NovelToon NovelToon
Cinta Dan Keyakinan

Cinta Dan Keyakinan

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kholifah Lifah

romansa islami story

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

Udara malam di kawasan sirkuit jalanan tak resmi di pinggiran ibu kota terasa pekat, didominasi oleh bau menyengat dari bensin, asap knalpot, dan karet ban yang bergesekan dengan aspal. Suara raungan mesin-mesin mobil modifikasi yang tengah dipanaskan saling bersahutan, menciptakan simfoni memekakkan telinga yang memacu adrenalin siapa pun di sana.

​Kecuali Nadiva.

​Gadis itu berdiri kaku di samping kap mobil sport hitam legam milik Dereen. Ia merapatkan jaket hoodie kebesarannya yang menutupi gamis dan jilbabnya, merasa sangat salah tempat di tengah kerumunan anak-anak muda metropolitan yang berpakaian minim dan bergaya urakan.

​"Kak, serius deh. Ini aku udah izin potong gaji lho dari kedai demi nemenin Kakak ke tempat sarang maksiat begini," gerutu Nadiva untuk yang kesepuluh kalinya malam ini. Matanya melirik ngeri ke arah dua gadis berpakaian ketat yang baru saja lewat sambil menggoda Dereen. "Tugas asisten pribadi itu bawain tas, nyiapin minum, atau fotokopi tugas. Bukan disuruh berdiri di pinggir jalan tol nungguin bosnya balapan liar!"

​Dereen, yang tengah bersandar santai di pintu mobilnya, hanya mendengus geli. Cowok itu tampak luar biasa memukau malam ini. Balutan kaus hitam polos dan jaket kulit yang memeluk pas tubuh atletisnya, dipadukan dengan rambut yang sedikit berantakan tertiup angin malam, membuatnya terlihat seperti dewa jalanan yang dipuja semua orang di arena itu.

​"Bawel banget sih lo," sahut Dereen dengan suara baritonnya yang serak dan dalam. Ia menyesap sebatang rokok yang belum dinyalakan di bibirnya, hanya untuk gaya. Matanya menatap Nadiva dari atas ke bawah. "Lo itu babu spesial. Tugas lo memastikan bos lo ini tetap dalam mood yang bagus sebelum balapan. Paham?"

​"Spesial dari Hong Kong," cibir Nadiva pelan, mengerucutkan bibirnya. Ia memeluk tas ransel Dereen erat-erat ke dadanya. "Ya udah, Kakak balapan aja sana. Aku tunggu di warung pecel lele ujung jalan itu ya? Di sini bising, takut telingaku budek sebelum waktunya."

​Dereen menegakkan tubuhnya. Seringai jahil perlahan terbit di bibirnya. Sebuah ide gila mendadak melintas di kepalanya. Selama ini, perempuan-perempuan yang mendekatinya selalu memohon-mohon agar diizinkan duduk di kursi penumpang saat ia balapan—sebuah posisi prestisius yang selalu ia tolak. Namun malam ini, melihat wajah polos Nadiva yang terus menggerutu, Dereen merasa ingin menguji mental gadis barbar ini ke level selanjutnya.

​"Siapa bilang lo nunggu di warung pecel lele?" Dereen menekan tombol di remote kuncinya. Kaca jendela mobilnya turun perlahan. Ia membuka pintu penumpang depan dengan gerakan lebar. "Masuk."

​Nadiva mengerjapkan matanya yang bulat. Ia menatap pintu mobil yang terbuka, lalu menatap wajah Dereen bergantian. "Masuk ke mana? Ke mobil? Ngapain? Mau ngambilin tisu?"

​"Bukan. Lo ikut gue balapan."

​Hening sejenak. Suara bising mesin di sekitar mereka seolah lenyap dari telinga Nadiva, digantikan oleh bunyi dengung panjang tanda error di otaknya.

​"HAH?!" pekik Nadiva histeris, refleks melompat mundur selangkah. Tangannya bersilang di depan dada membentuk huruf X. "Nggak! Nggak mau! Kak, aku ini asisten, bukan airbag! Nanti kalau mobilnya nabrak trotoar terus meledak kayak di film Fast & Furious gimana?! Masa mudaku masih panjang, Kak! Maroko masih nungguin aku!"

​Dereen tak kuasa menahan senyumnya. Ia melangkah maju, mengikis jarak hingga aroma mint dan musk maskulinnya menyergap penciuman Nadiva, membuat gadis itu menahan napas.

​"Lo masuk sendiri dengan suka rela, atau gue yang gendong lo masuk ke dalem?" ancam Dereen dengan nada rendah yang kelewat santai namun mematikan. Matanya menatap tajam, menantang. "Pilih. Gue hitung sampai tiga. Satu..."

​"Kak, jangan gila deh! Aku belum siap mati ninggalin utang KPR orang tua di kampung!"

​"Dua..." Dereen memajukan wajahnya, bersiap menyentuh bahu Nadiva.

​"IYA, IYA! ASTAGHFIRULLAH, IYA AKU MASUK!" jerit Nadiva panik. Dengan wajah ditekuk dan bibir komat-kamit menyumpahi bos tiraninya itu, Nadiva akhirnya mengalah. Ia melempar tas ransel ke jok belakang dan mendudukkan dirinya dengan kasar di kursi bucket seat penumpang.

​Dereen tertawa pelan. Tawa yang berat dan terdengar luar biasa seksi, membuat beberapa gadis di sekitar sana memekik tertahan. Cowok itu memutari kap mobil dan masuk ke kursi kemudi.

​Begitu pintu ditutup, suasana di dalam kabin mobil terasa begitu intim dan kedap suara. Jarak antara kursi kemudi dan penumpang di mobil sport itu cukup sempit. Nadiva bisa merasakan panas tubuh Dereen di sebelahnya. Gadis itu buru-buru menarik sabuk pengaman, mengkliknya dengan gemetar, lalu berpegangan erat pada handle di atas jendela seperti orang yang bersiap menghadapi kiamat.

​"Siap, Cewek Aneh?" bisik Dereen, tangannya dengan lincah meraih tuas persneling.

​"Nggak! Kak, jalannya pelan-pelan aja ya, kecepatan maksimal empat puluh kilometer per jam. Anggap aja kita lagi pawai odong-odong—"

​Belum selesai Nadiva bicara, seorang gadis berpakaian seksi berjalan ke tengah jalanan aspal di depan mereka, mengangkat sebuah sapu tangan merah tinggi-tinggi. Detik berikutnya, sapu tangan itu dijatuhkan.

​VROOOOOOM!

​Tubuh Nadiva seketika terhempas keras ke sandaran kursi saat mobil sport itu melesat ke depan bagai peluru yang dimuntahkan dari moncong pistol. Gaya gravitasi menarik tubuhnya ke belakang, seolah menekan seluruh organ dalamnya.

​Di luar, lampu-lampu jalanan ibu kota berubah menjadi garis-garis cahaya yang memburam (blur). Pemandangan melesat dengan kecepatan tak masuk akal. Suara mesin mengaum, berpacu dengan mobil Mustang biru di sebelah mereka.

​"AAAAAA!! YAA ALLAH! MAMA!" Nadiva menjerit sejadi-jadinya. Matanya terpejam rapat-rapat. Kepalanya menempel erat pada sandaran kursi.

​Tangannya mencengkeram sabuk pengaman hingga buku-buku jarinya memutih. Dan tanpa sadar, mulut mungilnya mulai berkomat-kamit dengan kecepatan yang menyaingi RPM mobil Dereen.

​"Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala ali sayyidina Muhammad! Astaghfirullahaladzim! Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar! Ya Allah, lindungi hamba, hamba belum nikah, hamba belum ke Maroko! Lailahaillallah!"

​Dereen, yang tengah fokus menatap jalanan di depannya dengan konsentrasi penuh, tak sengaja mendengar rentetan doa super kilat itu. Cowok itu menoleh sekilas ke bangku kiri.

​Pemandangan di sebelahnya sukses membuat konsentrasi bad boy itu nyaris ambyar. Di saat cewek-cewek lain yang pernah menumpang mobil teman-temannya akan memekik kegirangan, sok keren, atau pura-pura memeluk lengan si pengemudi, Nadiva justru sedang merapal selawat dan zikir bagai kesurupan dengan mata terpejam rapat. Wajah chubby-nya pucat pasi, menolak membuka mata sedikit pun.

​"Kita masuk tikungan, Div! Pegangan!" seru Dereen, memperingatkan. Tangannya dengan sigap membanting setir ke kiri, sementara kakinya memainkan pedal gas dan kopling dengan ritme mematikan.

​CIIIIIIT!

​Suara decit ban yang bergesekan keras dengan aspal melengking tajam saat mobil itu melakukan aksi drift patah yang sempurna, menyapu tikungan tajam hingga menghasilkan kepulan asap putih dari ban belakang. Guncangan keras terjadi. Tubuh Nadiva terlempar ke kanan, tertahan erat oleh sabuk pengamannya.

​"ALLAHU LA ILAHA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUM! LAA TA'KHUDZUHU SINATUW WALAA NAUM!"

​Alih-alih menjerit ketakutan, Nadiva refleks melantunkan Ayat Kursi dengan volume maksimal, mengalahkan suara deru knalpot racing. Nada suaranya bergetar hebat antara tangis, panik, dan kepasrahan total kepada Sang Pencipta.

​Dereen tak tahan lagi. Tawa lebarnya pecah seketika di dalam kabin mobil yang melaju gila-gilaan itu. Ia tak pernah tertawa selepas ini selama bertahun-tahun. Perutnya sampai terasa kaku. Keberadaan gadis ini di sebelahnya, dengan segala tingkah polah keagamaannya di tengah arena balap liar, benar-benar menjadi paradoks paling indah yang pernah Dereen temui.

​Tak berselang lama, mobil hitam itu membelah garis finis, jauh meninggalkan lawannya di belakang. Dereen menurunkan kecepatan secara bertahap, membiarkan mobilnya berdeselerasi dengan mulus sebelum akhirnya berhenti total di area parkir yang sedikit jauh dari kerumunan.

​Mesin mobil perlahan mereda menjadi dengungan halus. Hening menyergap kabin mobil.

​Namun di kursi penumpang, mulut Nadiva masih belum berhenti berkomat-kamit. "Walau dholliin... aamiin. Astaghfirullah... astaghfirullah..."

​Dereen mencondongkan tubuhnya ke arah Nadiva, menumpukan sebelah sikunya di setir kemudi. Ia menatap wajah pias gadis itu dengan sorot mata yang luar biasa lembut—sebuah tatapan yang tak pernah ia berikan pada siapa pun seumur hidupnya. Ada desir hangat yang meletup-letup di rongga dadanya.

​"Udah nyampenya, Bu Hajjah," bisik Dereen serak, nada suaranya mengalun menggoda. "Amin-nya kapan?"

​Mendengar suara itu, perlahan Nadiva membuka sebelah matanya, lalu mata sebelahnya lagi. Pandangannya masih berputar-putar. Ia menatap jalanan yang sudah diam, lalu menoleh ke arah Dereen.

​Begitu kesadaran dan napasnya kembali normal, rasa takut itu seketika bermetamorfosis menjadi amarah yang meledak-ledak. Jiwa barbar-nya bangkit dari kubur.

​"KAK DEREEN GILA!!!" jerit Nadiva murka. Tanpa pikir panjang, gadis itu melepaskan sabuk pengamannya, meraih kotak tisu di atas dashboard, dan memukulkannya tanpa ampun ke bahu dan lengan Dereen.

​Brak! Buk! Buk!

​"Aw! Sakit, woy!" Dereen meringis, berusaha menangkis serangan brutal itu dengan kedua tangannya sambil tertawa terbahak-bahak.

​"Sakit?! Ini jantungku rasanya udah pindah ke usus buntu tau nggak?! Tadi itu kita drift apa mau take off ke akhirat, Hah?! Kakak mau bunuh aku pelan-pelan ya?!" omel Nadiva dengan mata berkaca-kaca karena panik yang tersisa, napasnya naik turun. Ia terus memukulkan kotak tisu itu. "Dasar cowok arogan! Tiang jemuran! Bad boy nggak ada akhlak!"

​Dereen tak lagi menangkis. Dengan satu gerakan cepat, tangan besarnya menangkap kedua pergelangan tangan mungil Nadiva. Genggamannya tidak keras, namun cukup untuk menghentikan pergerakan gadis itu.

​Suasana di kabin yang sempit itu tiba-tiba berubah drastis. Tawa Dereen perlahan mereda. Nadiva terkesiap. Napas mereka memburu, beradu di udara yang sama. Mata kelam Dereen menatap lurus ke dalam netra cokelat terang Nadiva. Jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa jengkal. Nadiva bisa melihat pantulan lampu jalan dari bola mata Dereen, merasakan aura cowok itu yang begitu mengintimidasi namun... memabukkan.

​"Lo tahu..." bisik Dereen, suaranya turun satu oktaf, menjadi sangat pelan dan berbahaya. Ibu jarinya tanpa sadar mengelus pelan pergelangan tangan Nadiva yang dibalut lengan hoodie. "...gue menang malam ini."

​Nadiva menelan ludah. Suaranya mendadak tertahan di tenggorokan. "T-terus? Apa urusannya sama aku?" cicitnya gugup, berusaha menarik tangannya, namun Dereen menahannya dengan lembut.

​"Urusannya..." Tatapan Dereen turun sekilas ke arah bibir Nadiva, lalu kembali menatap matanya. "Gue selalu dapat apa yang gue mau, Nadiva."

​Deg.

​Jantung Nadiva yang tadi berpacu karena drifting, kini berdetak gila-gilaan karena alasan yang jauh lebih mematikan. Semburat merah langsung menjalar di pipi chubby-nya. Namun, tepat di saat suasana terasa begitu menyesakkan dada, kilat perak dari balik kaus hitam Dereen memantulkan cahaya lampu jalan dari luar jendela.

​Salib itu seolah berteriak memperingatkan Nadiva.

​Kesadaran gadis itu kembali seperti disiram air es. Dengan gerakan kasar, Nadiva menarik tangannya kuat-kuat dari genggaman Dereen, memundurkan tubuhnya hingga merapat ke pintu mobil. Ia memalingkan wajah, menatap ke luar jendela dengan dada bergemuruh hebat, antara marah, bingung, dan menekan sekuat tenaga perasaan asing yang tak boleh ada.

​"A-aku mau pulang. Shift kerjaku udah kelar," ucap Nadiva dingin, nadanya bergetar tipis.

​Dereen terdiam. Ia melihat penolakan itu. Ia melihat bagaimana benteng tak kasatmata yang dipegang teguh oleh Nadiva kembali berdiri kokoh di antara mereka. Tangan cowok itu kembali ke kemudi, meremasnya dengan rasa frustrasi yang tak bisa diungkapkan.

​"Oke. Gue antar lo pulang," final Dereen dingin.

​Malam itu, di dalam mobil hitam yang membelah jalanan sepi, dua anak manusia itu membisu. Terjebak dalam gejolak perasaan luar biasa kuat yang tak diizinkan oleh takdir untuk bersatu.

1
Lyka Lyka
kereenn...
Lyka Lyka
udh baca maraton ehh .. malah abis😂 di tggu lanjut annya
Ossa Mulya
gak sabar nunggu lanjutannya Thor 💚💚💚 seru banget cerita ini💚
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!