NovelToon NovelToon
Stella Kesayangan Kutub Es

Stella Kesayangan Kutub Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Cintamanis
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Stella itu berisik, ceria, dan keras kepala. Seluruh sekolah tahu dia cinta mati-matian pada Gibran, sang kapten futsal populer.

Sialnya, Stella selalu berakhir dengan penolakan mentah-mentah dari Gibran. Namun, di balik bayang-bayang koridor sekolah, ada Lingga. Cowok pendiam, misterius, dan sedingin es yang diam-diam selalu memperhatikan Stella.

Saat Gibran terus mematahkan hati Stella, Lingga hadir membawa kehangatan yang tak terduga. Lewat perhatian-perhatian kecil yang terselubung, Lingga perlahan mengobati luka Stella hingga mereka resmi jadian.

Di saat Lingga dan Stella sedang manis-manis nya sebagai best couple satu sekolah, Gibran justru datang kembali dan berbalik mengejar Stella.

Bisakah Lingga yang dingin tetap mempertahankan kehangatan cintanya untuk Stella?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Stella Merasa Bersalah 25.

Aroma tanah basah sisa hujan sore tadi masih tertinggal di udara, bercampur dengan bau pengap dari gudang belakang panggung festival seni. Namun, fokus Stella sama sekali tidak ada pada ruangan itu. Matanya terpaku pada pergelangan tangan kanan Lingga yang mulai membiru dan membengkak.

Di atas meja kayu yang berdebu, sekotak obat dan gulungan perban putih terletak dalam kondisi terbuka.

"Biar gue aja," suara Stella agak bergetar. Dia mengambil botol minyak urut, mencoba menyembunyikan rasa bersalah yang sejak satu jam lalu menyumbat tenggorokannya.

Lingga tidak menjawab. Cowok itu hanya duduk tegak di atas kursi bakso plastik, wajahnya sedatar papan tulis. Mata hitamnya menatap lurus ke arah jendela yang berembun, seolah-olah rasa sakit di tangannya hanyalah angin lalu. Sikap dingin yang biasanya membuat Stella penasaran, malam ini justru membuatnya makin merasa bersalah.

Satu jam yang lalu, di tengah kekacauan persiapan Art Festival tahunan SMA Pancasila, sebuah tiang penyangga dekorasi besi yang longgar ambruk. Sasarannya tepat di kepala Stella yang sedang berdiri disana. Stella sudah pasrah saat mendengar teriakan orang-orang. Namun, yang datang berikutnya bukanlah hantaman besi dingin, melainkan pelukan telak yang melempar tubuhnya ke lantai, disusul suara dentang besi yang memekakkan telinga.

Lingga menahan tiang itu dengan satu tangan kosong sebelum semuanya roboh sepenuhnya.

"Sakit?" tanya Stella lirih saat jari-jarinya mulai menyentuh kulit pergelangan tangan Lingga yang hangat. Dia mengoleskan minyak dengan gerakan selembut mungkin.

Lingga hanya mengembuskan napas pendek lewat hidung. "Enggak."

"Boong," cetus Stella, sedikit menekan bagian yang bengkak.

"Aw." Lingga refleks menarik tangannya, alisnya bertaut rapat. Sinar matanya menajam, menatap Stella dengan kilat protes yang jarang dia tunjukkan. "Lo sengaja?"

"Makanya jangan sok kuat," bisik Stella. Matanya mendadak panas. Dia menunduk, tidak berani menatap mata cowok yang selama dua semester ini duduk di pojok belakang kelas tanpa pernah mengobrol lebih dari tiga kalimat dengan siapa pun. "Gue tahu itu sakit. Besinya berat Ling. Kalau tadi lo nggak ada..."

Stella berhenti. Bayangan jika tiang itu benar-benar mengenai kepalanya membuat tengkuknya meremang. Lebih dari itu, melihat tangan kanan Lingga—tangan yang biasanya dia pakai untuk menggambar sketsa diam-diam di bagian belakang buku tulisnya—kini cedera karena kecerobohannya, membuat dada Stella terasa sesak.

"Itu refleks," kata Lingga datar. Dia kembali menyandarkan punggungnya, membiarkan Stella menarik kembali tangannya untuk dibalut perban. "Siapa pun yang berdiri di sana juga bakal gue tolong."

"Tapi yang di sana itu gue. Dan yang tangannya terkilir sekarang itu lo," balas Stella keras kepala. Dia mulai melilitkan perban putih itu dengan hati-hati. "Gue nggak suka utang budi. Apalagi utang nyawa kayak begini."

Lingga menatap puncak kepala Stella. Rambut cewek itu sedikit berantakan karena kepanikan tadi. Dari jarak sedekat ini, Lingga bisa mencium aroma sampo stroberi yang manis, sangat kontras dengan atmosfer gudang yang maskulin dan dingin.

"Gue nggak minta lo ganti apa-apa," ujar Lingga, suaranya melembut satu tingkat, hampir tak terdengar.

"Gue nggak peduli lo minta atau enggak," Stella mengikat ujung perban dengan simpul mati, sedikit kencang hingga Lingga kembali meringis tipis. "Mulai besok, selama tangan lo belum sembuh total, gue yang bakal urus semua keperluan lo di sekolah. Nulis catatan, bawain tas, sampai beliin makan di kantin."

Lingga mengernyitkan dahi. "Nggak usah lebay. Gue masih punya tangan kiri."

"Gue nggak menerima penolakan, Lingga." Stella mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata cowok itu. Ada ketegasan yang nyata di mata cokelat Stella, jenis ketegasan yang lahir dari rasa tanggung jawab yang besar. "Gue tahu lo suka menyendiri dan nggak suka diganggu. Tapi kali ini, lo harus mau diganggu sama gue."

Untuk pertama kalinya sejak mereka sekelas, Lingga tidak langsung memutus kontak mata. Dia menatap Stella, mencari celah apakah cewek ini hanya sekadar kasihan atau tulus. Yang dia temukan hanya binar kecemasan yang jujur.

Lingga mengalihkan pandangan ke arah tangannya yang kini terbungkus rapi. "Terserah," gumamnya pelan, mengalah.

Stella diam-diam bernapas lega. Dia merapikan sisa perban dan obat-obatan ke dalam kotak. "Ayo pulang. Anak-anak yang lain udah pada bubar dari tadi. Gerbang depan mau dikunci Pak Satpam."

Mereka berjalan beriringan keluar dari area panggung. Koridor sekolah sudah sepi, hanya diterangi lampu-lampu neon yang temaram. Biasanya, jam segini Stella akan berjalan cepat sambil menatap layar ponselnya, bergosip di grup WhatsApp bersama teman-teman gengnya. Namun malam ini, langkahnya melambat, menyamai ritme langkah Lingga yang santai dan tidak terburu-buru.

Cowok di sebelahnya ini selalu menjadi misteri. Lingga jarang bicara, tidak ikut ekstrakurikuler apa pun, dan selalu pulang paling pertama begitu bel berbunyi. Banyak rumor aneh tentangnya di sekolah—mulai dari anak broken home hingga mantan narapidana remaja—tetapi Stella tidak pernah tertarik membuktikannya. Sampai hari ini, ketika cowok "bermasalah" itu justru menjadi satu-satunya orang yang bergerak tanpa berpikir panjang demi menyelamatkannya.

Saat sampai di tempat parkir, Stella melihat Lingga berjalan menuju motor matik hitamnya. Cowok itu mengeluarkan kunci dengan tangan kiri, tampak sedikit kesulitan karena tidak terbiasa.

"Lo mau nyetir dengan tangan begitu?" Stella menahan stang motor Lingga.

"Bisa."

"Nggak bisa, Lingga! Kalau lo jatuh gimana? Tangan lo bisa patah," potong Stella gemas. Dia merebut kunci motor dari jemari kiri Lingga. "Gue yang nyetir. Lo bonceng."

Lingga membeku. "Gue nggak pernah dibonceng cewek."

"Hari ini lo bakal ngerasain," Stella menaiki motor, menghidupkan mesin, lalu menatap Lingga yang masih mematung di sampingnya. "Ayo naik. Jangan gengsi. Anggap aja ini fasilitas sopir pribadi dari gue."

Melihat tidak ada celah untuk berdebat dengan keras kepalanya Stella, Lingga akhirnya mengembuskan napas pasrah. Dia naik ke jok belakang, menjaga jarak beberapa sentimeter agar tubuh mereka tidak bersentuhan.

Motor membelah jalanan kota yang basah di bawah pendar lampu jalan. Angin malam berembus cukup dingin, membuat Stella sedikit merapatkan jaketnya. Dari kaca spion, dia bisa melihat Lingga yang menatap lurus ke depan, dengan tangan kanannya yang diperban bertumpu kaku di atas paha.

Ada perasaan aneh yang pelan-pelan menyusup ke dalam dada Stella. Rasa bersalahnya kini bercampur dengan rasa ingin tahu yang besar. Siapa sebenarnya Lingga? Dan mengapa di balik sikap dinginnya, cowok itu menyimpan kepedulian yang begitu besar hingga rela mengorbankan dirinya sendiri?

......................

...****************...

Tbc,

1
Rina ratnasari
lanjut tour🙏
Alex
lnjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!