Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda Cinta dan Pulang sebagai Nyonya Alkantara
Pagi di Maladewa tidak pernah secerah ini.
Isyana terbangun karena silau matahari yang masuk dari jendela vila yang sengaja dibiarkan terbuka oleh Brayen. Dia mengerjap beberapa kali. Selimut sutra putih masih membungkus tubuhnya. Rambutnya berantakan indah.
Dia menoleh ke samping. Brayen tidak ada.
"Mas?" suaranya masih serak baru bangun, manja banget.
Tidak ada jawaban. Hanya suara ombak dan... wangi masakan?
Isyana duduk, selimutnya turun sedikit. Slip sutra putih semalam masih dia pakai. Dia berdiri pelan, kakinya masih agak lemas. Dia berjalan ke cermin besar di kamar.
Dan... dia membeku.
Di lehernya. Di bawah telinga kirinya. Ada tanda merah kecil. Kiss mark. Jelas banget.
"MAS BRAYEN ALKANTARA!!!" teriak Isyana, wajahnya langsung merah padam sampai ke dada.
Dari dapur outdoor vila, Brayen muncul. Shirtless! Hanya pakai celana pendek linen krem, celemek putih, rambutnya masih acak-acakan, membawa wajan.
"Ya, Berlian Mas? Pagi," sapa Brayen dengan senyum paling innocent, seolah tidak melakukan apa-apa semalam.
Isyana menunjuk lehernya dengan panik, "Ini apa?! Mas! Gimana kalau Mbak villa lihat? Gimana kalau tadi Kakek video call lagi?!"
Brayen meletakkan wajan, berjalan mendekat. Dengan santainya dia menarik Isyana ke dalam pelukannya. Isyana masih pakai slip sutra tipis itu, jadi kulitnya langsung bersentuhan dengan dada bidang Brayen yang hangat.
"Bagus. Biar semua orang tau kamu punya Mas," bisik Brayen, lalu dengan sengaja dia mencium lagi di tempat yang sama, membuat Isyana melenguh kecil kaget, "Di sini, dan di sini."
"Mas mesum!" Isyana memukul dada Brayen, tapi pukulannya tidak ada tenaganya sama sekali. Dia justru menyembunyikan wajahnya di dada Brayen karena malu.
Brayen tertawa puas. Menggendong Isyana ala bridal style kembali ke tempat tidur.
"Udah, jangan marah. Mas bikinin breakfast. Hari ini kita gak ada photoshoot. Cuma kita berdua."
Breakfast itu... berantakan tapi romantis. Brayen memang bukan koki. Telurnya agak gosong, rotinya agak keras. Tapi Isyana memakannya dengan lahap sambil duduk di pangkuan Brayen di bean bag balkon.
"Mas, kapan kita pulang?" tanya Isyana sambil menyuapi Brayen.
"Besok sore. Mas ada meeting penting di Jakarta. Tapi..." Brayen menatap Isyana dalam, "Mas gak mau pulang kalau kamu masih malu-malu sama Mas kayak gini. Mas mau kamu lebih berani."
Isyana menatap balik, "Berani gimana?"
Brayen mendekatkan wajahnya, jarak mereka hanya satu senti, "Berani bilang kalau kamu cinta sama Mas. Bukan cuma angguk-angguk malu."
Isyana terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Selama ini dia memang selalu malu. Selalu menunduk. Selalu jadi Isyana yang pemalu.
Tapi pagi itu, dengan sinar matahari, dengan bekas ciuman di lehernya, dengan Brayen yang menatapnya begitu tulus...
"Aku... aku cinta sama Mas Brayen," bisik Isyana, suaranya gemetar tapi jelas, "Cinta banget."
Dan itu adalah pertama kalinya Isyana mengatakannya dengan lantang, tanpa disuruh, tanpa digoda.
Mata Brayen membulat. Lalu... dia memeluk Isyana begitu erat sampai Isyana susah napas. Dia mencium kening Isyana bertubi-tubi.
"Ulangin," pinta Brayen manja, seperti anak kecil.
Isyana tertawa, air matanya keluar karena haru, "Aku cinta Mas Brayen Alkantara! Suami aku!"
Dan di balkon itu, di pagi terakhir mereka di Maladewa, mereka berpelukan lama sekali. Tidak ada nafsu. Hanya cinta yang akhirnya terucap.
...****************...
Perjalanan pulang terasa berbeda.
Di private jet Alkantara, Isyana tidak lagi duduk kaku di sebelah Brayen seperti saat berangkat. Sekarang dia tidur pulas di bahu Brayen, memakai hoodie kebesaran milik Brayen, kaki dilipat di atas kursi, kalung Diamonds Alkantara _The Ocean's Queen_ sudah disimpan rapi di kotak, diganti dengan kalung bulan sabit 1,2 Miliar yang menjadi favoritnya.
Brayen tidak tidur. Dia hanya menatap Isyana yang tidur, sesekali membetulkan selimut, sesekali membalas email kerja dengan satu tangan, tangan satunya tetap memeluk Isyana.
Pilot mengumumkan, "Mr. Alkantara, 30 menit lagi landing di Jakarta."
Brayen membangunkan Isyana dengan ciuman di kening, "Berlian, bangun. Kita hampir sampai rumah."
Isyana mengerjap, "Udah sampai? Cepet banget..."
"Karena kamu tidur terus. Ngorok lagi," goda Brayen.
"Mas! Aku gak ngorok!" Isyana langsung duduk tegak, ngambek manja.
Brayen tertawa, "Iya, kamu gak ngorok. Kamu ngigau. Mangil 'Mas Brayen jangan tinggalin aku' terus."
Isyana menutup wajahnya, "Bohong!"
Saat jet mendarat, sudah ada mobil Rolls Royce hitam dan tim pengawal Alkantara menunggu. Tapi bukan itu yang membuat Isyana kaget.
Yang membuat dia kaget adalah... Kakek ada di sana. Di VIP lounge bandara, duduk di kursi roda dengan selimut, ditemani Mama dan Papa Alkantara.
"Kakek?!" Isyana langsung lari, hoodie kebesaran Brayen yang dia pakai berkibar-kibar.
Kakek membuka tangannya, "Cucu mantu Kakek yang paling cantik!"
Isyana memeluk Kakek erat. Kakek mengelus rambut Isyana, "Gimana Maladewa? Brayen gak nakalin kamu kan?"
Isyana melirik Brayen yang sedang salim sama Papanya, lalu berbisik ke Kakek, "Nakalin Kek, banyak!"
Kakek tertawa ngakak, batuk-batuk kecil, "Bagus! Harus nakal! Biar cepet kasih Kakek cicit!"
Isyana lagi-lagi merah padam!
Di perjalanan pulang ke kediaman Alkantara, Isyana bersandar di mobil. Jakarta macet, tapi dia tidak peduli. Dia merasa... pulang. Bukan pulang ke kos lamanya. Tapi pulang sebagai Nyonya Alkantara.
Sampai di rumah utama Alkantara, semua ART sudah berbaris menyambut.
"Selamat datang Nyonya, Tuan," sapa mereka serempak.
Isyana yang dulu canggung kalau dipanggil Nyonya, sekarang hanya tersenyum anggun dan mengangguk, "Terima kasih ya semua."
Brayen merangkul pinggangnya bangga.
Malamnya, setelah dinner keluarga besar yang heboh karena Kakek terus menceritakan betapa cantiknya Isyana di foto Maladewa, Isyana dan Brayen akhirnya kembali ke kamar mereka di lantai 3.
Kamar itu sudah didekorasi ulang. Ada banyak bunga lily putih, foto-foto mereka di Maladewa yang sudah dicetak besar dan dipajang, dan di atas nakas... ada test pack? Bukan, itu kotak kecil lagi.
Isyana menatap Brayen waspada, "Mas, jangan bilang..."
Brayen mengangkat bahu innocent lagi, "Buka aja."
Isyana membuka. Isinya bukan berlian. Bukan lingerie.
Isinya adalah kunci. Kunci dengan gantungan tulisan _Isyana's Gallery_.
"Mas?" Isyana bingung.
Brayen duduk di belakang Isyana, memeluknya, "Lantai 2 yang kosong itu, Mas sudah suruh renov jadi galeri lukis buat kamu. Kamu kan suka lukis? Mas ingat kamu pernah bilang pengen punya galeri kecil."
Air mata Isyana langsung jatuh. Deras.
Dia memang pernah bilang sekali, waktu mereka masih PDKT, waktu Isyana masih jadi staf magang di kantor Alkantara. Dia bilang dia pengen punya galeri kecil untuk pajang lukisannya. Dia pikir Brayen tidak mendengarkan. Ternyata...
"Mas dengerin semua yang kamu omongin, Berlian Mas. Semua," bisik Brayen, menghapus air mata Isyana dengan jarinya.
Isyana berbalik, memeluk Brayen erat-erat, menangis di dadanya, "Makasih Mas... makasih banyak... aku cinta Mas... cinta banget..."
Brayen membalas pelukannya, mencium rambut Isyana, "Mas juga cinta kamu. Lebih dari Berlian mana pun di dunia."
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah honeymoon, mereka tidur bukan sebagai pasangan yang sedang bulan madu. Tapi sebagai suami istri yang pulang ke rumah. Isyana tertidur di dada Brayen, dengan kunci galerinya masih digenggam erat, dan dengan status baru di hatinya:
Dia bukan lagi gadis pemalu yang insecure.
Dia adalah Isyana Alkantara. Nyonya Alkantara. Berlian Brayen yang akhirnya menemukan tempatnya
----Tamat Season Honeymoon---