NovelToon NovelToon
Dokter Yang Mengatur Takdir

Dokter Yang Mengatur Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Mafia
Popularitas:325
Nilai: 5
Nama Author: Nvlin888

Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebetulan yang Tidak Pernah Kebetulan

Kali ini Alya berdiri menunggu di peron yang sama, dan di jam yang hampir sama. Dia sudah berdiri di sana sejak lima belas menit lalu. Cardigan yang sama dengan yang dia pakai waktu mengantarnya pergi, sengaja dipilih meski dia sendiri tidak sepenuhnya sadar kenapa detail sekecil itu terasa penting untuk diingat.

Kereta Bayu tiba tepat waktu. Begitu pintu geser terbuka, dia adalah orang pertama yang melompat turun, menyeret kopernya asal, berlari kecil menyeberangi peron sampai akhirnya mengangkat Alya dari tanah dalam pelukan yang membuat beberapa penumpang lain tersenyum melihatnya.

"Sayang," bisiknya, wajahnya terbenam di leher Alya, menghirup dalam-dalam seolah ingin memastikan ini bukan mimpi. "Akhirnya."

"Selamat datang, Sayang," Alya berbisik balik. Matanya memejam menahan sesuatu yang campur aduk antara bahagia dan rasa bersalah yang terlalu berat untuk dia pikul sendirian.

Bayu menurunkannya perlahan, tangannya mengangkat dagunya, dan mengecupnya lama di tengah keramaian peron. Ciuman yang hangat, familiar, dan penuh kerinduan yang tulus. Untuk beberapa detik, Alya membiarkan dirinya benar-benar tenggelam di dalamnya. Mencoba mengingat kembali rasanya mencintai seseorang tanpa perlu menyembunyikan apa pun.

"Aku kangen ini," Bayu berkata, dahinya menempel ke dahinya. "Kangen kamu, kangen bau sabunmu, kangen semuanya."

"Aku juga, Sayang," Alya menjawab. Di momen itu, kalimat itu terasa lebih jujur daripada yang ia duga.

"Kamu keliatan lebih kurus," Bayu berkata, mundur sedikit untuk menatap wajahnya lebih jelas. Tangannya masih menangkup pipinya. "Kerja keras banget, ya, selama aku pergi?"

"Lumayan," Jawab Alya singkat. Ia tidak sanggup menjelaskan lebih jauh tanpa harus menyentuh hal-hal yang belum siap dia ceritakan.

"Nanti aku suapin, makan yang banyak ya sayang," Bayu tersenyum lebar, menggandeng tangannya erat sambil berjalan menuju pintu keluar stasiun. "Aku udah janji, kan? Kita ke warung sate langganan kita."

Mereka makan malam di kedai kecil pinggir jalan, tempat pertama kali mereka jalan bareng dulu. Sebuah warung sate yang catnya sudah pudar tapi rasanya tidak pernah berubah sejak lima tahun lalu. Bayu memesan porsi yang sama seperti dulu. Bahkan mengingat betul Alya selalu minta sambalnya dipisah.

"Kamu masih inget," Alya tersenyum, terharu oleh detail sekecil itu.

"Aku inget semua tentang kamu, Sayang," Bayu menjawab, menggenggam tangannya di atas meja. Ibu jarinya mengelus punggung tangan Alya dengan gerakan yang sudah lama menjadi kebiasaan mereka. "Lima tahun, dan aku masih hafal kamu suka duduk ngadep pintu, bukan ngadep tembok, biar bisa liat orang lewat."

"Kamu juga masih suka pesen es teh manis meski dokter bilang kamu harus kurangin gula," sahut Alya sambil tertawa. Untuk sesaat, semua kekhawatiran yang menumpuk sejak beberapa minggu terakhir terasa jauh. Seolah warung sate kecil ini adalah gelembung waktu yang melindungi mereka dari dunia luar.

Mereka mengobrol panjang lebar, tentang proyek Bayu yang akhirnya berhasil, tentang rencana kecil untuk menabung lebih giat setelah ini, tentang tanggal pernikahan yang, menurut Bayu, sudah waktunya benar-benar ditentukan.

"Investor barunya orangnya gimana?" Alya bertanya, mencoba terlihat sepenuhnya hadir dalam obrolan itu.

"Baik, cukup profesional. Untungnya nggak serewel yang sebelumnya," Jawab Bayu yang sedang menyesap es tehnya sekali sebelum melanjutkan. "Yang penting sekarang proyeknya jalan lagi, dan aku bisa mulai mikirin masa depan kita tanpa beban itu ngegantung."

"Aku bangga sama kamu, Sayang," ucap Alya dengan nada yang tulus dan menggenggam tangannya lebih erat.

"Gimana kalau bulan depan kita ke KUA, urus surat-suratnya?" Bayu bertanya dengan matanya yang berbinar penuh harap. "Aku udah nggak sabar, Sayang. Aku pengen banget kamu jadi istriku. Aku udah bayangin, kita punya rumah kecil. Kamu masih bisa kerja kalau kamu mau, aku yang jemput kamu tiap pulang malam biar kamu nggak capek nunggu angkot."

Alya membuka mulutnya untuk menjawab. Tapi sebelum kata-kata itu sempat keluar, sebuah suara yang sudah dia kenali betul iramanya memotong dari arah pintu masuk warung.

"Suster Nireva?"

Alya membeku di kursinya. Di ambang pintu warung sate itu, berdiri dr. Raze. Dengan mengenakan kemeja santai yang jarang sekali dia lihat. Seolah dia baru sajalewat secara kebetulan lewat. Meski Alya tahu betul, tidak ada satu pun langkah pria ini yang pernah benar-benar kebetulan.

"Dokter Raze?" Alya berkata, suaranya sedikit tercekat. "Ngapain di sini?"

"Kebetulan lewat, lapar," katanya, senyumnya terlalu rapi untuk sebuah kebohongan sesantai itu. "Warung ini terkenal, katanya." Matanya berpindah ke Bayu, mengangguk sopan. "Bayu, kan? Senang bertemu lagi."

"Dokter Raze," Bayu menjawab, nadanya masih ramah, tapi ada sesuatu yang mengeras samar di rahangnya. Seperti insting yang tidak sepenuhnya bisa dia jelaskan sendiri. "Kebetulan banget, ya. Dunia sempit."

"Memang sempit," Raze menjawab. Tanpa diminta, dia menarik kursi dari meja sebelah, duduk di ujung meja mereka seolah itu hal paling wajar di dunia. "Boleh gabung sebentar? Aku sendirian, dan makan sendirian selalu terasa lebih lama daripada seharusnya."

Alya ingin menolak, ingin mengatakan bahwa ini malam spesial mereka berdua. Tapi Bayu, dengan keramahannya yang tulus, sudah lebih dulu menggeser kursinya memberi ruang. "Duduk aja, Dok. Kebetulan kita lagi ngerayain proyek saya yang akhirnya kelar."

"Selamat kalau begitu," ucap Raze. Dia duduk, matanya sekilas melirik tangan Bayu yang masih menggenggam tangan Alya di atas meja. Untuk sepersekian detik, sesuatu yang gelap lewat di sana sebelum kembali tersembunyi rapi di balik kesopanan yang dipaksakan.

Pelayan datang membawakan menu, dan Raze memesan dengan santai, seolah dia sudah lama menjadi pelanggan tetap warung sate itu. Meski Alya tahu betul ini pertama kalinya dia menginjakkan kaki di tempat sesederhana ini.

"Enak juga suasananya di sini," Raze berkomentar, matanya menjelajahi warung kecil itu, dari kipas angin tua di sudut sampai kalender bergambar pemandangan gunung yang sudah pudar warnanya. "Beda jauh dari tempat yang biasa aku datangi."

"Alya yang pertama kali ngajak aku ke sini, lima tahun lalu," jawab Bayu dengan bangga. Tangannya meremas tangan Alya sedikit lebih erat, seolah tanpa sadar menegaskan kepemilikan yang sah atas kenangan itu. "Katanya, sate di sini paling enak sekota."

"Selera yang bagus," Raze menjawab. Matanya beralih ke Alya, dan tatapan itu bertahan sedikit lebih lama daripada yang pantas untuk kalimat sesederhana itu. "Kamu selalu punya selera yang bagus, dari yang aku perhatikan."

Percakapan berjalan canggung selama beberapa menit, Bayu mencoba mencairkan suasana dengan pertanyaan-pertanyaan ringan tentang rumah sakit. Tentang bagaimana rasanya membangun kerajaan bisnis sebesar itu dari nol, dan Raze menjawab setiap pertanyaan dengan sopan. Tapi matanya terlalu sering kembali ke arah Alya. Terlalu lama, terlalu penuh sesuatu yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya oleh kesopanan seformal apa pun.

"Alya cerita, kamu yang naikin dia ke tim inti secepat itu," Bayu berkata, nadanya masih santai, tapi matanya mulai mengamati lebih tajam dari sebelumnya. "Emang secepat apa, sih, biasanya proses kayak gitu?"

"Biasanya berbulan-bulan," Raze menjawab, jujur, tanpa berusaha menutupinya. "Alya bukan kasus biasa."

"Kenapa?" Bayu bertanya lagi, dan kali ini nadanya sedikit lebih tajam, seolah pertanyaan itu sudah lama mengendap sejak taman rumah sakit beberapa minggu lalu.

Untuk sesaat, Raze diam, matanya menatap Alya sekilas seolah menunggu izin yang tidak pernah diberikan, sebelum akhirnya menjawab, kalimatnya dipilih dengan hati-hati. "Karena kompetensinya jelas terlihat, dan aku tidak suka membuang bakat baik hanya karena birokrasi."

Jawaban itu terdengar masuk akal. Tapi jeda sebelum diucapkan terlalu panjang untuk terasa sepenuhnya jujur, dan Bayu, yang mengenal Alya cukup lama untuk membaca ketegangan di bahunya. Menoleh ke arahnya dengan tatapan yang mulai dipenuhi pertanyaan yang belum berani dia ucapkan keras-keras.

"Kalian deket banget kayaknya, ya, buat urusan kerjaan doang," Bayu berkata lagi, mencoba terdengar santai, tapi nada di ujung kalimatnya sudah tidak sepenuhnya berhasil menyembunyikan kecurigaan yang mulai terbentuk.

"Rumah sakit itu tempat kerja yang menuntut kedekatan tim, Bayu," Raze menjawab, tenang. Terlalu tenang untuk situasi yang mulai terasa seperti medan perang kecil di atas meja penuh sate. "Nyawa orang di tangan kami setiap hari. Kedekatan itu bukan pilihan, itu kebutuhan."

"Iya, sih," Bayu mengangguk, meski matanya tidak sepenuhnya yakin dengan jawaban itu. Dia mengalihkan pandangannya ke Alya, mencari sesuatu di wajahnya yang bisa menenangkan kecurigaan yang mulai tumbuh di dadanya.

Tangan Alya, yang sejak tadi digenggam Bayu, tanpa sadar sedikit gemetar, dan Bayu bisa merasakannya, meremas tangannya lebih erat. Seolah mencoba menahannya tetap di sana, tetap bersamanya, meski dia sendiri mulai merasakan sesuatu yang mengganjal tanpa bisa dia beri nama.

Tidak lama setelah itu, Raze pamit. Mengucapkan selamat malam dengan kesopanan yang sempurna. Begitu dia benar-benar menghilang di balik pintu warung, keheningan yang tersisa terasa jauh lebih berat daripada sebelum dia datang.

"Alya," Bayu akhirnya berkata, suaranya pelan, serius, jauh berbeda dari nada ceria yang mengiringi seluruh makan malam mereka sebelumnya. "Aku mau tanya sesuatu, dan aku mau kamu jujur."

"Tanya apa, Sayang?"

"Ada apa antara kamu sama dia?"

Pertanyaan itu jatuh seperti batu ke tengah meja mereka, dan Alya merasakan seluruh udara di warung itu tiba-tiba terasa lebih tipis untuk dihirup. "Nggak ada apa-apa, Bay. Dia atasanku."

"Alya," Bayu memotong, suaranya masih pelan tapi lebih tegas. "Aku bukan orang bodoh. Aku lihat cara dia natap kamu. Aku lihat tangan kamu gemetar pas dia nanya soal mutasi itu. Dan yang paling penting, aku kenal kamu, Sayang. Aku tahu kapan kamu nyembunyiin sesuatu."

"Sayang, kamu overthinking—"

"Aku overthinking?" Bayu memotong lagi, suaranya naik sedikit sebelum dia sadar dan menurunkannya kembali, matanya melirik sekeliling warung yang untungnya sudah mulai sepi. "Alya, dari hari pertama aku ketemu dia di taman rumah sakit, aku udah ngerasa ada yang aneh. Terus proyekku tiba-tiba kena masalah pas aku lagi jauh dari kamu. Terus sekarang, malam pertama aku pulang, tiba-tiba dia 'kebetulan' ada di warung yang bahkan nggak pernah aku sebut ke siapa pun selain kamu. Kamu masih mau bilang aku overthinking?"

Alya terdiam, karena setiap kalimat yang baru saja diucapkan Bayu adalah pertanyaan yang sama persis dengan yang selama ini berputar di kepalanya sendiri, tanpa pernah dia berani mengucapkannya keras-keras.

"Aku nggak tahu harus jawab apa, Bay," akhirnya dia berbisik, jujur untuk pertama kalinya malam itu. Meski kejujuran itu sendiri terasa seperti pengakuan yang tidak sepenuhnya dia inginkan.

Wajah Bayu melunak sedikit mendengar kejujuran itu, meski matanya masih menyimpan luka yang baru saja mulai terbentuk. "Aku nggak mau maksa kamu cerita sekarang, di sini," katanya, suaranya bergetar menahan sesuatu yang jelas jauh lebih besar dari kekecewaan biasa. "Tapi aku minta satu hal. Waktu kita sampai kos nanti, kamu cerita semuanya. Semuanya, Alya. Aku pantas tahu, sebelum kita lanjut ke tahap berikutnya dalam hidup kita."

"Kak, aku sayang kamu," Alya berkata, meraih tangannya di atas meja. Dan untuk pertama kalinya malam itu, Bayu tidak langsung membalas genggaman itu seerat biasanya.

"Aku juga sayang kamu, Alya," dia menjawab, pelan. Matanya menatap tangan mereka yang bertaut sebelum akhirnya menatap wajahnya lagi. "Makanya aku minta kejujuran, bukan permintaan maaf yang belum tentu untuk kesalahan apa."

Alya mengangguk pelan, tenggorokannya terlalu kering untuk mengeluarkan kata-kata. Mereka duduk dalam diam selama sisa malam itu. Dua piring sate yang tersisa dingin tak tersentuh. Jarak di antara mereka terasa lebih jauh daripada yang pernah ada sejak lima tahun mereka bersama.

Mereka berjalan menuju kos dalam diam. Langkah yang biasanya bergandengan erat kali ini hanya berjajar tanpa sentuhan. Setiap kali Alya mencuri pandang ke arah Bayu, dia menemukan rahangnya yang mengeras, matanya menatap lurus ke depan seolah sedang menyusun ulang seluruh gambaran tentang wanita yang selama lima tahun terakhir dia percaya sepenuhnya dia kenal. Di depan pintu kosnya, Bayu berhenti, menatapnya lama, lalu mengecup keningnya sekali. Singkat, jauh berbeda dari kehangatan yang sama di stasiun tadi sore.

"Aku nginep di penginapan malam ini," katanya, pelan. "Kamu butuh waktu buat mikir apa yang mau kamu ceritain besok. Aku juga butuh waktu buat nyiapin diri dengerinnya."

Dia pergi sebelum Alya sempat menjawab. Punggungnya menjauh di bawah lampu jalan yang temaram. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertunangan, Alya masuk ke kamarnya sendirian malam itu dengan perasaan bahwa sesuatu yang selama ini dia anggap kokoh baru saja mulai retak, karena akhirnya dibiarkan terlihat apa adanya.

Di lantai dua puluh dua, malam itu, buku bersampul kulit hitam itu terbuka dengan tulisan yang terasa seperti kepuasan yang tidak sepenuhnya dia sembunyikan dari dirinya sendiri.

Aku "kebetulan" berada di warung itu malam ini. Aku sudah tahu jadwal mereka sejak Bayu memesan meja tiga hari lalu.

Pria itu akhirnya bertanya pertanyaan yang benar. Aku hampir merasa kasihan padanya. Hampir.

Topeng yang selama ini kujaga rapi mulai retak, tapi bukan topengku yang retak lebih dulu. Topeng merekalah yang mulai pecah, dan aku hanya perlu menunggu di reruntuhannya.

Dia berhenti sejenak, memandangi tulisannya sendiri, sebelum menambahkan satu baris terakhir, tintanya lebih tebal dari biasanya.

Malam ini adalah awal dari akhir untuk mereka berdua. Aku tidak merasa bersalah. Aku hanya merasa, akhirnya, waktu mulai berjalan sesuai arah yang kuinginkan.

•┈┈┈•┈┈┈•┈┈┈ℒᵒᵛᵉ ᵧₒᵤ .•ᰔᩚ•┈┈┈•┈┈┈•┈┈

Ada kebetulan yang benar-benar kebetulan, dan ada kebetulan yang dirancang serapi mungkin hingga terlihat seperti takdir.

1
falea sezi
mending putus ma bayu klo lu uda gk ada rasa jangan php trs jangan Terima raze dlu soalnya kayak gk beres ini si rezek🤣
Nvlin888: tenangkan dirimu kaa 🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
alya uda kayak lacur gampangan🤣🤣🤣 sebel liat cwek gatel gini serakah
falea sezi
serakah amat ini cwek😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!