NovelToon NovelToon
Pesugihan Ratu Ular

Pesugihan Ratu Ular

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Penyelamat / Balas Dendam
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-

Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.

Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 25

🍂🍂🍂🍂

Sinar mentari pagi membiaskan pendar keemasan yang hangat menembus celah-celah ukiran jendela kayu kamar utama rumah joglo. Suasana ruangan masih begitu hening, diselimuti wangi ronce melati yang memikat dari atas peraduan. Candra Kirana perlahan membuka kedua matanya. Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, ia terbangun bukan sebagai sesosok penguasa gaib berhawa dingin, melainkan sebagai wanita manusia fana seutuhnya.

Namun, begitu ia mencoba menggerakkan kakinya untuk duduk, sebuah rasa pegal dan perih yang luar biasa seketika menjalar di sekitar pinggul serta bagian bawah tubuhnya.

"Shhh... Aww..." ringis Kirana pelan seraya menggigit bibir bawahnya.

Beda rasa pegal fana ini begitu asing namun teramat manis baginya. Kirana menyandarkan punggung mulusnya di kepala ranjang, menyunggingkan senyuman bening yang sangat bahagia.

"Aduuh... ternyata seperti ini rasanya menjadi raga manusia biasa..." gumam Kirana halus seraya memegangi pinggangnya yang pegal. "Tapi... aku sangat bersyukur. Rasa sakit ini adalah bukti bahwa aku telah menjadi milik Mas Bagas seutuhnya."

Kirana menoleh ke samping. Di atas tumpukan kain tebal, Bagas masih tertidur lelap dengan napas yang teratur. Tubuh tegap istrinya dan tubuh tegap suaminya masih sama-sama bertelanjang bulat tanpa selembar benang pun pasca-penyatuan intim malam pertama mereka. Dada bidang Bagas yang berotot naik turun halus, memancarkan aura ketenangan yang amat dalam.

Dengan penuh kehati-hatian agar tidak membangunkan suaminya, Kirana merangkak pelan ke tepi ranjang. Memabaikan rasa remuk di badannya, wanita jelita itu segera membalut tubuh mulusnya dengan kain jarik dan kebaya katun tipis. Ia melangkah anggun keluar kamar menuju dapur belakang untuk menunaikan keutamaan pertamanya sebagai seorang istri fana.

Di dapur belakang, Mbok Sumi rupanya sudah terbangun dan sedang menata kayu bakar. Wanita tua itu tersentak kaget sekaligus berbinar bahagia saat melihat menantunya sudah berada di dapur pagi-pagi sekali.

"Lho, Nduk... Kirana?" sapa Mbok Sumi penuh perhatian. "Kenapa sudah bangun pagi-pagi begini? Kamu kan pasti capek habis acara kemarin..."

Kirana melangkah mendekati ibu mertuanya, menyunggingkan senyuman santun seraya menyalami tangan Mbok Sumi. "Sugeng enjang, Ibu... Tidak apa-apa , Bu. Kirana mau menyiapkan sarapan khusus dan air hangat untuk Mas Bagas. Ini kan hari pertama Mas Bagas bertugas sebagai Kepala Desa."

Mbok Sumi menatap menantunya dengan binar mata yang berkaca-kaca haru. Ia memperhatikan betapa telaten dan telitinya Kirana meracik teh melati hangat, menanak nasi gurih, serta memasak lauk pauk kesukaan Bagas tanpa sedikit pun mengeluh.

"Gusti ... Nduk," tutur Mbok Sumi lembut, mengusap bahu anggun Kirana. "Ibu bahagia sekali melihatmu... Bagas betul-betul beruntung punya istri sepertimu. Kamu melayani anak Ibu dengan sepenuh hati."

"Mas Bagas sudah mempertaruhkan nyawanya untuk Kirana, Bu..." balas Kirana dengan nada halus nan tulus. "Sudah kewajiban Kirana untuk memanjakan dan melayani Mas Bagas lahir dan batin."

Mbok Sumi tersenyum sangat bahagia, menyaksiakan betapa anak tunggalnya kini dirawat dan dilayani oleh sosok wanita yang begitu sempurna.

Setelah seluruh hidangan siap dan air mandi beraroma racikan rempah hangat dituang ke dalam bak kayu, Kirana kembali ke kamar utama. Bagas baru saja terbangun, duduk di tepi ranjang seraya mengusap wajah tegapnya.

"Selamat Pagi, Mas Bagas..." sapa Kirana lembut seraya berlutut di hadapan suaminya.

Bagas menoleh, menyunggingkan senyuman hangat seraya merangkul bahu mulus istrinya. "Selamat pagi, Kirana... Kenapa bangun cepat sekali? Badanmu tidak pegal-pegal?"

Pipi Kirana seketika merona merah teringat keintiman semalam. "Sedikit pegal, Mas... tapi Kirana bahagia sekali. Air mandi hangat dan teh melati sudah Kirana siapkan. Mari Kirana bantu Mas Bagas mandi dan bersiap."

Dengan penuh kelembutan dan kerapian tiada tandingan, Kirana memandikan suaminya, mengeringkan raga tegap Bagas dengan handuk lembut, lalu membimbingnya mengenakan busana dinas resmi Kepala Desa. Kirana memasangkan kain batik, membebatkan stagen di pinggang tegap Bagas, hingga merapikan lipatan beskap hitam bertabur kancing keemasan.

Kirana mengambil sisir kayu, berdiri di belakang Bagas seraya menyisir rambut hitam suaminya dengan perlahan. Setelah itu, Kirana mengambil keris pusaka berhias ronce melati, menyisipkannya dengan takzim di belakang pinggang Bagas.

Bagas berdiri tegap di depan cermin besar. Penampilannya tampak teramat gagah, tampan, dan memancarkan wibawa pimpinan sejati.

Kirana berdiri di hadapan suaminya, merapikan kerah beskap Bagas. "Mas Bagas kelihatan sangat tampan dan gagah..." bisik Kirana memuja.

Bagas memegang kedua pipi halus istrinya, mendaratkan kecupan hangat di dahi Kirana. "Semua ini berkat pelayanan dan doa dari istriku yang cantik."

Sebelum Bagas melangkah keluar pintu rumah joglo menuju Balai Desa, Kirana bersimpuh anggun, meraih tangan kanan Bagas lalu mencium punggung tangannya dengan ciuman yang amat takzim dan lama.

"Selamat bertugas memimpin desa, Mas Bagas..." tutur Kirana penuh kepatuhan. "Kirana akan selalu mendoakan dan menunggu Mas Bagas di rumah ini."

**

Di Balai Desa Lemah Wungu, suasana sudah begitu ramai oleh ratusan warga, para buruh tani, perangkat desa, serta para tetua adat yang berkumpul di pendopo. Hari ini adalah musyawarah besar pertama di bawah kepemimpinan Kepala Desa yang baru.

Bagas melangkah naik ke atas panggung pendopo dengan langkah yang mantap dan berwibawa. Aura kepemimpinan yang adil dan mengayomi begitu kuat terpancar dari dirinya. Stempel desa dan tongkat kayu jati kepemimpinan berada di atas meja ukir di sampingnya.

Bagas berdehem pelan, mengheningkan kerumunan warga yang riuh.

"Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, serta seluruh warga Lemah Wungu yang saya cintai..." suara Bagas menggelegar tenang namun sarat ketegasan melalui pengeras suara. "Pagi hari ini, di hari pertama saya mengemban amanah sebagai Kepala Desa, saya tidak ingin membuang waktu. Kita harus menyelesaikan masalah utama yang selama ini mencekik leher rakyat kecil di desa kita!"

Warga hening seketika, menatap pimpinan baru mereka dengan penuh harap.

"Selama ini," lanjut Bagas dengan intonasi yang tajam, "sistem sewa lahan pertanian dan bagi hasil irigasi di Desa Lemah Wungu teramat memberatkan para buruh tani. Aturan lama Pak Kades yang mengambil potongan hingga enam puluh persen dari hasil panen warga... mulai detik ini saya nyatakan DIHAPUS DAN TIDAK BERLAKU LAGI!"

GUSRRRK!

Suara gempar bercampur takjub seketika meledak di tengah massa! Para buruh tani saling pandang dengan mata membelalak tak percaya.

"Gusti Pangeran...!" seru Kang Saman terperanjat.

"Mulai hari ini," tegas Bagas seraya mengetukkan tongkat kepemimpinannya ke lantai kayu, "seluruh lahan perkebunan desa dan saluran irigasi dari perbukitan akan dikelola sepenuhnya secara transparan oleh koperasi desa. Potongan hasil panen dipangkas menjadi sepuluh persen saja, khusus untuk pemeliharaan tanggul dan kas kesejahteraan warga yang sakit atau kurang mampu!"

Tak berhenti di situ, Bagas juga mengumumkan reformasi besar lainnya. "Seluruh utang piutang fiktif dan bunga sewa tanah yang ditinggalkan oleh kepemimpinan lama yang mencekik warga miskin, semuanya saya putihkan dan saya tanggung menggunakan dana pribadi saya!"

Mendengar pengumuman yang amat luar biasa adil dan dermawan itu, tangis haru seketika pecah membahana di seluruh pelataran Balai Desa Lemah Wungu!

Para petani tua merangkul lutut mereka seraya menangis sesenggukan, para ibu-ibu menutupi wajah mereka tak sanggup menahan kebahagiaan. Beban berat dan ketakutan yang mencekik hidup mereka bertahun-tahun kini diangkat seutuhnya oleh pimpinan baru mereka.

Pak Saman melangkah maju, berlutut di bawah pendopo seraya menangis terharu. "Matur nuwun sangat, Pak Kades Bagas...! Matur nuwun! Panjenengan betul-betul penyelamat dan pengayom rakyat kecil seperti kami!"

"Matur nuwun, Pak Kades! Hidup Pak Kades Bagas!" sorak puluhan warga lainnya dengan mata memerah berkaca-kaca.

Bagas tersenyum hangat, turun dari panggung pendopo untuk membimbing Kang Saman dan para petani tua berdiri kembali. "Jangan berlutut pada saya, Bapak-Bapak... Tugas saya adalah melayani panjenengan semua. Selama saya menjabat di Lemah Wungu, tidak boleh ada lagi warga yang kelaparan, tertindas, atau kehilangan tanahnya."

Bersambung...

1
Yiruma Nitya
Jadi makin penasaran, gimana adegan pas ketemu sama Ratunya
Yiruma Nitya
Aku mampir ya kak, baca pelan pelan semangat buat kknya, ceritanya bagus 👍
Yiruma Nitya: Iya kak mampirin aku juga ya masih belajar, mohon bimbingan dan koreksinya🤭👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!