Selama tujuh malam, dia memimpikan hal buruk tentang pria yang selama ini dicintainya. Ketika hari lamaran tiba, dia memilih membatalkan perjodohan dan menjadikan Arus, pria berandal yang dibenci warga desa, sebagai alasannya.
Namun, semakin dekat dengan Arus, semakin dia menyadari bahwa pria itu tidak seperti yang orang-orang katakan. Di balik luka dan reputasinya, tersimpan kehidupan yang tak pernah dia bayangkan.
Awalnya hanya pelarian. Tapi bagaimana jika arus yang dia ikuti justru membawanya menemukan cinta yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
"aku menolak" ucap seorang gadis dengan lantang.
seluruh orang yang ada di ruangan itu langsung menatap gadis itu.
Seorang pria paruh baya langsung menariknya untuk duduk.
"ly, apa ada apa ini. Bukanya kemarin kamu yang semangat dengan lamaran ini..?"
Alya yang biasanya selalu menunduk di keramaian kini duduk tegap.
"maaf pa. Tapi aku tak bisa menerima lamaran ini"
amarah terlihat jelas di wajah sang ayah, beruntung sang ibu terus mengusap punggung tangan sang ayah.
Sebulan lalu, Alya hampir melompat senang saat mendapatkan kabar akan di lamar oleh teman masa kecil sekaligus orang yang ia suka mengatakan akan melamar.
Di desa ini memang bukan hal aneh lagi jika seseorang langsung melamar tanpa berpacaran.
mungkin karena karena tradisi dari nenek moyang, walau ada yang berpacaran dulu. tapi tak sedikit juga yang langsung melamar seperti sekarang.
Namun selama seminggu sebelum acara lamaran ini, Alya terus memimpikan hal yang tak enak tentang Bagas.
karena ini, ia akhirnya memutuskan keputusan berat ini.
Keluarga Bagas tak dapat berkata kata mendengar penolakan ini.
melihat ayah Alya yang terlihat malu, ayah Bagas sedikit menggelengkan kepalanya.
"tak apa, saudara Juan tak marah. Bagaimanapun ini hak nak Alya, tapi begini nak Alya kami tak ingin memaksa, namun setidaknya tolong beri tahu alasannya."
mendengar ini Alya terdiam, ia mengingat apa yang terjadi di mimpinya.
Setelah memejamkan mata cukup lama, Alya menatap yakin.
"aku mencintai arus, aku ingin menikah dengannya"
seisi rumah langsung tergemap, terutama sang ayah.
"ly, ngomong apa si. Kami tau kan kayak mana arus itu, mau makan apa kalo kamu hidup sama dia."
Alya tak menjawab, ia berbalik dan pergi ke kamarnya.
Sedangkan sang ayah yang akan mengejar langsung di hentikan oleh sang ibu.
"sudah, biar mama yang ngomong sama Alya. Papa bicara dulu sama keluarga Bagas"
Juan hanya mengangguk, ia membiarkan sang istri yang berbicara dengan sang anak.
Sedangkan dia meminta maaf ke keluarga Bagas.
"tak apa om, mungkin alya hanya membuat arus sebagai alasan saja karena belum siap menikah."
mereka semua yang ada di situ menyetujui apa yang di katakan Bagas, lagi pula bagaimana Alya bisa jatuh cinta kepada arus. Sedangkan arus sendiri jarang sekali kembali ke desa, dia sibuk bermain ke luar, sedangkan Laras jarang sekali keluar rumah.
Yang selalu menetap di desa saja jarang bertemu Alya bagaimana dengan arus.
"ia nak, semoga saja begitu. Tapi kami meminta maaf atas semua ini, padahal 1 bulan lalu Alya sangat senang mendengar nak Bagas mau melamar. Tapi entah mengapa hari ini dia menolak"
Bagas tersenyum....
"tak apa, mungkin karena baru lulus kuliah Alya ingin menikmati masa lajang dulu. jika kami memang berjodoh pasti akan ada jalannya"ungkap Bagas.
Kedua orang tua Bagas pun tak mempermasalahkan hal ini, bukan karena banyak orang.
Jika kecewa jelas mereka kecewa, tapi jika marah mereka tak sampai ke sana.
Bahkan mereka sebelum pulang sempat berbincang bincang terlebih dahulu seakan tak ada masalah yang terjadi.
3 hari telah berlalu, semua kembali ke aktifitas biasanya.
Namun mau bagaimanapun berita penolakan itu tetap terdengar ke mana mana, walau keluarga Bagas tak membahas tapi sebagian warga yang ikut dalam lamaran yang menyebarkan dari mulut ke mulut.
di jalan desa, seorang berbaju serba hitam melintas menggunakan motor sport nya melewati beberapa warung.
"eh, itukan arus." tunjuk salah satu ibuk ibuk yang ada di warung.
Ibu ibu lainnya ikut menoleh ke arah motor itu pergi.
"benar benar, sudah 1 Minggu baru pulang. Apa dia gak kasihan dengan pak dewangga, padahal pak dewangga itu baik tapi kenapa anaknya bisa kayak gitu."
"benar, kadang aku kasihan sama pak dewangga. Punya anak sebesar itu bukannya membantu, malah ngerepotin terus. apalagi seminggu lalu sebelum arus pergi"
"memang ada apa buk..."
Para ibuk ibuk itu langsung merapat.
"aku kemarin gak sengaja lewat rumah pak dewangga, waktu itu aku ngeliat arus gak peduliin ayahnya padahal udah di larang bahkan sampai teriak.".
"hah masak ia..."
"ia.... Padahal kita saja sangat menghormati pak dewangga sebagai pemilik yayasan. Tapi anaknya malah kayak gitu"
"kasian banget pak dewangga, apa lagi ku dengar dari suami nak Alya bilang suka sama arus itu"
"ia aku juga denger dari suami, nak Alya nolak nak Bagas demi arus itu.."
ehem.....
Suara deheman membuyarkan gosip para ibuk ibuk, saat melihat orang yang berdehem para ibuk ibuk itu hanya bisa tersenyum canggung.
"lagi bicara apa ibuk ibuk, kayaknya seru" ungkap Harto ayahnya Bagas.
"enggak pak, cuma bicara masalah rumah tangga aja" elak salah satunya.
Namun saat itu, salah satu ibuk ibuk malah maju.
"pak Harto, saya denger Bagas gak jadi nikah ya..." tanyanya.
Melihat salah satu temannya langsung menarik kembali ibu ibu yang bertanya itu.
"ngapa nanya langsung" bisik salah satu ibuk ibuk.
"habisnya penasaran" jawabnya ringan..
Harto hanya tersenyum kecil.
"tidak apa apa ibuk ibuk, lagi pula pertanyaan itu normal.pernikahannya mungkin tak jadi karena nak alyanya belum siap."
sedangkan motor sport hitam milik arus akhirnya menepi di rumah berlantai 3, ia turun sambil membuka helem.
Saat baru turun ada seorang pria yang menghampirinya, itu adalah Bagas.
"Arus tunggu" panggil Bagas.
Arus hanya sedikit menoleh ke arah lelaki itu.
"ada apa.."
"kamu tau, aku di tolak saat melamar Alya." ungkapnya.
Ekspresi Wajah arus tak berubah sedikitpun.
"lalu apa hubungannya denganku..?" ungkapnya tak peduli.
Bahkan ia berbalik pergi....
"tapi alasan dia menolakku karena dia suka denganmu"
mendengar ini arus berhenti sesaat.
"lalu buat apa kau datang ke sini, karena dia mengatakan itu belum tentu itu hal yang sebenarnya kan, bahkan calon istrimu yang mana saja aku tak tau" ungkap arus tak menolah.
Bahkan ia melanjutkan perjalanan setelah mengatakan itu.
Bagas hanya bisa melihat langkah kaki arus dari belakang sampai pria itu menutup pintu.
Walau di depan orang tua Alya dia tak mengungkapkan kekecewaan secara lisan, tapi dari raut wajahnya terlihat jelas.
Dia terlihat jauh lebih kuau dari pada 3 hari lalu.
"sudah pulang" sapa Anhar, kakak arus.
"kurasa kau belum buta" jawab arus.
Anhar tak mengambil hati kata kata adiknya itu, bagaimanapun dia tau sifat adiknya ini.
Anhar sedikit menoleh ke jendela...
"Bagas..? Ada apa dia ke sini" tanyanya.
"tanya ke dia, ngapain Naya ke aku.." ungkap arus yang kembali berjalan ke kamarnya.
Anhar hanya melirik adiknya sekilas, lalu ia pergi menemui Bagas..