Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan yang Mulai Terdengar
Jaket itu masih tergantung di sandaran kursi kamarnya ketika Alya bangun pagi itu. Dia berbaring beberapa menit hanya menatapnya dari kejauhan, seolah dengan tidak menyentuhnya. Dia bisa berpura-pura semalam tidak pernah terjadi. Tapi aroma kayu cendana yang masih menempel di kainnya menolak untuk dilupakan semudah itu. Menyusup ke setiap sudut kamarnya yang biasanya hanya beraroma sabun murah dan tanah lembap dari pot mint di jendela.
Dia bangkit, melipat jaket itu rapi-rapi, memasukkannya ke lemari paling bawah, di balik tumpukan sprei cadangan yang jarang dia sentuh. Bukan karena dia ingin melupakannya, melainkan karena dia tidak sanggup menatapnya terlalu lama tanpa mengingat bagaimana rasanya bibir yang menyentuh bibirnya semalam.
Ponselnya bergetar sebelum dia sempat berangkat. Pesan dari nomor yang sudah dia simpan diam-diam beberapa hari lalu, tanpa nama, hanya inisial R.
"Selamat pagi. Aku harap kamu tidur nyenyak. Aku tidak."
Dia menatap pesan itu lama, jemarinya melayang di atas layar. Tidak yakin harus membalas apa, sebelum akhirnya memilih untuk tidak membalasnya sama sekali. Ia meletakkan ponselnya kembali dan bergegas mandi. Dengan begitu, seolah dia bisa mencuci bersih juga kebimbangan yang sejak semalam menempel di kulitnya.
"Suster Alya," seorang perawat dari lantai lain menyapanya di lift pagi itu. Seseorang yang bahkan tidak pernah benar-benar Alya kenal namanya, tersenyum dengan cara yang terasa terlalu penuh rasa ingin tahu untuk sekadar sapaan biasa. "Katanya kamu sering banget dipanggil ke lantai dua puluh dua, ya? Enak banget deket sama bos besar."
Alya tersenyum kaku, tidak tahu harus menjawab apa. Begitu pintu lift terbuka di lantainya, dia keluar secepat mungkin, jantungnya berdebar dengan alasan yang jauh berbeda dari kemarin malam.
Di ruang ganti, Wulan sudah menunggu. Wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya. Begitu Tia keluar sebentar untuk mengambil sesuatu di lokernya, Wulan langsung berbicara tanpa basa-basi.
"Orang-orang mulai ngomong, Al," katanya, suaranya pelan tapi tegas. "Bukan cuma di tim kita. Aku denger dari perawat lantai lima, dari resepsionis, bahkan dari satpam parkiran. Semua nanya hal yang sama. Kenapa kamu yang paling sering dipanggil pribadi sama dr. Raze."
"Itu cuma urusan kerjaan, Lan," Alya menjawab, meski suaranya sendiri terdengar kurang meyakinkan bahkan di telinganya sendiri.
"Aku nggak nanya urusannya apa," Wulan memotong. Matanya menatap lurus, tidak ada nada menghakimi di sana, hanya kekhawatiran yang jujur. "Aku cuma mau kamu tahu, orang-orang udah mulai memperhatikan. Dan kamu tahu sendiri, dr. Raze itu orang paling berkuasa di gedung ini. Kalau rumor ini nyampe ke telinga yang salah, yang kena getahnya bukan cuma reputasimu."
"Maksudmu?"
"Maksudku, orang kayak dia biasanya nggak akan biarin apa pun mengganggu rencananya," Wulan berkata, lebih pelan lagi, seolah takut dinding pun bisa mendengar. "Termasuk kalau itu berarti menyingkirkan siapa pun yang jadi penghalang antara dia dan yang dia mau. Aku nggak tahu apa yang terjadi di antara kalian, Al. Tapi hati-hati. Jangan sampai kamu jadi orang terakhir yang tahu, kalau sesuatu udah kejadian."
Kalimat itu menetap lebih lama dari yang seharusnya di kepala Alya, terutama karena betapa dekatnya kalimat itu dengan kekhawatirannya sendiri yang selama ini dia coba tepis setiap malam.
Dia berpapasan dengan Raze di koridor menuju ruang rekam medis. Begitu memastikan tidak ada orang lain dalam jarak dengar, dia menariknya masuk ke ruang konsultasi kosong. Menutup pintu dengan gerakan cepat yang tidak biasa untuknya.
"Orang-orang mulai ngomongin kita, Raze," Alya berkata cepat, suaranya penuh kekhawatiran yang sudah dia tahan sejak pagi. "Ini bisa ngerusak reputasiku. Reputasi rumah sakit ini juga."
"Biar mereka bicara," katanya, tenang, tangannya sudah terulur menyentuh pinggangnya. Menariknya sedikit lebih dekat meski Alya baru saja datang untuk protes, bukan untuk didekap. "Aku yang punya rumah sakit ini. Aku yang menentukan siapa yang masih punya pekerjaan besok. Kalau ada yang menyebarkan sesuatu yang tidak seharusnya mereka sebarkan."
"Itu bukan solusi, Raze. Kamu nggak bisa nge-ancam semua orang biar diam."
"Aku tidak sedang mengancam," katanya, dahinya saling menempel ke Alya. Suaranya menurun jadi bisikan yang hanya untuk telinganya. "Aku sedang melindungi apa yang berharga bagiku. Kalau itu berarti orang-orang harus takut cukup untuk menutup mulut, aku tidak keberatan jadi alasan ketakutan itu."
"Aku nggak mau kamu jadi kayak gitu, buat aku," Alya berbisik, matanya menatap dalam-dalam, mencoba mencari sisi yang lebih lembut di balik ketegasannya.
"Aku sudah seperti ini jauh sebelum mengenalmu," katanya, jujur, tanpa penyesalan sedikit pun di suaranya. "Kamu tidak menciptakan monster ini, Alya. Kamu cuma satu-satunya alasan aku masih ingin menjadi sesuatu yang lebih baik darinya, sesekali."
Dia mengecup keningnya, lama, sebelum melepaskannya dan berjalan keluar lebih dulu, meninggalkan Alya dengan jantung yang berdegup terlalu kencang untuk seseorang yang baru saja datang untuk memprotes, bukan untuk disentuh.
Siang itu, ponselnya bergetar dengan panggilan video dari Bayu, wajahnya tampak lelah tapi tetap tersenyum lebar begitu layarnya menyala.
"Sayang! Kangen banget," katanya, suaranya penuh semangat meski matanya menunjukkan kelelahan dari negosiasi panjang yang sudah dia jalani berhari-hari. "Gimana kabarmu? Makan teratur, kan?"
"Aku baik, Sayang. Kamu sendiri gimana? Kelihatan capek banget," Alya bertanya, berusaha menyembunyikan getar bersalah di suaranya sendiri.
"Capek, tapi hampir kelar. Investor baru udah mulai kelihatan minat, mudah-mudahan minggu depan bisa fix," Bayu menjawab, lalu menghela napas panjang, wajahnya melunak menatap layar. "Aku kangen banget peluk kamu, Sayang. Video call gini nggak cukup."
"Aku juga," Alya berbisik, dan kalimat itu jujur. Meskipun di dalam dadanya, kejujuran itu terasa bercampur dengan sesuatu yang jauh lebih rumit untuk dia jelaskan.
"Nanti kalau aku pulang," Bayu melanjutkan, senyumnya melebar, "kita rayain, ya? Aku pengen ajak kamu ke tempat yang dulu pertama kali kita jalan bareng. Biar kayak balik lagi ke awal."
"Aku suka itu," Alya menjawab, memaksakan senyum yang untuk pertama kalinya sejak mereka bertunangan, terasa lebih berat untuk dia pertahankan daripada seharusnya.
"Kamu kedengeran agak beda, Sayang," Bayu berkata, alisnya berkerut sedikit menatap layar. "Capek kerja, atau ada yang lain?"
"Capek aja, Kak. Bukan apa-apa," Alya buru-buru menjawab, memaksakan senyum sedikit lebih lebar untuk meyakinkannya.
"Ya udah, istirahat yang cukup, ya. Jangan lupa makan," Bayu berkata, meski matanya masih menatap sedikit khawatir sebelum akhirnya melembut lagi. "Aku sayang banget sama kamu, Alya. Sebentar lagi juga aku pulang."
"Aku juga sayang kamu, Kak. Cepet pulang," Alya membalas, suaranya melembut meski dadanya semakin sesak oleh rasa bersalah yang sulit dia jelaskan bahkan pada dirinya sendiri.
Mereka mengobrol beberapa menit lagi tentang hal-hal ringan. Tentang makanan yang Bayu coba di kota itu, tentang rencana kecil untuk akhir pekan setelah dia pulang, dan setiap kalimat manis yang keluar dari mulutnya terasa seperti pisau kecil yang menusuk dada Alya pelan-pelan. Mengingatkannya betapa tidak adilnya dia bersikap terhadap seseorang yang begitu tulus mencintainya.
Sore itu, seorang resepsionis menyerahkan sebuah amplop krem kepada Alya. Tanpa nama pengirim di luar, hanya inisial "C" yang tercetak elegan di sudut kanan bawah. Di dalamnya, hanya secarik kartu dengan tulisan tangan rapi.
"Temui aku di kafe seberang rumah sakit, jam lima sore. Ada yang perlu kau ketahui, sebelum kau melangkah lebih jauh. Cendana."
Alya mengenali nama itu seketika wanita bergaun merah di gala amal, yang bicara tentang Raze seolah mengenalnya lebih dalam daripada siapa pun.
Kafe itu remang dan sepi, dan Bu Cendana sudah duduk di sudut paling jauh dari pintu. Secangkir teh mengepul di depannya. Penampilannya kali ini lebih sederhana dari gaun merah yang dia kenakan di gala. Tapi auranya tetap sama. Tajam, terkendali, seperti seseorang yang sudah lama terbiasa mengamati sebelum bertindak.
"Duduklah," katanya, tanpa basa-basi, menunjuk kursi di depannya. "Aku tidak akan membuang waktu kita berdua."
Alya duduk, waspada. "Ibu mau bicara apa?"
"Tentang Raze," katanya, langsung, matanya menatap tajam. "Aku sudah mengenalnya sejak dia berumur dua puluh dua tahun. Saat dia baru mulai membangun kerajaan bisnisnya dari nol. Aku tahu bagaimana dia bekerja, bagaimana dia mendapatkan apa pun yang dia inginkan, dan yang lebih penting, aku tahu apa yang terjadi pada orang-orang yang berdiri di antara dia dan keinginannya itu."
"Kenapa Ibu cerita ini ke saya?"
"Karena aku pernah melihat pola ini sebelumnya," Bu Cendana berkata, suaranya melunak sedikit, hampir seperti kasihan. "Bertahun-tahun lalu, ada wanita lain. Bukan kau yang pertama dia perhatikan sedekat ini. Wanita itu juga punya kekasih, sama seperti kau. Kau tahu apa yang terjadi pada kekasihnya?"
Alya menahan napas, tidak yakin ingin mendengar jawabannya, tapi juga tidak sanggup untuk tidak bertanya. "Apa yang terjadi?"
"Dia menghilang dari kota ini dalam waktu tiga bulan. Bisnisnya bangkrut, keluarganya pindah, dan tidak ada yang pernah mendengar kabarnya lagi," Bu Cendana berkata, datar, seolah mengucapkan fakta cuaca. "Raze tidak pernah mengaku terlibat. Tapi aku mengenalnya cukup lama untuk tahu, kebetulan semacam itu tidak pernah benar-benar kebetulan di dekatnya."
"Dan wanitanya sendiri? Yang dia taksir itu?" Alya bertanya, suaranya nyaris tidak terdengar.
"Menikah dengannya, dua tahun kemudian," Bu Cendana menjawab, menyesap tehnya sekali sebelum melanjutkan. "Terlihat bahagia, di permukaan. Tapi aku tidak pernah lagi melihatnya keluar rumah tanpa didampingi. Tidak pernah lagi melihatnya punya teman dekat selain yang disetujui suaminya. Bahagia punya banyak bentuk, Nak. Tidak semuanya bentuk yang kau inginkan kalau kau tahu harganya sejak awal."
Tangan Alya mengepal di bawah meja, pikirannya melompat ke investor Bayu yang tiba-tiba mundur, ke waktu yang begitu tepat hingga terasa mustahil untuk dianggap kebetulan semata.
"Kenapa Ibu memberitahu saya semua ini?" Alya bertanya lagi, suaranya bergetar.
"Karena aku ingin melihat sekali saja, seseorang cukup pintar untuk pergi sebelum semuanya terlambat," Bu Cendana berkata, berdiri, meninggalkan uang di atas meja untuk tehnya sendiri. "Raze bukan orang yang bisa dicintai dengan aman, Nak. Dia orang yang mencintai seperti dia menjalankan bisnis. Total, tanpa kompromi, dan tanpa peduli berapa banyak yang harus dihancurkan di sepanjang jalan menuju apa yang dia inginkan."
Dia berlalu tanpa menunggu tanggapan, meninggalkan Alya sendirian di meja itu. Tangannya masih gemetar memegang cangkir teh yang bahkan belum sempat dia sentuh.
Malam itu, telepon Alya berdering. Suara Raze di ujung sana terdengar berbeda dari biasanya. Lebih pelan, hampir seperti dia sedang menahan sesuatu.
"Aku dengar kamu ketemu Cendana sore ini," katanya, bukan pertanyaan.
Alya terkejut, tapi tidak lagi cukup terkejut untuk bertanya bagaimana dia bisa tahu. Pertanyaan semacam itu sudah lama kehilangan maknanya di dunia yang dia jalani sekarang. "Kenapa nggak kamu ceritain sendiri soal wanita yang menghilang itu?"
Ada jeda panjang di ujung telepon. Cukup panjang untuk membuat Alya yakin dia baru saja menyentuh sesuatu yang nyata.
"Karena ceritanya lebih rumit daripada yang dia sampaikan," katanya akhirnya, suaranya tegas meski lebih pelan dari biasa. "Dan karena aku bukan orang yang sama seperti dulu. Tapi aku tidak akan berbohong padamu, Alya. Aku memang tidak akan membiarkan apa pun berdiri terlalu lama di antara kita. Aku hanya berjanji, caraku menyingkirkannya tidak akan pernah menyakitimu."
"Itu nggak menenangkan sama sekali, Raze."
"Aku tahu," katanya, jujur, tanpa berusaha memperbaiki kalimat itu menjadi lebih lembut. "Tapi itu satu-satunya kejujuran yang bisa kuberikan malam ini."
"Wanita yang dinikahinya itu," Alya berkata pelan, memberanikan diri bertanya satu hal terakhir. "Dia bahagia?"
"Aku tidak tahu," jawabnya, dan untuk pertama kalinya, suaranya terdengar benar-benar tidak yakin. "Aku bukan pria yang menikahinya, Alya. Aku bukan monster yang sama seperti di cerita itu. Meskipun aku tahu sebagian dari diriku memang layak disebut begitu. Aku hanya tahu satu hal yang pasti. Aku tidak akan membiarkanmu berakhir sendirian di rumah besar, tanpa siapa pun yang benar-benar melihatmu. Kalau pun kau membenciku suatu hari, aku ingin kau tetap dikelilingi orang-orang yang mencintaimu, bukan diisolasi seperti trofi."
Kalimat itu, entah kenapa, terasa lebih menakutkan daripada kalau dia mengaku bersalah secara langsung. Karena di baliknya tersembunyi kepastian bahwa dia sudah memikirkan skenario itu. Skenario di mana Alya membencinya suatu hari nanti dan tetap merasa yakin akan tetap menginginkannya.
Di lantai dua puluh dua, buku bersampul kulit hitam itu terbuka sekali lagi. Tulisan malam itu lebih pendek dari biasanya, seolah ditulis oleh tangan yang untuk pertama kalinya ragu.
Cendana bicara lagi. Dia selalu muncul tepat ketika aku paling dekat dengan sesuatu yang kuinginkan. Aku seharusnya sudah menghentikannya bertahun-tahun lalu. Aku membiarkannya hidup karena, entah kenapa, sebagian kecil dari diriku masih membutuhkan seseorang yang mengingatku sebelum semua ini dimulai.
Alya bertanya tentang masa lalu yang seharusnya sudah lama terkubur. Aku tidak menjawab sepenuhnya. Aku tidak yakin dia siap mendengar seluruh kebenarannya. Atau mungkin, aku yang belum siap dia mengetahuinya.
Waktu semakin sempit. Bisikan-bisikan itu akan terus membesar sampai aku tidak punya pilihan selain berhenti berpura-pura sama sekali.
•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈
Ada bisikan yang datang untuk memperingatkan, dan ada bisikan yang datang untuk menguji seberapa jauh seseorang mau bertahan meski sudah tahu bahayanya. Yang paling menakutkan adalah menyadari diri sendiri memilih bertahan, bukan karena tidak percaya bisikan itu, melainkan karena sudah terlalu terlambat untuk berpaling.