Di hari pernikahannya. Aluna menggantikan sang adik untuk menikahi pangeran Arya. Adik dari raja yang rumornya menderita penyakit aneh. Setiap penyakit itu kambuh, Dia akan membunuh siapapun yang mendekatinya. Tetapi, Setelah bertemu Aluna. Penyakit Arya melunak, Bahkan begitu lembut menghadapi sifat kekanakan Aluna meskipun penyakitnya kambuh.
Lalu, Bagaimanakah Aluna hidup bersama Arya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Najmu Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CURIGA BUKAN ORANG BIASA
Sudah 2 hari Tabib Julian pergi ke Desa Bambu. Hari ini dia pulang sambil Bawa kantong obat besar dengan wajah yang terlihat lelah.
"Ayah! Aku pulang!" Teriak Julian dari depan.
"Syukur. Bagaimana dengan warga desa, Apakah sudah aman?" Tanya kakek Lin." Iya ayah, Cuma wabah batuk. sudah sembuh semua." Kakek Lin bernafas lega.
Di dalam gubuk, Arya lagi duduk di sebuah dipan. Dengan menggunakan sisa arang. Ia menulis di sebuah kertas kulit berkualitas rendah, Tetapi tulisannya benar-benar rapih dan indah.
Tak lama, Julian mendatangi mereka.
"Bagaimana keadaan anda?" Tanyanya pada arya. Julian menaruh tasnya. Matanya langsung ngelirik ke sobekan kain di tangan Arya.
Itu surat setengah jadi. Tulisan tangannya...
Terlalu bagus, Terlalu rapi dan Goresannya tegas. Itu bukan tulisan orang biasa, Itu tulisan bangsawan yang terlatih sejak kecil. Jantung Arya langsung copot saat menyadari Julian sedang menatap tulisannya. Aluna menoleh polos.
Julian pura-pura nggak liat. "Tuan arya terlihat sudah bisa jalan, Syukurlah." Ujarnya.
Dia duduk, ngecek nadi Arya. "Demamnya sudah turun dan Lukanya juga sudah membaik."
Walaupun terkesan cuek, Tetapi Julian tetap berpikir keras. "Tulisan orang biasa mana yang sebagus itu?" Bingungnya.
Malam harinya, Suasana terlihat sepi. Mereka makan 4 orang. Kakek Lin, Julian, Arya, Aluna. Suasananya agak canggung.
"Tuan Arya, dulu kerjanya apa? Kok badannya terlihat kekar. Bekas lukanya juga banyak." Julian memecah kesunyian.
Arya udah siapin jawaban. "Dulu, Aku seorang... pemburu. Sering berantem sama babi hutan." Jawabnya hati-hati.
Aluna langsung menimpali. "Iya! Suami saya jago berburu! Pernah bunuh 3 hewan sekaligus!" Kakek Lin ketawa dan Julian senyum. Tapi matanya nggak ketawa. Ia masih terus berpikir keras.
Selesai makan, Julian "nggak sengaja" melihat kembali tulisan tangan Arya yang berada di atas dipan itu. Tulisan sebagus itu tak mungkin di miliki orang biasa.
Sehabis itu, Julian nggak keluar, Dia duduk di luar, sambil meracik sebuah obat. Arya ikut keluar juga. Arya menatap Julian yang sepertinya menyimpan beberapa pertanyaan untuknya dan Aluna. Keduanya duduk di luar dengan suara serangga yang menemani.
Julian duluan yang buka suara, Dengan pelan.
"Tuan Arya."panggilnya. Arya tegang. "Ya?"
"Kau bukan orang biasa kan?"
Hening, Suara Jangkrik berbunyi nyaring dari luar halaman rumah. Arya nengok dengan Wajah datar. "Maksud Tabib?"
Julian berhenti menunduk. "Tulisanmu, Cara bicaramu. Bekas luka di punggungmu. Itu luka pedang. Bukan luka cakaran hewan." Arya berdiri, Insting prajuritnya keluar. Tangannya refleks nyari gagang pedang. Tapi dia nggak bawa.
"Terus kenapa?" Suara Arya rendah. Yang artinya Berbahaya.
Julian mengangkat kedua tangan. "Santai. Aku nggak akan ngelaporin."
Dia nengok ke Arya. "5 tahun lalu, adikku mati di perang sama Kerajaan Dariyan. Aku benci perang. Aku benci bangsawan." Aluna yang dari tadi nguping di balik pintu langsung keluar dengan Panik.
"Tabib Julian, Kami bukan orang jahat, Jadi–"
Julian motong. "Tapi aku juga tabib. Sumpahku menyelamatkan orang, bukan membunuh.."Dia liat Arya dan Aluna. "Kalian lari dari sesuatu ya?"
Arya diem lama. Akhirnya menghela napas. Mengangguk sekali.
"Iya."
"Apa?" Arya menarik nafasnya dalam. "Waktu hidupku hanya 2 tahun. Kami berada di sini karna ingin di bunuh seseorang." Ucap Arya, Meskipun ia justru menikmati kebersamaan bersama Aluna di desa terpencil itu.
"Aku nggak akan tanya kalian siapa. Aku juga nggak akan ngomong ke siapa-siapa. Tapi kalian harus janji, Jangan bikin masalah di desa ini." Arya tersenyum "Kami cuma mau hidup tenang." Tegasnya.
"Bagus, Mulai sekarang panggil aku Julian aja. Nggak usah 'Tabib'." Dia senyum tipis. "Dan... bisakah anda mengajari aku menulis sebagus itu? tulisan dokterku terlihat sangat buruk" Arya tersenyum. "Tentu saja." Ucap Arya.
Arya mengelus kepala Aluna. Lalu menatap Julian. "Terima kasih." Tak lama kakek Lin datang. Senyuman tulusnya menenangkan.
"Sudahlah Julian, Jangan menganggu mereka. Ayo kita pergi ke rumah sebelah." Ucap kakek Lin, Tetapi Arya menghentikan langkahnya. Pria itu menyerahkan 10 tael emas, Kakek Lin terkejut melihat 10 tael emas di tangannya, Matanya melotot. Itu uang 1 tahun kerja di ladang.
"Ini...." Kakek Lin mau ngembaliin. "Aku hanya punya segini, Selebihnya aku akan membantu berkerja keras di ladang, Dan melakukan apapun yang di lakukan seorang pria di desa ini." Arya nahan tangan Kakek Lin. "Terima, Kek.Kami nggak mau jadi beban. Dan... Anggap saja, Ini bayaran pengobatan dan juga tempat tinggal."
Kakek Lin menatap uang itu dengan berat hati. Aluna Tersenyum. "Iya Kek. Anggap aja kami bayar kontrakan di tambah makan 3x sehari di tambah jasa menyelamatkan nyawa kami." Julian di samping ketawa kecil. "Ayah, terima aja. Kalau nggak, Tuan Arya nggak bakal tenang tidurnya." Bujuk Julian.
Akhirnya Kakek Lin menghela napas dan Menerimanya "Baik. Tapi uang ini buat beli bibit baru, baju baru buat kalian berdua, dan ayam. Supaya kalian bisa makan enak." Arya tersenyum, Begitu pun Aluna.
Aluna langsung nunjuk. "Denger ya Arya! Beli ayam!" Teriaknya. Ketiga pria itu tertawa geli.
Arya nyubit pipi Aluna. "Iya iya. Ratu ayam."Angguk Arya.
***
3 hari berlalu, dengan 10 tael itu, hidup mereka berubah sedikit. Kakek Lin membelikan Baju baru untuk Aluna 2 stel dengan kain bagus berwarna biru muda. Lalu Arya dapat baju petani warna coklat tanpa ada bordir naga khas kerajaan.
Lalu, di Ladang Arya beneran berkerja keras meskipun tubuhnya masih lemah, Ia ikut membajak sawah bareng para suami dan laki-laki di desa.
Pada awalnya, Semua bertanya-tanya dan melihatnya aneh. "Tangan pria itu kok putih sekali?" Itulah pertanyaan warga desa, Ada juga yang beberapa kali mencoba menggoda Arya. Tetapi pria itu sangat dingin. Hingga semua orang mulai kembali cuek. "Tuan Arya rajin ya, Tidak seperti ayahku dan suamiku." Puji beberapa ibu rumah tangga di sekitar desa.
Tak lupa, Setiap sore, Julian duduk di depan gubuk. Arya mengajarinya menulis dengan ranting di tanah."Gini. Tarik ke bawah, tahan, angkat." Ucap Arya, Julian menggaruk leher belakangnya dengan bingung. "Tuan Arya, ini huruf apa?" Arya menoleh. "Tertulis, Damai." Julian mengangguk, "Cocok buat desa kita."
Aluna duduk di samping, Menyimak sambil menjahit bersama Bu Sari.
Hingga Kegelapan kembali datang menyelimuti, Lampu minyak mulai redup. Aluna bersandar pada dada bidang Arya, "Bagaimana keadaanmu?" Tanya Aluna, Keduanya tertidur di atas dipan kayu yang reyot. Arya tersenyum. Sekarang tubuhnya jauh lebih segar, lebih ringan. "Aku sangat baik." Jawab Arya, Aluna tersenyum.
"Aku yakin, Yang mulia pasti akan sembuh, Meskipun butuh waktu yang lama. Ku mohon, Bertahanlah yang mulia." Ucap Aluna. "Aku akan berusaha, Aluna." Arya menggenggam tangan Aluna.
****
Dua orang prajurit penjaga perbatasan terlihat melapor pada seseorang. "Yang mulia, Terdapat sebuah kereta kuda di bawah jurang, Kedua kuda itu mati tetapi tak ada siapapun di dalam kereta kuda itu. Dan sepertinya pemiliknya baru saja menikah." Ucap sang prajurit, Menunjukkan sebuah kain brokat dengan Potongan rambut.
"Bagaimana bisa ini ada di wilayah kita?" Bingung raja Derry.
"Ayahanda, Izinkan aku memeriksanya." Pria muda berusia 20 tahun itu maju dengan Hanfu emasnya. Wajahnya tampan tanpa cacat.
Dia adalah Pangeran mahkota kerajaan Xuan, bernama pangeran seno. Anak kebanggan derry Dengan ratu Rania.
"Baiklah, Selidiki dengan baik. Jika kau menemukan jejak orang dari kerajaan Dariyan, Segera laporkan. Dan tangkap orang itu." Titah sang kaisar.
"Baik, Ayahanda." Seno menunduk dan langsung pergi. Raja Derry menghela nafasnya berat.
Dendam ini, Akan aku bawa hingga mati.–Batin raja Derry.
TBC
like dan komen.
ditunggu kelanjutannya 🙏