Zahira Aulia Utami menikah dengan Galang Putra Hadian. Mereke sudah menikah selama delapan tahun dan di karuniai seorang putri cantik bernama Cantika Alya Putri Hadian, berusia enam tahun. Namun putri mereka memiliki hal yang berbeda dengan putri orang lain pada umumnya. Dia memiliki sesuatu yang spesial.
Rumah tangga mereka sebeanrnya baik-baik saja. Hanya memang satu tahun terakhir Aulia dan Galang sering bertengkar. Dan inti dari masalahnya adalah Cantika, Galang merasa malu memiliki anak yang dia pikir ga-gu. Dan itu semua karena Aulia. Dia menyalahkan Aulia sehingga membuatnya malu saat membawa mereka dalam pertemuan keluarga atau saat acara di kantor.
Semenjak itu, hubungan mereka terasa hambar, Galang seing pulang telat ke rumah.
pertengkaran terus berlanjut, apalagi keluarga Galang juga ikut campur hingga akhirnya Aulia dan Cantika melihat Galang bersama dengan seorang wanita bergandengan mesra. Hati Aulia rasanya semakin membeku. Tak ada lagi alasan untuk bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aulia 27
"Aku bukan cuma bodoh, Bu... Aku hancur!" raung Galang, menjambak rambutnya sendiri hingga kepalanya tertunduk di antara kedua lutut.
"Semua uang tabunganku, bonus akhir tahun kemarin, bahkan dana darurat... semuanya habis untuk membelikan Belinda tas, perhiasan, dan menyewa apartemennya. Aku pikir karierku akan aman dan aku bisa mengganti uang itu setelah promosi jabatan bulan ini!"
Bu Ratna menepuk dadanya sendiri, napasnya mendadak terasa sesak mendengar nominal uang yang menguap begitu saja demi wanita lain.
"Astaga, Galang... Kamu benar-benar sudah gila!" desis Bu Ratna dengan suara gemetar, air mata kemarahan kini mulai menggenang di pelupis matanya yang keriput.
"Ibu selalu membela kamu di depan Aulia karena Ibu pikir kamu adalah anak kebanggaan yang sedang berjuang keras demi keluarga! Tapi ternyata kamu malah membuang-buang uang untuk perempuan jalang?!"
"Sudah, Bu! Jangan cuma meributkan uang yang sudah habis!" potong Rika dengan wajah yang tak kalah panik. Dia mengguncang bahu Galang kasar.
"Galang, pikirkan nasibku! Bulan depan cicilan mobilku harus dibayar, dan kamu sudah janji mau bantu setengahnya! Kalau kamu dipecat dan di blacklist, bagaimana nasib kami?!"
"Kamu ini masih saja memikirkan dirimu sendiri, Rika!" bentak Pak Hendra, suaranya menggelegar di ruang tamu, membuat Rika seketika menciut.
Pak Hendra menatap putra sulungnya dengan pandangan penuh kekecewaan yang mendalam. Sebagai seorang ayah yang selalu bangga akan kesuksesan Galang, kenyataan ini seperti tamparan keras di wajahnya. Ternyata selama ini anaknya malah bermain di tepi jurang dengan berselingkuh bersama wanita bernama Belinda.
"Ayah tidak pernah mengajarimu menjadi seorang pengecut, Galang," ucap Pak Hendra dengan nada dingin yang menusuk.
"Kamu mengkhianati istrimu yang setia, memotong hak anak kandungmu sendiri yang sedang berjuang untuk sembuh, dan sekarang kamu menangis karena takut kehilangan jabatan? Kamu benar-benar tidak punya harga diri! Kamu tahu apa yang kamu lakukan itu tidaklah benar! Hal yang jauh lebih memalukan dari memiliki anak cacat seperti Cantika! Apa yang akan kamu lakukan kalau Aulia berbuat nekad? Memangnya wanita bernama Belinda itu lebih hebat dari istrimu? Mendengar dia hanya bisa menghabiskan uangmu saja sudah bisa ketebak wanita seperti apa dia? Kamu sudah melakukan kesalahan fatal, Galang!"
"Pak... tolong aku, Pak... Aku harus bagaimana?" cicit Galang, menatap ayahnya dengan pandangan memohon.
"Aulia punya semua bukti transferan ke rekening Belinda. Aku juga tak pernah membayar biaya terapi Cantika. Kalau semua itu sampai ke meja direksi, tamat riwayatku."
Tanpa dia tahu jika bahkan Aulia memiliki semua bukti valid yang jauh lebih mengerikan dari perselingkuhannya dengan Belinda. Dan bukti itu akan benar-benar membuat karir dan semua impian Galang bahkan keluarganya akan hancue. Apalagi mereka juga selama ini bergantung dari bantuan finansial dari Galang.
Bu Ratna, meski marah karena uang Galang habis untuk selingkuhannya, otaknya yang licik mulai berputar mencari jalan keluar. Dia tidak sudi melihat anak laki-laki kesayangannya jatuh miskin dan menjadi bahan gunjingan tetangga.
"Tunggu..." Bu Ratna mengusap air matanya kasar, menatap Galang dengan mata menyipit.
"Aulia bilang dia mau menggugat cerai minggu depan, kan? Berarti kita masih punya waktu beberapa hari."
"Waktu untuk apa, Bu?" tanya Galang bingung.
"Untuk merebut kembali apa yang seharusnya jadi milikmu!" ujar Bu Ratna ketus.
"Rumah yang kalian tempati sekarang. Kamu bilang Aulia yang membayar 70% uang mukanya, tapi sertifikat rumah itu atas nama siapa, Galang?"
Galang tertegun sejenak, mencoba mengingat-ingat.
"Atas... atas namaku, Bu. Dulu saat pengurusan berkas, Aulia sengaja memakai namaku agar aku merasa dihargai sebagai kepala keluarga."
Mendengar hal itu, senyum licik langsung terbit di wajah Bu Ratna dan Rika.
"Nah! Itu dia kuncinya!" seru Bu Ratna bersemangat, mengabaikan tatapan tajam nan muak dari Pak Hendra dan Rena.
"Secara hukum, sertifikat itu atas namamu! Jadi rumah itu adalah milikmu. Aulia tidak bisa membuktikan apa-apa jika tidak ada hitam di atas putih bahwa dia yang membayar uang mukanya."
"Tapi, Bu, Aulia bilang dia menyimpan semua bukti transfer dan kuitansi pembayaran masa lalu," sela Galang, masih dilingkupi rasa cemas.
"Bukti transfer bisa dimanipulasi, kita bisa bilang itu adalah uang yang dia pinjamkan kepadamu, atau hadiah pernikahan!" sahut Rika ikut memprovokasi.
"Galang, jangan mau terlihat lemah di depan Aulia. Besok, kita harus datang ke rumah itu sebelum dia sempat mendaftarkan gugatannya ke pengadilan. Kita ambil semua dokumen penting, sertifikat, dan kalau perlu, usir dia dan anak cacatnya itu tanpa membawa apa pun!"
"Cukup!"
Rena berdiri dari duduknya dengan napas memburu. Dia menatap ibu dan kakak perempuannya dengan pandangan tidak percaya.
"Kalian ini benar-benar tidak punya hati nurani, ya? Mas Galang yang berselingkuh, Mas Galang yang berkhianat, tapi kalian malah berencana merampok hak Mbak Aulia dan Cantika?" tanya Rena dengan suara bergetar menahan tangis keheranan.
"Rena! Jaga mulutmu! Siapa yang kamu bela sekarang, hah?!" bentak Bu Ratna murka.
"Aku membela kebenaran, Bu! Selama ini aku diam melihat bagaimana Ibu dan Mbak Rika selalu menuntut Mbak Aulia, menyindirnya karena Cantika belum bisa bicara, padahal Mbak Aulia berjuang sendirian tanpa dukungan Mas Galang! Dan sekarang, setelah Mas Galang melakukan kesalahan fatal, kalian masih mau menindasnya?"
Rena menatap Galang dengan tatapan jijik.
"Mas Galang, bersiaplah untuk hancur. Karena apa yang kamu tabur, itulah yang sekarang harus kamu tuai."
Setelah mengatakan itu, Rena melangkah lebar meninggalkan ruang tamu dan membanting pintu kamarnya dengan keras, menyisakan ketegangan yang semakin memuncak di antara mereka yang tersisa di ruang tamu. Walau selama ini dia juga terhasut oleh keluarga dan tak menyukai Aulia. Namun mendengar Galang berkhianat dan bahkan menghabiskan uang untuk wanita itu. Sisi sesama wanitanya muncul. Bagaimana kalau posisi Aulia ada padanya? Apalagi dia memiliki dua anak yang masih kecil-kecil dan tak memiliki pekerjaan atau keahlian lainnya untuk mencari biaya nantinya.