🔥CRAZY UP🔥
Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.
Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Pertemuan di ruang meeting Kuningan berakhir tanpa jabat tangan dan tanpa kesepakatan tertulis. Tidak ada kertas yang ditandatangani. Tidak ada kalimat yang Dimas diminta catat sebagai kesepakatan. Yang ada hanya amplop, dua orang yang tidak berjabat tangan, dan satu orang di sudut yang sengaja tidak menjadi juru damai.
Alina berdiri lebih dulu. Kursinya tidak ia rapikan. Amplop fotokopi buku tabungan masih di meja karena Adrian belum mengembalikannya. Karetnya sudah terpasang lagi. Halaman tidak menyembul.
"Saya akan periksa ini," kata Adrian. "Bukan karena saya langsung percaya. Karena kalau rekening ini benar, laporan resmi kami punya masalah yang lebih besar dari selisih yang Anda tunjukkan di data room."
Alina mengangguk sekali. Tangannya sudah di tali tas. "Saya tidak meminta Anda percaya hari ini. Saya meminta Anda tidak menutup semua pintu sebelum angkanya dicek."
"Pintu data room tetap tertutup."
"Saya bicara soal angka. Bukan soal kartu akses."
Adrian tidak menjawab itu. Ia menarik amplop ke sisinya, masuk ke map, dan menutup map itu dengan telapak tangan. Alina melihat gerakan itu dan tidak merebutnya. Dimas berdiri setelah keduanya selesai bicara, bukan di tengah kalimat.
Dimas mengantar keduanya keluar secara terpisah. Alina turun lebih dulu. Di lift ia sendirian, cermin menunjukkan wajah yang tidak ia perbaiki. Dimas tidak ikut sampai trotoar. Ia hanya memastikan Alina masuk ke lift yang turun, lalu kembali ke koridor lantai empat.
Adrian tinggal sebentar di koridor bersama Dimas. Pintu ruang meeting sudah tertutup. Dari ruang sebelah terdengar kursi digeser orang lain, lalu sunyi lagi.
"Cek ke bank," kata Adrian pelan. "Diam-diam. Jangan lewat jalur formal yang bisa ke Oscar atau Hendra. Saya ingin tahu apakah stempel dan mutasi ini bisa diverifikasi."
"Saya cari orang yang bisa melihat formatnya tanpa membuat surat."
"Kalau orang itu minta surat, ganti orang. Jangan ganti cara jadi rapat."
"Baik."
"Dan jangan sebut nama Alina di luar ruangan ini."
Dimas mengangguk. Ia sudah tidak berencana menunjukkan foto 2019. Nama itu cukup berat tanpa wajah lama di sampingnya.
Di mobil dalam perjalanan kembali ke Menara, Adrian memegang amplop itu di pangkuan. Map ia buka lagi di jok belakang, cukup untuk mengeluarkan fotokopi, tidak cukup untuk mengeluarkan map cokelat ayahnya yang masih di dasar tas. Ia membuka beberapa halaman lagi di bawah cahaya jendela. Mutasi terlihat biasa: gaji, transfer rumah tangga, pembayaran rutin. Ada bulan ketika uang keluar lebih cepat daripada masuk, dan ada bulan ketika sisanya hanya cukup untuk tidak minus. Tidak ada aliran ratusan miliar. Tidak ada jejak dana yang dituduhkan masuk ke rekening pribadi Baskara Prameswari. Ia mencari satu angka yang bisa ia tertawakan sebagai tidak mungkin, dan tidak menemukannya. Itu tidak membuatnya percaya. Itu hanya membuat tawa menjadi alat yang tidak bisa ia pakai hari ini.
Ia menutup amplop dan memasukkannya ke dalam map. Karet dijepit rapat. Jendela mobil ia naikkan karena cahaya sudah berubah di perempatan.
Sore itu di ruang kerjanya, Adrian memanggil Oscar. Ia tidak meletakkan amplop bank di meja. Amplop itu sudah masuk laci. Yang ada di layar adalah draf yang semalam ia tahan, dengan baris Lazuardi yang masih hidup.
"Tunda penandaan ulang Lazuardi dan vendor historis terkait," kata Adrian. "Saya ingin melihat sendiri semua jejak rekonsiliasi sebelum draf final ke Aruna."
Oscar berdiri di depan meja, ragu. Mapnya ia pegang dengan dua tangan, belum dibuka. "Investor sudah menunggu versi yang lebih bersih, Pak. Penundaan bisa dibaca sebagai ada masalah."
"Lebih baik kita yang menemukan masalah daripada mereka. Tiga hari. Kalau bersih, kita lanjut. Kalau tidak, kita perbaiki sebelum tanda tangan."
"Tiga hari di hitungan mereka bisa jadi pertanyaan di grup."
"Kalau ada pertanyaan, arahkan ke saya. Jangan dijawab dengan versi yang dirapikan dulu."
Oscar mengangguk. Ia tidak bertanya dari mana perintah itu datang, dan Adrian tidak memberinya cerita tentang gedung sewa di Kuningan. Oscar keluar sambil menutup mapnya yang memang tidak sempat ia buka. Pintu tidak dibanting. Di luar, langkahnya berhenti sebentar, seperti orang yang ingin kembali bertanya, lalu tidak.
Adrian duduk sendirian. Layar ia biarkan pada baris yang belum ditandai selesai. Di sudut meja, map cokelat bertuliskan "Koridor Timur — jangan diarsipkan biasa" masih menunggu. Ia belum membuka amplop kecil di dalamnya. Ia belum siap. Bukan karena takut pada isi, tapi karena sekali dibuka ia harus menghadapi kemungkinan bahwa ayahnya sudah mencium bau yang salah sejak lama dan memilih mencatatnya di map yang tidak boleh diarsipkan biasa. Selama amplop itu tertutup, kemungkinan itu masih bisa ia taruh di bawah pekerjaan yang ada batas waktunya. Tiga hari. Rekening. Lazuardi. Yang lain bisa menunggu sampai hasil cek tidak lagi hanya berupa fotokopi di laci.
Di studio Tebet, Alina tiba hampir sore. Tangga yang lampunya mati ia naiki tanpa menghitung, karena hari ini tangannya tidak membawa amplop. Meja lipat terlihat lebih kosong. Coretan 12,4 dan 18,9 masih di situ, tanpa kertas bank di sampingnya. Ia menelepon Mei segera setelah masuk. Ponsel yang kemarin terasa asing sekarang sudah hangat di telinganya.
"Sudah selesai?" tanya Mei.
"Belum. Saya sudah serahkan rekening. Dia belum percaya, tapi dia juga tidak menolak mentah-mentah. Dia bilang akan cek."
"Lalu kau tinggal diam?"
"Saya menunggu. Kalau dia menutup semua akses, saya cari jalan lain. Kalau dia membuka sedikit, saya masuk dari situ. Ponsel sudah kembali. Foto masih aman."
Mei menghela napas di seberang. Ada suara wajan yang digeser, lalu pelan. "Ibu Diah tahu?"
"Sebagian. Dia tidak senang. Bilang jangan habiskan umur untuk perang yang sudah selesai di kertas mereka."
"Wajar. Kau istirahat malam ini. Jangan buat rencana masuk lagi sebelum ada kabar."
"Saya tidak masuk hari ini."
"Hari ini tidak cukup sebagai janji. Saya minta malam ini. Besok pagi baru boleh berpikir."
Alina mematikan telepon. Janji semalam tidak ia tulis. Ia membuka galeri ponsel, memastikan foto-foto lampiran dari data room masih utuh. Jempolnya menggulir pelan. Tanggal pengambilan masih yang lama. Sudut layar pada salah satu foto menunjukkan baris yang ia hafal. Masih. Ia menyalin ulang ke cloud pribadi, menunggu tanda selesai, lalu ke kamera saku sebagai cadangan tambahan. Kabel ia colokkan di meja. Berjaga-jaga. Kamera ia kembalikan ke belakang map kosong di lemari, posisi yang sama, supaya kalau ada yang menggeser barang ia bisa tahu dari letaknya, bukan dari dugaan.
Di meja lipat, coretan angka 12,4 dan 18,9 masih ada. Di sampingnya ia menulis: "Rekening pribadi bersih. Adrian belum percaya. Lazuardi ditahan penandaan." Kalimat terakhir itu belum ia dengar dari mulut siapa pun di Menara. Ia menulisnya sebagai status yang harus ia uji, bukan sebagai kabar. Kalau besok nama itu tiba-tiba bersih di halaman depan, ia akan tahu kalimatnya salah.
Malam itu Adrian tidak pulang awal. Setelah hampir semua lantai sepi, ia membuka map Koridor Timur di ruang kerjanya. Lampu meja hanya menerangi setengah permukaan. Halaman pertama berisi catatan tangan Darmawan: daftar vendor, beberapa nama dicoret, Lazuardi dengan tanda tanya di sampingnya. Coretan pada nama lain tegas, satu garis. Tanda tanya di samping Lazuardi tidak mencoret hurufnya. Adrian membaca daftar itu tanpa mengeluarkan pena. Ia tidak menambahkan tanda baru di kertas ayahnya.
Ia membalik halaman berikutnya. Ada print-out transaksi lama, tintanya pudar di bagian angka yang sering tersentuh. Ia melihat kolom, bukan untuk menghafal, hanya untuk memastikan ini bukan salinan dari draf yang ada di laptopnya hari ini. Formatnya lebih tua. Kode di pinggir tidak sama dengan kode yang Oscar pakai. Ia tidak mencocokkan satu per satu. Malam ini bukan malam untuk menggabungkan dua zaman di atas satu meja dan berpura-pura sudah paham.
Di bagian belakang ada amplop kecil yang masih tertutup rapat. Kertasnya lebih kaku dari fotokopi Bank Saka. Tidak ada alamat. Tidak ada nama penerima di luar. Hanya lipatan yang rapi dan lem yang masih menahan.
Ia menatap amplop itu cukup lama. Jari-jarinya menyentuh tepi kertas, lalu menarik diri. Ibu jarinya ada bekas debu dari lemari Sabtu malam. Ia tidak membuka malam ini. Satu amplop sudah cukup untuk satu hari, dan amplop itu milik bank, bukan milik ayahnya. Yang dari ayahnya, kalau dibuka sekarang, tidak akan ada Dimas yang bisa disuruh mengecek diam-diam sebelum pagi.
Ia menutup map dan memasukkannya kembali ke tas kerja. Resleting ia tutup sampai ujung. Besok, atau setelah hasil cek rekening keluar, ia akan memutuskan. Hari ini cukup satu fakta baru: anak Baskara Prameswari sudah duduk di mejanya membawa bukti bahwa uang skandal tidak masuk ke rekening ayahnya, dan Adrian tidak bisa lagi menganggap semua ini hanya dendam yang tidak berdasar.
Lampu ruang kerja ia matikan sendiri. Laci yang menyimpan fotokopi bank ia kunci. Kunci ponsel Alina tidak lagi relevan. Ponsel itu sudah kembali. Yang masih di tangannya adalah kertas orang lain, dan ia tidak menaruhnya di tempat Oscar bisa membukanya karena mencari penjepit.
Di Tebet, Alina mematikan lampu utama dan membiarkan lampu meja menyala. Lampu tangga di luar masih mati. Ia tidur dengan ponsel di bawah bantal, bukan karena menunggu pesan, tapi karena benda itu baru saja kembali dan ia belum siap kehilangannya lagi.