NovelToon NovelToon
Satpam Penjaga CEO

Satpam Penjaga CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.

Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.

Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Drama Ukur Baju dan Pelarian Konyol

Pagi yang cerah di kediaman mewah keluarga Wira Perkasa berubah menjadi panggung drama yang riuh. Rumah bergaya modern klasik dengan halaman luas itu mendadak gaduh oleh suara langkah kaki terburu-buru dan teriakan yang menggema dari ruang utama. Di tengah kemewahan ruang keluarga yang dilapisi karpet tebal, Bimo sedang merengek seperti anak kecil yang dipaksa minum obat pahit.

"Aduh, Mama! Bimo bilang enggak mau ya enggak mau! Jangan paksa Bimo sekarang!" jerit Bimo seraya melompat mundur ke balik sofa besar, berusaha menghindari desakan dua orang perancang busana yang berdiri canggung memegang pita meteran kain.

Ibunda Bimo, Nyonya Wira, berdiri di tengah ruangan seraya menepuk jidatnya. Wajah anggunnya tampak memerah menahan kekesalan atas tingkah putra tunggalnya yang sudah dewasa tetapi masih sangat manja.

"Bimo! Kamu ini sudah mau jadi suami orang, kok kelakuannya masih seperti anak TK sih?!" omel Nyonya Wira seraya menunjuk pita meteran di tangan perancang busana. "Ini cuma ukur baju pengantin buat acara minggu depan! Cuma berdiri diam lima menit, Bimo! Biar jas kamu pas dan enggak kelihatan kedodoran di depan Nadia nanti!"

"Enggak mau, Ma! Bimo enggak mau diukur-ukur!" rengek Bimo lagi, suaranya naik satu oktav dengan nada sangat dramatis. Ia memeluk bantal sofa erat-erat seolah benda empuk itu bisa menyelamatkannya dari nasib pernikahan. "Lagian siapa juga yang mau nikah sama si cewek es batu itu?! Bimo belum siap, Ma! Bimo masih mau menikmati masa muda, masih mau santai!"

Ayah Bimo, Pak Wira, yang baru saja turun dari lantai dua dengan kemeja kerjanya, menghentikan langkah di anak tangga terakhir. Ia menghembuskan napas berat melihat tontonan konyol di ruang tamunya.

"Bimo! Jaga sikap kamu di depan tamu!" tegur Pak Wira tegas dengan suara beratnya yang berwibawa. "Pernikahan ini bukan cuma soal kamu, tapi soal masa depan Wira Perkasa Group! Kalau bukan karena investasi dari keluarga Nugroho, perusahaan kita bisa gulung tikar!"

"Ya tapi kan bukan Bimo yang bikin perusahaan mau gulung tikar, Papa!" sahut Bimo tidak mau kalah, matanya mulai berkaca-kaca panik. "Kenapa Bimo yang harus dikorbankan jadi tumbal pernikahan bisnis gini?! Suruh Dewa aja yang gantiin Bimo nikah sekalian!"

"Jangan ngomong sembarangan kamu!" bentak Pak Wira. "Dewa itu sahabat kamu, mana bisa dia gantiin posisi kamu di pelaminan! Sekarang kamu berdiri tegap dan biarkan Mas Desainer ini mengukur badan kamu!"

"Nggak mau! Tolong... Bimo mau bebas!" jerit Bimo seraya melempar bantal sofa ke arah dua perancang busana yang kaget setengah mati.

Memanfaatkan momen kekagetannya seluruh orang di ruangan tersebut, Bimo yang bertubuh agak gempal namun mendadak lincah karena dorongan kepanikan luar biasa, langsung memutar badan. Ia menerobos pintu samping yang mengarah langsung ke area garasi mobil.

"Bimo! Mau ke mana kamu?! Jangan kabur!" teriak Nyonya Wira histeris dari dalam rumah.

"Bimo! Kembali kamu!" seru Pak Wira menimpali.

"Maaf, Ma! Maaf, Pa! Bimo mau mencari ketenangan jiwa dulu!" teriak Bimo dari kejauhan.

Tanpa memikirkan penampilan, ia hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong bersablon kusam, Bimo menyambar kunci mobil sedan putihnya yang tergeletak di meja garasi. Ia melompat masuk ke dalam kabin, menekan tombol start-engine, dan menginjak pedal gas dalam-dalam hingga ban mobilnya mencicit keras di atas lantai keramik garasi. CITIIIK!

Mobil sedan putih itu melesat keluar melintasi pagar rumah mewah yang baru terbuka separuh, meninggalkan jeritan frustasi Ibundanya dan teriakan murka Ayahnya yang bergema di udara pagi.

Di dalam mobil, Bimo terus bernapas tersengal-sengal seraya melirik kaca spion tengah secara berkala. Ia takut ada mobil pengawal atau suruhan ayahnya yang mengejar dari belakang. Kedua tangannya menggenggam kemudi dengan sangat erat, jemarinya memutih karena ketakutan.

"Gila... gila... ini benar-benar gila!" ceracau Bimo sendirian di balik kemudi. "Gue bisa mati berdiri kalau dituntut nikah minggu depan! Mana si Dewa enggak ada kabar sama sekali lagi! Janjinya kemarin mau ngatur strategi baru, tapi kok malah keluarganya Nadia makin gencar nuntut pernikahan?!"

Bimo mengacak-acak rambutnya yang berantakan dengan satu tangan, merasa kepalanya mau pecah memikirkan nasibnya. Ia menyusuri jalanan kota yang mulai ramai tanpa arah tujuan yang jelas, berusaha menjauhkan diri sejauh mungkin dari jangkauan orang tuanya.

Setelah berkendara mutar-mutar selama hampir tiga puluh menit, mata Bimo menangkap sebuah kedai kopi kecil berkonsep minimalis di sudut jalanan sepi yang dikelilingi pepohonan rindang. Kedai kopi bernama "Kopi Sunyi" itu tampak tenang, hanya ada dua mobil yang terparkir di halamannya.

"Nah, di situ aja deh. Aman dari orang rumah," gumam Bimo lega.

Ia segera membelokkan setir, memarkirkan mobil sedannya di pojok area parkir yang agak terlindung rindangnya pohon beringin. Bimo mematikan mesin mobilnya, menarik napas dalam-dalam untuk menata detak jantungnya yang masih berdebar kencang.

Dengan langkah ragu dan pandangan mata yang terus mengawasi sekitar, Bimo keluar dari mobil. Ia berjalan cepat memasuki kedai kopi tersebut. Suara denting bel pintu kaca menyambut kedatangannya, disusul aroma biji kopi sangrai yang menyerbak hangat di dalam ruangan ber-AC itu.

Bimo berjalan menuju kasir, memesan secangkir iced Americano tanpa banyak bicara, lalu memilih meja paling pojok di dekat jendela kayu yang tertutup tirai tipis. Ia mendudukkan tubuhnya yang terasa lemas di atas kursi kayu.

Bimo menyandarkan punggungnya, lalu meraup wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan. Suasana kedai kopi yang sepi dan alunan musik instrumental bernuansa tenang perlahan-lahan meredakan kepanikan yang menyergapnya sejak pagi tadi.

Seorang pelayan kedai datang membawakan pesanannya. "Ini Iced Americano-nya, Mas. Selamat menikmati."

"Oh, iya... makasih banyak ya, Mas," balas Bimo pelan dengan nada suara lesu.

Bimo menarik gelas plastiknya, menyesap minuman dingin bermuatan kafein itu seraya menatap kosong ke luar jendela. Wajah dingin Nadia Nugroho, bayangan denda puluhan miliar yang diancamkan pada perusahaan ayahnya, serta desakan ukuran baju pengantin tadi pagi saling bertumpuk di dalam benaknya seperti benang kusut yang sulit diurai.

"Aduh, Dewa... lu sekarang ada di mana sih?" bisik Bimo frustasi seraya menatap layar ponselnya yang sepi tanpa pesan balasan. "Gue butuh bantuan lu banget ini. Gue bisa gila kalau sendirian menghadapi masalah seberat ini."

Bimo menghembuskan napas panjang, menempelkan gelas kopi dinginnya ke keningnya yang terasa pening. Di sudut kedai kopi yang tenang itu, Bimo duduk sendirian, memeluk lututnya sedikit rapat seraya berusaha merajut kembali sisa-sisa ketenangan jiwanya yang telah koyak oleh drama perjodohan keluarga.

1
Dian Paramita Dewi
Salam kenal, bantu like ya Kak 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!