NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Masuk ke Duniamu

Alden mengatur napasnya, menjaga tetap stabil. Tatapannya tidak lepas.

Sejenak waktu berlalu tanpa suara. Cukup lama untuk membuat orang lain merasa tidak nyaman.

Tapi Belvina tidak. Ia bahkan terlihat… sedikit bosan.

“Aku tidak suka permainan seperti ini,” kata Alden akhirnya. Nada suaranya masih rendah. Tapi jelas, lebih keras dari sebelumnya. “Kalau kau ingin mengatakan sesuatu, katakan langsung.”

Belvina menghela napas kecil. “Kalau aku bilang langsung, nanti kamu tidak suka.”

“Coba saja," jawab Alden cepat.

Belvina menatapnya lagi. Kali ini lebih dalam. Sedikit lebih lama. Lalu—

“Kalau kamu bisa diambil, ya berarti kamu bukan milikku.”

Ia mengatakannya tanpa jeda. Tanpa ragu. Bukan marah. Bukan juga dingin. Justru terlalu tenang. Dan itu yang membuatnya… terasa lebih tajam.

Alden tidak langsung merespons. Sorot matanya berubah sedikit. Bukan tersinggung. Bukan marah. Tapi… seperti sesuatu yang tertahan.

“Dan kau tidak keberatan?” Pertanyaan itu keluar pelan. Lebih pelan dari sebelumnya.

Belvina mengangkat bahu kecil. “Harusnya aku keberatan?” Ia memiringkan kepala sedikit. “Kamu mau diambil?”

Ia bertanya balik secara langsung.

Kali ini menatapnya tanpa menyipit. Tanpa menekan. Hanya melihat beberapa detik.

“Jawab pertanyaanku,” katanya akhirnya.

Belvina tersenyum kecil. “Sudah aku jawab.”

Ia mengangkat ponselnya lagi. Tidak langsung menyalakan. Hanya memainkannya di tangan.

“Kalau kamu mau pergi, ya pergi saja. Aku tidak akan mengejar.”

Ucapan itu terdengar ringan, seolah tidak ada beban. Seakan… memang tidak peduli.

Mobil terus melaju.

Waktu seolah berjalan lebih lambat. Namun kali ini berbeda. Bukan karena tidak ada yang terjadi. Tapi karena… terlalu banyak yang sudah dikatakan.

Alden bersandar ke kursinya. Tatapannya ke depan. Namun pikirannya, tidak.

Untuk ke sekian kalinya, ia tidak bisa membaca wanita di sampingnya dengan mudah.

Dan itu… mengganggunya lebih dari yang ia akui.

Alden memejamkan mata sejenak. Bukan karena lelah, tapi menahan sesuatu. Lalu—

“Kalau begitu,” ucapnya pelan, “kenapa kamu menikah denganku?”

Pertanyaan itu datang tiba-tiba.

Jemari Belvina berhenti di atas ponsel beberapa detik, sebelum akhirnya menjawab,

“Pertanyaan yang bagus,” gumamnya ringan. Ia menoleh ke arah Alden. “Menurutmu?”

Alden menyipitkan mata sedikit. Kali ini tidak terjebak. “Jawab.”

Belvina tersenyum tipis.

“Dulu?” bahunya terangkat kecil. “Mungkin karena bodoh.” Napasnya keluar perlahan. “Sekarang?” Ia kembali melihat ke depan. “Karena belum sempat pergi.”

Namun Belvina belum selesai.

“Tenang saja,” lanjutnya ringan, nyaris santai. “Aku lagi cari waktu yang pas.”

Ucapannya sederhana. Tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam diri Alden… bergeser.

***

Belvina berniat mencari camilan di kulkas. Namun, baru saja ia membuka pintu kamar sedikit, langkahnya terhenti.

Suara langkah terdengar dari luar. Langkah yang teratur. Familiar.

Ia mengintip.

Alden berjalan melewati koridor. Sudah berpakaian rapi. Jas gelap. Rambut tertata. Seperti akan pergi.

Alis Belvina mengerut tipis.

“Malam-malam begini…?”

Langkah pria itu tidak berhenti. Langsung turun.

Belvina terdiam sepersekian detik. Lalu matanya menyipit sedikit.

Rasa itu muncul lagi. Bukan hanya penasaran. Ada sesuatu yang lebih tajam. Lebih refleks.

“Ngapain…?”

Ia berbalik cepat. Mengambil tasnya. Gerakannya otomatis. Tanpa banyak pikir. Seolah tubuh ini, sudah terbiasa melakukan hal seperti ini.

Ia berhenti di depan pintu kamar. Satu detik.

"Serius aku mau ngikutin?” Beberapa saat terlewati tanpa perubahan. Lalu bahunya terangkat kecil. “Ya udah.”

 

Beberapa menit kemudian.

Mobil Alden melaju di depan. Jaraknya cukup jauh untuk tidak mencolok.

Belvina mengikuti dari belakang. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh. Jari-jarinya mencengkeram setir sedikit lebih kuat. Napasnya tertahan sepersekian detik… sebelum akhirnya dilepas pelan.

Mobil Alden berbelok. Lampu neon mulai terlihat. Musik menghentak samar bahkan dari luar.

Klub malam.

Belvina memperlambat mobilnya. Jari-jarinya mengencang di setir. Napasnya sempat tertahan… lalu dilepas pelan. Matanya terpaku ke bangunan itu.

“Oh…”

Sudut bibirnya terangkat tipis. Belvina memarkir mobilnya. Ia menyandarkan punggung, tatapannya masih ke depan.

Ada kilat kecil di matanya. Sudut bibirnya naik sedikit lagi.

Ia hampir membuka pintu, seolah tubuhnya sudah lebih dulu tahu arah yang harus dituju. Namun keningnya mengerut. Pandangannya turun ke pakaiannya sendiri.

Kaos simpel. Celana biasa.

Kontras.

“...serius?”

Ia mendecak pelan.

 

Mobilnya kembali bergerak. Tidak masuk ke klub.

Belvina menyusuri jalan beberapa meter. Matanya menyapu cepat. Lampu terang. Etalase. Sebuah butik kecil yang masih buka. Ia langsung memutar setir.

Berhenti.

 

Belvina turun tanpa ragu.

Pintu butik terbuka. Bunyi lonceng kecil terdengar. Beberapa kepala langsung menoleh.

Penampilannya… terlalu sederhana untuk tempat itu. Tatapan menilai langsung terasa.

Belvina berhenti sepersekian detik. Menyadari. Namun hanya itu. Ia tetap melangkah masuk. Seolah tatapan itu… tidak cukup penting untuk diperhitungkan.

“Selamat malam, Kak,” sapa penjaga toko, sedikit ragu.

Belvina membalas dengan anggukan ringan.

“Baju yang bisa dipakai ke klub,” ucapnya langsung. Singkat. Jelas.

Penjaga itu sempat terdiam. Lalu cepat mengangguk.

“Iya, Kak. Sebelah sini.”

Belvina berjalan mengikuti ke rak terdekat. Tangannya menyentuh beberapa kain. Memilih cepat.

Tidak banyak pertimbangan. Namun kali ini, tidak canggung seperti di butik sebelumnya.

Lebih tegas. Lebih… tahu apa yang ia butuhkan.

Ia berhenti pada satu setelan. Simple, tapi cukup untuk masuk ke tempat seperti itu.

“Ini.”

Ia menyerahkannya tanpa ragu.

 

Beberapa menit kemudian, Belvina keluar dari butik. Penampilannya berubah. Tidak mencolok berlebihan. Tapi cukup untuk… menyatu.

Ia berhenti sebentar di samping mobil, menatap ke arah klub di kejauhan. Lampu masih menyala terang. Musik masih terdengar samar. Sudut bibirnya terangkat lagi.

“Kalau dia bisa…” Ia membuka pintu mobil. “…kenapa aku tidak?”

Namun kali ini, langkahnya bukan sekadar ikut. Ada sesuatu yang berubah. Bukan mengejar. Tapi… masuk ke permainan yang sama.

 

Lampu klub menyilaukan. Musik menghentak. Belvina berhenti sejenak di pintu masuk. Matanya menyapu ruangan.

Ramai. Padat. Asing.

Langkahnya tertahan.

Dulu, ia akan langsung masuk tanpa pikir Sekarang, ia menarik napas pelan, lalu melangkah masuk.

“Jadi ini dunia dia…”

Ia bergerak masuk. Langkahnya sempat sedikit kaku di awal. Tapi cepat menyesuaikan.

Sorot lampu mengenai wajahnya sesaat. Menarik perhatian beberapa orang di sekitar.

Belvina tidak peduli ia berjalan lebih dalam.

 

Di sisi lain ruangan—

Seorang pria yang sedang bersandar di bar tiba-tiba berhenti bicara. Alisnya mengernyit. Matanya mengunci pada satu titik.

“Eh…” Ia menegakkan badan sedikit. “Aku salah lihat?”

Temannya ikut menoleh mengikuti arah pandangannya. Beberapa detik. Lalu—

“Anjir… itu… Belvina?”

Pria pertama menyipitkan mata, memastikan. Penampilan berbeda. Cara berjalan juga tidak sama. Tapi wajah itu—

“Iya.” Nada suaranya turun. “Dan dia sendirian.”

Ia tidak menunggu lebih lama. Gelasnya diletakkan begitu saja.

“Aku ke atas dulu.”

 

...✨“Beberapa hal tidak perlu dipertahankan. Apalagi kalau dari awal bukan milik kita.”✨...

.

To be continued

1
aryuu
mantap ceritanya... ❤️❤️❤️❤️❤️alurnya bagus pas banget... 👍👍👍👍👍

agak terbawa emosi sedikit diepisode mau ending😌

semangat berkarya selalu ❤️🤗❤️
aryuu
belvina anjing lu
Mak Nab
Best
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
aliifa afida
luar biasa/Heart//Heart//Heart//Heart/
aliifa afida: sama2 thor.. ini lg baca karya kamu yg lain..😄
total 2 replies
evana gusani
baru mampir 👍
anonim
Akhirnya tuntas sudah membaca cerita yang sangat bagus. Bisa diambil hikmahnya.
Author memang The Best. Terima kasih Author dengan karya yang bagus-bagus. Semoga sehat selalu, BerkatNya melimpah 🙏🏻🥰💖
anonim
Belvina telah melahirkan bayi laki-laki.

Alden berjanji akan menjaga istri dan anaknya selama sisa hidupnya.

Kini bayi laki-laki itu berusia sekitar tiga tahun.

Bocah kecil itu tertawa riang sedang main kejar-kejaran bersama Om-nya. Arsen.

Bocah kecil itu berlari cepat minta tolong sama tante Alena dari kejaran Omnya.

Andreas dan Fransisca tak kalah bahagianya memiliki cucu yang ganteng dan gembul.
anonim
Alden sudah mendapat lampu hijau dari Belvina.
anonim
Kalau dekat jual mahal tidak mau memberi jatah Alden.

Giliran Alden lama di luar kota untuk menyelesaikan masalah yang harus diselesaikan, Belvina mulai merindukan kehadiran Alden.
anonim
Sidang terakhir Seraphina sebagai terdakwa telah dibuka.

Hakim membacakan pertimbangan hukum secara jelas, sah, dan meyakinkan bahwa Seraphina melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan penuntut umum.

Seraphina terbukti melakukan perbuatan secara terencana demi keuntungan pribadi yang menyebabkan kerugian bagi pihak lain, serta merencanakan penculikan terhadap korban Belvina yang disertai ancaman mengunakan senjata tajam hingga mengakibatkan korban mengalami luka.

Wow...vonis Hakim menjatuhkan pidana penjara selama delapan belas tahun untuk Seraphina.

Seluruh aset yang terbukti berkaitan dengan hasil tindak pidana dirampas sesuai ketentuan hukum.
anonim
Yang penting Alden sudah menyadari kebodohannya. Harapannya untuk membahagiakan istri dan anaknya semoga terwujud.
anonim
Belvina menggeser tubuhnya ke arah Alden yang masih memunggunginya.

Alden yang belum tidur merasakan Belvina mendekat. Ia sengaja tidak bergerak, takut Belvina salah paham lagi.

Sampai segitunya Alden menjaga perasaan Belvina.

Belvina bisa tidur nyenyak dalam pelukan Alden.

Alden berusaha menahan gejolak yang sebenarnya sulit dia kendalikan. Alden tidak memaksakan keinginannya itu.
anonim
Berbeda dengan Belvina yang tidak kunjung bisa tidur.

Alden tertidur di sofa yang ada di ruang kerjanya. Belvina membangunkan Alden. Menyuruh Alden kembali ke kamar.

Memang bumil bikin repot sendiri. Suaminya tidur membelakanginya, dadanya jadi terasa sesak. Menginginkan usapan tangan suami di perutnya sebelum tidur.
anonim
Buka hatimu Belvina, kasihan suamimu yang sudah berusaha mengerti dengan penolakanmu.

Belvina tidak bisa tidur merindukan elusan tangan Alden di perutnya.
imoe nawar
👍
anonim
Belvina periksa di dokter kandungan diantar rombongan keluarga Astera.

Dokter memeriksa kandungan Belvina, layar monitor memperlihatkan kondisi janinnya.

Arsen senang, dokter menunjuk layar monitor memperlihatkan jenis kelamin bayi. Laki-laki.
anonim
Wow...permintaan Alden di tolak. Belum layak mendapatkan hadiah karena Alden masih dalam masa percobaan. Belum lulus sudah minta bonus wkwkwk.

Jalani ujiannya dulu biar lulus Al.

Iya Bel, kamu sangat keterlaluan membiarkan suamimu tersiksa.
anonim
Alden ngga pernah mendapatkan jatahnya dari Belvina.

Setelah kejadian membuka kamar mandi, Alden jadi menginginkan jatahnya wkwkwk
anonim
Seraphina ini tetap tidak sadar-sadar juga. Masih mengharapkan Alden.
anonim
Semua anggota keluarga Alden sangat mengkhawatirkan Belvina.

Belvina menceritakan kronologi kejadian yang menimpa dirinya.

Arsen ini kalau bicara bikin Alden mengeras rahangnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!