NovelToon NovelToon
Incaran Sang Dokter Bedah

Incaran Sang Dokter Bedah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Satu bulan menikah, IPTU Milka harus menelan kenyataan pahit. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh sang suami, Vando, yang diam-diam bermain gila dengan sahabatnya sendiri.

Hancur dan menangis di trotoar dengan seragam dinasnya, Milka tak tahu bahwa air matanya disaksikan oleh Theo, pria dari masa lalu yang kini menjadi Dokter Bedah genius sekaligus penguasa sindikat bawah tanah.

Pria yang dulu mundur demi kebahagiaan Milka, kini murka melihat wanita impiannya disia-siakan. Lewat jaringan gelapnya, Theo bergerak cepat menguliti kebusukan Vando dan Irana.

Bagi Theo, menyerahkan suami pengkhianat ke jalur hukum saja tidak cukup. Pria yang telah membuat Milka menangis ... harus merasakan kekejaman pisau bedahnya!

"Biar hukum bekerja lewat tanganmu, Milka. Tapi untuk pria yang menyakitimu ... izinkan aku yang membereskannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Menyerahlah!

“Dan aku yang diutus untuk menyelidiki suamiku sendiri.”

Wajah Vando seketika menegang.

“Ke-kenapa malah aku yang kamu selidiki?" Vando mendadak terbata sungguh tak menyangka ini akan terjadi.

Alis Milka naik sebelah. “Sekarang Mas tahu alasan aku bertemu Kak Theo, kan?”

Vando menelan ludah. Bola matanya mulai liar, mencoba berpikir dengan cepat apa yang harus ia sampaikan.

Milka menghela napas panjang. “Aku tidak pernah berselingkuh.”

Tatapannya sejenak turun, tetapi menancap kembali pada mata Vando. “Aku sedang mencari bukti.”

Vando menggeleng cepat. “Nggak. Kamu bohong.”

“Jika aku bohong, menurutmu aku akan memberitahumu tentang, semua ini?”

Vando terdiam.

Milka melangkah menuju meja. Ia mengambil map cokelat yang sejak tadi terbuka, kemudian menutupnya perlahan.

“Aku masih memberimu kesempatan, Mas.”

Kalimat itu membuat Vando mengangkat wajah. “Kesempatan untuk apa?”

“Menyerah.”

Seketika wajah Vando berubah panik, ia menggeleng cepat.

Milka menatapnya tanpa kebencian. “Datang lah ke kantorku dan berikan keterangan. Serahkan apa yang kamu tahu. Bantu penyidik mengungkap siapa saja yang terlibat.”

Vando terkekeh hambar. “Kamu pikir semudah itu?”

“Tidak!” jawab Milka spontan membuat tawa Vando terhenti.

“Aku tahu ini tidak mudah.” Milka menggenggam ujung map di tangannya.

“Tapi kalau Mas menyerahkan diri dan bekerja sama, hukumanmu bisa lebih ringan daripada kalau semuanya terbongkar setelah Mas terus mengelak.”

“Jangan sok tahu soal hukum!” teriak Vando.

“Aku tidak sedang sok tahu.” Milka menatapnya lurus.

“Aku sedang memberimu jalan keluar.”

Vando pun terdiam, sibuk dengan pikirannya sendiri.

Bagi Milka, Vando masih bisa keluar dari masalah yang lebih besar. Namun, semua pasti akan berbeda jika Vando terus mengelak.

“Mas Vando ...” Milka memanggilnya dengan suara yang lebih lunak.

“Berhenti dari apa pun yang kamu lakukan sebelum semuanya terlambat. Jangan pernah berpikir kamu akan lolos dari hukum!”

Vando mengepalkan tangan. “Dan kalau aku menolak?”

Milka terdiam. Lalu sebuah senyum tipis muncul di wajahnya.

“Kalau Mas menolak ...” Ia meletakkan map itu di atas meja.

“... aku akan tetap menjalankan tugasku sebagai penyidik. Tak hanya itu, aku juga akan melayangkan gugatan ceraiku meski kamu tak mau bercerai denganku.”

Kening Vando mengerut. Namun, hatinya masih terlalu tinggi jika pilihannya harus menyerah

“Jadi, silakan kamu pilih sendiri.”

Milka menarik semua map yang ada di atas meja makan tadi, membawanya keluar dan ia putuskan untuk pergi dari rumah ini.

Milka memasukan map-map tersebut ke dalam kabin mobil dan pergi tanpa berpamitan meninggalkan Vando yang masih mematung karena shock.

.

.

Di markas White Scalpel, Bonar baru saja melaporkan hasil penelusuran dari para hacker.

Ruangan komando yang biasanya dipenuhi suara ketikan mendadak lebih hening ketika sebuah rekaman CCTV ditampilkan pada layar utama.

Theo yang sejak tadi berdiri di depan meja pimpinan pun mengangkat wajah.

"Ini rekaman dari rumah sakit?" tanyanya.

Bonar mengangguk. "Benar, Boss." Rekaman itu diputar.

Terlihat suasana kantin AD Medical pada pagi hari. Beberapa pasien dan tenaga medis berlalu-lalang. Di salah satu sudut, Theodore duduk berhadapan dengan Milka.

Keduanya tampak sedang sarapan.

Theo bahkan sempat mencubit dagu Milka hingga perempuan itu mengernyit kesal.

Naga yang berdiri di belakang Bonar mengembuskan napas pendek.

"Kalau bukan karena kita sudah tahu hubungan mereka sejak dulu, gue mungkin ikut salah paham melihat adegan itu."

Bonar terkekeh. "Boss memang dari zaman SMA sudah—"

"Fokus." Satu kata Theo langsung memotong pembicaraan. Meski ia sendiri menyembunyikan senyuman saat melihat sendiri aksi yang ia lakukan tanpa sadar.

Bonar segera mengusap hidungnya, lalu kembali menunjuk layar.

"Perhatikan bagian belakang."

Rekaman dihentikan. Bonar memperbesar gambar.

Di balik kaca kantin, seorang pria mengenakan jaket gelap terlihat berdiri cukup lama. Wajahnya tidak mengarah ke Milka secara langsung.

Namun ketika Milka bangkit mengambil minuman, pria itu ikut bergerak.

Theo menyipitkan mata. "Putar," titahnya pendek.

Bonar menjalankan rekaman beberapa detik sebelumnya. Pria itu muncul di lorong. Kemudian berpindah ke lobi. Lalu menghilang ketika Milka memasuki lift. Bonar mengganti rekaman ke kamera lain.

Pria yang sama terlihat di lantai bawah. Kemudian di depan pintu keluar rumah sakit. Naga yang semula santai mulai menegakkan tubuh.

"Dia ngikutin Milka?"

"Sepertinya bukan cuma di rumah sakit."

Bonar menggeser rekaman berikutnya.

Kamera luar gedung menampilkan pria tersebut keluar beberapa menit setelah Milka dan Theo meninggalkan kantin.

Lalu sebuah rekaman dari kamera jalan memperlihatkan pria itu menaiki kendaraan berbeda.

Bonar berhenti sejenak. "Ini yang bikin saya ingin melapor secara langsung."

Ia menampilkan rekaman terakhir. Kendaraan itu bergerak mengikuti motor Milka.

Theo tidak berkata apa-apa. Sorot matanya berubah. "Berapa lama?"

"Belum tahu pasti. Tapi kami tarik rekaman dari beberapa titik." Bonar mengganti layar.

Satu demi satu rekaman muncul. Pria yang sama. Di sekitar kantor Milka. Di sebuah persimpangan yang biasa dilewati Milka. Kemudian beberapa hari sebelumnya, di sekitar rumah sakit.

Naga mengumpat pelan. "Ini tak bisa lagi dikatakan dengan kebetulan."

Theo melangkah mendekati layar. Matanya terpaku pada sosok asing tersebut. "Perbesar wajahnya."

Bonar mengerjakan perintah itu. "Baik, Boss."

Bonar memperbesar gambar semaksimal mungkin. Wajah pria itu masih buram karena sudut kamera dan topi yang menutupi sebagian kepalanya.

Namun, saat pria itu sedikit menoleh, bagian lehernya terlihat jelas.

Ada tato kecil berbentuk kepala ular hitam yang melingkar.

Ruangan komando seketika hening.

Naga yang semula bersandar langsung menegakkan tubuh.

"Itu..." Bonar mengepalkan rahang.

"Simbol Black Cobra." Tatapan Theodore berubah tajam.

"Lima tahun ..." gumamnya pelan.

"Lima tahun mereka menghilang tanpa jejak."

"Dan sekarang, mereka muncul lagi."

Tak ada lagi senyum di wajahnya.

Pria yang selama beberapa menit lalu masih bisa tersenyum melihat Milka di layar, kini berubah menjadi sosok dingin yang ditakuti seluruh anggota White Scalpel.

"Bonar."

"Siap, Boss."

"Naikkan status operasi."

"Level Merah."

Naga menoleh cepat.

"Boss ... berarti kita anggap Black Cobra resmi kembali aktif?"

Theo mengangguk pelan. "Dan target pertama mereka..."

Tatapannya berhenti pada gambar Milka yang masih membeku di layar monitor.

"... adalah Milka."

Ruangan itu kembali sunyi. Tak seorang pun berani membuka suara. Karena semua orang di White Scalpel tahu, jika ada yang berani mengincar perempuan yang dicintai Theodore sejak SMA ...

Maka Theodore tak akan lagi hanya sekadar memburu. Tapi, juga akan memusnahkan mereka.

*bersambung*

1
MomyWa
plin plan amat lu jang, cemen
MomyWa
apa yg kau takutkan vando? lu udah bikin anak, tp egoisnya masih mau sm prawan
MomyWa
namanya yg haram emang gitu
MomyWa
lokasi dikawal penuh sama theo
MomyWa
emang kapan kamu nangis?
Dewi kunti
dah tak bagi vote ya,up lagi dong
Dewi kunti: aamiin,,semangaaaattt
total 2 replies
Anbu Hasna
karma beut ya...
dulu bapaknya Theo nyusahin Bapaknya Milka, sekarang Milka nyusahin Theo, tapi gpp, Theo suka direpotin Milka 🤣🤣🤣
Anbu Hasna: Anda yg bikin Theo jadi merepotkan diri 🤣🤣
total 2 replies
Dewi kunti
berpapasan,jangan dipisah itu bukan pengulangan kata pas😤
SoVay: iye iye, ini udeh dganti buguyu 🙈
total 3 replies
MomyWa
main tebak2an siapa yg duduk itu? si black cobra apa white scalpel?
MomyWa
wkwkwkw...gombalannya mameeen, pengen diinget terus
MomyWa
bagi Milka, Theo 'B' aja 😂
Aidil Kenzie Zie
Naga di suruh awasi Bu Polisi malah kehilangan jejaknya 😡😡😡 siap-siap kena amuk Bos mu 🤭🤭🤭
SoVay: pasti dijagain juwita hatiku ❤️
total 1 replies
MomyWa
ke mana dong milka setelah kabur dr rumah?
SoVay: ke suatu tempat ❤️
total 1 replies
MomyWa
gmn nih, kok smpai kecolongan?
MomyWa
hahaha, senyam senyum dia
MomyWa
tidak semudah itu ferguso
Dewi kunti
klo dinovel mafia nya ganteng2 ,body bagus2, klo didunia nyata ganteng standar perut buncit🙈🙈🙈🙈🙈
Dewi kunti: yg selera yg pingin dunia nya aman🙈🙈🙈🙈
total 4 replies
MomyWa
suka karakter cewennya gak menye2.. perselingkuhan dibuat kayk myelidikin ksus pmbunuhan 🤪
MomyWa
pengen nyanyi: maju tak gentar, mengusir sitanggang 🤪
MomyWa
gak jd dapat, cerai ja, mumpung baru seumur jagung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!