NovelToon NovelToon
Sinar Aluna & Dua Pelindung Hati

Sinar Aluna & Dua Pelindung Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: LailaHaidar

✨ Sinopsis

Aluna adalah gadis cantik dan agak nakal yang tumbuh dalam kemewahan, namun yang paling berharga baginya bukan harta, melainkan dua sahabat yang selalu ada di sisinya sejak kecil: Orion — tampan, tenang, bijaksana, & pintar; serta Rexy — ganteng, tegas, sedikit tengil, namun berhati emas & menjadi pelindung setia keduanya. Ketiganya anak dari keluarga terpandang, tumbuh bersama, berjanji tak akan pernah terpisahkan.

Namun seiring berjalannya waktu, rasa persahabatan itu perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam. Baik Orion maupun Rexy sama-sama menyayangi Aluna lebih dari sekadar sahabat. Ketika hati Aluna akhirnya harus membuat pilihan sulit, ia menyadari bahwa memilih satu berarti menyakiti yang lain.
Di antara cinta & persahabatan, di antara kebersamaan & pengorbanan, ketiganya belajar: cinta sejati tidak harus memiliki, & persahabatan tulus adalah harta yang abadi selamanya. Sebuah kisah hangat tentang perjalanan hati, keikhlasan, & kebersamaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari-Hari Indah yang Tak Terulang

Pagi itu matahari masuk lewat jendela kelas, bikin debu‑debu kecil terlihat melayang di udara. Bel belum bunyi, tapi koridor sekolah udah rame banget sama suara siswa yang berteriak‑teriak, ketawa, dan berlarian ke sana‑kemari. Aku baru aja nyemplung di kursi meja belakang bareng Orion dan Rexy, tas masih tergantung di bahu.

“Woi Aluna! Kemarin kamu nyuruh aku beli permen stroberi kan? Ini aku bawa!” seru Rexy sambil menggeloyang bungkus permen di depanku, suaranya berisik kayak biasa.

Aku langsung ngambil bungkusnya dan nyengir. “Wah bener‑bener dibawa ya? Kirain kamu lupa!”

“Masa lupa sih! Hal kecil gitu doang,” jawab Rexy sambil duduk bersandar ke dinding, tapi matanya diam‑diam ngelihat aku buka bungkus permen itu.

Orion yang lagi baca buku pelajaran angkat kepala perlahan, lalu tersenyum tipis. “Kalian berdua jangan berisik ya, guru sebentar lagi datang. Tapi… kemarin sore aku lewat taman belakang, pohon besar kita udah rimbun banget lho.”

“Wah bener? Pengen ke sana lagi!” aku berseru semangat. “Udah lama kita nggak kumpul di bawah pohon itu, kan? Sejak liburan kemarin kita sibuk terus sama tugas sekolah.”

Rexy langsung nyahut semangat. “Yuk! Nanti jam istirahat besar kita kabur ke sana! Jangan bawa buku pelajaran, bawa camilan doang!”

Orion menggeleng sambil ketawa kecil. “Bukan kabur Rexy, kita izin dulu ke guru piket ya. Nanti kena marah lagi kayak waktu itu.”

“Iya‑iya, izin deh,” sahut Rexy sambil menggaruk tengkuknya.

Saat jam istirahat besar tiba, kita bertiga langsung jalan ke arah taman belakang. Matahari hangat banget, angin sepoi‑sepoi bikin daun‑daun pohon besar itu bergoyang‑goyang. Kita duduk di rumput hijau yang lembut, menyebar kain kecil yang kubawa dari rumah. Aku taruh roti, minuman dingin, dan beberapa bungkus keripik di atas kain itu.

“Wah rasanya kayak balik ke waktu SD ya,” ucapku sambil melihat sekeliling. “Dulu kita lari‑lari ke sini tiap hari, nggak mikir ujian, nggak mikir apa‑apa.”

Orion menatap ke arah jalan setapak di taman itu dengan tatapan lembut. “Benar juga. Kadang aku mikir, hari‑hari kayak gini nggak akan ada selamanya. Kita udah masuk kelas sebelas, sebentar lagi lulus, masing‑masing sibuk sama jalan hidup sendiri.”

Mendengar itu Rexy tiba‑tiba diam. Biasanya dia yang paling berisik, sekarang malah memainkan rantai gelang di pergelangan tangannya. “Jangan ngomong yang aneh‑aneh dong Orion. Kita janji kan? Nggak mau pisah.”

“Janji emang ada,” jawab Orion pelan. “Tapi waktu berjalan cepat banget. Coba ingat, baru kemarin kita masih kecil, main petak umpet di sini. Sekarang udah remaja, mulai mikir masa depan.”

Aku tiba‑tiba jadi murung. Aku ngambil sehelai daun kering lalu memutar‑mutarnya di jari. “Aku juga takut… takut nanti kita jarang ketemu, terus lupa sama kenangan kita sekarang.”

Rexy langsung menepuk bahuku pelan. “Hei! Jangan sedih dong! Kita bisa janji lagi deh! Tiap bulan kita kumpul di sini, ya? Meski nanti udah kuliah atau apapun!”

Orion menatap aku lalu ke Rexy, lalu mengangguk. “Boleh. Tapi aku juga sadar, ada hal‑hal yang berubah tanpa kita sadari. Lihat kan? Beberapa bulan terakhir kita kadang diam‑diam mikir hal yang belum pernah kita pikirkan waktu kecil.”

Aku teringat tatapan Orion yang kadang aneh, juga sikap Rexy yang kadang canggung kalau aku ngobrol lama sama Orion. Hatiku berdebar sedikit. “Maksudmu… ada yang berubah di antara kita?”

“Bukan berubah jadi jelek kok,” Orion cepat menjelaskan. “Hanya… perasaan kita mulai tumbuh beda dari dulu. Dulu cuma sahabat, sekarang kadang ada perasaan lain yang muncul diam‑diam.”

Rexy tiba‑tiba berdiri, wajahnya agak merah. “Yah, ngapain bahas hal serius sih? jam istirahat masih lama, yuk main ke tepi danau kecil di ujung taman!” Dia langsung menarik tanganku berdiri, seolah mau menghindari pembicaraan tadi.

Aku sempat kaget, tapi ikut dia lari sedikit, di belakang ada Orion yang jalan santai sambil memperhatikan kita. Kita duduk sebentar di pinggir danau kecil, lihat ikan‑ikan kecil berenang di air jernih.

“Wah, ikannya banyak banget!” seruku sambil menunjuk ke air.

“Kalau bawa roti kemarin bisa kasih makan mereka,” kata Rexy sambil duduk bersandar ke batang pohon. “Kadang aku pengen hari ini berulang terus‑terusan. Nggak mau besok, nggak mau lusa. Cuma hari ini aja, bareng kamu berdua.”

Orion duduk di sebelahku, suaranya lembut. “Tapi sayangnya, hari‑hari indah kayak gini nggak bisa diulang. Kita cuma bisa simpan di ingatan.”

Saat bel istirahat bunyi nyaring, kita harus balik ke kelas. Sambil jalan kembali, aku lihat Orion melirik Rexy sebentar, lalu keduanya saling pandang dengan tatapan yang nggak bisa kubaca. Aku nggak tahu apa yang mereka bicarakan lewat tatapan itu, tapi rasanya ada sesuatu yang sedang disembunyikan dariku.

Sore harinya saat aku udah di rumah, ibuku Mama Amira datang bawa segelas jus jeruk dingin ke kamarku. “Luna, hari ini kelihatan senang banget ya? Cerita sama Mama dong, apa yang kamu lakukan hari ini?”

Aku duduk di tepi tempat tidur sambil tersenyum. “Hari ini aku ke taman belakang sekolah bareng Orion sama Rexy, Ma. Rasanya enak banget kayak waktu kecil. Tapi Orion bilang hari‑hari indah itu nggak akan terulang lagi.”

Mama Amira mengusap rambutku pelan. “Benar juga sayang, waktu berjalan terus. Tapi bukan berarti kebahagiaannya hilang lho. Bentuknya aja yang berubah. Kadang ada hal baru yang datang, kadang ada rahasia yang akhirnya terbuka.”

Aku terdiam, mikir kata‑kata Mama. Benarkah ada rahasia yang sebentar lagi bakal muncul di antara kita bertiga?

 

Pertanyaan buat kamu:

Besok paginya Rexy mengajak Orion bicara berdua di halaman sekolah sebelum kelas dimulai. Wajah Rexy tampak tegang, seolah dia sudah memutuskan sesuatu yang besar. Apakah dia mau memberitahu Orion tentang perasaannya ke Aluna lebih dulu? Atau malah dia akan meminta Orion untuk berhenti mendekati Aluna? Silakan tulis kelanjutannya! 😊

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!