Terbuang saat bayi dan nyaris tewas di Hutan Terlarang, Hu Jin tumbuh tanpa mengetahui identitas aslinya sebagai Putra Mahkota Kerajaan Timur.
Ditolak oleh dunia dan diasuh oleh Dewi Es dari Sekte Teratai, Hu Jin bangkit membuktikan dirinya melalui Tulang Kaisar Langit—bakat mitologi yang mengguncang semesta. Namun, alih-alih menjadi alat politik sekte, ia memilih pergi menantang alam liar demi membebaskan gurunya dan merebut kembali takdir yang dirampas!
Mampukah pangeran yang terbuang ini menaklukkan benua dan kembali sebagai Dewa Pedang Es Kuno?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gemuruh Babak Penyisihan
Hari yang ditunggu-tunggu oleh seluruh praktisi persilatan di Benua Timur akhirnya tiba.
Fajar belum sepenuhnya menyingsing, namun Kota Besar Teratai Hitam sudah berguncang oleh gemuruh ratusan ribu langkah kaki. Sorak-sorai penonton pecah memenuhi udara pagi, berbaur dengan dentang lonceng perunggu yang bergema dari arah Arena Utama.
Di sudut penginapan tua yang sepi, Hu Jin berdiri di depan cermin tembaga. Ia merapikan jubah pengembara abu-abunya, membenahi ikatan tali Pedang Hitam Kuno di punggung, lalu mengenakan topi jerami. Tatapan mata hitamnya yang dalam berkilat emas tipis, memancarkan ketenangan tiada tanding.
Saat Hu Jin melangkah keluar dari pintu gerbang penginapan, langkah kakinya terhenti.
Di tepi jalan batu, berdiri seorang anak perempuan kecil berpakaian lusuh—salah satu anak jalanan yang beberapa hari ini sering bermain dengannya. Anak kecil itu berlari mendekati Hu Jin, meraih ujung jubah abu-abunya dengan tangan mungil.
"Abang Pendekar!" panggil anak kecil itu dengan suara polos yang nyaring.
Hu Jin berlutut dengan satu kaki, mengusap lembut kepala anak tersebut sambil tersenyum hangat. "Kenapa kau belum tidur, Kecil?"
Anak perempuan itu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru berjinjit, lalu mendaratkan ciuman kecil yang hangat di pipi Hu Jin.
"Abang harus menang!" serunya riang sambil mengacungkan kedua tinju mungilnya ke udara. "Aku dan teman-teman akan menyemangati Abang dari atas tembok kota!"
Hu Jin tertegun sejenak, lalu tawa kecil yang tulus mengalir dari bibirnya. Kehangatan sederhana itu menyusup lurus ke dalam dadanya, menyapu bersih sisa ketegangan.
"Terima kasih, Kecil," bisik Hu Jin lembut, berdiri kembali dengan mata memancarkan tekad bulat. "Abang berjanji tidak akan kalah."
Arena Utama Kota Teratai Hitam adalah kawah batu raksasa berbentuk lingkaran yang sanggup menampung setengah juta penonton. Di sekeliling arena, membentang tribun-tribun bertingkat yang dipadati oleh warga dan kultivator dari berbagai penjuru benua.
Di bagian paling atas, berdiri Tribun VIP yang megah untuk para petinggi Tiga Sekte Besar.
Qian Renxue duduk di kursi utama rombongan Sekte Teratai dengan jubah putih bersulam teratai perak. Wajah cantiknya tampak dingin bagai ukiran es, namun matanya mengawasi ribuan peserta yang mulai memasuki lapangan penyisihan di bawah sana.
Di tengah ribuan peserta yang saling sikut memamerkan aura Qi, mata Qian Renxue mendadak terhenti pada sosok pemuda bertopi jerami berjubah abu-abu yang melangkah tenang di barisan belakang. Getaran aura es murni yang amat familiar berdesir di indranya.
Anak Nakal itu...! batin Qian Renxue tersentak. Bibirnya yang merah muda mengukir senyuman tipis yang sangat tersembunyi. Rasa lega dan bangga meluap di dadanya.
Namun, bukan hanya Qian Renxue yang menyadari keberadaan Hu Jin.
Di samping Qian Renxue, beberapa tetua senior Sekte Teratai yang bertubuh tambun dan berwajah culas mendadak membelalakkan mata. Mereka mengenali bayangan dan aura pemuda yang belasan tahun lalu menjadi murid buangan di Puncak Es!
"T-Tetua Agung... lihat di bawah sana!" bisik salah seorang tetua Sekte Teratai dengan nada panik dan benci. "Bukankah itu Hu Jin?! Bocah buangan yang seharusnya sudah mati di alam liar?!"
"Lancang sekali dia berani menampakkan diri di tempat ini dengan nama samaran!" desis tetua lainnya, mengepalkan tangan dengan wajah merah padam.
Qian Renxue tidak menoleh, hanya melontarkan pandangan dingin yang membekukan darah para tetua tersebut. "Tutup mulut kalian. Jika ada dari kalian yang berani mengganggu pertandingannya, aku sendiri yang akan mematahkan pembuluh darah kalian."
Para tetua Sekte Teratai seketika bungkam, gemetar oleh ancaman Sang Wanita Suci Puncak Es.
BUMMM
Sebuah ledakan kembang api spiritual menembus langit! Suara Pemimpin Kota menggelegar menyapu seluruh arena.
"Babak Penyisihan Resmi Dimulai! Ujian Perburuan Pelat Nomor! Hanya seratus peserta terakhir yang bertahan di dalam lapangan yang berhak lolos ke babak utama!"
WUUUUUSH
Seketika itu juga, lapangan arena batu yang seluas puluhan hektar meletus menjadi neraka pertarungan! Ratusan kultivator langsung mencabut senjata, saling serang tanpa ampun demi merebut pelat nomor lawan. Tebasan pedang, ledakan elemen api, dan jeritan kesakitan bersahutan membakar atmosfer.
Para jenius utama seperti Su Qing'er dari Sekte Awan dan pemuda pemegang Tubuh Pedang Sembilan Nirwana dari Sekte Pedang Langit berdiri terpisah di sudut-sudut arena utama. Di sekeliling mereka, tidak ada satu pun peserta biasa yang berani mendekat karena aura Ranah Inti Jiwa Tahap Awal (Early-Stage Soul Core) mereka yang terlalu menakutkan.
Hu Jin melangkah santai di area pinggir arena, sama sekali belum berniat mencari pertarungan dengan para jenius utama tersebut.
Namun, ketenangan Hu Jin justru memancing nafsu berburu kelompok murid perusuh.
"Hahaha! Lihat bocah bertopi jerami itu! Dia hanya pengembara solo tanpa sekte!"
"Serang dia! Ambil pelat nomornya!"
Tiba-tiba, rombongan berisi lima belas murid dari Sekte Pedang Langit cabang selatan bersama puluhan kultivator bebas perusuh mengepung Hu Jin dari segala penjuru! Masing-masing memegang senjata tajam dilapisi energi Pembentukan Qi Tahap Akhir (Late-Stage Qi Foundation).
Pemimpin rombongan itu—pemuda berwajah licik—mengayunkan pedangnya tepat ke arah leher Hu Jin dari belakang. "Mati kau, Bocah Gembel!"
Hu Jin bahkan tidak berbalik. Ia berdiri membelakangi mereka, memiringkan topi jeraminya sedikit ke depan.
SZZZT
Hu Jin tidak menarik Pedang Hitam Kuno dari punggungnya. Ia hanya mengepalkan telapak tangan kanan yang dilapisi setetes energi Seni Pedang Sembilan Es Kuno yang telah menyatu dengan keagungan Tulang Kaisar. Hu Jin menghentakkan tumit kakinya secara halus ke tanah pualam.
BUMMMMMMM
Gelombang badai es berwarna biru-emas meledak secara mendatar dalam radius lima puluh meter dari tubuh Hu Jin!
Suhu udara di area tersebut merosot tajam hingga berada di bawah titik beku seketika! Udara malam yang hangat berubah menjadi kristal-kristal es tajam yang meluncur bagaikan jutaan belati tak terlihat.
"A-apa yang terjadi—"
CRACK CRACK CRACK
Sebelum lima belas murid perusuh itu sempat mengayunkan senjata, gelombang aura es Hu Jin menyapu tubuh mereka tanpa ampun! Pedang-pedang besi mereka hancur berkeping-keping menjadi debu es. Dalam hitungan satu tarikan napas, lima belas kultivator arogan itu membeku sepenuhnya, terhempas ke udara dan roboh menghantam lantai batu bagaikan patung-patung es yang kaku!
"AGHHH!"
"K-kakiku membeku! Qi-ku terhenti!"
Jeritan ketakutan bergema di sudut arena. Pembantaian pertama itu terjadi begitu cepat, bersih, dan mendominasi!
Hu Jin berdiri di tengah-tengah belasan musuh yang lumpuh bersimbah es, melipat kedua tangannya di dalam lengan jubah abu-abu tanpa goresan sedikit pun di pakaiannya.
Keheningan mendadak melanda tribun penonton di sekitar area pertarungan Hu Jin. Ribuan penonton yang menyaksikan aksi tersebut membelalakkan mata dengan napas tertahan.
Di atas Tribun VIP, para tetua Sekte Pedang Langit tersentak berdiri dari kursi mereka, raut wajah mereka dipenuhi rasa tak percaya. Sementara Su Qing'er yang bertarung di sisi lain arena menoleh pelan, mata indahnya berbinar terang menatap sosok pemuda bertopi jerami yang berdiri anggun di tengah badai es.
Hu Jin mendongak pelan dari balik topi jeraminya, menatap lurus ke arah Qian Renxue di Tribun VIP.
Sebuah senyuman tipis dan percaya diri terukir di bibirnya. Babak penyisihan baru saja dimulai, dan nama sang pangeran terbuang telah siap mengguncang seluruh Benua Timur!