"Kamu sudah menganggap anak kita adalah sebuah kutukan, maka suatu hari nanti dia akan benar benar menjadi sebuah kutukan untuk keluarga kamu mas!"
Itu adalah kata kata terkahir Riyanti yang bisa di dengar oleh suaminya Raditya ketika di tepi jurang.
Apa yang terjadi sebenarnya? kenapa bisa seseorang bisa menjadi terkutuk?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raditya yang hampir hilang
"Kanaya perempuan terkutuk" ucap Adrian tiba tiba membuat mereka menatap Adrian.
"Hahahah... jangan terlalu serius karena Abah hanya bercanda, Abah baru saja mendengarkan kisah Kanaya perempuan terkutuk di radio"
"Oohhh... Sultan pikir Abah yai sedang mengatai Kanaya, ini Kanaya teman kami Abah yai" ucap Sultan
Adrian tertawa dan menjewer telinga Sultan lalu mengajak mereka untuk masuk terlebih dahulu karena adzan sudah berkumandang. Para lelaki ikut Adrian ke masjid sedangkan para perempuan ikut dengan Zia, istri dari Aryasatya yang menjadi wakil Adrian di tempat itu.
"Kalian bisa tidur di sini untuk malam ini, kata Om Adrian besok baru kalian boleh ke pabrik langsung" ucap Zia setelah mengantarkan Kanaya dan Shaquilla ke kamarnya.
"Baik Bu nyai, terima kasih" jawab keduanya mengangguk sopan.
"Saya pamit shalat Dzuhur dulu, kalian bisa shalat di sini dan wudhu di kamar mandi kalau masih lelah untuk ke masjid" pamit Zia
"Terima kasih sekali lagi Bu nyai" jawab Kanaya
Kanaya heran kenapa mereka tidak tinggal di tempat Adrian, tapi Shaquilla mengatakan kalau d rumah Adrian itu isinya laki laki semua dan tidak ada perempuan di sana, bahkan cucunya duda dan tiga cicitnya masih berkuliah dan bersekolah SMA.
"Ko kamu tahu banyak tentang pesantren ini?" tanya Kanaya
"Karena Abang aku pernah pesantren di sini dan aku sering ikut kalau bapak dan ibu jenguk Abang" jawab Shaquilla dan Kanaya mengangguk faham.
"Yang dengan Abah yai itu kamu kenal tidak?" tanya Kanaya
"Kalau tidak salah itu adalah cucunya besan Kiai Aryasatya, namanya Gerhana Gibran Raharja, dia juga tinggal di Jakarta hanya saja aslinya itu dari kampung Curug" jawab Shaquilla
"Mungkin dia sedang berlibur ya ke sini" ucap Kanaya karena dia melihat sosok pelindung di tubuh Gerhana tapi anehnya dia di terima Adrian, tidak seperti Sanca yang di tolak Adrian.
"Mungkin" jawab Shaquilla
•••••••••••••••
Di tempat Raditya.
"Mas, kopi kamu belum kamu minum" ucap Eva menyodorkan kopi pahit untuk suaminya itu.
"Terima kasih, kopi buatanmu yang paling enak" jawab Raditya mengecup tangan Eva
Raditya benar benar sudah tunduk pada Eva, tak ada lagi Raditya yang dulu begitu mencintai Riyanti, yang ada hanya Raditya yang begitu jahat, curang dan tidak pernah beribadah lagi. Dia akan melakukan apapun yang di minta oleh Eva, apapun termasuk menyakiti para karyawan di tempatnya karena Eva menggunakan pesugihan dan tumbal yang di dapatkan Eva adalah para karyawan pabrik yang bekerja di tempat Raditya.
Tiga tahun sekali pasti akan ada yang meninggal tapi tak hanya tumbal manusia yang di minta jin pesugihan Eva, ada persembahan kambing hitam dan putih yang di berikan Eva tepat di belakang rumah Raditya setahun sekali agar pengaruhnya pada Raditya semakin kuat.
"Eva, bukankah hari ini akan ada mahasiswa yang magang di pabrik Raditya, kenapa mereka belum datang ya?" tanya Hilda
"Iya ma, harusnya dia sudah datang bahkan dengan Irma, tapi Irma batal karena tiba tiba dia di DO, padahal Eva terima mereka juga karena Irma, katanya salah satu dari mereka adalah orang yang sering menyakiti Irma di kampus" jawab Eva
"Siapa namanya?" tanya Hilda
"Siap ya Eva lupa...." jawab Eva
"Kanaya, Kanaya Amalia Farhan dan Shaquilla Thariq Mahendra" jawab Raditya
"Kamu sudah di beri tahu pak Komar ya?" tanya Eva dan Raditya mengangguk.
"Yang namanya Kanaya, aku ingat Irma pernah mengatakan kalau yang namanya Kanaya itu yang sudah membully Irma" ucap Eva
"Memangnya mau kamu apakan? jangan sampai nanti orang tuanya menyalahkan kita" keluh Hilda yang tahu bagaimana sifat menantunya itu.
"Mau Eva nikahkan dengan si Erwin ma, preman yang tukang main perempuan itu" jawab Eva tersenyum miring.
Di luar, Sanca sedang mencibir niat Eva karena dia tidak akan membiarkan itu, Sanca sengaja pergi lebih dulu ke rumah Raditya karena dia tahu Kanaya aman di pesantren, tapi yang dia lihat ternyata sudah sangat berubah, dia bisa melihat Raditya sudah mulai menghilang tergantikan oleh jin yang mendiami tubuh Raditya dan Sanca harus berhati-hati.
"Aku akan mengunjungi makam Riyanti, sudah lama sekali aku tidak ke sana" gumam Sanca langsung pergi karena tiba tiba saja ada sekelebat cahaya hitam mengarah ke sana.
Srak.
Raditya berjalan dengan begitu cepat ke tempat Sanca tadi berada, dia melihat sekeliling dan masih merasakan ada energi asing di tempatnya yang sejak tadi dia rasakan.
"Aku yakin mencium bau bahaya tadi di sini, bahaya yang tidak aku kenali dan bukan berasal dari sini" ucap Raditya yang matanya terlihat menghitam.
Raditya memang sudah bukan dirinya lagi sekarang, tubuhnya sudah di diami oleh jin pesugihan Eva yang bahkan Eva sendiri tidak tahu karena dia mengira yang bersamanya benar benar Raditya.
Dukun Tarman yang melakukan itu, di ingin Eva tetap menjadi pasiennya dan menempatkan jin itu di tubuh Raditya agar mendapatkan tumbal secara mudah, apalagi orang orang juga tidak akan tahu kecuali Raditya bertemu dengan Adrian, dan karena itu lah Raditya menjauhi area pesantren bahkan meskipun ada tokonya di depan pesantren, yang menjaganya adalah Eva.
••••••••••••
Di gubuk Sanca.
"Apa tadi yang aku lihat? kenapa auranya begitu berbeda dan dia juga begitu kuat, ini berbahaya dan aku butuh bantuan Kiai itu, aku harus menemui dia" gumam Sanca yang sedang menaburkan bunga di makam Riyanti.
"Apa yang kamu rencanakan?" tanya Adrian yang sudah ada di belakang Sanca
Sanca terkejut, dia melihat ke arah belakang dan langsung terduduk ketika melihat sosok Adrian yang sudah berdiri dengan tongkat Samen yang dia pegang. Tak ada yang tahu tentang tempat itu bahkan tempat Sanca ada di hutan paling dalam tapi bagaimana mungkin Adrian bisa tahu tempatnya tinggalnya.
"Kiai... Saya... Saya hanya melindungi anak Riyanti" jawab Sanca
"Bukan itu yang ingin aku dengar" jawab Adrian
"Saya..."
"Kampung Ciremai yang dulu begitu damai sekarang berubah gelap di area pabrik roti itu, tiga tahun sekali selalu ada yang meninggal tapi warga tidak pernah sadar dan hanya mengira itu adalah hal yang wajar, tapi sekarang aku juga melihat sosok jin di dalam tubuh seorang manusia yang hampir mati, dia menguasai jasad itu dan hampir menjadi dirinya" ucap Adrian
"Dia.. Dia adalah ayah Kanaya Kiai, ayah kandung Kanaya" jawab Sanca
"Kanaya perempuan terkutuk?" tanya Adrian dan Sanca mengangguk lalu menceritakan siapa sebenarnya Kanaya pada Adrian.
"Kanaya memang terkutuk tapi hanya untuk keluarga ayahnya, apa yang dia pegang akan menjadi kebaikan untuk orang lain, tapi untuk keluarga ayahnya akan menjadi kesialan, tangannya itu ibarat api" ucap Adrian menghilang dari sana.
"Ya ampun apa lagi itu!" pekik Sanca terkejut karena Adrian tiba tiba saja menghilang.