Bagi Ayara, hidup hanya tentang bekerja tanpa pernah mengenal cinta. Namun, saat ia mendaki gunung bersama teman-temannya semuanya berubah. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang pria di jalur pendakian menjadi awal baru baginya untuk mengenal rasa jatuh cinta.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Ayara? Siapa pria yang ditemui Ayara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Jemput
Sesampainya di rumah, Ibu Yati meletakkan kantong belanjaan di atas meja dapur. Wanita paruh baya itu tampak termenung sejenak, memikirkan perkataan para tetangganya di warung tadi. Meskipun ia percaya pada Ayara, Ibu Yati juga tidak ingin putrinya menjadi bahan gunjingan di perkampungan tempat mereka tinggal.
Tak lama kemudian, Ayara keluar dari kamar dengan mengenakan seragam pabriknya yang rapi dan siap untuk berangkat kerja.
"Ibu sudah pulang? Wah, tumben belanjanya agak lama," sapa Ayara ramah sambil menuangkan segelas air untuk ibunya.
Ibu Yati menoleh, lalu menatap putrinya dengan tatapan teduh penuh kasih sayang dan menerima gelas dari tangan Ayara, namun tidak langsung meminumnya.
"Ada apa, Bu?" tanya Ayara.
"Eh, nggak ada apa-apa, Mbak. Kamu mau berangkat?" tanya Ibu Yati.
"Iya, itu sisa nasi gorengnya. Oh ya, hari ini kayaknya Arlan libur, Bu. Jadi, jangan dibangunkan dulu," ucap Ayara.
"Loh, bengkelnya libur?" tanya Ibu Yati.
"Nggak, Bu. Tapi, kemarin Arlan bilang pengen istirahat dulu," jawab Ayara bohong.
'Maafin Ayara, Bu. Ayara nggak tega kalau sampai Ibu tahu soal masalah Arlan,' batin Ayara.
Ibu Yati mengangguk pelan sembari tersenyum lembut, meski di balik matanya yang letih tersimpan sedikit kekhawatiran tentang keselamatan dan masa depan kedua buah hatinya.
"Iya, Mbak. Kasihan adikmu juga, kerja di bengkel kan nguras tenaga banget, biar dia istirahat hari ini," sahut Ibu Yati mengelus lembut lengan Ayara.
Ayara menyalami dan mencium punggung tangan sang ibu penuh rasa takzim, "Ayara berangkat kerja dulu ya, Bu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam... Hati-hati di jalan ya," ucap Ibu Yati.
.
Tanpa terasa, satu minggu telah berlalu. Selama satu minggu ini, Ayara kembali menyibukkan diri dengan rutinitas beratnya di area produksi pabrik sepatu. Suara dengung mesin jahit, aroma kuat lem sintetis, serta kejaran target harian menjadi dunianya kembali.
Arlan sendiri sudah mencari pekerjaan lain, ia saat ini menjadi kuli borongan ikut temannya. Tentu saja, Ayara dan Arlan menyembunyikannya dari Ibu Yati, mereka tidak ingin Ibu Yati khawatir dan kepikiran sehingga Ibu Yati hanya tahu jika Arlan berangkat kerja ke bengkel.
Sore ini, tepat saat bel tanda usai kerja di pabrik sepatu bergema nyaring, para buruh berhamburan keluar dari gedung produksi dengan wajah-wajah lelah. Ayara melepaskan celemek kerjanya, merapikan tas kain sederhananya, lalu melangkah menuju area parkir sepeda motor.
Saat hendak memasukkan kunci ke lubang kontak motor tuanya, ponsel pintarnya bergetar singkat di dalam kantong celana. Ayara merogohnya dan melihat sebuah pesan masuk dari nomor Althaf.
Althaf : Kamu sudah selesai kerja? apa kita bisa bertemu sebentar? Ini mengenai masalah Arlan yang perlu aku sampaikan langsung ke kamu.
Jantung Ayara berdesir kencang membaca pesan singkat namun serius itu, perasaan cemas bercampur lega seketika menyelimuti dadanya. Cemas jika ada kerumitan baru, namun lega karena masalah sang adik akhirnya mendapatkan kemajuan.
Dengan jemari yang sedikit gemetar di atas layar retak ponselnya, Ayara mengetik balasan.
^^^Ayara : Bisa, Mas. Kita ketemu di mana? Ini aku baru mau pulang.^^^
Tak butuh waktu lama, balasan dari Althaf kembali muncul.
Althaf : Kamu kirim alamat kamu, aku jemput.
Ayara : Nggak usah, Mas. Mas tinggal tentukan tempatnya aja, biar aku kesana sendiri, soalnya aku bawa motor.
Althaf : Yaudah, aku tunggu kamu di kafe Elora.
^^^Ayara : Iya, Mas.^^^
"Mas Althaf, milih kafe Elora... apa karena kafenya dekat rumahku?" gumam Ayara, bertanya-tanya.
Ayara memasukkan kembali ponsel pintarnya ke dalam kantong celana, segera mengenakan helmnya dan menyalakan mesin motornya, lalu membelah kemacetan jalanan sore hari.
Setibanya di pelataran parkir Kafe Elora yang bernuansa industrial aesthetic dengan pepohonan rindang di sekelilingnya, Ayara memarkirkan motornya di barisan paling ujung. Ia merapikan pakaian kerja sederhananya, lalu melangkah masuk ke dalam kafe dengan perasaan canggung.
Tak sulit bagi Ayara untuk menemukan sosok Althaf, pria itu duduk di sudut area indoor dekat jendela kaca besar yang menghadap ke halaman. Althaf mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung rapi hingga ke siku, memancarkan aura ketampanan yang begitu tenang. Di atas mejanya, sudah ada dua cangkir minuman dan sebuah map cokelat tebal.
Althaf yang menyadari kehadiran Ayara langsung berdiri dan menyunggingkan senyum hangat yang seketika mencairkan suasana.
"Selamat sore, Ayara," sapa Althaf lembut sembari menarikkan kursi kayu di depannya untuk Ayara.
"Selamat sore, Mas Althaf," balas Ayara canggung, lalu duduk perlahan dengan jemari saling bertautan di atas pangkuan.
"Kamu kelihatan lelah, ini diminum dulu," ucap Althaf menyodorkan secangkir matcha latte hangat yang baru saja ia pesan untuk Ayara.
Ayara meneguk sedikit minuman hangat itu untuk menenangkan dadanya yang berdebar kencang, "Terima kasih, Mas. Oh ya... soal masalah Arlan, gimana jadinya, Mas? Apa mereka beneran mau bawa ke jalur hukum?" tanya Ayara tanpa bisa menahan rasa penasarannya lagi.
Althaf meraih map cokelat di atas meja, lalu membukanya perlahan di hadapan Ayara. Pria itu menyodorkan beberapa lembar kertas hasil cetakan gambar dan dokumen analisis.
"Kamu tidak perlu cemas lagi, Ayara. Tim saya sudah mendatangi bengkel tersebut secara resmi dengan membawa surat tugas dari firma hukum kami," terang Althaf dengan suara baritonnya yang mantap.
"Kami meminta rekaman cctv secara utuh tanpa potongan dari pemilik bengkel dan setelah diperiksa bersama saksi ahli, terbukti bukan Arlan yang mengambil uang dan suku cadang itu. Doni, yang kemarin sempat keluar lama, terlihat jelas di kamera menyelinap mengambil uang dari laci saat Arlan sedang sibuk di kolong mobil pelanggan." lanjutnya.
Ayara membelalakkan mata dan membaca sekilas lembaran bukti di hadapannya dengan perasaan haru yang membuncah, rasanya beban seberat ton yang bertengger di pundaknya runtuh seketika.
"Jadi... Arlan nggak bersalah, Mas?" tanya Ayara pelan, air mata lega merembet tipis di sudut matanya.
"Iya, Arlan nggak salah. Pihak bengkel sudah mengakui kekeliruan mereka, karena tidak mau masalah ini menjadi panjang dan berisiko merusak nama baik bengkel mereka terutama karena mereka sempat memaki dan mencemarkan nama baik Arlan di depan publik, mereka akhirnya setuju menarik seluruh tuduhan. Tapi...,"
"Tapi, apa Mas?" tanya Ayara.
"Soal pemecatan Arlan, aku nggak tahu gimana kelanjutannya. Karena pihak bengkel yang akan berbicara langsung dengan Arlan, tapi dari sikap mereka, seperti... mereka akan tetap memecat Arlan," jawab Althaf.
"Nggak apa-apa, Mas. Yang penting Arlan nggak dipenjara, soal kerja gampang, nanti aku bisa cari kerjaan buat dia," baalas Ayara.
"Nanti aku juga bantu," gumam Althaf pelan.
"Makasih ya, Mas," ucap Ayara.
"Sama-sama, aku senang bisa bantu kamu dan keluargamu," balas Althaf.
.
.
.
Bersambung.....
gimana menghadapi calon mertua yang ngeremehin kita