Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.
Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.
Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
...PERINGATAN!!!...
...( ͡° ͜ʖ ͡°) 🔞...
^^^.^^^
Kamar tidur utama di lantai atas penthouse itu diselimuti oleh keheningan yang temaram. Hanya bias cahaya rembulan dari dinding kaca raksasa yang menerangi pemandangan dua insan yang sedang tenggelam dalam pusaran gairah dan kerinduan yang membuncah.
Kaetos Ashford merebahkan tubuh Parrie Rose di atas tempat tidur berukuran king-size yang sangat empuk. Sentuhannya malam ini terasa sangat berbeda dari bayangan kasar yang selalu ia tunjukkan di depan orang lain. Jemari Kaetos yang tegap dan berurat membelai pipi Parrie dengan begitu hati-hati, seolah-olah gadis di bawahnya adalah sebuah porselen rapuh yang akan hancur jika tersenggol terlalu keras.
Setiap usapan, setiap kecupan yang mendarat di dahi, kelopak mata, hingga garis leher Parrie dipenuhi oleh ketulusan dan rasa cinta yang amat pekat—sebuah kelembutan terselubung dari seorang pria yang tersiksa oleh ketakutannya sendiri.
Setelah sebulan penuh terpisah oleh kesalahpahaman, rasa sakit, dan prasangka buruk, penyatuan itu pun akhirnya terjadi kembali.
Penyatuan malam ini berlangsung begitu intens, sarat akan emosi, dan dipenuhi oleh desahan menggebu yang saling bersahutan di dalam kamar yang hangat. Parrie menyerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk kesekian kalinya kepada pria yang paling ia cintai di dunia ini. Tanpa ada sisa ragu, tanpa ada rasa takut sedikit pun.
Di tengah ketukan demi ketukan hentakan yang menyatu dan membakar seluruh saraf kewaspadaan mereka, Parrie memejamkan matanya, merasakan kehadiran Kaetos yang begitu nyata dan utuh merengkuh tubuhnya.
"Aku... aku milikmu, Kaetos..." bisik Parrie dengan suara parau yang tersendat oleh desahan pasrahnya. Jemarinya meremas bahu tegap Kaetos yang berpeluh. "Jalangmu... sangat mencintaimu, Kaetos... ahhh..."
Kaetos mendongak sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Parrie yang berkaca-kaca di bawah kungkungannya.
Deru napasnya memburu berat, peluh menetes dari pelipisnya membasahi dada mereka yang saling menempel erat. Desahan parau meluncur dari tenggorokan Kaetos saat ia terus bergerak, menyalurkan seluruh kerinduan gila yang menyiksa dadanya selama satu bulan terakhir.
Namun, dari mulut Kaetos yang terus terengah dan mendesah di atas tubuh Parrie... tidak ada sepatah kata pun jawaban cinta yang keluar untuk membalas ucapan Parrie.
Bibir pria itu bungkam rapat, teruji oleh ketakutan hebat yang terus mengurung jiwanya.
Parrie menatap manik mata kelam Kaetos yang terpaut padanya. Parrie mengerti. Ia sangat mengerti alasan di balik kebisuan pria itu. Malam ini, Parrie tidak lagi berharap atau menuntut ucapan “aku juga mencintaimu” keluar dari mulut Kaetos. Bagi Parrie, cukuplah ia bisa merasakan ketulusan fisik dan kehangatan tubuh pria yang dicintainya ini.
Parrie tahu pasti—jauh di dalam lubuk hati Kaetos yang paling dalam, pria ini memiliki perasaan yang sama besarnya. Seperti yang Parrie ratapi dalam tangis penyesalannya di mansion Irys semalam, benteng yang memisahkan mereka bukanlah rasa benci atau rasa jijik... melainkan trauma berdarah yang telah merusak jiwa Kaetos sejak masa kecilnya.
Rasa sesak yang teramat sangat tiba-tiba merayap naik menjejali dada Parrie. Melihat bagaimana Kaetos menatapnya dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh cinta sekaligus rasa bersalah yang luar biasa besar, hati Parrie serasa diiris-iris oleh sembilu tajam.
Kenapa... kenapa takdir harus sesakit ini padamu, Kae? batin Parrie meraung dalam keheningan, air matanya perlahan menetes melintasi pelipisnya.
Kaetos yang menyadari tetesan air mata itu seketika menunduk, menyapu air mata Parrie dengan bibirnya seraya memperhalus setiap gerakannya, seolah ingin meminta maaf atas segala luka yang pernah ia torehkan di hati gadis itu.
Penyatuan mereka terus berlanjut di bawah naungan rasa cinta yang teramat dalam, dibalut oleh kesedihan terselubung yang menyayat hati keduanya.
Beberapa saat setelah penyatuan gila yang menguras seluruh tenaga itu selesai, keheningan kembali menguasai kamar tidur tersebut.
Suasana ruangan terasa begitu hangat dan sunyi. Kaetos masih belum beranjak atau memakai pakaiannya kembali. Pria tegap itu berbaring telentang di atas ranjang, menarik tubuh polos Parrie ke dalam dekapan hangatnya. Kepala Parrie bersandar di atas dada bidang Kaetos yang naik turun teratur, sementara tangan tegap Kaetos mengelus rambut hitam Parrie yang terurai dengan gerakan perlahan.
Parrie memejamkan matanya sejenak, mendengarkan detak jantung Kaetos yang berdegup kencang di balik dadanya.
Lalu, di tengah keheningan yang pekat itu, Parrie membuka suaranya. Ia bertanya dengan suara yang sangat lirih, hampir seperti bisikan angin yang bergetar.
"Apakah... sangat sakit, Kae?"
Kaetos tertegun. Gerakan tangannya yang sedang membelai rambut Parrie seketika terhenti. Pria itu menundukkan kepalanya sedikit, merespons dengan nada bingung.
"Huh?"
Parrie perlahan mendongak, menegakkan tubuhnya sedikit dan menopang dagunya di atas dada bidang Kaetos. Mata jernih Parrie yang kini berkaca-kaca menatap lurus ke dalam manik mata kelam pria itu.
"Apa rasanya... begitu sakit?" ulang Parrie dengan suara bergetar menahan tangis.
DEG.
Dada Kaetos serasa dihantam oleh beban seberat tonan batu. Pria tegap itu membelalakkan matanya kecil, menatap mata Parrie yang dipenuhi oleh rasa empati dan kesedihan yang tak terhingga.
Suasana di dalam kamar itu seketika pecah. Keheningan yang tadinya hangat kini berubah menjadi begitu emosional dan penuh dengan rasa sesak yang menyiksa.
Kaetos mengepalkan tangannya kaku, tenggorokannya terasa tersumbat gumpalan emosi yang hebat. Ia mengira Parrie menanyakan rasa sakit fisik akibat penyatuan mereka tadi.
"A-aku... aku tidak sakit," jawab Kaetos dengan suara parau yang bergetar rapuh. Ia mengusap pipi Parrie dengan jemarinya yang gemetar. "Harusnya... harusnya aku yang bertanya padamu, Parrie... Apakah... apakah aku terlalu kasar padamu tadi?"
Parrie menggelengkan kepalanya keras-keras, membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah dan mengalir deras membasahi pipinya.
"Tidak, Kae! Tidak!" tangis Parrie pecah, suaranya menyayat hati di dalam kamar yang sunyi itu. "Aku bahkan siap hancur jika itu bersamamu! Aku tidak peduli!"
Parrie mencengkeram erat dada bidang Kaetos, menatap pria itu dengan pandangan mata yang penuh dengan rasa pilu yang teramat sangat.
"Yang kutanyakan adalah tentang jiwamu, Kaetos!" seru Parrie serak di balik tangisnya. "Apa... apa rasanya sangat sakit di dalam sana?! Apa rasanya begitu menyiksa hingga kau harus berpura-pura menjadi monster hanya demi menjagaku?! Apa kau... apa kau sampai detik ini masih tetap harus mengonsumsi obat-obatan itu setiap hari?! Apa... apa traumamu separah itu, Kae?!"
...DUARRRRRR!...
Pertanyaan demi pertanyaan yang meluncur dari bibir Parrie bagaikan ledakan bom dahsyat yang menghancurkan seluruh dinding pertahanan di dalam otak dan dada Kaetos Ashford!
Tubuh tegap Kaetos seketika membeku kaku bagai patung. Manik matanya membelalak lebar dalam guncangan dan rasa syok yang luar biasa hebat. Rahangnya berguncang, napasnya mendadak menjadi sangat pendek dan memburu liar.
Seluruh dunia Kaetos serasa runtuh seketika.
Pria yang selama ini menyembunyikan rahasia kelamnya di balik topeng pangeran es yang angkuh dan kejam... kini menyadari bahwa gadis di dalam dekapannya telah mengetahui seluruh kebenaran pahit tentang trauma berdarah dan penyakit mental yang menghancurkan hidupnya.
"K-kau..." suara Kaetos meluncur sangat parau, bergetar ketakutan bagai seorang anak kecil yang telanjang di tengah badai. "Dari mana... dari mana kau tahu semua itu, Parrie...?"
Parrie tidak menjawab pertanyaan itu. Alih-alih menjawab, Parrie justru menabrakkan tubuhnya, memeluk leher tegap Kaetos dengan sangat erat, menumpahkan seluruh air mata dan rasa cintanya yang membakar di ceruk leher pria itu.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku, Kae?!" tangis Parrie meraung pelan, tangannya meremas kuat rambut dan bahu Kaetos. "Kenapa kau memilih menanggung rasa sakit itu sendirian?! Kenapa kau harus mendorongku pergi dan berpura-pura membenciku, sementara jiwamu sendiri sedang sekarat meraung kesakitan?!"
Kaetos terdiam kaku di dalam pelukan hangat Parrie. Air mata yang tidak pernah menetes dari mata pria dingin itu selama bertahun-tahun... kini perlahan-lahan merebak, menetes basah membasahi bahu polos Parrie.
"Aku... aku ini rusak, Parrie..." bisik Kaetos dengan suara yang begitu hancur dan menyayat hati, sebuah pengakuan rapuh yang akhirnya keluar dari bibirnya setelah sekian lama terkunci. "Aku gila... Aku ini monster yang sangat berbahaya. Jika kau mendekatiku... aku hanya akan menghancurkan hidupmu dan membawamu masuk ke dalam nerakaku..."
"Aku tidak peduli!" potong Parrie cepat seraya mengikis jarak, memegang kedua pipi Kaetos dan memaksa pria itu menatap matanya yang basah oleh air mata.
"Dengar aku, Dimitriou Kaetos Ashford!" tegas Parrie dengan tatapan mata yang begitu kuat dan penuh tekad. "Jika hidupmu adalah neraka, maka biarkan aku menjadi orang yang melangkah masuk ke dalam neraka itu bersamamu! Kau tidak pernah mual saat menyentuhku, kau tidak pernah jijik padaku! Kau bisa sembuh, Kae... Kau bisa sembuh jika kau membiarkanku menggenggam tanganmu!"
Kaetos menatap Parrie dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa haru, guncangan hebat, dan rasa cinta yang tak lagi bisa ia sembunyikan.
Di dalam kegelapan jiwa yang selama ini menyiksanya, untuk pertama kalinya... Kaetos menangis di dalam dekapan seorang wanita, membiarkan Parrie Rose menjadi satu-satunya tempat bersandar bagi jiwanya yang telah lama hancur.