita apa sama dia?"
Aku menatapnya. "Tentang apa?"
"Tentang rumah tangga kita."
Pertanyaan itu terdengar seperti pemeriksaan. Aku menggeser mangkuk sedikit menjauh dari tepi meja.
"Nggak ada yang kuceritakan."
"Tapi Ibu bilang Bu Yuni sempat bertanya soal aku."
"Dia cuma tanya aku sudah makan atau belum."
Laras mengembuskan napas. "Orang bisa bertanya macam-macam dengan cara yang kelihatannya sederhana, Kan."
Aku tak menjawab. Bu Yuni hanya datang membawa makanan, lalu bertanya apakah aku sudah makan. Ia tidak meminta penjelasan tentang pernikahanku. Tidak pula memandangku seperti seseorang yang harus membuktikan kegunaannya di rumah sendiri.
"Bu Yuni nggak menanyakan hal lain," kataku.
"Semoga saja."
Laras kembali menatap ponselnya. Percakapan selesai sebelum aku sempat mengatakan apa pun tentang kabar yang dibawanya dari lingkungan sekitar.
"Ibu dengar Bu Yuni datang."
Ibu Retno muncul di pintu ruang makan sambil membawa segelas teh. Beliau duduk di kursi yang biasa dipakainya, lalu melirik wadah makanan di atas meja.
"Dia banyak tanya?"
"Nggak, Bu."
"Orang yang terlalu suka mengurusi rumah tangga orang lain biasanya punya masalah sendiri."
Aku tidak menanggapi.
"Sayur itu juga. Kita ini bukan orang yang kekurangan sampai harus menerima pemberian tetangga."
"Bu Yuni memberikannya dengan niat baik."
"Ya, Ibu tahu. Tapi orang bisa kasihan karena melihat keadaan kita."
Aku mengangkat wajah. "Keadaan kita?"
Ibu Retno menyesap tehnya. "Keadaan rumah ini. Laras kerja dari pagi sampai malam. Kamu lebih banyak di rumah. Tetangga tentu memperhatikan."
Laras keluar dari kamar sambil membawa tas kerjanya. Ia mendengar ucapan terakhir ibunya, tetapi tidak ikut bicara.
"Ibu cuma nggak mau orang merendahkan keluarga kita," lanjut Ibu Retno. "Besok Laras ada rapat penting. Jangan ganggu dia dengan urusan yang nggak perlu."
"Iya, Bu."
Aku memilih mengakhiri percakapan. Diam selama ini memang lebih mudah daripada menjelaskan sesuatu kepada orang yang sudah memutuskan apa yang ingin dipercayainya.
Laras berhenti di dekat meja.
"Kan, besok jangan pakai mobil yang biasa kupakai. Aku perlu berangkat lebih pagi."
"Aku memang nggak akan memakainya."
"Bagus."
Ia membawa tasnya ke kamar. Ibu Retno menyusul, masih mengingatkan Laras agar sarapan sebelum berangkat.
Aku tinggal sendirian di meja makan. Ponselku bergetar lagi.
Nama Pak Surya muncul di layar.
Aku segera berdiri dan membawa ponsel ke ruang kerja kecil di belakang rumah. Setelah menutup pintu, aku menjawab panggilan itu.
"Selamat malam, Pak."
"Selamat malam, Pak Arkan. Maaf mengganggu waktu istirahat Anda."
"Ada masalah?"
"Belum bisa disebut masalah. Namun, ada keputusan yang tidak bisa kita tunda lagi."
Aku menarik kursi dan duduk.
"Keputusan yang mana?"
"Agenda rapat direksi besok. Ada dua hal yang harus dibahas sebelum batas waktu persetujuan berakhir. Yang pertama menyangkut evaluasi proyek distribusi. Yang kedua berkaitan dengan perubahan struktur pengawasan di PT Nusa Karya."
Aku membuka laptop. Berkas perusahaan sudah tersimpan di folder yang biasa kugunakan.
"Kenapa harus besok?"
"Laporan terbaru sudah diterima seluruh anggota direksi. Jika pembahasan ditunda lagi, beberapa keputusan operasional akan ikut tertahan."
Aku membuka daftar agenda. Sejumlah nama tercantum di sana, termasuk Hendra, pamanku, yang belakangan semakin sering mengajukan perubahan kebijakan.
"Pak Hendra meminta perubahan pengawasan?"
"Beliau mengajukan usulan. Belum disetujui. Sesuai tata kelola, usulan itu tetap harus dibahas dan dicatat dalam rapat."
Aku membuka lampiran berikutnya. Ada jalur persetujuan, nama penanggung jawab, serta batas waktu untuk setiap keputusan.
Tidak ada jalan pintas yang bisa kugunakan hanya karena sebagian besar saham berada di bawah kendaliku. Ada prosedur, ada anggota direksi lain, dan ada tanggung jawab yang harus dipenuhi sebelum keputusan berlaku.
"Siapkan semua berkas pendukung," kataku. "Saya ingin melihat dasar usulannya, termasuk catatan keberatan kalau ada."
"Sudah saya siapkan, Pak."
"Besok pagi saya baca semuanya."
"Baik. Ada satu hal lagi."
Aku menunggu.
"Apakah Anda akan hadir langsung dalam rapat berikutnya?"
Aku menutup berkas yang baru saja kubuka.
Selama ini, aku lebih banyak mengawasi dari belakang. Pak Surya membantu memastikan keputusan berjalan melalui jalur yang benar, sementara kehadiranku tidak selalu diperlukan dalam setiap pertemuan. Cara itu memberiku ruang untuk memisahkan urusan perusahaan dari kehidupan di rumah.
Namun, keadaan mulai berubah.
"Saya akan lihat jadwalnya," jawabku.
"Maaf, Pak. Untuk beberapa keputusan, kehadiran dan pengesahan Anda memang diperlukan."
Aku tahu itu. Semakin lama aku membiarkan semuanya berjalan tanpa keterlibatan langsung, semakin besar ruang yang bisa dimanfaatkan orang lain.
"Baik. Kirim jadwal lengkapnya malam ini."
"Siap, Pak."
Sebelum panggilan berakhir, Pak Surya kembali bicara.
"Pak Arkan, saya juga ingin mengingatkan bahwa kerahasiaan identitas Anda semakin sulit dipertahankan jika persoalan pengawasan terus berkembang."
Aku menyandarkan punggung ke kursi.
"Belum saatnya."
"Saya mengerti. Tetapi saya perlu memastikan keputusan itu memang masih yang terbaik."
Pak Surya sudah cukup lama bekerja bersama keluargaku untuk memahami alasan di balik sikapku. Ia juga tahu bahwa menjaga identitas bukan sekadar menyembunyikan jabatan dari orang-orang di rumah. Ada konsekuensi terhadap perusahaan dan orang-orang yang menjalankan pekerjaan mereka.
"Untuk sekarang, jalankan prosedur seperti biasa," kataku. "Jangan ada yang diubah hanya karena saya meminta sesuatu."
"Baik, Pak."
Panggilan berakhir.
Aku menatap layar laptop. Namaku tercantum di beberapa halaman, lengkap dengan jabatan dan kewenangan yang tidak pernah kubicarakan secara terbuka di rumah.
Arkana Pramudya.
Bukan sekadar nama di atas dokumen.
Namun, setiap kali membayangkan mengatakannya kepada Laras, aku teringat wajahnya ketika menyerahkan surat cerai. Tidak ada ruang untuk penjelasan malam itu. Ia sudah memutuskan bahwa aku tidak memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan.
Aku tidak ingin menjadikan identitasku alat untuk memaksanya bertahan. Kalau ia tetap ingin pergi setelah mengetahui siapa aku sebenarnya, keputusan itu harus menjadi miliknya sendiri.
Aku menutup laptop, mengambil ponsel, lalu keluar dari ruang kerja.
Laras sedang duduk di tepi tempat tidur ketika aku masuk. Rambutnya masih sedikit basah. Map berisi dokumen perceraian terletak di atas meja kecil di sampingnya.
Aku berhenti dekat lemari.
"Kamu belum tidur?"
"Ada yang harus kuselesaikan."
Mataku jatuh pada map itu.
"Dokumen itu lagi?"
Laras menarik map tersebut mendekat. "Aku ingin memastikan semuanya siap."
"Masih ada waktu."
"Sepuluh hari, Kan. Bukan sepuluh bulan."
Aku tidak membantah. Sepuluh hari itu memang permintaanku, tetapi aku tidak bermaksud menahannya tanpa batas.
"Aku tahu."
"Kalau tahu, jangan terus membuat semuanya sulit."
Aku duduk di kursi dekat jendela. Ada banyak hal yang ingin kukatakan. Aku memilih memulai dari sesuatu yang paling sederhana.
"Aku ingin kita bicara sebentar."
"Kita sudah bicara."
"Belum tentang semuanya."
Laras mengangkat wajah. "Maksudmu?"
"Selama ini kamu mengenalku sebagai orang yang bekerja dari rumah. Kamu melihat aku mengurus beberapa hal sendiri, lalu menganggap pekerjaanku nggak punya masa depan. Aku nggak pernah meminta kamu memahami semuanya tanpa penjelasan."
"Karena memang nggak ada yang bisa dijelaskan, Arkan."
"Ada."
Ia tertawa singkat, tanpa kegembiraan.
"Kamu mau menjelaskan apa? Bahwa sebenarnya kamu sedang membangun perusahaan besar dari kamar ini? Bahwa suatu hari nanti kamu akan kaya dan semua orang akan menyesal sudah meremehkanmu?"
Aku menatapnya.
"Bukan itu yang ingin kukatakan."
"Lalu apa?"
Aku hampir menyebut nama Grup Pramudya. Hampir mengatakan bahwa beberapa keputusan penting perusahaan menunggu persetujuanku, bahwa orang-orang dalam dokumen itu bekerja di bawah sistem yang dibangun keluargaku selama bertahun-tahun.
Aku bahkan hampir membuka laptop untuk memperlihatkan semuanya.
Namun, sebelum aku bergerak, Laras berdiri.
"Kalau kamu mau membahas perceraian, katakan saja. Jangan mencari alasan baru supaya aku merasa bersalah."
"Aku nggak sedang mencari alasan."
"Terus apa? Kamu mau bilang selama ini kamu sengaja diam karena ingin menguji aku?"
Aku menggeleng.
"Aku nggak pernah mengujimu."
"Tapi kamu membiarkanku menjalani semuanya sendiri."
Kalimat itu mengenai bagian yang selama ini kuhindari. Bukan karena semua tuduhannya benar, melainkan karena ada bagian yang memang tidak bisa kubantah.
Aku terlalu lama membiarkan Laras menebak-nebak hidupku. Aku mengira selama kebutuhan rumah terpenuhi dan aku selalu ada ketika ia pulang, semuanya akan baik-baik saja.
Aku lupa bahwa diam juga bisa menciptakan jarak.
"Aku memang punya kesalahan," kataku. "Tapi bukan berarti semua yang kamu pikirkan tentang aku benar."
Laras memalingkan wajah.
"Aku capek, Arkan."
"Aku tahu."
"Nggak. Kamu nggak tahu." Ia memeluk map di depan dada. "Kamu nggak tahu rasanya berada di kantor, mendengar orang bercerita tentang suami mereka, lalu harus menjawab ketika seseorang bertanya pekerjaan suamiku. Kamu nggak tahu rasanya melihat teman-temanku naik tingkat, membeli rumah, merencanakan masa depan, sementara aku pulang dan masih harus menjelaskan kenapa suamiku tidak pernah berubah."
Aku membiarkannya menyelesaikan kalimat.
Ada masa ketika aku ingin menceritakan setiap keputusan yang kubuat untuknya. Aku ingin menjelaskan berapa kali aku menolak perjalanan bisnis karena ia sakit, berapa banyak urusan perusahaan yang kuselesaikan setelah ia tidur, dan berapa kali aku menunda kepentinganku sendiri demi rumah ini.
Namun, daftar pengorbanan bukan jawaban atas semua yang ia rasakan.
"Aku nggak pernah melarangmu berkembang," kataku.
"Dan aku nggak pernah meminta kamu melarangku."
"Lalu apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?"
Laras menatapku lama.
"Suami yang bisa kubanggakan."
Jawaban itu sama seperti malam ketika surat cerai berpindah dari tangannya ke tanganku.
Aku memandang map yang ia genggam. Tidak ada gunanya mengulang perdebatan yang sama dengan kalimat berbeda.
"Ada hal tentang pekerjaanku yang belum pernah kuceritakan," ujarku akhirnya.
Laras mengembuskan napas panjang.
"Arkan, cukup."
"Aku cuma ingin kamu mendengar dulu."
"Aku sudah terlalu sering mendengar janji."
"Ini bukan janji."
"Kalau begitu, apa?"
Aku hendak menjawab, tetapi ia lebih dahulu meletakkan map di meja.
"Aku nggak mau menjalani malam ini dengan mendengarkan kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi. Kamu punya sepuluh hari. Gunakan untuk memikirkan keputusanmu sendiri, bukan untuk meyakinkanku bahwa suatu hari nanti semuanya akan berbeda."
Ia mengambil bantal dari kursi, lalu membawanya ke sisi tempat tidur.
"Aku mau tidur."
Aku tetap duduk. Ada sesuatu yang ingin kukatakan sebelum ia memunggungiku, sesuatu yang mungkin bisa mengubah cara ia memandang semua ini. Tetapi melihat bahunya menegang, aku tahu satu kalimat lagi hanya akan terdengar seperti pembelaan.
"Baik," kataku.
Laras mematikan lampu meja.
Aku bangkit dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, aku menoleh.
"Laras."
"Apa lagi?"
"Besok aku mungkin harus pergi untuk urusan pekerjaan."
Ia tidak menoleh.
"Silakan. Kamu nggak perlu meminta izin kepadaku."
Aku menutup pintu perlahan.
Di ruang kerja, laptopku masih menyala dalam keadaan tidur. Sebuah notifikasi muncul setelah kubuka kembali perangkat itu.
Pak Surya telah mengirimkan dokumen yang dijanjikannya.
Ada surat pemanggilan rapat direksi, agenda keputusan strategis, serta catatan bahwa beberapa persetujuan harus diselesaikan sebelum batas waktu berakhir. Pada bagian terakhir, terdapat satu kalimat yang membuatku membaca halaman itu dua kali.
Kehadiran pemegang kendali diperlukan untuk memastikan keputusan dapat diproses.
Aku membuka kalender. Jadwal rapat telah ditetapkan. Tidak ada lagi ruang untuk menundanya hanya karena aku belum siap menghadapi perubahan di rumah.
Ponselku bergetar sekali lagi.
Pesan Pak Surya muncul di bawah notifikasi dokumen.
Pak, seluruh direksi sudah menerima pemberitahuan. Besok pagi mereka menunggu keputusan Anda.
Aku memandang pintu ruang kerja yang tertutup.
Di baliknya, Laras sedang bersiap mengakhiri pernikahan kami. Di hadapanku, ada perusahaan yang nggak bisa terus menunggu sementara aku mencoba menyelamatkan sesuatu yang mungkin sudah lama berhenti menjadi milik kami berdua.
Aku mengetik balasan singkat.
Siapkan semuanya. Saya akan membaca dokumen malam ini.
Setelah pesan terkirim, aku membuka halaman pertama berkas rapat.
Kali ini, aku tidak berniat menghindar.