Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.
Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.
Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.
Itulah kesalahan fatal mereka.
Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.
Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.
Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.
Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?
Berhasilkah mereka keluar??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22 : Gangguan Di Tenda
Maira dan Elina sudah selesai memasak mie saat Bima, Arga dan Gilang datang.
" Ayo makan guys. Mumpung masih hangat."ajak Maira pada teman-temannya.
Elina memberikan 3 mangkuk kecil pada para lelaki kemudian mereka makan bersama dengan lahapnya.
" Akhirnya bisa makan dengan tenang setelah beberapa hari disini."celutuk Gilang senang disela-sela kunyahannya.
" Syukurlah. Setidaknya kita masih punya stok makanan."sahut Elina ikut senang.
" Mai, stok makanan kita kira-kira cukup untuk berapa hari lagi?"tanya Bima penasaran sebab logistik makanan dipegang Maira.
" Entahlah,gue nggak bisa mastiin. Di tas gue hanya tersisa beberapa kue doang. Mungkin cukup untuk sehari atau 2 hari lagi. Itupun ngirit banget sampai kita keluar dari tempat ini."jelas Maira memperkirakan. Ia sendiri ragu kalau stok makanan yang tersisa cukup seperti perkiraannya.
" Hmm, masalahnya kita nggak tau sampai kapan kita disini." Arga tampak menghela napas pesimis.
Semuanya terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Setelah semua yang mereka lalui rasa pesimis itu muncul.
" Sudahlah. Jangan dipikirkan. Bagaimanapun caranya kita harus optimis bisa keluar dari tempat ini."hibur Bima lalu kembali melanjutkan makannya.
" Lagipula kita sudah bertahan sejauh ini kan. Jadi jangan nyerah gitu aja."lanjut Bima lagi.
" Benar. Kita sudah bertahan sampai detik ini tuh anugerah banget. Guys, jangan nyerah."timpal Elina ikut menyemangati.
Arga, Gilang dan Maira tersenyum. Dalam hati mengiyakan ucapan Bima dan Elina.
" Setuju. Kita harus bertahan. Pergi berlima, pulang berlima."seru Gilang semangat.
Semua tersenyum mendengar ucapan Gilang.
" Oh ya Ga, setelah ini rute berikutnya apa?"tanya Bima yang sudah selesai makan.
Arga yang sedang menghirup kuah mie melirik kearahnya.
" Bentar Bim. Tanggung nih." Arga menyelesaikan makannya lalu berdiri dan masuk kedalam tenda. Tak lama ia keluar membawa gulungan peta dari kulit kayu itu.
" Setelah dari sungai hitam, rute selanjutnya pohon bermata Bim."
" Pohon bermata ya?"gumam Maira, otaknya sibuk menebak kejutan apa yang menanti mereka disana.
" Semoga nggak ketemu Bhayavedin lagi."harap Elina. Ia trauma dengan kejadian beberapa waktu lalu. Mendengar nama makhluk hutan saja sudah membuatnya merinding.
" Moga aja. Setidaknya makhluk itu nggak ngejar-ngejar kita lagi."timpal Gilang.
" Lebih baik kita istirahat. Biar ada tenaga untuk hari esok. Kita nggak tau apa yang akan kita hadapin didepan tapi setidaknya kita punya tenaga untuk menghadapinya."saran Bima menatap teman-temannya.
Semua mengangguk setuju. Mereka beberes kemudian masuk ke tenda masing-masing dan tidur.
\=\=\=
Dua tenda berdiri di hutan kecil itu.
Tenda Maira dan Elina di kiri. Tenda para cowok di kanan. Di tengahnya ada sisa api unggun mati dan dua nesting mie instan yang belum dicuci. Minyaknya masih ngegumpal. Di hutan yang hening ini, bau kari ayam itu kecium sampai 10 meter.
Jam 2:17 pagi.
Maira kebangun bukan karena suara. Karena bau mie di dalam tendanya tiba-tiba kuat banget, padahal mangkoknya di luar.
Dia denger tanah suara di luar tendanya.
Bletak... bletak...
Bukan langkah kaki. Kayak akar yang jalan.
Dia intip dari celah resleting tenda cewek.
Ada yang berdiri di tengah. Tingginya 2 meter. Badannya persis batang pohon putih, kulitnya retak-retak kayak kayu. Kepalanya gak ada mata, gak ada mulut. Mulus kayak kayu ditebang. Tangannya panjang, ujung jarinya akar-akar kecil yang gerak-gerak sendiri nyari bau.
Itu Bhayavedin.
Makhluk itu tampak mengendus-endus dengan lubang-lubang kecilnya.
Akar-akar di jarinya ngarah ke nesting depan tenda cewek. Dia jongkok, dia deketin "wajah" kayunya ke mangkok itu. Gak dijilat, tapi disedot. Aroma mie itu kesedot masuk ke retakan kulitnya. _
Suuup...
Elina kebangun, Maira langsung bekap mulut Elina. Maira bisik di telinga Elina, hampir gak ada suara: "Jangan napas lewat mulut,bau mie."
Mereka berdua tahan napas.
Makhluk itu selesai sama mangkok cewek. Dia berdiri lagi. Retakan di badannya buka tutup kayak lagi bernapas, lapar. Dia nyium lagi.
Kali ini dia noleh ke tenda cowok. Karena dari sana bau lebih kuat.
Di tenda cowok, Gilang tidur nganga. Mulutnya masih bau bumbu mie paling kuat.
Makhluk itu merangkak ke tenda cowok. Gerakannya pelan, tapi tanah di bawahnya ikut retak kayak akar menjalar.
Bima yang jaga di tenda cowok melek. Dia liat bayangan besar nutupin tendanya. Dia liat akar-akar kecil masuk dari bawah tenda, dari jahitan tenda. Akar-akar itu naik ke sleeping bag, nyari sumber bau.
Satu akar nempel di bibir Gilang.
Gilang ngecap dalam tidur.
Akar itu kejang. Seneng. Dia nemu sumbernya.
Akar-akar lain langsung ngumpul ke muka Gilang. Mau masuk ke mulutnya, mau nyedot bau dari dalam perut.
Bima panik. Kalau dia teriak, makhluk itu bakal denger. Makhluk ini buta tapi kupingnya ada di kulit kayunya, peka banget sama suara. Sekali teriak, mereka mati.
Bima pakai cara lain. Dia ambil bungkus bumbu mie yang masih sisa bubuk di dalam tas, dia sobek pelan, dia taburin bubuknya ke kaos kakinya sendiri yang bau, terus dia lempar jauh ke arah Sungai Hitam.
Bubuk bumbu itu nyebar di udara.
Makhluk itu langsung berhenti. Kepalanya yang buta itu muter. Dia nyium bau yang lebih kuat, lebih segar. Bau bumbu murni.
Akar-akar yang ngelilit muka Gilang lepas, semua akar itu narik keluar tenda, merangkak cepat ke arah kaos kaki yang dilempar Bima. Kayak ular kayu merayap.
Bima langsung tendang kaki Arga sama Gilang.
" Keluar! Pindah!" Bima memberi kode dengan mulut dan tangannya.
Tiga cowok itu keluar merangkak tanpa suara, napas ditahan, pindah masuk ke tenda cewek. Sekarang berlima sesak di tenda cewek, keringat dingin.
Dari celah tenda cewek, mereka bisa lihat.
Makhluk Pohon itu lagi meluk kaos kaki Bima, retakan di badannya nyedot-nyedot bau bumbu sampai kaos kaki itu kering kerontang. Abis itu dia kelilingin tenda cowok yang kosong. Akarnya masuk ke semua sudut tenda, nyari lagi. Gak ada.
Dia marah. Badannya retak makin lebar. Dia gedor-gedor tanah.
Dug... dug... Tanah ikut getar.
Terus dia diam. Dia mulai nyium lagi. Pelan. Akar-akarnya ngarah ke satu titik.
Ke tenda cewek.
Tempat berlima itu ngumpet sambil nahan napas bau mie dari mulut mereka sendiri.
Jaraknya tinggal 1 meter. Akar depannya udah nyentuh resleting tenda cewek. Tinggal masuk.
Tiba-tiba...
TOK!!
Arga yang di dalam tenda cewek gak sengaja nyenggol nesting kosong di dalam tenda. Bunyinya keras.
Makhluk itu kaget. Dia peka suara. Dia langsung ngarah ke sumber suara itu, akar-akarnya menusuk tenda cewek.
Maira merem, udah pasrah.
Tapi pas akar itu mau nusuk, dari arah hutan, ada suara ranting patah jauh. Krek!
Makhluk itu langsung balik badan. Ada suara lain, lebih keras. Dia merangkak cepat masuk ke hutan lagi, hilang dibalik gelapnya hutan.
Hening lagi.
Di dalam tenda cewek, berlima masih gak berani napas. Baju mereka basah semua.
Sampai langit jadi abu-abu jam 5 pagi, mereka baru berani keluar.
Tenda cowok udah hancur, bolong-bolong bekas tusukan akar. Di depannya, kaos kaki Bima tinggal serat-serat kayu lapuk.
Gilang muntah. Di muntahannya ada serabut akar kecil yang masih gerak-gerak.
Bima langsung kubur semua nesting, bungkus mie, dan kaos kakinya jauh-jauh di tanah lembab itu.
" Ayo! Kita pergi dari sini sebelum makhluk itu datang lagi."
Mereka berlima segera merapikan tenda yang tersisa dan peralatan yang ada kemudian pergi dari tempat itu.
Menuju rute berikutnya, pohon bermata.
***
***