Menjadi istri pengganti tidaklah mudah, apalagi ketika kamu hanyalah wanita yang menggantikan posisi kakakmu sendiri.
Alih-alih mendapatkan kasih sayang dan cinta dari suaminya, Kinanti justru harus menerima perlakuan kasar yang terus-menerus menyakitinya.
Kinanti tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menggantikan posisi sang kakak yang kabur bersama kekasihnya sehari sebelum akad nikah dengan pria bernama Yudha.
Demi keselamatan ayahnya dan masa depan kedua adik kembarnya, Kinanti terpaksa mengikhlaskan dan merelakan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Pernikahan yang telah berlangsung selama delapan tahun tidak pernah memberinya kebahagiaan. Namun, Kinanti memilih untuk tetap bertahan, bersabar, dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangganya.
Hingga sebuah kecelakaan tak terduga menimpa suaminya, Yudha Manggala.
Sejak saat itu, kehidupan pernikahan mereka berubah seratus delapan puluh derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12. Anak-anak Setuju
Pikiran Kinanti kembali teringat pada kejadian semalam. Saat itu, ia sedang menemani kedua anak kembarnya belajar.
Awalnya Kinanti sangat ragu dan takut menyampaikan keinginannya untuk bercerai.
Ia khawatir Naufal dan Naura belum mampu memahami keputusan tersebut.
Namun, tanpa diduga, kedua anaknya yang baru berusia delapan tahun justru menunjukkan pemahaman yang jauh lebih besar daripada yang Kinanti bayangkan.
Setelah Kinanti menjelaskan semuanya dengan bahasa sederhana, Naufal tiba-tiba memeluk tubuh mamanya.
“Ma…”
Kinanti mengusap punggung putranya.
“Ada apa, Nak?”
“Kalau Mama sama Papa pisah, Mama nggak sedih?”
Pertanyaan sederhana itu membuat dada Kinanti terasa sesak. Ia menahan air mata.
Tidak mungkin ia mengatakan kepada kedua anaknya betapa hancurnya hatinya selama bertahun-tahun.
Kinanti hanya tersenyum dan membelai rambut Naufal.
“Mama nggak akan sedih selama kalian tetap bersama Mama.”
Naufal semakin erat memeluknya.
Naura yang sejak tadi diam akhirnya ikut mendekat dan memeluk tubuh Kinanti dari sisi lain.
“Nau juga ikut Mama,” katanya polos. “Nau mau ikut ke mana pun Mama pergi. Nau nggak mau sama Papa.”
Hati Kinanti terasa semakin pilu.
Ia mengusap puncak kepala kedua anaknya secara bergantian.
“Jangan bicara begitu, Sayang.”
Naura mendongak.
“Kenapa?”
“Papa tetap papa kalian. Apa pun yang terjadi antara Mama dan Papa, kalian tetap boleh menyayangi Papa.”
Naura terdiam. Gadis kecil itu tampak berpikir cukup lama sebelum akhirnya bertanya dengan suara hati-hati.
“Tapi kalau nanti Naura kangen sama Papa… Naura boleh menemui Papa?”
Kinanti membeku.
Pertanyaan itu sederhana, tetapi terasa begitu berat baginya. Dia menatap wajah polos putrinya.
Di dalam hati, Kinanti sadar bahwa perceraian bukan hanya tentang dirinya dan Yudha.
Ada dua anak kecil yang akan ikut merasakan perubahan besar dalam kehidupan mereka.
Kinanti menarik napas panjang.
“Tentu saja boleh, Sayang.”
Naura tampak lega. “Benarkah?”
Kinanti mengangguk.
“Boleh. Mama nggak akan pernah melarang kalian bertemu Papa.”
Naufal yang sejak tadi diam ikut menatap mamanya.
“Kalau kami sayang sama Papa, Mama nggak marah?”
Mata Kinanti langsung berkaca-kaca.
Ia tersenyum sambil menggeleng.
“Nggak, Nak.”
Kinanti memeluk kedua anaknya lebih erat.
“Justru Mama akan bahagia kalau kalian tetap menyayangi Papa. Kalian nggak perlu memilih antara Mama atau Papa.”
“Tapi Mama juga jangan sedih,” ucap Naura polos.
Kinanti terdiam.
Air matanya akhirnya jatuh.
Ia segera mengusapnya sebelum kedua anaknya melihat.
“Mama nggak akan sedih,” jawabnya dengan suara bergetar.
“Mama janji akan baik-baik saja.”
Namun, dalam hati Kinanti tahu bahwa janji itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk ditepati.
Karena sekuat apa pun dirinya, ia tetap seorang ibu yang takut melihat kedua anaknya terluka akibat keputusan yang harus diambilnya.
Kinanti memeluk Naufal dan Naura semakin erat.
“Mama hanya ingin kita semua hidup lebih tenang.”
Ia mencium kening kedua anaknya secara bergantian.
“Mulai sekarang, apa pun yang terjadi, kalian harus tetap menjadi anak-anak yang baik. Jangan membenci Papa. Jangan pula menyalahkan diri kalian sendiri.”
Naufal mengangguk kecil.
Naura kembali menyandarkan kepalanya di dada sang mama.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menyimpan luka sendirian, Kinanti merasa sedikit lebih lega.
Setidaknya, ia tahu bahwa kedua anaknya tidak akan sendirian menghadapi perubahan besar yang akan segera terjadi dalam keluarga mereka.
Kinanti melihat kedua anaknya tampak sedih. Padahal, sebenarnya ia hanya terdiam karena sedang memikirkan hal lain.
Kinanti mengecup pipi Naura dengan lembut.
“Tentu saja kalian bebas bertemu dengan papa kalian kapan pun kalian inginkan.”
Naura dan Naufal semakin mengeratkan pelukan mereka.
“Kami sangat sayang Mama. Sehat-sehat, ya, Mama,” ucap keduanya hampir bersamaan.
Kinanti hanya tersenyum tipis. Di dalam hatinya, ia sudah bertekad untuk mengakhiri biduk rumah tangganya sebelum Yudha benar-benar pulih dan ingatannya kembali seperti sediakala.
Beberapa menit kemudian, mobil Kinanti sudah terparkir rapi di area parkir basement khusus petinggi dan pemilik perusahaan daerah tersebut.
Kinanti mendongak menatap gedung bertingkat itu. Gedung yang berdiri megah di hadapannya merupakan hasil kerja kerasnya selama beberapa tahun terakhir.
Begitu turun dari mobil, kedatangannya langsung disambut oleh Reva dan Amri.
“Selamat datang, CEO!” canda Amri.
“Selamat datang kembali di perusahaan, Nyonya Besar,” kelakar Reva.
Kinanti langsung tertawa kecil sambil menggelengkan kepala mendengar candaan kedua sahabatnya itu.
“Tanpa kalian berdua, usaha yang kita bangun ini nggak akan bisa semaju sekarang,” ucap Kinanti tulus.
Mereka bertiga pun tertawa bersama. Hubungan mereka sudah seperti saudara kandung meskipun tidak memiliki hubungan darah. Bagi mereka, kebahagiaan dan keberhasilan bersama adalah prioritas utama.
Kedatangan Kinanti juga disambut hangat oleh beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan dengannya.
Meskipun selama ini Kinanti lebih banyak bekerja dari rumah dan dikenal sebagai CEO di balik layar, banyak karyawannya yang tetap mengenal sosoknya dengan baik.
Kinanti bahkan menyempatkan diri berhenti di meja resepsionis. Kebetulan, kedua resepsionis yang bertugas merupakan teman satu kampungnya.
“Bagaimana kabarnya, Putri?” tanya Kinanti.
Putri menghentikan pekerjaannya sejenak dan tersenyum.
“Alhamdulillah, baik, Bu.”
Bukan hanya Putri yang diajak Kinanti berbasa-basi. Hampir setiap karyawan yang dilewatinya selalu disapa dan ditanyai kabarnya.
Bagi Kinanti, seorang pemimpin harus mampu menghargai bawahannya. Ia percaya, ketika seorang pemimpin memperlakukan karyawannya dengan baik dan manusiawi, para bawahannya pun akan memberikan loyalitas serta semangat terbaik dalam bekerja.
Prinsip Kinanti sederhana yaitu memanusiakan manusia.
Karena itulah, tidak sedikit karyawan yang terang-terangan memuji kebaikan, kecantikan, serta kebijaksanaan Kinanti sebagai seorang pemimpin.
Perusahaan yang dahulu hanya memiliki sekitar sepuluh orang pegawai itu kini telah berkembang pesat dan mempekerjakan ratusan karyawan.
Sementara itu, Amri dan Reva sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk pertemuan dengan salah satu klien penting mereka yang ternyata merupakan seorang pengusaha asal Jepang.
“Selamat datang, Bu Kinanti,” sapa Haruka, sekretaris dari pihak klien.
Kinanti sampai melongo tak percaya ketika mendengar Haruka berbicara menggunakan bahasa Indonesia dengan lancar.
Sebenarnya, Kinanti sendiri fasih berbahasa Inggris, Jepang, Mandarin, Korea, dan Arab. Namun, ia tetap mengapresiasi usaha Haruka yang bersedia menggunakan bahasa Indonesia demi mempermudah komunikasi mereka.
Pertemuan awal mereka berlangsung cukup alot dan panjang karena ternyata pembahasan kali ini berkaitan dengan kerja sama jangka panjang.
Hal tersebut justru membuat Kinanti semakin bersemangat. Jika kerja sama itu berhasil, keuntungan yang akan diperoleh perusahaan tentu bisa berlipat ganda.
“Semoga kerja sama kita bisa berjalan lancar dan kita bisa sama-sama sukses,” ucap Pak Meida dalam bahasa Jepang.
Kinanti membalas ucapan tersebut dengan bahasa Jepang pula.
Setelah beberapa jam berdiskusi dan membicarakan berbagai hal, para relasi bisnisnya akhirnya meninggalkan perusahaan.
Kinanti melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.
“Astaghfirullahalazim... anak-anak. Semoga saja Mang Dede sudah menjemput mereka,” gumamnya.
Kinanti segera bangkit dari kursi kebesarannya dan bersiap untuk pulang.
“Mbak langsung pulang ke rumah?” tanya Reva.
“Nggak. Aku mau bertemu Pak Danil,” jawab Kinanti.
Reva terdiam sejenak sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya.
“Mbak Kinanti sudah yakin mau berpisah dengan Mas Yudha?”
“Aku sudah memutuskan untuk mengakhiri rumah tangga kami. Alhamdulillah, kedua anakku juga sudah mengerti dan menerima keputusan kami untuk berpisah,” jelas Kinanti.
“Kalau begitu, kemungkinan besar Mas Yudha nggak akan setuju,” celetuk Amri.
Kinanti menghentikan langkahnya. Ia kemudian berbalik dan berdiri tepat di hadapan Amri, sang asisten pribadi.
Kinanti menepuk pundak Amri.
“Kalau kamu nggak ingin istrimu menggugat cerai, berarti kamu harus bercermin dan introspeksi diri. Jangan sampai kamu menjadi suami yang membuat istrimu merasa tidak bahagia. Mas Yudha setuju atau nggak, aku tetap akan berpisah dengannya.”
Amri dan Reva sebenarnya sangat menyayangkan keputusan Kinanti untuk mengakhiri rumah tangganya.
Namun, mereka tidak mungkin menghalangi keputusan tersebut.
Bagaimanapun juga, Kinanti-lah yang menjalani kehidupan pernikahannya dan mengetahui apa yang terbaik untuk dirinya.
Beberapa saat kemudian, mobil Kinanti melaju membelah jalan protokol ibu kota.
Tiba-tiba, ponselnya yang terletak di dekat tuas persneling berdering. Nama Khalid terlihat di layar.
“Tumben anak ini menghubungiku?” gumam Kinanti.
Ia kemudian mengangkat panggilan tersebut.
“Mbak, di mana?” tanya Khalid.
“Di jalan, Dek. Kenapa? Kamu baik-baik saja, kan?” tanya Kinanti khawatir.
“Aku mau ke rumah Mbak. Kangen sama Naura dan Naufal,” jawab Khalid.
“Ke rumah saja langsung. Mungkin Mbak sedikit terlambat sampai karena masih ada urusan,” jelas Kinanti.
“Baik, Mbak.”
Setelah itu, pembicaraan mereka pun berakhir. Tak lama kemudian, mobil Kinanti memasuki area parkir sebuah kafe tempat ia sudah membuat janji dengan Danil.
Begitu turun dari mobil, Kinanti langsung
melihat Danil yang tampaknya sudah cukup lama menunggunya. Hal itu terlihat dari gelas minuman di hadapannya yang sudah tandas tak bersisa.
“Maaf, saya terlambat. Tadi jalanan cukup macet. Terima kasih sudah menunggu,” ucap Kinanti sembari duduk setelah Danil menarikkan sebuah kursi untuknya.
Danil ikut duduk di hadapan Kinanti. Namun, bukannya langsung berbicara, pria itu justru menatap Kinanti cukup lama.
Matanya mengamati wajah perempuan yang tidak lama lagi akan menyandang status janda tersebut.
‘Walaupun sudah memiliki dua anak, Kinanti masih tetap cantik. Bahkan, dia masih terlihat seperti gadis,’ batin Danil.
Kinanti mengerutkan kening melihat Danil yang justru mematung.
Ia kemudian melambaikan telapak tangannya di depan wajah Danil agar pria itu tersadar dari lamunannya.
“Hey, apa yang terjadi denganmu, Pak Danil?” tanya Kinanti.
Danil terkesiap mendengar suara Kinanti. Ia buru-buru mengalihkan pandangan dan terlihat salah tingkah karena ketahuan melamun.
“Maaf,” ucapnya sedikit malu.
Setelah itu, mereka mulai membicarakan persoalan perceraian Kinanti. Ia menjelaskan hal-hal apa saja yang ingin diperjuangkannya, terutama mengenai hak asuh kedua anaknya.
Kinanti juga meminta Danil untuk merahasiakan alasan sebenarnya di balik perceraian tersebut dari publik. Ia tidak ingin masalah rumah tangganya menjadi konsumsi masyarakat luas.
Setelah membicarakan semua hal yang diperlukan, Kinanti akhirnya berpamitan dan pulang ke rumah.
Namun, sesampainya di rumah, Kinanti langsung merasa heran.
Semua lampu di rumahnya padam. “Apa terjadi pemadaman listrik bergilir? Atau ada masalah dengan listrik di rumah?” gumam Kinanti sambil mengernyitkan dahi.
Ia kemudian turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama. Kinanti membuka pintu rumah berdaun dua itu.
Namun, baru beberapa langkah masuk, tubuhnya mendadak membeku.
Matanya membelalak lebar ketika melihat sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Astaghfirullah...”
Jantung Kinanti seakan berhenti berdetak.