Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.
Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.
Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
PRANG!
Suara pecahan kaca yang membentur lantai porselen tebal membelah keheningan pagi di kediaman Ford. Bunyinya seperti belati tajam yang merobek sunyi dengan kejam, menyebarkan ribuan serpihan bening ke segala arah.
Gemerincing sisanya berhamburan di atas permukaan lantai yang dingin, disusul deru napas memburu dan teriakan melengking seorang wanita yang emosinya telah membakar habis batas kesabaran.
"Kau menguliahkan anak haram mu?!" pekik Maeve Ford. Matanya menyala-nyala penuh benci, menatap suaminya seolah ingin menghanguskan pria itu detik itu juga.
"Di tempat yang sama dengan Putra kita? Brengsek kau, Gerald!"
Gerald Ford, pria paruh baya yang wajahnya kusam oleh garis-garis lelah yang kian mendalam, memijat pangkal hidungnya. Napasnya terengah berat. Matanya menyiratkan keputusasaan yang teramat sangat saat menatap istrinya—pandangan serba salah dari seorang pria yang memikul beban rasa bersalah tak bertepi.
"Dia tidak akan memakai nama besar keluarga kita, Maeve," jawab Gerald. Suaranya terdengar berat, parau, dan bergetar menahan kepedihan yang menyumbat tenggorokan. "Aku hanya membantunya mengurus administrasi masuk tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun dari kas keluarga. Dia masuk murni dengan jerih payahnya sendiri. Asal kau tahu, putriku sangat pintar. Akan sangat disayangkan jika otaknya terbuang sia-sia hanya karena dia tidak berkuliah di tempat yang bagus."
"Alasan!" bentak Maeve, melangkah maju dan menunjuk dada Gerald dengan telunjuknya yang gemetar hebat. Udara di ruang tengah yang megah itu mendadak menggelegak panas. "Kau selalu punya seribu alasan untuk membela anak pembawa sial itu! Sejak awal kehadiran perempuan itu di sini, kau sudah merusak ketenangan rumahku!"
Teriakan dan cekcok itu menggema di seluruh ruangan, memantul pada dinding-dinding berornament klasik yang terasa kian hari kian menyempit—mencekik siapa saja yang berada di dalamnya.
Di balik dinding pembatas koridor menuju dapur, seorang gadis berdiri mematung.
Jemarinya mencengkeram erat tali tas punggung kusamnya hingga buku-buku jarinya memutih, seputih wajahnya yang pucat pasi. Ia tahu betul siapa yang dimaksud dengan label hina 'anak haram' itu.
Label yang ditempelkan di dadanya tanpa pernah ia minta, sebuah dosa yang tidak pernah ia perbuat namun harus ia tanggung seumur hidup. Maeve memang tidak pernah bisa—dan tak akan pernah sudi—menerima kehadirannya di bawah atap ini.
Parrie Rose Ford.
Nama itu berbisik sunyi di dalam hatinya yang terluka. Mungkin saja nama 'Ford' akan ia lepaskan sepenuhnya begitu ia menginjakkan kaki di universitas barunya nanti. Usianya baru saja menginjak 20 tahun, namun rasanya ia telah hidup selama seratus tahun melewati derita yang tak kunjung usai.
Baru seminggu yang lalu Parrie diboyong ke rumah megah ini oleh Gerald, tepat setelah napas terakhir sang ibu mengudara di bangsal rumah sakit yang dingin, meninggalkan dunia yang terlampau kelam.
Hari itu, Parrie sadar ia tidak lagi memiliki siapa pun di semesta yang luas ini selain ayahnya. Maka di sinilah ia berakhir: terkurung bersama keluarga tiri yang memandang kehadirannya tak ubahnya sebuah cacing jijik di atas telapak tangan.
Hari-hari selama seminggu terakhir di rumah ini bagaikan berjalan di atas bara api. Telinganya dipaksa kebal mendengarkan deretan makian yang tak pernah kering dari bibir istri ayahnya. Rumah yang tampak bak istana dari luar ini tak lebih dari neraka beratap megah bagi Parrie.
Pagi ini, gempa kecil itu kembali meledak hanya karena alasan yang sebenarnya sepele. Parrie berniat berangkat ke kampus barunya untuk mengurus berkas penerimaan akhir. Namun semalam, Gerald sempat berbisik lirih penuh rasa iba, menawarkan sebuah mobil bekas sederhana agar Parrie tak perlu lagi menerjang dinginnya angin pagi New York.
Walaupun Gerald sebenarnya sanggup membelikan mobil sport mewah seperti yang ia berikan pada keluarga intinya, ia tahu hal itu akan membuat Parrie terlihat menonjol—terlebih lagi Parrie masuk ke universitas tersebut melalui jalur beasiswa berprestasi.
Namun, ketika Maeve tidak sengaja mendengar percakapan itu, amarah wanita itu meledak bak gunung berapi. Ia tidak terima karena putra kesayangannya bahkan belum mendapatkan sepeda motor Sport impian yang dijanjikan tahun ini.
Baginya, setiap sen yang dikeluarkan Gerald untuk Parrie adalah sebuah pengkhianatan.
Lebih menyakitkan lagi bagi harga diri Maeve jika orang-orang di kalangan atas mengetahui bahwa suaminya memiliki anak dari hubungan gelap.
Dan yang paling membuat dadanya sesak oleh dengki: anak haram itu justru diterima di tempat yang sama dengan putra kandungnya—di kampus universitas termewah dan paling bergengsi di New York. Parrie, si gadis miskin yang tumbuh di gang sempit, kini duduk di derajat yang sama secara akademis? Memikirkan hal itu saja sudah membuat kepala Maeve rasanya ingin meledak.
Di balik tembok, Parrie memejamkan mata rapat-rapat. Ia sadar betul statusnya. Ia adalah anak haram yang bertahun-tahun disembunyikan dari dunia luar.
Bersama mendiang ibunya, ia sudah mengecap pahitnya kehidupan—mulai dari memakan makanan sisa hingga harus bekerja paruh waktu sampai larut malam demi membayar sewa kamar sempit.
Ketika Gerald datang dan menawarkan tempat tinggal, tentu saja Parrie menerima dengan rasa terima kasih yang mendalam. Ia berpikir, setidaknya sang ayah bisa menjamin kelangsungan pendidikannya sehingga ia tidak perlu lagi bekerja penuh waktu dan bisa fokus mengejar cita-citanya.
Namun, harga yang harus dibayar untuk jaminan itu ternyata adalah harga dirinya sendiri.
Parrie menarik napas panjang, membiarkan udara dingin merasuk hingga ke paru-parunya yang terasa sesak. Dengan sisa keberanian yang rapuh, ia menggeser langkah, keluar dari tempat persembunyiannya di balik dinding.
"Dad..." panggil Parrie lirih. Suaranya halus bagaikan bisikan angin musim gugur yang rapuh. "Aku akan berangkat."
Gerald mendadak menghentikan perdebatan panasnya. Ia mengalihkan pandangan pada Parrie, raut wajahnya yang keras langsung luluh lantak oleh penyesalan dan kepedihan yang mendalam. "Mau Daddy antar, Sayang? Garasi luar sudah—"
"Tidak usah, Dad. Aku akan naik bus saja," bisik Parrie cepat, bahkan sebelum ayahnya menyelesaikan kalimat. Matanya sengaja menatap lantai, tidak berani melirik Maeve yang berdiri dengan mata memancarkan kilat tajam seperti belati.
"Ya, kau memang harus naik bus!" potong Maeve tajam, suaranya menyayat hati. "Kau hanya gadis pembawa sial yang merepotkan. Dan bermimpi saja kau untuk punya mobil di rumah ini!"
Di sudut ruang tamu yang dilapisi karpet tebal, seorang pemuda duduk santai di atas sofa empuk sambil memegang cangkir kopi. Dia adalah saudara tiri Parrie. Pemuda itu memandangnya dengan senyum mengejek yang terukir jelas di bibirnya—sebuah senyuman kemenangan yang selalu terpasang setiap kali sang ibu berhasil menginjak-injak harga diri Parrie hingga tak tersisa.
Hanya anak laki-laki manja yang bersembunyi di balik ketiak ibunya, batin Parrie pedih, menyalurkan rasa muaknya dalam diam.
Tanpa mengucap sepatah kata lagi, Parrie memutar tubuhnya. Ia meraih gagang pintu besi yang dingin, mendorongnya, dan melangkah keluar meninggalkan rumah neraka itu tanpa berniat untuk menoleh lagi ke belakang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Langkah kaki Parrie menyusuri aspal dingin kota New York yang pagi ini dibalut kabut tipis. Angin menusuk hingga ke tulang, menembus sweater tipis yang sudah mulai berserabut di bagian ujungnya. Dekapan tangannya meremas kuat sebuah buku diary berpenutup kulit kusam di dadanya.
Buku tua itu adalah benteng pertahanannya—satu-satunya ruang aman di mana jiwanya yang compang-camping bisa bersembunyi tanpa takut dihakimi oleh kejamnya dunia.
Di sepanjang perjalanan menuju halte, bayangan mendiang ibunya menari-nari di ingatan. 'Tetaplah bertahan, Parrie. Pendidikan adalah satu-satunya sayap yang bisa menerbangkanmu keluar dari lumpur ini,' pesan sang ibu beberapa hari sebelum menutup mata untuk selamanya.
Kalimat itu menjadi bahan bakar tunggal yang menjaga pijar semangat di dalam dadanya agar tidak padam.
Setelah menempuh perjalanan cukup panjang dengan bus kota yang penuh sesak oleh pekerja kantor, Parrie akhirnya sampai di area kampus utamanya.
Gadis itu menahan langkah di depan gerbang besi menjulang tinggi. Matanya menatap takjub sekaligus gentar pada deretan mobil-mobil mewah berharga fantastis—Ferrari, Porsche, dan Rolls-Royce—yang berjejer rapi di area parkiran khusus mahasiswa.
Suasana di sekitar pelataran riuh oleh gelak tawa pemuda-pemudik berbusana perancang ternama. Mereka adalah kaum privilege, kelompok manusia yang tak pernah tahu betapa getirnya menghitung sisa keping koin kusam di akhir bulan hanya demi membeli sepotong roti keras.
Bagi mereka, dunia adalah taman bermain yang megah. Bagi Parrie, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti yang menuntut pertumpahan air mata.
Parrie merapikan letak tas punggungnya dan berjalan mendekati pos keamanan di dekat pintu masuk utama. Di tengah lalu lalang manusia bermerek yang melewatinya dengan pandangan menilai, Parrie memberanikan diri mengetuk kaca jendela pos.
"Maaf, Sir... ruangan administrasi untuk mahasiswa baru ada di sebelah mana, ya?" tanya Parrie sopan.
Petugas keamanan berbadan tegap itu menoleh, memindai penampilan Parrie dari ujung kepala hingga ujung kaki sebelum membuka catatan di mejanya. "Mahasiswi baru beasiswa, ya? Parrie Rose?"
Parrie mengangguk pelan. "Iya, benar."
Petugas itu mengerutkan dahi, menatap ke arah gerbang luar. "Kenapa tidak pakai mobil atau naik shuttle dalam kampus, Nona? Jarak gedung administrasi dari gerbang depan ini cukup jauh."
Parrie tahu betul dari peta brosur bahwa Universitas New York ini luar biasa besarnya, berdiri di atas lahan berhektar-hektar dengan puluhan gedung megah. Namun, ia hanya mengulas senyum tipis yang dipaksakan. "Saya akan jalan kaki saja, Sir. Saya sudah biasa berjalan jauh."
Meskipun ia tahu keputusan itu akan memakan waktu lumayan lama dan berisiko membuatnya terlambat masuk ke ruang kelas pertamanya, Parrie tidak punya pilihan lain. Ia tidak memiliki uang ekstra untuk membayar shuttle internal atau menyewa kendaraan listrik kampus.
Petugas keamanan itu akhirnya mengangguk paham tanpa bertanya lebih lanjut, lalu menyerahkan selembar kertas peta cetak kecil. "Lewati taman tengah, lalu belok kanan di gedung Fakultas Seni. Gedung administrasi ada di belakangnya."
"Terima kasih banyak, Sir," bisik Parrie.
Ia menerima kertas itu dan mulai melangkah menyusuri jalan setapak beraspal mulus yang dinaungi pepohonan rimbun. Bau dedaunan basah dan udara pagi bertiup menenangkan. Untuk sejenak, Parrie merasa sedikit lega. Ia membayangkan masa depannya di tempat ini—ruang baru tempat ia bisa membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar 'anak haram' tak berguna sebagaimana yang selalu diteriakkan oleh Maeve.
Namun, ketenangan rapuh itu hanyalah ketenangan semu sebelum badai menghantam.
Belum sempat Parrie berjalan sejauh lima puluh meter melintasi belokan taman yang agak sepi, pergelangan tangannya mendadak ditarik paksa dari belakang dengan cengkeraman yang begitu kuat dan kasar.
"Ahh!" Parrie terperanjat hebat. Tubuhnya terhuyung ke belakang, hingga punggungnya terhentak keras ke batang pohon oak besar di pinggir jalur pejalan kaki. Buku diary di dekapannya terlepas dan jatuh begitu saja ke atas rumput basah.
Rasa kaget membuat jantung Parrie berdegup kencang seperti ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Namun, saat ia mengangkat wajahnya untuk melihat siapa pelaku tindakan kasar tersebut, pandangan Parrie mendadak terkunci rapat.
Di hadapannya berdiri sebuah siluet pria yang tinggi tegap. Posturnya begitu dominan, memancarkan aura intimidasinya yang mencekik udara di sekitarnya. Pria itu berdiri anggun namun berbahaya, bagaikan seorang raja kegelapan yang sedang menapakkan kakinya di bumi.
Garis rahangnya keras bagai pahatan batu granit, dan tatapan matanya—sepasang manik kelam yang tajam—menusuk lurus ke dalam manik mata Parrie.
Ketika mata mereka bertabrakan, Parrie membelalak kaget. Napasnya tersangkut di tenggorokan. Seluruh persendian tubuhnya mendadak kaku, seolah daya hidupnya diserap habis oleh presensi pria di depannya. Ada bahaya yang sangat besar terpancar dari pria itu.
Pria itu menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan wajahnya hingga jarak di antara mereka terkikis habis. Tatapannya dingin melukai, dipenuhi oleh kebencian yang mendalam dan keputusasaan yang teramat pekat.
"Jalang tidak tahu malu!" bisik pria itu. Suaranya lirih, tajam, namun berhawa begitu dingin hingga sanggup membekukan darah di dalam pembuluh darah Parrie.
Parrie membuka mulutnya, hendak menyuarakan protes dan menanyakan maksud dari tuduhan kejam tersebut. "A-ap—"
Namun, kata-katanya tak pernah sempat terucap.
Sebelum Parrie mampu menyelesaikan kalimatnya atau sekadar membela diri, pria itu mencengkeram rahangnya dengan kasar dan menundukkan kepala. Bibir pria itu membentur bibir Parrie dalam sebuah ciuman yang brutal, penuh amarah, dan tanpa kelembutan sedikit pun.
Seakan-akan Parrie Adalah Miliknya.
Dunia Parrie seketika runtuh dan berputar hebat saat rasa dingin, dominasi, dan kepedihan liar menenggelamkan seluruh kesadarannya di bawah naungan pohon oak yang sunyi.
...----------------...
Happy reading 🌷🦋
Sequel Cerita 'My Ashford side'.
update terusss😍😍😍