Pada satu malam ... seorang pria merenggut kehormatannya, hingga menanamkan benih dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian ... the twins hadir dikehidupannya. Selama itu tidak ada yang pernah tahu siapa ayah biologisnya, hingga the twins Semi & Arsyad mencari ayah mereka.
Dan di satu waktu Kedua orangtua mereka dipertemukan.
Akankah mereka saling mengenali?
Apa usaha Semi & Arsyad berhasil?
subscribe karya ini untuk ikuti cerita lanjutannya. Jangan jadi pembaca bisu ya, harus like, komen dan vote.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini ratna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentang Mimpi Haesung
Park Sung Jin pulang ke mansion. Baru saja turun dari mobil seorang pelayan sudah berlari ke arahnya yang langsung mengambil jas yang baru saja Park gunakan. Pelayan itu pun membukakan pintu untuk Sung Jin dia terus mengekor sampai Sung Jin duduk di sofa untuk membuka sepatunya.
Pelayan itu meletakkan sendal ganti untuk Sung Jin lalu membawa sepatu itu ke belakang.
Sungguh mewah hidup pria itu, pantas saja Mirae tergila-gila padanya walau seorang duda beranak satu. Bahkan usia Mirae tidak begitu jauh dengan Haesung.
"Sayang ...." Suara lembut dari atas tangga mengalihkan pandangan Sung Jin.
Pria itu tersenyum ketika melihat istri mudanya yang begitu anggun dan cantik. Mirae tentu sangat mengutamakan penampilannya, yang harus selalu perfect di depan suami.
Mirae berlari dari atas sana menuju ruang keluarga. Dari jauh tangan Sung Jin sudah direntangkan seolah siap menerima pelukan dari Mirae. Dengan manja Mirae bergelayut di atas dada bidang milik Sung Jin.
Aroma maskulin mahal tidak membuat badan Sung Jin bau keringat.
"Sayang, aku dengar Haesung sudah pulang?" tanyanya yang menatap Sung Jin. Pria itu hanya mengangguk.
"Ya, memangnya kenapa?"
"Aku pikir dia akan pulang ke rumah ini. Itu sebabnya aku pulang lebih cepat, untuk menyambut putramu," Mirae masih bergelayut manja. Dia seperti lintah darat yang selalu nempel.
Sung Jin tertawa keras.
"Apa kamu merindukan putra sambungmu?" Tatap Sung Jin mengejek.
Mirae melepas pelukannya. Lantas bicara "Tentu, walau tidak pernah akur aku tetap mencemaskannya." Gayanya seperti sangat menyayangi Haesung.
"Besok pasti dia datang," kata Sung Jin.
"Apa dia akan datang? Bukankah dia tidak menyukaiku, selama kita menikah hubungannya denganku tidak pernah membaik." Mirae pura-pura sedih dan terluka.
"Sudahlah jangan sedih, Haesung memang seperti itu. Suatu hari nanti dia pasti menerimamu."
"Ya, semoga saja," ucap Mirae yang tersenyum manis. Tapi tidak semanis hatinya.
Mirae sebenernya tidak senang dengan kepulangan Haesung. Dia lebih senang Haesung tidak ada, jika perlu tinggal di Indonesia selamanya. Namun, demi dipandang baik oleh Sung Jin dia harus tetap menjaga image nya, selayaknya seorang ibu yang sayang anaknya.
"Aku ke kamar dulu untuk membersihkan tubuhku," ucap Sung Jin yang naik ke atas kamarnya.
Sementara Mirae dia masih tetap di ruang keluarga. Sambil menatap kepergian Sung Jin ekspresi wajahnya berubah kesal.
"Haesung kenapa dia harus kembali. Padahal aku yang akan menggantikannya di panggung nanti," gumam Mirae kesal. "Soalnya dia tidak pernah cacat. Semua tentangnya tidak ada yang buruk, seharusnya dia meninggal saja saat itu," pekik Mirae.
***
Haesung merebahkan tubuhnya di atas king size-nya. Mata terpejam dengan sepasang tangan dan kaki yang direntangkan, Haesung tenggelam di atas kasur empuknya seakan tempat itu yang ternyaman.
Dari dulu, semenjak kedua orang tuanya berpisah Haesung selalu menghabiskan waktu di apartemen, hanya kamar itulah tempatnya berbagi hati, ruang ketenangan yang seakan paling mengerti.
Mirae adalah wanita yang menghancurkan keluarganya. Dia datang kepada ibunya sebagai teman baru yang ditolong dan dikenalkan pada produser besar. Tapi setelah semua yang dilakukan Min-Ji Mirae malah mengambil semuanya.
Tidak hanya kepopuleran tapi juga menginginkan Sung Jin menjadi miliknya. Tentu saja Mirae menginginkan, karena Sung Jin adalah produser besar yang membawa namanya sampai ke panggung.
Haesung mengerjap. Setelah membayangkan Mirae, dia kembali teringat sesuatu.
Haesung bangun dari tidurnya lantas turun dari ranjangnya berjalan keluar kamar. Di luar terlihat Da-Bin sedang membereskan semua barangnya.
"Da-Bin?" panggilnya.
"Ya?" Da-Bin menoleh. "Apa kamu lapar? Ingin makan sesuatu? Biar kupesankan."
"Ya. Setelah itu kemarilah aku ingin bicara denganmu." Haesung berjalan ke arah meja bar panjang di depan dapur.
Da-Bin langsung mendekat ke arah Haesung dengan kedua tangan yang sibuk memesan makanan via online.
"Aku sudah memesan chiken cheese, burger dan orange jus kesukaanmu. Paling sebentar lagi sampai," jelas Da-Bin yang duduk disamping Haesung.
"Da-Bin?"
"Hmm ..."
"Da-Bin!" sentak Haesung membuat Da-Bin tercekat.
"Ya?"
"Simpan ponselmu aku ingin bicara yang serius padamu."
Da-Bin mendadak tegang. Hatinya mulai berdebar serasa ada hal buruk yang akan terjadi.
"Bicara soal apa My Star? Oh ... Tentang konsermu nanti, aku sudah mempersiapkan semuanya, dari pakaian, dancer, panggung dan ...."
"Aku ingin kamu menceritakan kecelakaanku lima tahun lalu." Potong Haesung dengan tatapan tajamnya.
"Ke-ke-kecelakaan? Kecelakaan apa kamu tidak pernah kecelakaan," ceplos Da-Bin. Sadar dengan ucapannya Da-Bin langsung terdiam.
"Jadi kecelakaan itu tidak ada? Lalu kenapa waktu itu aku berada di rumah sakit?"
Da-Bin terjebak.
Pria menggerutu dalam hati karena kecerobohannya. Dulu memang bukan kecelakaan lalulintas tapi kecelakaan lain yang merenggut kehormatan seorang wanita.
"My Star kenapa kamu menanyakan hal itu? Tentu saja kamu kecelakaan. Apa kamu tidak ingat mobilmu rusak saat itu. Setelah pesta kamu mabuk dan menyetir sendiri hingga kamu menabrak orang lain sampai tewas. Sampai Park Sung Jin juga turun tangan memberi kompensasi pada keluarga korban. Apa kamu tidak ingat?"
Suara Da-Bin terdengar berat di akhir kalimat. Seolah takut sebuah rahasia terbongkar. Da-Bin tidak bisa mengatakan apapun karena dia sudah berjanji Park Sung Jin untuk membuka mulut. Jika satu kata saja terucap maka tamatlah hidupnya, Da-Bin tidak akan punya masa depan.
Haesung menyandarkan punggungnya dengan mata yang terus menatap ke arah Da-Bin.
"Anehnya, tidak satupun bayangan kecelakaan terlintas di benakku."
"Untuk apa kamu bayangkan, kamu bisa trauma My Star," ujar Da-Bin..
"Ok, kalau begitu ... apakah sebelumnya aku pernah melecehkan seorang wanita?"
"Uhuk ... Uhuk ...." Da-Bin terbatuk, seperti tersedak sesuatu. Tapi Da-Bin tidak sedang mengunyah apapun.
"Haha ... My Star ... My love ... Jika seorang bintang besar punya skandal, sudah pasti karir itu tidak akan sampai di titik ini."
"Hello ... My Star coba kamu pikirkan. Banyak artis diluar sana yang penuh dengan skandal apa karir mereka bersinar? Tidak kan, yang ada karirnya redup. Termasuk jika itu terjadi pada dirimu kamu tidak akan mungkin sampai di titik ini."
Haesung terdiam.
"Tapi kenapa aku selalu mimpi buruk?"
"Mimpi buruk?" tanya Da-Bin heran. Sebab Haesung tidak pernah menceritakan tentang mimpi padanya.
"Ya, dalam mimpiku ... tidak begitu jelas yang terdengar hanya teriakan, jeritan, tangisan dan ... Tamparan. Dan aku merasa ... Wanita itu ada hubungannya dengan wanita yang aku temui akhir-akhir ini."
"Wanita? Maksudmu kamu bertemu wanita di Indonesia?" tanya Da-Bin dengan hati yang sudah bergemuruh. Da-Bin takut jika Haesung bertemu Zahra.
"Ya, aku bertemu dengan seseorang tapi ... sepertinya tidak pernah asing. Aku merasa Tuhan sudah mempertemukan ku dengannya sebelumnya."
Oh ... Tidak! Batin Da-Bin
Aku jelasin yang sekarang ya🙏
Sebelumya kan author bikin novel ini ingin ikut event tapi yang kemarin itu gak bisa karena publish sebelum bulan Mei. Author tanya dong sama editor dan q&A ternyata tetap gak bisa dan mereka kasih saran kalau mau masuk event novelnya hapus saja lalu upload ulang. yaudahlah aku hapus novel yang kemarin lalu upload ulang.
jadi ... ini bukan plagiat ya, maaf sudah membuat kalian bingung 🙏. Semoga kalian suka dan baca karya ini sampai selesai 🙏