NovelToon NovelToon
Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Adik Sahabatku Tergila-Gila Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Moora Lunatia

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh, Naya yang hancur melarikan diri ke bar untuk menenggelamkan kesedihannya sebelum akhirnya memutuskan menginap di rumah Nessa.
Dalam keadaan setengah sadar, Naya masuk ke rumah Nessa dan menemukan Kafka yang baru pulang dari luar negeri, tetapi karena gelap dan pengaruh alkohol ia mengira pria itu adalah "jasa hiburan" yang sengaja dipesan Nessa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moora Lunatia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Pecahan vas keramik yang berserakan di atas lantai marmer itu seolah menjadi cermin dari kewarasan Naya yang baru saja hancur.

Naya berdiri mematung, kakinya terasa seperti dipaku ke lantai. Ia tidak berani menatap mata Kafka, pria yang kini melangkah keluar dari ruang kerjanya dengan langkah pelan, terukur, dan memancarkan aura predator yang sangat mematikan. Jarak di antara mereka perlahan menyusut, dan seiring dengan itu, aroma cedarwood dan mint yang tajam langsung menginvasi paru-paru Naya, mencekiknya dengan ketegangan yang luar biasa tebal.

"K-Kaf..." suara Naya keluar berupa cicitan yang nyaris tak terdengar. Tubuhnya tanpa sadar bergerak mundur satu langkah, namun punggungnya langsung membentur dinding lorong yang dingin. Ia terjebak.

Kafka menghentikan langkahnya tepat di ujung pecahan keramik, menyisakan jarak kurang dari setengah meter dari Naya. Pria itu menatap lurus ke arah Naya. Tidak ada kepanikan di wajahnya karena rahasianya terbongkar. Yang ada hanyalah ketenangan yang absolut, dan sebuah seringai tipis yang membuat dada Naya berdebar dengan ritme yang menyakitkan.

"Kau mendengarnya," gumam Kafka, nada suaranya mengalun rendah dan berat. Itu bukan sebuah pertanyaan, melainkan pernyataan mutlak.

Naya menelan ludah dengan susah payah, memberanikan diri mendongak menatap sepasang mata legam yang biasanya memancarkan kehangatan itu. Kini, mata itu segelap malam tanpa bintang.

"Kamu... kamu sungguhan mau menghancurkan perusahaan keluarga Reno?" tanya Naya dengan suara bergetar. "Kaf, itu... itu berlebihan. Bapaknya Reno nggak tahu apa-apa soal masalah kita. Kalau perusahaan mereka bangkrut, ada ratusan karyawan yang bakal kehilangan pekerjaan."

Raut wajah Kafka mengeras. Rahangnya menegang, menciptakan garis tegas yang menakutkan sekaligus luar biasa tampan. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan sebelah tangannya di dinding tepat di sebelah kepala Naya, mengurung wanita itu tanpa menyentuhnya.

"Kau mengkhawatirkan karyawan mereka, atau kau masih memedulikan nasib mantan kekasihmu itu, Kak Naya?" desis Kafka, suaranya turun satu oktaf, dipenuhi dengan rasa cemburu dan keposesifan yang gelap.

"B-bukan begitu maksudku!" Naya menggeleng cepat, matanya membulat panik melihat kilat kemarahan di mata Kafka. "Aku udah nggak peduli sama Reno. Sama sekali! Aku cuma... aku cuma syok, Kaf. Pria yang selama ini aku anggap sebagai adik yang manis dan penurut... ternyata bisa melakukan hal sekejam ini dengan sangat mudah."

Keheningan yang mencekam menyelimuti mereka berdua. Embusan napas Kafka yang hangat dan beraroma kopi menerpa wajah Naya. Perlahan, tatapan Kafka yang semula dipenuhi amarah kini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih intens dan membongkar.

"Itulah masalahnya, Kak," bisik Kafka perlahan. Tangan kanannya yang bebas kini terangkat. Ujung jari telunjuk dan ibu jarinya menyentuh dagu Naya, memaksa wanita itu untuk terus menatap matanya. "Kau selalu melihatku sebagai adik yang manis. Anak laki-laki yang bisa kau atur. Tapi aku bukan anak kecil lagi. Dan dunia bisnis yang kupegang tidak dibangun dengan kebaikan hati."

Ibu jari Kafka mengusap lembut sudut bibir Naya, sebuah sentuhan kontras yang luar biasa lembut di tengah atmosfer yang begitu mengancam.

"Aku adalah pria yang akan melakukan apa pun—apa pun—untuk melindungi apa yang menjadi milikku," lanjut Kafka, suaranya menggetarkan udara di antara mereka. "Reno sudah berani melukaimu, Kak. Dia membuang air matamu. Dan bagiku, dosa itu harus dibayar dengan kehancuran seluruh dunianya."

Naya berhenti bernapas. Pria di hadapannya ini bukanlah Kafka si remaja canggung. Ini adalah Kafka sang eksekutif muda yang memegang kendali atas ribuan nyawa di bawah perusahaannya. Pria yang memiliki kekuasaan, uang, dan sisi gelap yang mengerikan.

Dan yang paling membuat Naya ketakutan bukanlah kekejaman Kafka, melainkan fakta bahwa alih-alih merasa jijik, separuh dari jiwa Naya justru merasa luar biasa dilindungi dan didambakan. Mengetahui ada seorang pria yang rela membakar dunia demi dirinya adalah sebuah godaan terlarang yang sangat memabukkan.

"Ssh," Kafka tiba-tiba mendesis pelan, tatapannya mendadak turun ke arah kaki Naya.

Perubahan drastis pada raut wajah pria itu membuat Naya bingung. Sebelum Naya sempat bertanya, Kafka sudah menarik tangannya dari dinding dan langsung berlutut di hadapan Naya, tepat di atas lantai yang tidak terjangkau pecahan keramik.

"Kaf? Kamu ngapain?" Naya tersentak pelan.

"Jangan bergerak," perintah Kafka mutlak.

Naya menunduk dan baru menyadari bahwa ada segores luka kecil di pergelangan kaki kanannya. Rupanya, salah satu serpihan vas keramik yang pecah tadi sempat mengenai kulitnya, menggoreskan luka tipis yang kini mengeluarkan setetes darah segar. Naya bahkan tidak merasakannya karena terlalu syok mendengar percakapan telepon Kafka.

Namun bagi Kafka, setetes darah Naya seolah menjadi alarm darurat tingkat tertinggi. Aura eksekutif kejam yang baru saja ia pancarkan menguap begitu saja, digantikan oleh kepanikan dan kelembutan yang luar biasa.

Dengan tangan besarnya yang hangat, Kafka memegang lembut betis Naya. Ibu jarinya mengusap area di sekitar luka gores itu dengan sangat hati-hati, seolah kaki Naya terbuat dari porselen tipis yang paling rapuh di dunia.

"Ini salahku. Seharusnya aku tidak mengagetkanmu," gumam Kafka dengan raut wajah penuh penyesalan. Pria itu mendongak, menatap Naya dengan mata yang kembali melembut. "Sakit?"

Naya menggeleng pelan, hatinya berdesir hebat melihat dualitas pria di hadapannya ini. Bagaimana mungkin seorang pria yang baru saja merencanakan kebangkrutan sebuah perusahaan bernilai miliaran rupiah, kini berlutut di lantai dengan raut wajah penuh kekhawatiran hanya karena luka gores sekecil semut di kaki seorang wanita?

"Nggak sakit, Kaf. Ini cuma luka kecil," bisik Naya.

Tanpa memedulikan ucapan Naya, Kafka menundukkan kepalanya. Dan sebelum akal sehat Naya bisa memproses apa yang terjadi, bibir hangat Kafka menyentuh pergelangan kaki Naya, mengecup tepat di sebelah luka gores tersebut.

Sengatan listrik bervoltase tinggi seketika meledak di sekujur tubuh Naya. Napasnya tercekat hebat. Tubuhnya menegang. Kecupan itu sangat singkat, namun rasa panasnya menjalar dari ujung kaki hingga menembus ulu hatinya.

Kafka mendongak kembali, menatap mata Naya yang membulat sempurna. Pria itu lalu berdiri perlahan. Ia tiba-tiba membungkuk, menyisupkan satu tangannya di bawah lipatan lutut Naya dan satu lagi di punggung wanita itu. Dalam satu gerakan mulus dan tanpa tenaga ekstra, Kafka mengangkat tubuh Naya ala bridal style.

"Kaf! Astaga, turunin aku!" Naya memekik tertahan, secara refleks mengalungkan kedua lengannya di leher tegap Kafka agar tidak jatuh. Wajahnya seketika memerah padam.

"Di bawah banyak pecahan keramik. Kakak tidak pakai sandal rumah," jawab Kafka santai, seolah menggendong Naya adalah rutinitas sehari-hari baginya.

Kafka membawa Naya melangkah menjauhi area pecahan vas, membawanya ke ruang keluarga dan mendudukkannya dengan sangat hati-hati di atas sofa beludru. Pria itu kemudian berjalan menuju lemari penyimpanan di dekat dapur, kembali dengan kotak P3K, sapu, dan pengki.

Selama sepuluh menit berikutnya, Naya hanya bisa duduk membeku di atas sofa. Ia menyaksikan bagaimana Kafka dengan cekatan menyapu dan membersihkan seluruh pecahan keramik hingga tak bersisa, lalu mencuci tangannya. Setelah itu, pria itu kembali menghampiri Naya, duduk di meja ruang tamu tepat di hadapan Naya, dan mulai membersihkan luka di kaki Naya dengan cairan antiseptik lalu menempelkan plester luka bermotif beruang yang Naya yakin pasti milik Nessa.

"Kaf," panggil Naya pelan saat Kafka sedang merapikan kotak P3K.

Kafka mengangkat wajahnya. "Ya, Kak?"

"Apa... apa kau tidak takut aku akan lari meninggalkanmu setelah melihat sisi gelapmu tadi?" Naya bertanya ragu-ragu, menumpahkan isi kepalanya yang sedari tadi berkecamuk.

Tangan Kafka yang sedang menutup kotak P3K terhenti. Pria itu meletakkan kotak tersebut di atas meja, lalu menggeser tubuhnya mendekat hingga lutut mereka bersentuhan. Mata legam Kafka menatap langsung menembus pertahanan Naya.

"Tentu saja aku takut," jawab Kafka jujur, suaranya sangat pelan namun tegas. "Tapi aku lebih takut kehilanganmu karena aku berpura-pura menjadi pria yang lemah. Aku ingin Kakak melihatku seutuhnya. Baik dan burukku. Cahaya dan kegelapanku."

Kafka mengulurkan tangannya, meraih tangan Naya dan menggenggamnya erat di atas pangkuan wanita itu.

"Kau punya pilihan, Kak Naya," ucap Kafka. "Jika kau merasa aku terlalu berbahaya, jika perlindunganku membuatmu merasa tercekik, katakan padaku malam ini juga. Pergilah dari rumah ini, dan aku bersumpah demi hidupku, aku tidak akan pernah muncul lagi di hadapanmu. Aku akan mundur dan membiarkanmu hidup tenang."

Kata-kata itu seolah meremas jantung Naya kuat-kuat. Kafka memberikannya jalan keluar. Sebuah pintu melarikan diri yang terbuka lebar. Naya hanya perlu mengatakan 'Ya, aku takut', dan pria ini akan menghilang dari hidupnya selamanya. Ia bisa kembali pada kehidupannya yang normal dan tenang.

Tapi... apakah Naya menginginkan kehidupan yang tenang tanpa Kafka?

Naya menatap wajah Kafka. Menatap rahang tegas itu, mata yang selalu menatapnya dengan penuh pemujaan, dan tangan kokoh yang semalam mendekapnya saat ia hancur lebur. Naya menyadari satu hal yang mutlak: ia tidak ingin melarikan diri. Ia justru ingin merengkuh kegelapan pria itu, karena di dalam kegelapan itulah Naya menemukan cahaya perlindungannya.

Dengan tangan yang sedikit bergetar, Naya memutar telapak tangannya, membalas genggaman tangan Kafka. Ia meremas jemari besar pria itu dengan erat.

"Jangan pergi," bisik Naya, suaranya bergetar namun matanya memancarkan keyakinan yang baru. "Aku... aku tidak ingin kamu mundur selangkah pun, Kaf."

Napas Kafka tercekat. Mata pria itu melebar sesaat, seolah tidak percaya dengan jawaban yang baru saja Naya berikan. Keputusasaan yang sempat membayang di mata Kafka seketika tersapu bersih, digantikan oleh sebuah kilat kepemilikan yang luar biasa pekat dan membara.

"Kau tahu apa artinya jawabanmu ini, Kak Naya?" Kafka bertanya, suaranya berubah menjadi geraman serak yang menggetarkan udara. Pria itu mencondongkan tubuhnya, memangkas jarak di antara mereka hingga Naya harus menyandarkan punggungnya ke bantal sofa.

"Artinya... aku berhenti melihatmu sebagai adik sahabatku," jawab Naya berani, jantungnya berpacu dengan kecepatan yang tidak normal.

Senyum miring yang luar biasa mematikan terbit di wajah Kafka. Pria itu membebaskan sebelah tangannya, memindahkannya untuk menangkup tengkuk Naya dengan posesif. Ibu jari Kafka mengusap rahang Naya perlahan, mengirimkan ribuan letupan kembang api di dalam perut wanita itu.

"Kau baru saja menyegel nasibmu sendiri, Sayang," bisik Kafka tepat di depan bibir Naya. Panggilan 'Sayang' yang baru pertama kali keluar dari bibir pria itu terasa begitu intim dan mendominasi.

Kafka memiringkan kepalanya, bersiap untuk mengklaim bibir Naya dengan ciuman yang menjanjikan sebuah awal dari penyerahan diri yang absolut. Naya memejamkan mata, membiarkan tubuhnya rileks dan menyambut kedatangan pria itu.

Drrrt! Drrrt! Drrrt!

Suara dering telepon seluler yang disetel dengan volume maksimal tiba-tiba membahana dari dalam tas kerja Naya yang tergeletak di ujung sofa, menghancurkan ketegangan luar biasa di antara mereka bagaikan gelas kaca yang dihantam palu godam.

Kafka mengerang frustrasi, memejamkan matanya erat-erat sambil menyandarkan keningnya di bahu Naya. Napas pria itu memburu menahan hasrat yang terpaksa harus diputus paksa untuk kedua kalinya.

Naya tersentak kaget, wajahnya memerah padam. Ia buru-buru menggeser tubuhnya menjauh, mengambil napas panjang untuk menetralkan detak jantungnya yang berantakan, lalu merogoh ke dalam tasnya untuk mengambil ponselnya.

Namun, rasa kesal karena momen intimnya terganggu seketika menguap, berganti dengan hawa dingin yang merayap di tengkuknya begitu Naya melihat layar ponselnya.

Panggilan Masuk: Bapak

Naya membeku. Ayahnya yang menetap di Solo bersama ibu tirinya adalah pria paruh baya yang sangat kaku dan disiplin. Beliau hampir tidak pernah menelepon Naya di malam hari kerja seperti ini, kecuali ada berita yang sangat, sangat darurat. Atau... berita yang sangat buruk.

Dengan tangan gemetar, Naya menggeser tombol hijau di layar.

"Halo, Pak?" sapa Naya ragu.

"Naya," suara berat dan dingin ayahnya terdengar dari seberang sana, membuat bulu kuduk Naya meremang. "Bapak baru saja dapat telepon dari ibunya Reno. Dia menangis histeris. Apa benar kamu membatalkan pernikahan kalian sepihak dan sekarang kamu tinggal satu atap dengan pria hidung belang?"

Dunia Naya seolah berhenti berputar. Reno, si bajingan pengecut itu, ternyata belum selesai menghancurkan hidupnya. Dan kali ini, pria itu membawa masalah ini ke pintu depan keluarga Naya.

1
none name
up ka
Hk Hk
lanjut thorrrr, semangat
Hk Hk
bagus ceritane Thorrr😍
none name
up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!