NovelToon NovelToon
Obsesi Gila Grayson

Obsesi Gila Grayson

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Jumarlin

Aurelia Calista seorang remaja anak satu-satunya dari keluarga sederhana Bayu dan Lila. Walaupun mereka hidup sederhana tapi Aurelia tidak kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Berbeda dengan pria bernama Grayson Balindra seorang anak broken home yang ditinggal bercerai oleh orang tuanya sehingga pemuda itu tidak mendapatkan peran apapun baru saja pindah ke sekolah aurelia. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu membuat Grayson tertarik dan terobsesi. Dari situlah hidup Aurelia yang biasa tenang seketika berubah.

Bagaimana kisah selanjutnya, yuk baca. Obsesi gila Grayson.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Kertas kecil di atas meja itu terasa bagaikan selembar vonis mati bagi kewarasan Aurelia. Jemarinya yang dingin gemetar hebat saat menyentuh ujung kertas tersebut, sementara matanya menatap nanar tulisan tangan yang tertera di sana. Ancaman itu nyata. Grayson tidak sedang menggertak; pemuda itu benar-benar memegang kendali atas hidupnya, keluarganya, dan orang-orang di sekitarnya.

Di bangku depan, Aluna dan Aruna menoleh dengan wajah cemas luar biasa. Mereka ingin mendekat, namun aura dingin dan mencekam yang menguar dari sosok Grayson di barisan tengah membuat siapapun di kelas itu tidak berani macam-macam.

"Aurelia..." bisik Aluna tertahan, nyaris tak bersuara, meminta penjelasan dari sahabatnya.

Namun Aurelia tidak sanggup menjawab. Tenggorokannya terasa tercekat, seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekiknya dari dalam. Ia menggeleng pelan, memberi tahu sahabatnya lewat tatapan mata yang basah oleh genangan air mata bahwa ia baik-baik saja—meskipun jauh di lubuk hatinya, ia tahu ia sedang hancur berkeping-keping.

Hari-hari berikutnya berubah menjadi mimpi buruk yang berjalan lambat bagi Aurelia.

Sesuai dengan peringatan keji itu, Aurelia terpaksa menjaga jarak dari siapa pun. Ia menolak ajakan makan siang Aluna dan Aruna dengan alasan ingin di perpustakaan, menghindari sapaan ramah Galang di koridor dengan cara menunduk dan mempercepat langkah kakinya, serta selalu pulang tepat waktu tanpa pernah mampir ke mana pun.

Setiap kali bayangan Grayson melintas di hadapannya—dengan sorot mata amber yang selalu mengawasi setiap gerak-geriknya dari jauh—Aurelia merasakan teror psikologis yang perlahan merusak jiwanya. Ia merasa terisolasi di dunianya sendiri, terjebak dalam sangkar emas tak kasat mata yang dibangun oleh obsesi seorang pemuda psikopat.

Sementara itu, di sebuah kafe remang-remang di pusat kota, Grayson duduk bersandar santai di sofa kulit berwarna gelap. Asap tipis mengepul dari rokok elektrik di tangannya. Di sekelilingnya, Rian dan Satya duduk sambil memerhatikan beberapa berkas di atas meja.

"Gimana, Bos? Anak buah kita udah mastiin kalau si ketua OSIS itu sekarang udah nggak berani deket-deket lagi sama Aurelia," ujar Rian sambil terkekeh kecil. "Keliatan banget si Galang ciut begitu kita kasih 'peringatan kecil' kemarin lusa."

Grayson menghembuskan napas pelan, asap putih mengepul di udara. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman kepuasan yang dingin.

"Bagus," jawab Grayson dengan suara baritonnya yang tenang namun mutlak. "Dia cuma perlu tahu batas wilayahnya. Kalau masih ada yang berani lancang coba-coga masuk ke zona milik gua, kalian tahu kan apa yang harus dilakuin?"

"Tenang aja, Gray. Semua aman terkendali," sahut Satya meyakinkan. "Tapi, lu nggak ngerasa cara lu ini agak kelewatan? Maksud gua... si Aurelia sekarang keliatan tertekan banget. Tiap hari mukanya pucat, kayak orang linglung."

Mendengar kata-kata Satya, sorot mata amber Grayson mendadak menajam. Ia mematikan rokok elektriknya di atas asbak dengan gerakan tegas. Suasana di sekitar meja mereka mendadak hening seketika.

"Tertekan?" ulang Grayson dingin, menatap Satya tajam. "Dia nggak tertekan, Satya. Dia cuma sedang beradaptasi. Cepat atau lambat, dia bakal sadar kalau tidak ada pria di dunia ini yang bisa melindungi dan menginginkannya sebesar gua. Dunia dia cuma butuh gua."

Rian dan Satya saling berpandangan sekilas, memilih untuk tidak mendebat lagi. Mereka tahu betul, ketika Grayson sudah menetapkan suatu obsesi di kepalanya, tidak ada satu kekuatan pun di bumi ini yang bisa menghentikannya.

Kembali ke lingkungan sekolah, jarum jam menunjukkan pukul dua siang saat bel tanda kepulangan berbunyi.

Aurelia membereskan buku-bukunya dengan gerakan lambat. Kepalanya terasa pusing akibat kurang tidur selama beberapa malam terakhir. Ia melangkah keluar kelas sendirian, mengabaikan tatapan iba dari Aluna yang tahu sahabatnya sedang menyembunyikan penderitaan besar.

Saat ia berjalan melewati koridor sepi di lantai dua menuju tangga utama, sebuah tangan kokoh tiba-tiba mencekal pergelangan tangannya dengan erat namun terukur, lalu menarik tubuhnya masuk ke dalam ruang kelas kosong yang berada tepat di sebelah mereka.

"Ehm—!"

Aurelia hendak menjerit, namun sebuah tangan besar dengan lembut namun tegas membungkam mulutnya sebelum suara itu sempat keluar.

Punggung Aurelia membentur dinding kelas yang dingin. Di hadapannya, tubuh tinggi Grayson berdiri mengurung ruang geraknya. Bau parfum maskulin yang khas bercampur aroma tembakau tipis langsung menguar di indra penciumannya.

Bola mata amber yang mematikan itu menatap lekat-lekat ke dalam mata Aurelia yang kini membelalak ketakutan.

"Sstt... jangan teriak, sweetheart," bisik Grayson tepat di dekat telinganya, suaranya terdengar begitu lembut namun sarat akan ancaman mutlak. "Aku cuma mau lihat wajah kamu dari dekat. Kenapa belakangan ini kamu suka menghindar? Hm?"

Aurelia meronta pelan, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman tangan Grayson, namun tenaganya tentu tidak sebanding. Air mata ketakutan akhirnya tumpah begitu saja membasahi pipinya.

"Kamu... monster..." bisik Aurelia dengan suara parau dan bergetar hebat, napasnya tersengal-sengal menahan tangis. "Kenapa kamu harus datang dan menghancurkan hidup aku...? Apa salah aku sama kamu...?"

Melihat air mata Aurelia yang jatuh, alih-alih merasa iba, jemari Grayson justru terulur perlahan. Dengan punggung jarinya, pemuda itu menghapus jejak air mata di pipi mulus sang gadis dengan sentuhan yang terasa begitu posesif dan mengerikan.

"Kamu bukan hancur, Aurelia," ucap Grayson lirih, wajahnya kian mendekat hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. "Kamu sedang diselamatkan. Mulai hari ini, berhenti melihat orang lain, berhenti memikirkan orang lain... dan tatap aku."

Aurelia merasakan sekujur tubuhnya lumpuh seketika. Di dalam ruang kelas yang sepi itu, di bawah tatapan tajam sang predator yang telah merenggut kebebasannya, Aurelia sadar bahwa ia telah sepenuhnya tenggelam dalam kurungan gelap yang takkan pernah bisa ia lepaskan lagi.

Meskipun air matanya terus mengalir membasahi pipi, rasa sesak di dadanya perlahan-lahan berubah menjadi bara api yang membakar rasa takut itu. Aurelia sadar, jika ia terus-menerus menunduk dan gemetar ketakutan, pemuda di hadapannya ini akan semakin menjadi-jadi dan menginjak-injak harga dirinya sepenuhnya.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Aurelia mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Ia mendongakkan kepalanya, memaksa manik matanya yang basah untuk beradu pandang secara langsung dengan sepasang bola mata amber milik Grayson yang menatapnya penuh dominasi.

"Lepasin aku..." ucap Aurelia dengan suara parau, namun kali ini nadanya jauh lebih tegas dan tajam dari sebelumnya. Tidak ada lagi cicitan ketakutan yang lemah; yang ada hanyalah desakan kemarahan yang mendesak untuk keluar.

Grayson sedikit menyipitkan matanya, tampak terkejut sekaligus tertarik dengan perubahan sikap mendadak dari gadis di hadapannya itu. "Kamu mulai berani melawan, Sweetheart?" bisik Grayson rendah, tidak sedikit pun mengendurkan kurungannya.

"Aku bilang, lepaskan aku, Grayson!" bentak Aurelia, lalu dengan gerakan tiba-tiba yang penuh tenaga, ia mendorong dada bidang pemuda itu dengan kedua tangannya sekuat tenaga.

Kejutan itu membuat Grayson sedikit terdorong ke belakang, memberi Aurelia celah sempit untuk meloloskan diri. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Aurelia langsung merunduk dan menerobos sisi kiri tubuh pemuda itu, berlari secepat kilat keluar dari ruang kelas kosong tersebut.

"Aurelia!" panggil Grayson dengan suara berat, namun gadis itu tidak menoleh sedikit pun.

Aurelia berlari menuruni koridor lantai dua dengan napas tersengal-sengal. Jantungnya berdegup liar, bukan lagi karena rasa takut yang melumpuhkan, melainkan karena adrenalin kemarahan yang memompa seluruh tubuhnya. Ia menyadari satu hal penting di tengah pelariannya: ia tidak boleh terus-menerus membiarkan dirinya merasa terkurung. Ia harus melawan, atau setidaknya, ia tidak akan membiarkan Grayson melihatnya hancur begitu saja.

Sesampainya di gerbang sekolah, udara sore menyambut wajahnya yang basah oleh air mata. Aurelia menyeka pipinya dengan kasar, menegakkan punggungnya, dan melangkah mantap menyusuri jalan pulang—membawa tekad baru di dalam hatinya bahwa ia akan mencari cara untuk mengakhiri obsesi gila ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!