Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 7
Siren polisi yang melolong samar-samar di sekitar Bahama Mamas makin menegaskan kenyataan pahit yang harus mereka hadapi. Tanpa mengeluarakan sepatah kata pun, Franklin, Lamar, dan Andika berbalik kembali ke mobil. Kesedihan atas kematian L.J. dalam sekejap menguap, berganti menjadi amarah pekat yang membakar dada.
Mobil Franklin melaju cepat membelah malam yang makin kelam, memotong rute-rute utama hingga akhirnya berhenti tepat di depan gerbang besi gudang rahasia mereka di Cypress Flats.
Kreeek...
Pintu besi digeser kasar. Di dalam ruangan yang remang-remang itu, tumpukan peti kayu berisi amunisi dan senjata kelas militer milik L.J. masih berdiri kokoh. Merekalah satu-satunya warisan yang ditinggalkan kawan Jamaika mereka.
Lamar melangkah mendekati salah satu peti besar, membukanya menggunakan linggis dengan sekali sentakan keras. Brak!
"Bajingan-bajingan Cina itu harus bayar tunai malam ini!" teriak Lamar penuh amarah, matanya memerah menahan tangis dan dendam. "Mereka membunuh L.J., membakar mobil Andika... mereka pikir kita cuma kroco yang bakal sembunyi di bawah tempat tidur?!"
Lamar menyambar sebuah AK-47 otomatis yang masih berpelumas pabrik, memasangkan magazin ganda, lalu menyisipkan pistol Glock hitam di pinggangnya.
Franklin melangkah maju, wajahnya yang biasa tenang kini mengeras bagaikan batu karang. Tanpa ragu, ia menyambar sebuah Shotgun berkaliber berat dan satu pucuk AK-47 cadangan, lalu menggantungkan sabuk peluru di dada.
"Mereka yang memulai perang ini," kata Franklin dingin sambil mengokang senjata. "Kita yang akan mengakhirinya."
Andika melangkah ke peti tempat senjata berkaliber cepat tersimpan. Dengan tatapan mata yang tajam, ia mengambil dua pucuk Micro Uzi ganda dan menyisipkan sebuah Pistol berkaliber 9mm di balik jaket kulitnya. Rantai dompet dan t-shirt metal barunya tertutup amunisi yang tersusun di sabuk.
"Saya tidak akan kembali ke La Puerta sebelum kepala Lee Dong dan Shen menggelinding di jalanan," ujar Andika datar, suaranya tenang namun sarat ancaman mati.
"Dengar," kata Lamar sambil menunjuk peta wilayah di atas meja. "Lee Dong punya satu markas operasional sekaligus klub malam eksklusif di dekat pantai kawasan Pacific Bluffs—Red Dragon Club. Tempat itu adalah sarang utama tempat anak buah Shen berkumpul setiap malam. Kita ratakan tempat itu!"
"Setuju!" sahut Franklin dan Andika serempak.
Ketiganya mengokang senjata masing-masing. Suara klik-klak besi senjata menggema gagah di dalam gudang yang dingin. Dengan senapan terkokang dan dada dipenuhi api dendam atas kematian Little Jacob, tiga orang yang tersisa itu melangkah keluar menuju mobil, siap melancarkan aksi pembalasan dendam paling berdarah di Los Santos.
Suara kokangan senjata berat beradu di dalam kabin mobil Franklin yang melaju membakar aspal malam. Tidak ada musik, tidak ada obrolan santai. Hanya napas memburu dan hawa membunuh yang pekat. Franklin mencengkeram kemudi erat-erath, sementara Lamar di sampingnya terus memeriksa magazin AK-47 miliknya. Di kursi belakang, Andika menyandarkan kepala, jemarinya cengkeram erat dua pucuk Micro Uzi yang dingin.
Hanya butuh sepuluh menit bagi mereka untuk sampai di kawasan Pacific Bluffs. Neon merah berbentuk naga raksasa menyala terang menyapu kegelapan malam: Red Dragon Club.
Sreewwkh!
Franklin membanting setir, menghentikan mobil tepat secara melintang di depan pintu masuk utama klub. Tanpa menunggu hitungan detik, ketiganya melompat keluar!
Dua bodyguard jangkung berjas hitam yang menjaga pintu depan bahkan belum sempat menarik senjatanya saat Andika dan Franklin membuka serangan mendadak.
BANG! BANG!
Tembakan jarak dekat dari pistol Andika dan Shotgun Franklin menghantam dada kedua penjaga itu hingga tubuh mereka terlempar menghantam pintu kaca! Prang! Kaca tebal hancur berkerak.
Andika dan Lamar menyepak sisa pintu kaca hingga terbuka lebar. Franklin melangkah masuk lebih dulu, mengarahkan moncong AK-47 ke arah langit-langit klub dan menekan pemicu penuh.
DADA-DADA-DADA-DADA-DAT!
Lampu gantung kristal hancur memercikkan api. Dentuman musik house berhenti seketika, berganti dengan jeritan histeris ribuan pengunjung yang panik, saling injak berebutan lari keluar lewat pintu belakang dan samping.
Dalam hitungan detik, lantai dansa yang penuh asap buatan melanggar sunyi... menyisakan belasan anak buah Ying Long berjas hitam yang langsung menyebar di balik meja VIP, bar, dan tiang-tiang beton!
"BUNUH MEREKA!" teriak salah satu komandan Ying Long dari balik meja bar.
DADA-DADA-DAT! BANG! BANG! BANG!
Baku tembak brutal pecah seketika! Hujan peluru dari belasan senapan submesin MAC-10 musuh menyapu pintu depan. Franklin, Lamar, dan Andika langsung melempar tubuh berlindung di balik tiang beton utama. Serpihan semen dan pecahan botol minuman mahal beterbangan menggores udara.
"Andika! Buka tembakan dari kiri! Lamar, tahan posisi tengah!" teriak Franklin di tengah ketulian suara letusan senjata.
Andika merayap cepat ke balik sofa kulit, memegang satu Micro Uzi di masing-masing tangan. Dengan refleks kilat, ia muncul dari samping sofa dan memuntahkan badai peluru ganda!
RATATATATATATAT!
Dua anak buah Ying Long yang mencoba maju dari sisi kiri roboh bersimbah darah, tubuh mereka tersentak-sentak menghantam lantai dansa!
"Maju! Jangan kasih mereka bernapas!" raung Lamar. Ia berdiri dari balik tiang, mengarahkan AK-47-nya secara liar ke arah bar. Peluru-peluru berkaliber berat menghancurkan jajaran botol alkohol mahal, memicu kobaran api kecil dari tumpukan minuman keras yang tersulut!
BOOM!
Salah satu meja VIP meledak terhantam tembakan Shotgun Franklin, melempar dua musuh tersisa hingga terhempas ke dinding.
Baku tembak berlangsung sangat sengit. Asap mesiu yang pekat dan bau darah memenuhi seluruh ruangan klub. Andika bergerak sangat lincah, berguling dari sofa ke sofa, mengosongkan magazin Uzi-nya untuk menghabisi anggota musuh yang bersembunyi.
BANG!
Satu tembakan terakhir dari pistol Andika menembus dahi anggota Ying Long terakhir yang mencoba merayap kabur.
Hening mendadak menyergap. Hanya ada suara alarm kebakaran yang membentak nyaring dan hembusan napas tersengal dari mereka bertiga. Belasan anak buah Ying Long bergelimpangan tak bernyawa di atas lantai yang basah oleh alkohol dan darah.
"LEE DONG! SHEN! KELUAR KALIAN BAJINGAN!" teriak Lamar penuh amarah, suaranya bergema di ruangan yang hancur.
Mereka bertiga menendang pintu-pintu kantor VIP, menyisir ruang belakang hingga ruang brankas. Tapi nihil. Lee Dong dan Shen sama sekali tidak ada di sana.
"Sialan! Mereka tidak ada di sini!" umpat Franklin sambil menendang meja kerja kayu mahal hingga patah.
Rasa frustrasi dan dendam yang belum tuntas membakar dada mereka. Tanpa perlu aba-aba, ketiganya mulai melampiaskan amarah secara brutal. Lamar mengarahkan AK-47-nya memuntahkan sisa peluru ke layar LED raksasa dan interior klub. Franklin menggunakan Shotgun-nya untuk meremukkan bar, lampu-lampu gantung, dan patung naga giok di sudut ruangan.
Andika mengambil botol minuman beralkohol tinggi yang menyala dari bar, lalu melemparkannya ke tengah sofa VIP yang mulai terbakar. Kobaran api raksasa dengan cepat menjalar, melalap seluruh fasilitas klub malam mewah itu menjadi tempat pembakaran sampah.
"Tempat ini sudah rata," ujar Andika dingin, menatap kobaran api yang memantul di mata hitamnya. "Tapi Lee Dong dan Shen masih berkeliaran."
"Kita cari mereka sampai ke ujung dunia," balas Franklin tegas.
Dengan senjata masih mengusap asap hangat, ketiganya berjalan mundur keluar dari Red Dragon Club yang membara, melangkah masuk ke mobil Franklin, dan melesat menghilang ke dalam kegelapan malam Los Santos sebelum sirine mobil polisi tiba.