NovelToon NovelToon
Meluluhkan Hatimu

Meluluhkan Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ibu ditca

Menjadi korban keegoisan orang tuanya pasca perceraian, membuat Auri lebih memilih mantan ART nya untuk menjadi walinya.

Perjalanan hidup Auri sejak masih kanak-kanak memang tak mudah. Bahkan kehidupan cintanya pun seolah tak berpihak padanya.

Namun sosok pemuda yang tak pernah ia sangka, hadir dalam hidupnya. Dan perlahan mengubah alur hidup Auri.

Ikuti perjalanan hidup Auri yukkk
Welcome di tulisan receh Mak Othor. Semoga Mak Othor bisa konsisten menulis lagi yakk...
Yang kemarin terpaksa hiatus.
terimakasih semua...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibu ditca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Di sebuah coffe shop, Estu mengajak Aceng berbicara. Tentu ada sebuah kekakuan di antara mereka mengingat keduanya baru bertemu setelah belasan tahun lamanya.

"Mau pesan apa mang Aceng?'' tanya Estu. Untuk sekedar menghargai, Aceng pun terpaksa mengiyakan.

"Kopi hitam saja, yang biasa pak'' jawab Aceng. Estu pun memesan dua cup untuknya juga untuk Aceng.

Keheningan melanda beberapa saat hingga akhirnya Estu buka suara.

"Apa kabar mang Aceng dan istri?''

"Alhamdulillah kami baik Pak.''  Estu mengangguk pelan.

"Mamang tidak bertanya kenapa saya tidak menanyakan Esther?'' tanya Estu. Aceng tersenyum tipis.

"Neng Auri sudah cerita ke saya, ke uminya juga soal pertemuannya dengan anda pak Estu.'' Estu kembali menganggukan kepalanya.

"Dia jadi guru? Mengajar di SLB?'' tanya Estu.

"Iya pak Estu. Neng Auri memang bercita-cita menjadi seorang pendidik. Dan...dia juga memilih mengabdikan diri di sekolah itu.''

"Dia sudah PNS?'' tanya Estu. Aceng tersenyum dan menggeleng.

"Tidak, dia tidak pernah ikut tes untuk menjadi PNS. Dia murni mengajar dan tak ingin terikat.''

"Bagaimana tidak terikat, bukankah dia juga berada di bawah naungan kementrian pendidikan? Bagaimana dia akan mendapatkan gaji yang layak untuk masa depannya?'' tanya Estu dengan wajah cemasnya.

Aceng tertawa pelan.

"Insyaallah untuk hal itu tidak perlu di khawatirkan. Neng Auri punya usaha pribadi, punya lahan pertanian. Alhamdulilah sejauh ini lebih dari cukup sampai Neng Auri ingin pensiun di usia berapa pun.''

Estu tertegun mendengar penjelasan Aceng.

"Terimakasih sudah mengkhawtirkan masa depan neng Auri, Pak. Tapi insyaallah...neng Auri tidak akan kekurangan apa pun.''

Estu masih diam membisu.

"Saya juga ucapkan terimakasih sama pak Estu, karena sekalipun anda dan bu Erina tidak pernah menemui Neng Auri...pak Estu masih berkenan membiayai kehidupan dan pendidikan neng Auri sampai di posisi saat ini.''

"Bukankah aku sudah lama menghentikannya?'' akhirnya Estu buka suara.

"Apa yang pak Estu beri lebih dari cukup. Neng Auri bukan gadis yang suka berfoya-foya. Dia lebih sering menginvestasikan uangnya untuk membeli aset dan mengembangkan usahanya.''

"Esther punya usaha apa?''

"Tidak besar pak, tapi cukup membantu membuka lapangan pekerjaan untuk beberapa orang.''

Estu kembali terdiam.

"Ada lagi yang ingin pak Estu ketahui tentang neng Auri?''

Estu mengangguk.

"Dia belum menikah?''

Aceng menggeleng pelan.

"Kalau neng mau menikah, pasti hubungi bapak untuk menjadi walinya. Saya tidak bisa jadi walinya neng Auri kan?''

"Ah...iya!'' sahut Estu singkat.

"Kalau calon?''

"Untuk sekarang sepertinya belum pak. Beberapa bulan lalu, neng dan pacarnya memutuskan untuk berpisah secara baik-baik. Bahkan dalam waktu dekat ini, mantan kekasihnya itu akan segera menikah.''

"Ya Tuhan...malang sekali nasib putriku.''

Aceng tersenyum tipis.

"Jangan mengasihani neng Auri seperti itu pak. Memutuskan hubungan dengan kekasihnya tak seberapa sakit bagi si neng di bandingkan saat dirinya merasa di buang oleh kedua orang tuanya.''

Deg!!

Mendadak jantung Esti berhenti beberapa saat. Sindiran itu cukup membuatnya tersinggung. Tapi...memang benar adanya kan?? Faktanya, sebagai orang tua ia dan mantan istrinya sama sekali tak memikirkan perasaan anaknya. Mereka berdua sibuk dengan egonya masing-masing.

"Kalau sudah tidak ada yang pak Estu tanyakan, saya ijin pamit ya pak. Masih ada yang harus saya kerjakan.''

"Kalian tinggal di mana?'' tanya Estu yang ikut berdiri seperti Aceng.

"Maaf pak, untuk satu hal itu saya tidak bisa mengatakannya. Saya harus tanya dulu sama neng.''

Estu megusap wajahnya dengan kasar.

"Saya pamit pulang pak, terimakasih kopinya. Permisi, assalamualaikum.''

"Walaikumsalam'' jawab Estu. Estu memandangi tubuh Aceng yang menjauh menuju ke tempat parkir. Untuk beberapa saat Estu tertegun. Namun getaran di saku celananya menyadarkan dirinya.

Ternyata, dia masih ada jadwal bertemu dengan beberapa pekerja di proyek. Setelah meletakkan uang di meja, ia pun meninggalkan cofffe shop tersebut untuk kembali ke proyek.

*****

Terimakasih

1
Asriani Rini
Semsngat mak author semoga suaminya cepat sembuh
indy
Semangat kakak💪
Endang 💖
menarik,tp plisssss up tiap hari y thor
sakura
...
Asriani Rini
Aku kasih buga biar rajin up tiap hari
Asriani Rini
Lanju thor banyak banyakup nya biar kita enggak penasaran trrus 🙏🏻
Dhina Dindin
next yuk semangat ya Bun...selalu dinanti😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!