Keira Anindita menyembunyikan identitasnya sebagai pemilik perusahaan besar demi menjaga harga diri Arsen, pria yang pernah menolongnya dan kemudian menjadi suaminya. Selama empat tahun, Keira diam-diam membantu Arsen membangun bisnis dari nol hingga menjadi perusahaan yang disegani.
Namun, kesuksesan membuat keluarga Arsen berubah. Keira yang dulu begitu disayang, kini dianggap perempuan miskin yang tidak pantas mendampingi Arsen.
Puncaknya terjadi dalam sebuah pesta ketika ibu mertuanya memperkenalkan Clarissa sebagai calon istri Arsen. Saat Keira diperlakukan bak pembantu yang melayani para tamu, Arsen hanya diam. Malam itu juga Keira pergi tanpa membawa satu pun harta keluarga Wijaya.
Tak lama kemudian, fondasi perusahaan Arsen mulai runtuh karena Keira melucuti semua dukungan.
Saat Arsen akhirnya mengetahui identitas asli istrinya, penyesalan datang terlambat. Keira telah bertemu Elvano, pria jauh lebih berkuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
.
Clarissa mengumpat kesal ketika pagi datang dan Arsen kembali membatalkan bulan madu yang tertunda. Alasannya masih sama seperti kemarin perusahaan sedang dalam masalah. Nyonya Marisa berusaha membujuk gadis itu dengan mengajaknya berbelanja ke mall. Namun, sepertinya Clarissa sedang benar-benar kesal. Gadis itu memilih berpamitan untuk pergi ke rumah kedua orang tuanya. Tidak ingin membuat menantu kesayangannya semakin marah, Marisa mengiyakan saja.
Sesampai di rumah keluarga Halim, Clarissa membanting tas tangannya dengan kesal di atas sofa hingga barang-barang kecil yang berada di dalamnya tanpa sengaja berhamburan dan berjatuhan di lantai.
“Ada apa denganmu, Sayang? Kenapa kamu cemberut seperti itu?” tanya Selina ibunya.
“Ya gimana aku nggak kesel Bu," sahut Clarissa dengan menghempaskan tubuhnya di atas sofa kemudian melipat kedua tangannya di depan dada. “Kami ini pengantin baru, seharusnya kami sedang pergi berbulan madu. Tetapi apa yang terjadi? Arsen malah sibuk di perusahaannya katanya perusahaan sedang dalam masalah."
Tuan Lukman Halim yang kebetulan baru saja keluar dari kamarnya menghentikan langkahnya lalu ikut duduk di sofa yang berhadapan dengan Clarissa.
“Masalah? Masalah apa?" Pria paruh baya itu menatap putrinya dengan kening berkerut.
“Ya mana aku tahu, Yah?" Clarissa semakin kesal.
“Apa masalahnya begitu gawat?” tanya Tuan Lukman lagi. Tetapi Clarissa hanya menjawabnya dengan mengangkat kedua bahunya.
"Semoga saja bukan masalah besar,” ucap Tuan Lukman. “Kalau tidak, sia-sia aku menikahkan kamu dengannya." Lanjut pria paruh baya itu lagi kemudian menyandarkan punggungnya.
"Aku juga tidak tahu," sahut Clarissa. “Tapi aku lihat kemarin dia pulang agak larut, dan wajahnya terlihat kucel sekali."
Tuan Lukman mengepalkan tangannya. Padahal dia menikahkan Clarissa dengan Arsen dengan harapan perusahaan milik Arsen bisa mendongkrak perusahaan keluarganya yang saat ini dalam situasi sulit. Tapi jika saat ini mereka sendiri sedang dalam masalah, lalu bagaimana dengan nasib perusahaannya nanti?
*
*
*
Di kantor Wijaya group, Arsen mengernyit ketika membaca laporan keuangan lama yang baru saja diserahkan bagian administrasi. Beberapa investasi dan jaminan bernilai besar tercatat pernah menyelamatkan Wijaya Group ketika perusahaan mereka hampir mengalami kesulitan keuangan. Namun, anehnya, tidak semua sumber pendanaan tersebut tercantum dengan jelas.
Ia membolak-balik sejumlah dokumen, berusaha menemukan informasi mengenai pihak yang berada di balik investasi itu. Beberapa nama perusahaan terasa asing, tetapi satu hal menarik perhatiannya. Hampir seluruh proses kerja sama tersebut ternyata dikoordinasikan oleh Daren Antasena.
Arsen menyandarkan punggungnya ke kursi. Nama itu tentu tidak asing baginya karena selama ini perusahaan milik Daren memang selalu memberikan dukungan penuh pada perkembangan perusahaan Wijaya.
“Mario, datang ke ruanganku sekarang!” panggil Arsen melalui interkom.
Tak lama kemudian, asistennya masuk ke ruangan. Arsen menyerahkan beberapa dokumen yang sejak tadi diperiksanya, lalu meminta Mario mencari tahu hubungan Daren dengan perusahaan-perusahaan yang pernah memberikan dukungan kepada Wijaya Group.
“Selain itu, buatkan janji temu dengan Daren Antasena dan Elvano Mahardika. Aku ingin berbicara langsung dengan mereka,” perintah Arsen.
Mario mengangguk. “Baik, Pak. Saya akan segera menghubungi mereka.”
Namun, ketika sore tiba, Mario kembali dengan kabar yang tidak sesuai harapan. Pihak Daren menolak permintaan pertemuan dengan alasan jadwalnya sedang padat. Sementara itu, Elvano melalui asistennya menyampaikan bahwa ia belum memiliki waktu untuk bertemu.
“Coba hubungi mereka lagi. Katakan bahwa ini menyangkut kerja sama bisnis yang cukup penting,” ujar Arsen dengan nada tidak puas. Padahal dia berharap, jika bisa bertemu langsung dengan mereka berdua, maka dia bisa membujuk mereka berdua untuk tidak menghentikan investasi.
“Saya sudah menyampaikannya, Pak. Namun, kedua pihak tetap menolak.”
Arsen menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa berdenyut. Penolakan itu membuatnya semakin curiga, apalagi setelah melihat kemarin Daren dan Elvano tampaknya begitu dekat dengan Keira. Tiba-tiba saja ia jadi menduga-duga bahwa ada keterlibatan mantan istrinya dalam pengunduran diri mereka.
“Apakah Keira yang mempengaruhi mereka?" gumam Arsen pelan. Tapi kemudian pria itu menggelengkan kepalanya.
"Tidak mungkin,” gumamnya lagi. “Mana mungkin Keira memiliki pengaruh sebesar itu?"
Tidak ingin didera dengan rasa penasaran, Arsen meminta Mario untuk mencari informasi mengenai Daren Antasena dan Elvano Mahardika. Pria itu sedikit menyesali karena selama ini terlalu cuek dan tidak mau mencari tahu. Iya bahkan tidak mengetahui apapun tentang kedua pengusaha besar itu. Karena selama ini yang ia pedulikan hanya mereka masih selalu menggelontorkan dana bagi Wijaya group.
*
*
*
Sore itu, Arsen baru saja selesai menandatangani sebuah berkas dan baru saja menyandarkan punggungnya untuk meregangkan otot-ototnya yang kaku ketika Mario mengetuk pintu ruang kerjanya dan masuk dengan membawa tabletnya yang dalam keadaan menyala.
“Pak, ada informasi mengenai perusahaan KA Group milik Tuan Daren Antasena. Mereka sedang membuka tender proyek pembangunan kawasan bisnis terpadu. Nilai proyeknya cukup besar dan terbuka bagi perusahaan yang memenuhi persyaratan,” jelas Mario sambil menunjukkan berita yang baru diterimanya.
Arsen segera mengambil tablet tersebut lalu membaca informasi mengenai proyek itu dengan saksama. Perusahaan penyelenggara tender akan memilih mitra berdasarkan kualitas proposal, kemampuan finansial, pengalaman, serta penawaran yang diajukan.
“Apakah kamu sudah mendapatkan informasi, perusahaan mana saja yang sudah mendaftar untuk mengikuti tender ini?” tanyanya.
Mario mengangguk. “sejauh ini sudah ada sejumlah perusahaan besar yang mulai mengajukan proposal, Pak. Apa kita akan ikut? Pemenang dari tender ini akan mendapatkan kontrak pembangunan dan pengelolaan proyek dalam jangka panjang.”
Arsen kembali membaca berita tersebut. Di tengah kondisi Wijaya Group yang sedang kehilangan sejumlah mitra dan sumber pendanaan, proyek sebesar itu bisa menjadi kesempatan untuk memulihkan keadaan perusahaan.
“Siapkan tim terbaik kita. Aku ingin Wijaya Group ikut dalam tender ini,” putusnya tanpa ragu.
Mario mengangguk. “Baik, Pak. Saya akan meminta bagian pengembangan bisnis dan keuangan menyiapkan proposal.”
“Pastikan proposal kita benar-benar matang. Periksa seluruh persyaratan, hitung kembali anggaran, dan susun penawaran yang mampu bersaing dengan perusahaan lain. Kita harus mendapatkan proyek ini.”
Arsen menutup tablet dan menatap asistennya dengan serius. “Aku tidak peduli seberapa besar perusahaan lain yang ikut serta. Kita harus menunjukkan bahwa Wijaya Group masih mampu menangani proyek berskala besar.”
Mario mengangkut sigap. “Baik, Pak. Saya akan segera mengaturnya.”
Setelah Mario keluar, Arsen kembali memandangi laporan keuangan yang masih tergeletak di atas meja. Saat ini perusahaan mereka membutuhkan suntikan dana dan proyek baru untuk mengembalikan kepercayaan para mitra bisnis. Tender tersebut bisa menjadi jalan keluar, sekaligus kesempatan untuk membuktikan bahwa Wijaya Group masih memiliki kemampuan bersaing.
Namun, ada satu hal yang sampai saat ini masih mengganggu pikirannya. Perusahaan yang menyelenggarakan tender itu adalah milik Daren, pria yang bahkan menolak ajakan pertemuannya. Apakah nantinya Daren Antasena akan mau mempertimbangkan Wijaya Group untuk memenangkan proyek tersebut?
Arsen mengepalkan tangannya erat. Tidak peduli apapun hasilnya, yang penting tujuan utamanya sekarang adalah ia bisa bertemu langsung dengan Darren Antasena. Karena bagi Arsen, tender dari perusahaan itu adalah satu-satunya kesempatan untuk membangkitkan kembali Wijaya Group.
pegangin nyawa ny pak darma yg udh muak tinggal di raga ny sendiri ,,
selama ini anda begitu sombong ,, menyepelekan keira ,,
skarang kenyataan siapa keiraa ,,
jantungan kn andaa ,,
🤭🤭😁😁😁
ga nyangka kn kl wnita yg jd babu d rmh klian,bhkn d usir krna wnita lain trnyta holang kaya????
mkanya,jgn songong jd orng.....😛😛😛
up lagi thor 🤭🙏