Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.
Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.
Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum Di Antara Air Mata
Suasana di dalam rumah megah itu perlahan berubah menjadi mencekam. Bagas yang terduduk di lantai depan pintu kamar Laras, menatap kosong ke arah ubin marmer yang dingin. Napasnya masih memburu, namun amarahnya perlahan digantikan oleh rasa tidak percaya. Ia tidak menyangka Laras akan berani memberikan perlawanan setenang itu.
"Siska, apa dia benar-benar sudah gila?" tanya Bagas dengan suara yang serak, matanya menatap pintu kayu itu seolah bisa menembus ke sisi seberang.
Siska yang berdiri di belakang Bagas dengan ponsel di tangan, mendengus kesal. Ia memutar bola matanya dengan gerakan yang dramatis, lalu melangkah mendekat dengan langkah kaki yang sengaja dibuat berisik.
"Sudah kubilang, Kak, dia hanya cari perhatian," jawab Siska dengan nada angkuh yang dibuat-buat. "Dia pikir dengan bersikap misterius begitu, kita akan merasa kehilangan? Dia itu tidak sadar diri kalau dia cuma menumpang hidup di sini."
Ibu Melati yang sedari tadi berdiri di dekat meja makan, turut mendekat dengan wajah yang ditekuk. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap pintu kamar Laras dengan tatapan yang penuh kebencian.
"Lihat saja nanti, besok pagi dia pasti akan menangis di kaki kita untuk minta ampun," ujar Ibu Melati dengan suara yang dingin. "Bagas, jangan biarkan dia merasa menang. Besok pagi, kunci semua pintu dapur. Biar dia merasakan bagaimana rasanya kelaparan tanpa uang sepeser pun."
Bagas hanya terdiam, ia mencoba mengatur ritme jantungnya yang masih berdebar akibat ledakan emosinya tadi. Ia sebenarnya merasa sedikit tidak nyaman dengan ketenangan Laras, namun egonya sebagai pria yang merasa berkuasa menolak untuk mengakui kecemasannya.
"Ibu benar," sahut Bagas sambil bangkit berdiri dengan susah payah. "Besok pagi, aku akan pastikan dia tahu siapa yang berkuasa di rumah ini. Dia pikir dia bisa menantangku setelah tiga tahun hanya jadi pajangan di dapur?"
Di dalam kamar, Laras mendengarkan setiap patah kata yang terlontar dari balik pintu itu dengan jelas. Ia tidak membalas, tidak juga menunjukkan tanda-tanda ketakutan. Laras hanya duduk di kursi riasnya, memperhatikan pantulan dirinya di cermin dengan tatapan yang tajam dan tenang.
Ia merasa seolah-olah beban berat yang selama ini ia pikul perlahan-lahan terangkat dari bahunya. Kata-kata mereka yang biasanya menyayat hati, malam ini justru terasa seperti nyanyian perpisahan yang manis. Laras tahu, ini adalah malam terakhir baginya di rumah yang tidak pernah menganggapnya ada.
Laras mengambil sebuah map berwarna biru dari laci meja riasnya. Ia membukanya perlahan, memperlihatkan tumpukan dokumen yang selama ini menjadi rahasia besarnya. Ada surat kepemilikan aset, catatan keuangan yang rapi, dan berbagai bukti transaksi yang menunjukkan bahwa rumah yang mereka tinggali selama ini sebenarnya adalah miliknya secara sah.
"Nikmatilah kesombongan kalian untuk malam ini," gumam Laras dengan suara yang sangat pelan, nyaris seperti embusan napas. "Karena saat matahari terbit besok, hidup kalian akan benar-benar hancur."
Di luar, Siska masih sibuk mengoceh tentang betapa tidak bergunanya Laras. Ia mondar-mandir di lorong, sesekali tertawa kecil saat menatap layar ponselnya, mungkin sedang mengunggah keluhan tentang kakak iparnya yang tidak tahu diri ke media sosial.
"Aku benar-benar tidak habis pikir, Kak," kata Siska sambil menoleh ke arah Bagas. "Kenapa dulu Kakak mau menikah dengan wanita yang membosankan dan tidak punya ambisi seperti dia? Lihat, dia bahkan tidak tahu cara menghibur kita di rumah."
Bagas hanya membuang napas panjang, ia tampak tidak peduli dengan ocehan adiknya. Pikirannya saat ini justru terfokus pada rasa lapar yang mulai menyerang perutnya. Ia menyesal karena tadi tidak memesan makanan lebih banyak saat mereka berada di luar.
"Diamlah, Siska," bentak Bagas singkat. "Semua ini salahmu juga, kenapa tadi tidak membeli makanan tambahan untuk disimpan? Sekarang rumah ini sepi, tidak ada yang bisa dimakan, dan wanita di dalam sana justru berlagak sombong."
Ibu Melati segera menimpali dengan nada membela anaknya. "Kenapa malah menyalahkan Siska? Harusnya Laras yang mengerti kewajibannya! Dia itu istri, tugasnya ya mengurus semua kebutuhan kita di sini, termasuk makanan."
Laras menatap ke arah pintu yang tertutup rapat, ia tersenyum tipis. Ia bisa mendengar pertengkaran kecil yang mulai terjadi antara suami, mertua, dan adik iparnya. Kebersamaan mereka yang palsu mulai retak hanya karena masalah perut dan sedikit perlawanan dari dirinya.
Laras mematikan lampu kamar, menyisakan ruangan yang gelap gulita. Ia sengaja tidak menyalakan lampu agar mereka di luar tetap mengira bahwa ia sudah tertidur atau sedang dalam suasana hati yang buruk.
"Kalian tidak akan pernah tahu apa yang terjadi," bisik Laras lagi kepada dirinya sendiri. Ia menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya, mencoba memejamkan mata di tengah ketegangan yang masih menyelimuti rumah.
Di lorong, suasana perlahan mendingin. Setelah perdebatan singkat tadi, Bagas akhirnya berjalan menuju ruang tamu dengan langkah yang gontai. Ibu Melati dan Siska pun mengikuti di belakangnya, masih dengan wajah yang penuh kejengkelan dan amarah yang belum padam.
"Besok pagi, aku akan bicara padanya dengan cara yang berbeda," gumam Bagas saat ia merebahkan diri di sofa besar yang empuk. "Kalau dia masih berani melawan, aku akan pastikan dia menyesal sudah berani menantang keluarga ini."
Siska mengangguk setuju sambil memeluk bantal sofa. "Ya, Kak. Berikan dia pelajaran. Mungkin sudah saatnya kita mencari pembantu baru yang jauh lebih bisa diandalkan daripada dia."
Ibu Melati hanya mendengus, matanya menatap tajam ke arah pintu kamar Laras untuk terakhir kalinya sebelum ia beranjak pergi menuju kamarnya sendiri. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa mereka baru saja membangunkan singa yang sedang tertidur.
Keheningan malam semakin dalam, namun Laras tetap terjaga dengan pikiran yang jernih. Ia menghitung waktu, menit demi menit berlalu dengan lambat. Ia membayangkan apa yang akan terjadi esok hari, bagaimana wajah Bagas saat menyadari bahwa kehidupan mewahnya akan berakhir.
Laras tidak takut. Justru, ada perasaan lega yang menjalar di seluruh tubuhnya. Ia sudah menyiapkan semuanya dengan sangat matang, tidak ada celah bagi mereka untuk melarikan diri dari kenyataan.
Rumah besar yang selama ini menjadi saksi bisu penghinaannya, kini terasa seperti panggung teater yang akan segera meruntuhkan penontonnya sendiri. Laras memejamkan matanya, membiarkan kegelapan meresap ke dalam dirinya, mempersiapkan tenaga untuk hari esok yang akan mengubah segalanya.
Ia tidak akan memaafkan, tidak akan bernegosiasi, dan tidak akan memberi kesempatan kedua bagi orang-orang yang sudah menginjak-injak harga dirinya selama tiga tahun terakhir. Besok, ia akan memastikan bahwa keadilan yang selama ini ia kejar akan segera menjadi kenyataan bagi mereka semua.