Alena tidak pernah menyangka akan dinikahi oleh Aditya Pradana, CEO dingin yang juga mantan kakak iparnya.
Tujuannya satu: menjadi ibu untuk Sean, anak tiri berandal yang membencinya setengah mati.
Sean melakukan segala cara untuk mengusir Alena.
Balapan liar, berkelahi, membolos.
Tapi Alena yang berjilbab ini tidak takut.
Ia lawan balik Sean di arena balap dan di lapangan futsal.
Hingga Sean diam-diam kagum dan berbisik, "Siapa sebenarnya kamu, Bunda?"
Di sisi lain, Aditya Pradana yang dibantu Rendra, mulai menyadari...
Adik iparnya yang dulu pendiam itu, kini menjadi wanita yang tidak bisa ia lepaskan.
Pernikahan kontrak ini, apakah akan berakhir dengan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Jam 10.00 pagi.
Hari yang sama setelah Clarissa diusir dari Pondok Indah Hospital lantai 5 VIP yang menyamar memakai seragam suster palsu name tag "Suster Clara - Magang",
Mobil Alphard Aditya tidak langsung pulang ke Pondok Indah. Di dalam mobil, Alena masih terlihat pucat, duduk di jok tengah, perutnya dipegang terus, gel USG masih terasa lengket karna buru-buru dan belum dilap bersih. Sean yang duduk di belakangpu masih emosi, jaket almamater UI kuningnya terlihat sedikit kusut karena tadi narik Clarissa.
Aditya sedikit meredamkan amarahnya lantaran ia harus fokus menyetir,dia memutuskan untuk tidak memakai supir karna ingin benar-benar menjadi suami yang siaga untuk calon bayinya.
"Mas kita pulang aja Mas, Aku takut Mas," bisik Alena pelan, suara masih gemetar.
Aditya meraih tangan Alena ,matanya tetap fokus pada jalanan.
"Gak bisa sayang, kali ini Mas gak bisa diam lagi sayang. Tiga kali Mas maafin: dress merah marun Chanel di gerbang, buket 100 tangkai fitnah inisial R di Cafe Senopati, bule palsu Robert Smith Fund 2 Triliun di Hotel Mulia. Mas masih bisa tahan karena kamu bilang biarin aja."
"Tapi ini beda sayang, kamu lagi hamil, janin kita baru punya tangan kaki, detaknya 120, dia berani nyamar jadi suster masuk ruang USG steril. Kalau dia bawa suntikan apa-apa gimana sayang?"
Alena diam, menangis pelan.
Jam 10.15, mobil Alphard belok masuk ke Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan.
Aditya turun, membuka pintu untuk Alena, menggendong Alena turun dengan pelan karena Alena masih lemas. Sean membawa map bukti: foto CCTV lantai 5, foto seragam suster palsu robek, screenshot Instastory Sean yang di-screenshot akun @claire.london.92 milik Clarissa.
Masuk ruang penyidik, ruangannya ber AC dingin.
Penyidiknya kenal Aditya, karena Pradana Group sering kerjasama.
"Pak Aditya, ada apa Pak? Kok bawa keluarga lengkap?"
Pengacara Pradana Group, Pak Hotman yang sudah Aditya telepon di jalan tadi, sudah menunggu di dalam dengan map tebal.
Pak Hotman buka map, taruh buktinya satu-satu di meja penyidik." titah Adit tanpa basa basi.
"Pak Penyidik, kami mau mrlaporkansaudari Clarissa Wijaya. Pasal 263 KUHP pemalsuan identitas tenaga medis, dan Pasal 167 percobaan akses ilegal data pasien VIP dan percobaan masuk ruang steril tanpa izin."
Penyidik melihat foto Clarissa yang memakai seragam suster palsu, name tag palsu, heels Chanelnya pun tak luput dari pandangannya.
"Ini suster gadungan ya Pak?"
"Iya Pak, dia mantan klien saya, menyamar untuk nguping USG istri saya yang lagi hamil 8 minggu di ruang VIP lantai 5 Pondok Indah Hospital jam 08.15 tadi," kata Aditya dingin.
Alena yang duduk di sebelah Aditya terus memegangi perutnya.
Baik bapak ibu laporan diterima dan akan secepatnya kami proses.
Jam 12.00 siang, surat Laporan Polisi keluar. Nomor: LP/B/1234/VIII/2026/SPKT Polda Metro Jaya.
Di kertas itu tertulis nama terlapor: Clarissa Wijaya, 26 tahun, S2 London.
Jam 13.00, keluar dari Polda, Aditya tidak langsung pulang. Dia duduk di mobil Alphard, telepon head security Pradana Tower, Rudi.
"Rudi, mulai detik ini, saya mau 2 bodyguard perempuan, mantan polwan, badan tegap, jaga Bu Alena 24 jam. 1 di dalam rumah, ikut ke dapur, ke taman, ke kamar, tapi jangan masuk kamar utama. 1 lagi ikut kalau Bu Alena keluar, bahkan cuma ke warung sayur depan komplek Pondok Indah. Dan 1 mobil patroli standby di depan gerbang Pondok Indah 24 jam, ganti shift tiap 8 jam."
Rudi jawab tegas, "Siap Pak Aditya! Saya carikan yang terbaik Pak! Mantan Polwan Polda yang pernah jaga artis ibukota Pak!"
Jam 15.00, sampai di rumah Pondok Indah, Bi Ijah sudah membuka gerbang, tapi di depan gerbang sudah ada mobil patroli hitam.
Di ruang tamu, sudah berdiri 2 wanita tegap, rambut pendek cepak, pakai kemeja hitam, celana hitam, sepatu boots.
"Selamat sore Bu Alena, Pak Aditya, Kak Sean, perkenalkan saya Sinta, mantan Polwan Polda Metro Jaya 5 tahun lalu, saya Wulan, mantan Polwan juga 4 tahun lalu, mulai hari ini kami jaga Ibu Alena 24 jam atas perintah Pak Aditya," kata yang namanya Sinta, badannya 170cm, lebih tinggi dari Alena, suara tegas.
Alena kaget, mundur selangkah, peluk lengan Aditya, "Mas... gak usah berlebihan Mas... aku kan cuma di rumah aja Mas, gak usah ada penjagaan mas!"
Aditya memeluk Alena dari belakang, tangan besarnya menutup perut Alena yang masih rata.
"Sayang ini bukan berlebihan sayang, ini perlu sayang. Kamu bawa anak kita sayang, dua nyawa sekarang sayang. Mas harus kerja di Pradana Tower, Sean harus kuliah di UI Depok, Mas gak tenang kalau kamu sendirian di rumah sama Bi Ijah doang. Biar Mas tenang ya sayang ya?"
Sean yang melihat 2 bodyguard perempuan itu malah terlihat senang.
"Wah asik Bun! Bunda punya bodyguard kayak artis Korea di drakor Bun! Kayak di drama The Glory Bun! Sean jadi lebih tenang kuliah nanti Bun, ada Kak Sinta sama Kak Wulan jagain Bunda!"
Sinta dan Wulan senyum, mengangguk ke Sean.
Malam jam 19.00, rumah Pondok Indah berubah total. Bukan lagi rumah biasa, tapi kayak istana presiden.
Gerbang depan dijaga satpam Rudi + 1 orang patroli bersenjata, di dalam taman ada CCTV baru di 4 titik yang Aditya pasang sore tadi, di dalam rumah ada Sinta yang duduk di ruang tamu, Wulan yang standby di dapur tapi jaga jarak.
Alena awalnya risih banget. Ke dapur bikin susu saja diikuti Sinta dari jarak jauh 2 meter. Ke kamar mandi aja Sinta menunggu di depan pintu.
Namun setelah berfikir lama akhirnya Alena memahami, ini semua dilakukan karena Aditya perhatian dan menghawatirkan keselamatannya.
Jam 20.00, di apartemen mewah Senopati lantai 22, Clarissa yang baru diusir satpam RS tadi pagi, seragam suster palsu yang beli diShopee harga 150 ribu masih tergeletak robek di lantai, dan heels Chanel putih lepas sebelah dan menyisakan sebelahnya lagi sedang lagi kini tertunduk dilantai,ia kembali merasakan kekalahan untuk kesekian kalinya.
HP-nya bunyi. Nomor tidak dikenal.
"Halo, apakah benar saudari Clarissa Wijaya? Saya dari Polda Metro Jaya. Anda dipanggil besok jam 10.00 pagi untuk klarifikasi laporan LP/B/1234/VIII/2026 terkait pemalsuan identitas tenaga medis di Pondok Indah Hospital."
Clarissa pucat, HPnya jatuh ke lantai apartemen yang.
"Polisi... Adit... Adit lapor polisi beneran..."
Tangisnya semakin pecah,namun bukan efek jera yang ia dapatkan melainkan ambisinya semakin melambung tinggi.
Malam itu jam 22.00, di ranjang king size Pondok Indah, Alena sudah tidur dalam pelukan suaminya, Aditya terus saja memegang perut Alena yang masih rata. Sementara di luar kamar ada Sinta yang duduk jaga, di luar gerbang ada mobil patroli lampu standby.
Aditya berbisik pelan di telinga Alena yang sudah tidur, "Tidur yang nyenyak ya sayang ya, Mas jagain kamu sama baby biru pink kita, gak ada yang bisa ganggu lagi."
Bersambung