Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.
Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.
Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA PULUH LIMA
Tepat ketika jarum jam menunjukkan pukul 17.30 WIB, bel tanda perkuliahan terakhir akhirnya berbunyi. Suasana kelas Farmasi perlahan lengang. Sepanjang sore itu, Amara tetap mengikuti perkuliahan dengan tenang dan tertib, meski pikirannya melayang jauh. Kedua sahabatnya, Adinda dan Erin, sengaja tak banyak bertanya atau mengusik Amara. Mereka mengerti betapa beratnya hari yang dilalui Amara sejak insiden di laboratorium pagi tadi.
Apalagi, rumor mengenai Bayu yang merawat Amara di sekretariat BEM hingga isu pemuda itu tengah gencar mengejar Amara sudah mulai berhembus santer di antara mahasiswa Universitas Candrakirana.
"Ra, benaran tidak mau kami antar pulang saja?" tanyа Adinda khawatir saat mereka bertiga berjalan menyusuri koridor menuju pelataran parkir. "Tanganmu kan masih dibalut begitu, nanti susah mengemudikan mobilnya."
Amara menyunggingkan senyum tipis, menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Dinda, Erin. Terima kasih banyak ya atas tawarannya. Tapi aku bisa mengemudi perlahan kok. Kalian pulang duluan saja."
"Ya sudah, kalau ada apa-apa langsung telepon kami ya, Ra," pesan Erin seraya mengelus bahu Amara penuh perhatian.
Amara melambaikan tangannya, melepas keberangkatan kedua sahabatnya. Begitu mobil Erin berlalu menembus gerbang kampus, Amara melangkah menuju mobilnya sendiri. Gadis itu dengan sengaja mematikan layar ponselnya sejak jam istirahat tadi. Sosok Zain sama sekali tak kelihatan batang hidungnya sejak siang, dan Amara sudah tidak peduli lagi.
Amara tidak berniat untuk langsung pulang ke rumah besar bernuansa abu-abu milik suaminya. Hatinya terlalu sesak dan lelah.
Ia melajukan mobilnya membelah kemacetan sore menuju sebuah sudut kota yang familiar, sebuah kedai es krim tua bernuansa retro yang menjadi tempat langganannya semasa SMA. Dulu, setiap kali ia merasa lelah atau mendapatkan nilai bagus, sang kakak, Arbara, selalu membawanya ke sini. Namun, setelah Amara menikah dan Arbara kian sukses melambung sebagai pengacara ternama, momen manis itu menguap begitu saja tergilas kesibukan. Belum lagi statusnya sebagai Nyonya Alfatih membuatnya terkurung dalam biduk rumah tangga.
Amara duduk sendirian di sudut paling pojok kedai yang temaram dan sepi. Di hadapannya, semangkuk es krim rasa vanila dan cokelat terhidang anggun. Namun, saat jemarinya mengayunkan sendok kecil menyentuh permukaan es krim yang dingin, ingatan Amara melayang kembali pada gema suara hati Zain yang jujur dan menyayat.
’Bagaimana jika Amara tahu jika kejadian empat tahun lalu itu rencana kakak kandungnya?'’
Masa iya Kak Bara tega menjebak adik kandungnya sendiri? Maksudnya apa? Kenapa Kak Bara melakukan hal sejahat itu padaku? benak Amara meraung-raung, dipenuhi ketidakpercayaan yang menyiksa.
Amara meremas kuat ponsel di tangannya. Rasa ingin tahunya mendesak hebat. Ia tidak akan pernah bisa tenang sebelum mendengar jawaban langsung dari mulut kakaknya.
Dengan jari bergetar, Amara menyalakan kembali ponselnya lalu memanggil nomor Arbara.
Tut... Tut... Tut...
Panggilan pertama diabaikan begitu saja. Amara tidak menyerah, ia menekan tombol panggil ulang. Panggilan kedua pun bergulir dingin tanpa jawaban.
"Dasar orang sibuk!" cicit Amara serak.
Amara mencoba untuk ketiga kalinya. Dan tepat di dering keempat, sambungan itu akhirnya terhubung.
"Halo, Amara?" suara Arbara terdengar agak terburu-buru di balik deru suara kertas di meja kerjanya. "Ada apa, Adek? Uang sakumu yang Kakak kirim tadi siang kurang? Atau... Zain melakukan hal buruk padamu di rumah?"
Amara mengepalkan tangannya, menahan getaran di tenggorokannya. "Uang saku dari Kakak itu sangat banyak. Bahkan bisa dipakai untuk membeli mobil Mini Cooper keluaran terbaru sekaligus."
Arbara terkekeh tipis di ujung telepon, berusaha mencairkan suasana. "Lalu ada apa adiknya Kakak yang cantik ini menelepon sore-sore begini? Kakak baru saja selesai menanda tangani berkas—"
"Kak Bara," potong Amara cepat dengan nada suara yang teramat dingin dan serius, memangkas basa-basi kakaknya. "Aku mau tanya satu hal. Dan Kakak harus jawab jujur padaku."
Arbara hening sejenak di seberang sana. "Tanya apa, Mara?"
"Kejadian empat tahun lalu di malam pesta kelulusan itu..." Amara menahan napasnya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Apakah kejadian itu sebenarnya jebakan yang sengaja Kakak rencanakan?"
Suasana di ujung telepon mendadak membisu total. Keheningan yang menyengat tercipta di antara mereka selama beberapa detik. Suara napas Arbara di balik telepon berubah gagap dan tersendat kaku.
"Ma-Mara... Apa-apaan pertanyaanmu itu?" sahut Arbara, berusaha tertawa kecil meski suaranya bergetar hebat. "Siapa yang membisikkan omong kosong seperti itu padamu? Jangan dengarkan rumor tidak jelas! Kalau kamu mau tahu soal malam itu, tanya saja langsung pada Zain—"
"Aku tidak mau tahu soal Kak Zain!" pangkas Amara tegas, air matanya menetes satu per satu membasahi pipinya. "Aku hanya ingin mendengar penjelasan dari mulut Kakak sendiri! Jawab aku, Kak Bara! Iya atau tidak?"
Arbara menarik napas panjang, suaranya berubah cemas dan serba salah. "Mara... Bicara hal sekrusial ini di telepon sama sekali tidak baik. Dengarkan Kakak, ya? Nanti Kakak atur jadwal untuk bertemu langsung denganmu di luar, baru kita bahas ini baik-baik."
Mendengar nada mengelak itu, dada Amara bagaikan dihantam beban seberat puluhan ton. Rasa sedih, kecewa, dan lelah yang menumpuk seharian meledak menjadi sebentuk kepasrahan yang amat menyakitkan. Amara menyunggingkan senyum sumbing yang penuh dengan luka.
"Kak Bara... Apakah waktumu untuk adikmu sendiri ini memang sesulit itu?" bisik Amara dengan suara bergetar parau, menahan tangis yang hendak pecah. "Apa aku harus membayar jasamu dan mendaftar jadi klienmu dulu supaya bisa bertemu langsung dengan Kakak? Kalau memang begitu caranya... aku punya uang lima ratus juta di tabunganku, Kak. Apakah uang sebanyak itu cukup untuk menyewa waktumu selama dua puluh empat jam saja?"
Kalimat keputusasaan itu menghantam dada Arbara bagaikan belati tajam di seberang sana.
"Amara! Apa yang kamu katakan, Sayang?" tegur Arbara dengan nada terluka dan amat panik. "Kakak pasti punya waktu untuk adik kesayangan Kakak! Tapi saat ini Kakak benar-benar sedang memegang kasus pidana besar yang tidak bisa ditinggal begitu saja! Tolong dengarkan Kakak, Amara... Akhir pekan ini Kakak berjanji akan menemuimu. Kakak bersumpah!"
"Kak... Jawab saja pertanyaanku sekarang," pangkas Amara datar, air matanya mengalir deras tanpa henti. "Kejadian empat tahun lalu itu... Apakah Kakak yang merencanakannya?"
Arbara menghembuskan napas berat yang sarat akan rasa bersalah mendalam di seberang sana. "Amara... Kakak akan jelaskan semuanya nanti saat kita bertemu. Tapi satu hal yang harus kamu percayai... Apapun yang Kakak lakukan malam itu, semuanya murni demi keselamatan dan masa depanmu, Adikku sayang."
"Masa depan?" ulang Amara dengan tawa hampa yang sangat pahit. "Masa depan yang mana, Kak? Masa depan di mana aku terikat pernikahan kaku tanpa kejelasan begini?"
Tut!
Tanpa menunggu balasan atau alasan lain dari Arbara, Amara langsung menekan tombol merah, memutus panggilan telepon itu secara sepihak. Hatinya sudah terlampau lelah dan hancur. Ia tidak lagi berminat mendengarkan untaian kalimat kakaknya yang hanya berputar-putar mengalihkan kenyataan.
Sedetik berikutnya, layar ponsel di tangan Amara kembali menyala dan bergetar nyaring. Nama yang tertera di layar membuat dada Amara makin berdenyut sakit.
Tuan Gudang Es