NovelToon NovelToon
Selir Favorit Sang Mafia

Selir Favorit Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja sastrala

Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Sirine mobil pengawal membelah heningnya pagi di kota yang masih diselimuti kabut tebal. Tiga mobil SUV hitam melaju dalam kecepatan tinggi, mengawal sedan lapis baja milik Gabriel yang menembus lampu merah tanpa peduli aturan.

Di dalam kabin belakang, suasana diisi oleh bau rasa takut dan ketegangan yang pekat.

Gabriel memangku tubuhku. Dua tangannya yang biasa digunakannya untuk mencabut nyawa orang kini bergetar hebat. Ia memelukku rapat-rapat, mencoba menyalurkan kehangatannya pada tubuhku yang masih mengalami kejang-kejang kecil dan membakar bagai lahar. Napas parauku terdengar amat tipis, patah-patah, seolah pasokan udara di dalam paru-paruku siap terhenti kapan saja.

"Cepatkan jalannya, Marco!" bentak Gabriel, suaranya serak dan pecah oleh kepanikan murni yang belum pernah didengar oleh siapa pun sebelumnya.

"Dua menit lagi, Tuan! Rumah sakit pribadi milik jaringan kita sudah mengosongkan seluruh lantai ICU!" sahut Marco dari kursi kemudi, menekan pedal gas hingga batas maksimal.

Gabriel menunduk, merapatkan dahinya ke dahiku yang sangat panas. Wajah pria itu pucat pasi, matanya yang biasa dingin kini memerah oleh perpaduan antara rasa bersalah, amarah pada dirinya sendiri, dan ketakutan gila akan kehilangan.

"Buka matamu, Cara mia... Aku mohon, buka matamu..." bisiknya lirih, sebuah bisikan lemah yang terkesan seperti doa dari seorang iblis yang tak pernah percaya pada Tuhan. "Jangan berani-berani kau mati. Kau mendengar ucapanku, Aurora?! Aku tidak mengizinkanmu mati!"

Namun aku tidak bisa mendengarnya. Kesadaranku telah hanyut di dalam kegelapan yang sangat dalam dan dingin, jauh dari jangkauan suaranya.

---

Lampu-lampu sorot di ruang gawat darurat berkelebat cepat di atas mataku yang setengah terbuka kaku. Roda brankar berderit keras saat para dokter dan perawat berlarian memacu waktu, mendorong tubuhku masuk ke dalam ruang operasi darurat.

"Tekanan darah drop drastis! Sembilan puluh per enam puluh!" seru seorang dokter wanita berjas putih dengan raut wajah sangat tegang. "Suhu tubuh mencapai 40,8 derajat Celsius! Menunjukkan gejala kejang demam kompleks dan infeksi sistemik!"

"Siapkan infus cairan penurun panas! Ambil sampel darah segera!" perintah dokter kepala seraya menggunting gaun tidurku yang telah koyak dan bernoda darah kering.

"Tunggu! Dokter, lihat ini!" perawat di sebelah kiri tersentak kaget saat menyingkap bagian bawah gaunku.

Ruangan gawat darurat yang bising itu mendadak hening sejenak. Dokter wanita itu membelalakkan mata, menatap kondisi organ intimku yang mengalami robekan fisik cukup parah, pembengkakan hebat, serta pendarahan aktif akibat paksaan dan kekerasan yang dialami dalam kondisi tubuh yang sangat rentan.

"Tergolong trauma fisik akut di area genital..." bisik perawat itu dengan tangan bergetar, menatap sang dokter kepala dengan raut penuh ketakutan. "Terjadi pendarahan di dalam. Ini yang memicu infeksi dan menurunkan fisiknya hingga seperti ini!"

Di luar pintu kaca ruang operasi, Gabriel berdiri mematung. Pria itu menyandarkan kedua tangannya ke kaca tebal, menatap lurus ke dalam ruang tindakan tempat tubuh kecilku dikerumuni oleh alat-alat medis dan jarum suntik.

Marco berdiri tiga langkah di belakangnya dengan kepala tertunduk. "Tuan... Anda harus membersihkan pakaian Anda. Para petinggi dewan mulai bertanya-tanya mengapa Anda meninggalkan markas di tengah ancaman Julian Romanov."

Gabriel tidak bergeming. Ia tidak memedulikan noda darahku yang membasahi kemeja putih dan tangannya. Sorot matanya terkunci pada dokter yang sedang berusaha menjahit luka robek di tubuhku dan memasang berbagai slang medis untuk mempertahankan napasku.

Pintu ruang operasi terbuka secara mendadak. Dokter kepala melangkah keluar dengan raut wajah sangat dingin dan tegas, mengabaikan fakta bahwa pria di hadapannya adalah bos mafia paling mematikan di kota ini.

"Bagaimana keadaannya?!" bentak Gabriel mencengkeram bahu dokter itu.

"Jika Anda terlambat sepuluh menit saja membawanya ke sini, Nona Aurora tidak akan pernah bangun lagi, Don Gabriel," ucap sang dokter dengan suara berat tanpa celah rasa takut. "Dia mengalami kejang akibat peningkatan suhu tubuh yang ekstrem. Namun yang paling berbahaya adalah trauma fisik hebat di area intimnya."

Rahang Gabriel mengeras, namun dadanya terasa bagai dihantam palu raksasa.

"Terjadi pendarahan internal akibat paksanaan fisik yang sangat kasar di area vitalnya," lanjut dokter itu tajam, menatap lurus ke mata hitam Gabriel. "Luka robeknya cukup dalam dan telah memicu peradangan serta infeksi jaringan. Ditambah dengan kelelahan fisik dan depresi mental yang dialaminya selama berhari-hari, tubuhnya secara otomatis melakukan penolakan organ. Dia kritis."

Kata kritis bergema di dalam kepala Gabriel bagai ledakan bom. Tangannya yang mencengkeram bahu dokter itu perlahan melonggar, terkulai kaku di samping tubuhnya.

"Apakah... apakah dia bisa diselamatkan?" suara Gabriel bergetar parah, kehilangan seluruh keangkuhannya.

"Kami telah menjahit luka robeknya, memberikan antibiotik dosis tinggi, dan menghentikan pendarahannya," jawab dokter tersebut. "Tapi saat ini, Nona Aurora berada dalam koma medis. Apakah dia akan terbangun atau tidak... itu tergantung pada keinginannya sendiri untuk bertahan hidup. Dan jujur saja, dari kondisi fisiknya, tubuh wanita ini seolah-olah sudah tidak ingin bernapas lagi."

Dokter itu melangkah pergi, meninggalkan Gabriel yang berdiri kaku di tengah koridor rumah sakit yang dingin dan sepi.

---

Malam harinya, ruang ICU terasa sangat senyap. Hanya ada detak konstan dari monitor jantung yang berbunyi teratur namun lemah.

Aku terbaring kaku di atas ranjang medis. Berbagai selang infus dan pipa oksigen menempel di tubuhku yang pucat. Rasa sakit hebat yang tadi menyiksa organ intim dan seluruh sendiku kini teredam oleh obat bius dosis tinggi, membawaku melayang dalam alam bawah sadar yang hampa.

Pintu kamar ICU bergeser pelan.

Gabriel melangkah masuk. Pria itu telah mengganti kemejanya yang berdarah dengan pakaian serba hitam, namun penampilannya sangat kacau. Rambut hitamnya berantakan, matanya merah karena menahan gejolak emosi dan tidak tidur, serta langkah kakinya yang biasanya tegas kini terasa berat dan ragu-garu.

Ia mendekati ranjangku, berdiri di sisiku seraya memandangi wajahku yang sangat pucat dan tidak berdaya. Bekas luka lebam akibat cengkeramannya di rahang dan leherku masih tercetak jelas, kontras dengan kulit putihku yang dingin.

Gabriel perlahan meletakkan jemarinya yang besar di samping pergelangan tanganku yang terpasang infus. Pria yang biasanya menguasai segalanya dengan senjata dan darah ini kini terlihat sangat kecil di samping tempat tidur medis ini.

"Aurora..." bisiknya, suaranya sangat serak, nyaris hilang tenggelam di antara bunyi monitor jantung.

Ia perlahan berlutut di samping ranjang medis, menggenggam jemariku yang dingin dan kaku dengan kedua tangannya, lalu menempelkan wajahnya di atas tanganku.

"Aku mematahkanmu..." gumam Gabriel, air mata panas yang tidak pernah mengalir di wajahnya selama puluhan tahun kini menetes perlahan, membasahi jemariku. "Aku ingin menguasaimu, tapi aku justru menghancurkanmu..."

Pria itu meremas tanganku pelan, ketakutan luar biasa terpancar dari setiap tarikan napasnya yang berat. Rasa penyesalan yang teramat dalam menyengat jantungnya bagai racun yang menyebar cepat. Ia sadar bahwa ketakutan terbesarnya bukanlah peluru musuh atau jatuhnya takhta Moretti, melainkan kenyataan bahwa kebuasan dan obsesi gilanya sendiri yang telah memadamkan cahaya di mata wanita yang paling dicintainya.

"Buka matamu, Cara mia..." bisik Gabriel di antara tangis bisunya yang menakutkan. "Hukum aku... caci maki aku... tapi jangan pergi meninggalkan kamar ini. Jangan biarkan aku hidup sendirian di dalam neraka yang kubuat ini."

Di tengah kegelapan komaku, bunyi monitor jantung berdetak pelan dan lambat, membawa takdir ikatan kami yang penuh darah dan rasa sakit ini menggantung pasrah di antara garis tipis kehidupan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!