Bagi Rahma Wulandari, Sakti Prawira adalah sosok kakak asuh masa kecilnya yang galak dan protektif. Namun, garis takdir mendadak berubah ketika impiannya menjadi dokter terancam kandas akibat kesulitan ekonomi. Satu-satunya jalan keluar yang ditawarkan orang tuanya adalah sebuah perjodohan. Demi masa depan, Rahma akhirnya pasrah. "Gak apa-apa deh nikah sama Kak Sakti, dia sudah aku anggap seperti kakaku sendiri!"
Di sisi lain, Sakti seorang Komandan TNI AD yang terkenal tegas, kaku, dan berhati dingin sejak ditinggal menikah oleh masa lalunya merasa tak habis pikir. "Kenapa aku harus menikah dengan gadis bau kencur dan masih ingusan itu?" protesnya keras. Baginya, menikahi sahabat adiknya sendiri adalah hal yang konyol.
Namun, titah orang tua tak bisa diganggu gugat. Pernikahan beda usia dan prinsip ini pun tetap terjadi.
Mampukah pernikahan yang terbentur perbedaan usia, prinsip, dan watak ini menumbuhkan benih-benih asmara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Rahma akhirnya hanya mengambil beberapa pasang pakaian dalam yang sudah ia pilih sebelumnya. Namun, sorot matanya sesekali melirik ke arah box besar, menatap tidak rela pada bra bermotif Hello Kitty berenda yang tergeletak di sana. Rasanya ingin sekali ia mengambilnya kembali, tetapi rasa malunya akibat kejadian barusan sudah terlanjur melangit. Ia tidak sanggup menanggung malu dua kali di depan suaminya.
Sakti sendiri tidak banyak bicara. Ia berjalan agak menjaga jarak, beberapa kali berdehem keras untuk mengusir kecanggungan yang masih pekat mengudara. Setelah memastikan semua keperluan darurat untuk rumah dinas terpenuhi, mereka berdua memutuskan untuk menyudahi belanjaan dan segera pulang.
Sepanjang perjalanan pulang, Rahma hanya terdiam sembari melemparkan pandangannya ke luar jendela. Ia memperhatikan pemandangan pinggir jalan kota Bandung yang masih saja ramai. Banyak muda-mudi yang nongkrong di seputaran Dago dan Jalan Asia Afrika, sekadar menikmati indahnya suasana malam Kota Kembang. Sunyinya kabin mobil membuat Rahma kembali hanyut dalam lamunan tentang status barunya.
Setibanya di asrama, baik Rahma maupun Sakti langsung bergerak cepat. Mereka bergegas membongkar kantong belanjaan dan merapikan perabotan baru ke tempatnya masing-masing agar rumah dinas sederhana itu terlihat lebih rapi.
Saat sedang menyusun piring baru di rak, Sakti tiba-tiba menepuk jidatnya sendiri. "Rahma, malam ini kita makan malam apa, ya? Aku lupa membeli lauk di jalan pas pulang tadi," ujarnya penuh penyesalan.
Sakti merutuki dirinya sendiri dalam hati. Gara-gara pikirannya sempat dikacaukan oleh pemandangan Rahma yang mencoba bra di toko tadi, fokusnya sebagai seorang perwira mendadak buyar hingga lupa memikirkan menu makan malam.
Rahma menoleh dan tersenyum maklum. "Nggak apa-apa, Kak. Malam ini kita masak yang simpel saja. Kebetulan ini nasinya sudah mau matang, bagaimana kalau kita buat nasi goreng saja?"
"Wah, setuju itu... Biar aku saja yang masak, kamu duduk manis saja di meja makan!" ujar Sakti spontan. Ia refleks ingin mengambil alih tugas karena tidak mau membuat Rahma kelelahan setelah seharian berbenah.
Rahma mengernyitkan alisnya, menatap Sakti dengan tatapan heran sekaligus tulus.
"Loh, kenapa Kak Sakti yang masak? Harusnya kan Rahma yang masak untuk Kakak. Sekarang Kak Sakti sudah jadi Suaminya Rahma, dan sudah menjadi kewajiban Rahma sebagai istri untuk melayani kakak."
Mendengar jawaban polos namun begitu tulus dari bibirnya Rahma, hati Sakti menghangat. Sebuah senyuman tipis terukir di wajah tegasnya. Pria itu sesaat lupa bahwa statusnya kini sudah berubah. Ia bukan lagi bujangan lapuk yang harus menyiapkan segala sesuatunya seorang diri di barak atau asrama. Kini, ada sosok istri yang siap mengurus dan melayaninya dengan penuh bakti.
"Nggak apa-apa, Rahma. Sekali-kali saja," balas Sakti, mencoba mencairkan suasana kaku di antara mereka. "Kebetulan aku lagi ingin memasak nasi goreng pedas gila. Kamu pernah coba?"
Mata Rahma seketika berbinar mendengar menu yang disebutkan suaminya.
"Pernah, Kak! Wah, kebetulan aku dan Salma sering banget beli dan makan itu kalau aku lagi menginap di kosannya Salma."
"Baguslah kalau begitu. Berarti lidah kita sama. Kamu tunggu di sini, biar suami mu ini yang menunjukkan keahliannya memegang wajan," goda Sakti dengan kekehan pelan, membuat suasana dapur asrama yang semula kaku perlahan mulai mencair dan terasa hangat.
Sakti melangkah tegap menuju dapur, bersiap mengerahkan keahliannya meracik bumbu nasi goreng pedas gila. Namun, Rahma bukanlah tipe gadis yang suka berdiam diri. Ia segera menyusul suaminya ke area konter dapur, berniat membantu memotong sayuran dan bawang.
"Sudah, kamu duduk manis saja di sana, biar aku yang kerjakan semuanya," larang Sakti begitu melihat Rahma meraih pisau dapur.
"Nggak mau, Kak. Rahma mau bantu. Masak bareng-bareng kan lebih cepat selesai," balas Rahma bersikeras, tidak mau mengalah. Melihat kekeh keras kepala istrinya, Sakti akhirnya pasrah dan membiarkan Rahma melakukan apa yang ia mau.
Rahma dengan telaten mulai memotong sawi hijau dan mengiris bakso sebagai pelengkap, sementara Sakti mulai mengulek tumpukan cabai rawit merah yang terkenal memiliki tingkat kepedasan super dahsyat. Tak butuh waktu lama, aroma cabai yang tajam dan menyengat langsung menguar, menusuk indra penciuman mereka hingga membuat suasana dapur terasa makin hangat. Segala perlengkapan seperti telur dan kecap manis pun sudah disiapkan Sakti di dekat kompor agar proses memasak nanti lebih mudah.
Namun, gerakan tangan Sakti yang sedang mengulek mendadak terhenti ketika mendengar suara isakan kecil. Saat ia menoleh ke samping, tampak pemandangan yang menggelitik hatinya. Rahma sedang mengiris bawang bombai dalam jumlah yang cukup banyak dengan air mata yang sudah berlinang membasahi pipinya.
"Waduh... kenapa bawangnya kau iris sebanyak itu, Rahma?" tanya Sakti heran.
"Habisnya... aku paling suka sama bawang bombai, Kak. Makanya aku iris banyak-banyak," jawab Rahma dengan suara sengau, tangannya sibuk menyeka pipi menggunakan punggung lengannya.
"Tapi kamu sendiri yang jadi korbannya. Lihat itu, air mata dan ingusmu sampai mengalir begitu," tunjuk Sakti, tak bisa lagi menahan rasa gelinya hingga terkekeh pelan.
Mendengar ledekan suaminya, Rahma buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam karena malu. Melihat tingkat polos istrinya, rasa gemas mendadak merayapi dadanya Sakti. Pria itu meletakkan ulekannya, melangkah mendekat, lalu dengan lembut meraih dagu Rahma untuk menengadahkan wajah gadis itu.
Mata elangnya Sakti menatap tajam namun hangat ke arah bola matanya Rahma yang berair. Sakti memajukan wajahnya, lalu mulai meniup lembut matanya Rahma secara bergantian agar rasa perih akibat uap bawang bombai itu segera reda.
Huuh...
Huuh...
Hembusan angin yang keluar dari bibirnya Sakti sontak membuat Rahma diam terpaku bak terhipnotis. Jarak yang memangkas ruang di antara mereka membuat Rahma tidak bisa lagi membohongi perasaannya sendiri. Detik itu juga, ia sadar bahwa ia telah sepenuhnya jatuh hati pada suaminya. Hanya saja, Rahma lebih memilih menyembunyikan getaran itu rapat-rapat. Debaran jantungnya kian meningkat drastis, berdegup kencang tak terkendali.
Di sisi lain, Sakti yang awalnya hanya berniat menolong justru tersihir saat menatap dalam-dalam wajah manis di hadapannya. Pria yang selama ini mati-matian menjaga hatinya untuk Dinda itu mendadak merasa benteng pertahanannya runtuh total. Perasaan cintanya pada sang mantan kekasih yang telah tega mengkhianatinya demi pria pilihan orang tuanya, perlahan-lahan terkikis habis tanpa sisa. Sosok Dinda kini mengabur, tergantikan sepenuhnya oleh sosok gadis kecil yang dulunya sering ia asuh bersama Salma, yang kini telah menjelma menjadi istri sahnya.
Napas Sakti memburu. Perlahan, arah bibir yang semula memberikan tiupan angin ke matanya Rahma mulai berpindah haluan. Sakti memiringkan kepalanya sedikit, membuat hidung mancungnya bergesekan lembut melintasi hidung mancungnya Rahma.
Beberapa detik kemudian, ruang di antara mereka lenyap. Bibir mereka akhirnya saling menyatu sempurna untuk pertama kalinya.
Rahma terbelalak tak percaya atas tindakan berani suaminya. Namun, alih-alih menjauh, kedua kelopak matanya perlahan terpejam rapat, seolah memberikan izin penuh bagi Sakti untuk memimpin tautan itu. Ciuman lembut itu dalam sekejap berubah menjadi pagut4n nyata yang sarat akan luapan emosi dan kepemilikan, hingga memicu bunyi decakan halus yang menggema samar di antara deru napas mereka yang memburu.
Kringgg...!
Kringgg...!
Suara dering nyaring dari ponsel Sakti yang tergeletak di atas meja makan tiba-tiba membelah keheningan dapur.
Bunyi itu laksana hantaman keras yang seketika menyadarkan keduanya. Sakti langsung menarik wajahnya menjauh dengan napas terengah-engah, sementara Rahma mundur satu langkah sambil memegangi bibirnya yang terasa panas.
'Ya ampun... Kak Sakti... barusan dia benar-benar menciumku?!' batin Rahma menjerit frustrasi, wajahnya berganti warna menjadi merah padam seperti kepiting rebus.
Begitu pula dengan Sakti. Kedua mata perwiranya melotot tak percaya menatap tangannya yang gemetar. Ia benar-benar syok dengan kelakuannya sendiri yang baru saja lepas kendali.
'Dasar bodoh kau, Sakti! Kenapa kau malah menciumnya?! Aargh, ini gila... benar-benar gila!' dengus Sakti dalam hati dengan gusar.
Ia merutuki runtuhnya kedisiplinan mental militernya hanya karena kepolosan seorang Rahma dan aroma bawang bombai.
Bersambung...
duhhh malu bgt ketahuan sm Salma, mau ngilang aj kelobang semut saking malunya🤣
sakti u itu keterlaluan sekali SM s Rahma..
cemburu s cemburu tp sadar diri donk udh mantap blm hati u nya...
hahahaha kepergok s adik nya juga,,
gimna ya cerita selanjutnya...
kepo ya kamu dengan keakraban Rahma dengan pria lain... hihihihihi