NovelToon NovelToon
Pembalasan CEO Gemuk

Pembalasan CEO Gemuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Time Travel
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.

Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Jerat Umpan Sang Ratu

Di koridor ruang tahanan Polsek Kawasan Industri, udara malam terasa dingin dan berbau lembap. Siska duduk di kursi kayu keras dengan tangan bergetar, memandangi Rendy yang duduk di seberang meja pemeriksaan dengan wajah lesu dan rambut berantakan.

Pengacara keluarga Kusuma baru saja meninggalkan ruangan setelah menyerahkan jaminan penangguhan penahanan sementara atas permintaan mendadak dari Alya sendiri.

"Ini tidak masuk akal, Rend..." bisik Siska panik, matanya bergerak liar menatap pintu keluar. "Kenapa Alya tiba-tiba menyuruh pengacaranya mencabut laporan tuduhan sabotase itu? Kenapa dia membebaskan kita malam ini juga?"

Rendy mengusap wajahnya yang kasar, mencoba menata kembali sisa-sisa kesombongannya yang sempat hancur. "Kamu tidak dengar apa yang dikatakan pengacaranya tadi? Alya tidak mau ada skandal media yang merusak harga saham perusahaan menjelang peluncuran proyek kementerian."

"Tapi... tapi dia tahu kamu yang menyuruh orang itu!" cecar Siska.

"Dia menduga, Siska. Dia tidak punya bukti kuat bahwa aku yang memberi perintah langsung secara sadar," kilih Rendy, menyunggingkan senyum licik yang kembali tumbuh di bibirnya. "Cewek itu cuma panik. Dia tahu kalau aku masuk penjara, operasi divisi pabrik minggu ini bakal terbengkalai. Dia masih membutuhkan aku!"

Sebelum Siska sempat membalas, pintu ruang pemeriksaan terbuka.

Alya melangkah masuk dengan gaun kerja warna krem yang membalut tubuhnya secara elegan. Langkah kakinya terdengar tenang dan teratur. Di belakangnya, Kai berjalan mendampingi dengan postur tegap, wajahnya datar tanpa ekspresi, namun tatapan matanya tetap mengawasi setiap pergerakan Rendy dan Siska.

Siska refleks berdiri dari kursinya, berusaha memasang raut wajah penuh penyesalan yang dibuat-buat. "Al... Alya! Demi Tuhan, ini semua salah paham! Rendy cuma mau—"

Alya mengangkat satu tangannya dengan anggun, menyetop kalimat Siska seketika. Alya mengambil tempat duduk di kursi utama, menyilangkan kakinya dengan tenang, lalu menatap Rendy dan Siska secara bergantian.

"Tidak perlu drama, Siska," ujar Alya, suaranya terdengar sangat santai, bahkan hampir ramah—sebuah nada bicara yang sangat bertolak belakang dengan ketegangan di dalam ruangan tersebut. "Aku ke sini cuma mau meluruskan beberapa hal agar besok pagi kalian bisa bekerja seperti biasa."

Rendy dan Siska saling bertukar pandang, terpaku kaget.

"B-bekerja seperti biasa?" ulang Rendy ragu, matanya meneliti raut wajah Alya. "Maksudmu... aku tidak dipecat?"

Alya terkekeh pelan—sebuah tawa kecil yang terdengar begitu wajar dan polos. "Kenapa harus dipecat, Pak Rendy? Laporan kepolisian tadi malam cuma tindakan antisipasi standar dari tim keamanan Kai. Setelah kuperiksa kembali, ternyata itu hanya miskomunikasi antara pihak vendor dan tim malam."

Kai yang berdiri di belakang Alya tidak bersuara sedikit pun. Pria itu sengaja memainkan perannya sesuai dengan rencana permainan yang disusun Alya sejam lalu di dalam mobil. Kai hanya melipat tangannya di dada, memberikan tekanan psikologis yang tak kasat mata.

Rendy menelan ludah, rasa percaya dirinya yang sempat hancur kini membumbung tinggi kembali. Sudah kuduga! Cewek ini cuma pura-pura gertak sambal di depan Kai! Dia tidak berani kehilangan aku! batin Rendy penuh kemenarikan.

"Alya... jadi yang di ballroom kemarin malam, dan kejadian di gudang tadi..." Rendy memajukan tubuhnya, mencoba memasang nada suara yang terdengar puitis dan penuh perhatian. "Kamu bersikap dingin begitu cuma karena ada media dan tekanan dari Pak Kai, kan? Kamu sebenarnya tidak berniat mempermalukan aku, kan?"

Alya menatap Rendy dengan binar mata yang sengaja dibuat sedikit redup dan ragu-ragu—umpan sempurna untuk pria narsis seperti Rendy.

"Tentu saja, Rendy," kata Alya pelan, mengatur intonasi suaranya agar terdengar seperti wanita yang sedang tertekan oleh keadaan. "Di depan umum dan jajaran direksi, aku harus menjaga profesionalitas sebagai pimpinan. Kalau aku terlihat terlalu dekat atau membela kamu di depan Pak Kai dan ayahku, reputasi kamu sendiri yang bakal diserang oleh jajaran manajemen senior. Aku melakukan itu demi melindungi posisimu."

Siska menghela napas lega yang amat sangat panjang, dadanya yang tegang seketika rileks. "Ya ampun, Alya! Aku pikir kamu sungguh-sungguh marahi kita! Aku sampai gemetaran dari tadi!"

Alya berpaling menatap Siska, memberikan senyuman tipis yang sangat hangat. "Mana mungkin aku tega pada sahabatku sendiri, Siska? Mengenai gaun hijau yang kupakai kemarin malam... itu hadiah mendadak dari ibunya Kai untuk menghormati aliansi perusahaan. Aku tidak enak kalau tidak memakainya. Gaun merah pilihanmu tetap favoritku, kok. Nanti akan kupakai di acara internal kita."

Siska tersenyum lebar, rasa irinya yang sempat membakar kini tertutupi oleh rasa superiority yang mendadak kembali. Dasar cewek bodoh, batin Siska bersorak girang. Dia memang masih cewek gemuk lugu yang gampang dibodohi! Dia cuma takut kehilangan Rendy dan takut dipandang sebelah mata oleh keluarga Kai!

Rendy menyunggingkan senyum kemenangan. Ia melangkah mendekati meja Alya, hendak memegang tangan Alya. "Alya... terima kasih sudah percaya padaku. Aku janji, proyek kementerian besok akan berjalan sempurna di tanganku. Dan mengenai hubungan kita—"

"Ekhem."

Kai berdeham pelan dengan suara berat yang seketika menghentikan pergerakan tangan Rendy di udara. Kai melangkah satu tapak ke depan, menatap Rendy dengan dingin.

Alya berdiri dari kursinya, menarik tangannya secara halus sebelum Rendy sempat menyentuhnya.

"Mengenai hubungan kerja kita, Pak Rendy," potong Alya dengan senyuman manis yang membingungkan. "Aku ingin semuanya tetap berjalan profesional. Untuk membuktikan dedikasi dan membersihkan namamu dari rumor sabotase tadi malam, aku memberimu wewenang penuh untuk memegang seluruh anggaran dan pengadaan material tahap kedua proyek kementerian minggu depan."

Mata Rendy seketika membelalak gembira. Anggaran tahap kedua? Itu nilainya belasan miliar!

"Kamu... kamu sungguh-sungguh menyerahkan anggaran itu padaku?" tanya Rendy, suaranya sampai bergetar oleh keserakahan yang tak tertahankan.

"Tentu saja," jawab Alya mantap. "Aku butuh orang yang paling kupercaya untuk memegang dana sebesar itu. Dan Siska... aku mau kamu yang mengaudit semua kuitansi pendaftarannya secara pribadi sebelum masuk ke mejakul. Jangan lewatkan satu rupiah pun."

"Siap, Alya! Percayakan semuanya padaku!" sahut Siska antusias, membayangkan komisi dan uang bagian yang bisa ia sisipkan ke dalam rekening pribadinya nanti.

Alya merapikan tas tangannya, lalu menoleh ke arah Kai. "Ayo, Kai. Kita harus kembali ke kantor pusat. Ada rapat aliansi yang harus kita selesaikan."

Kai mengangguk pelan. "Tentu, Bu Alya."

Sebelum melangkah keluar dari ruangan, Alya membalikkan badannya sebentar, menatap Rendy dan Siska yang sedang tersenyum cerah.

"Sampai bertemu di kantor besok pagi, Rendy, Siska. Jangan kecewakan aku ya," kata Alya lembut.

"Pasti, Sayang—maksudku, Bu Alya! Kami tidak akan mengecewakanmu!" seru Rendy penuh rasa percaya diri yang meluap-luap.

Pintu ruang tahanan tertutup rapat.

Begitu mereka melangkah menyusuri koridor luar yang sepi menuju area parkir VIP, senyuman manis di wajah Alya seketika hilang tanpa bekas. Raut wajahnya berubah menjadi amat sangat dingin, tegas, dan penuh kendali.

Kai yang berjalan di sampingnya terkekeh pelan, menatap Alya dengan kekaguman yang tak tertutup-tupi.

"Kamu benar-benar aktris yang luar biasa, Alya," ujar Kai, suaranya dipenuhi rasa bangga. "Cara kamu memainkan emosi dan keserakahan Rendy tadi... betul-betul tanpa celah."

Alya menghembuskan napas pelan, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi. "Pria seperti Rendy dan wanita seperti Siska itu sangat mudah dibaca, Kai. Ketika mereka merasa terdesak, mereka panik. Tapi begitu kita beri sedikit umpan berupa pengakuan ego dan wewenang uang, rasa percaya diri mereka yang buta akan langsung kembali."

"Umpan anggaran tahap kedua itu..." Kai menaikkan sebelah alisnya, menatap Alya intens. "Kamu sengaja membiarkan mereka memegang dana belasan miliar itu agar mereka melakukan pemalsuan skala besar?"

"Tepat sekali," jawab Alya tegas seraya masuk ke dalam mobil sedan hitam Kai yang sudah dibukakan oleh pengawal.

Kai masuk dan duduk di samping Alya, menyuruh pengemudi untuk mulai menjalankan kendaraan membelah jalanan malam kota Jakarta.

Alya bersandar di kursi kulit mobil yang empuk, memandangi gemerlap lampu kota di luar jendela.

"Kalau aku menjatuhkan Rendy tadi malam atas tuduhan sabotase gudang," terang Alya mendalam, "hukumannya paling hanya beberapa tahun penjara karena buktinya masih dianggap percobaan. Tapi kalau aku memberikan wewenang penuh atas anggaran belasan miliar... keserakahan Rendy dan Siska akan membuat mereka memalsukan dokumen negara dan melakukan penggelapan dana korporat secara masif."

Kai tersenyum lebar, menyandarkan tubuhnya mendekati Alya. Tangannya terulur, menggenggam jemari Alya dengan hangat dan protektif.

"Dan saat mereka merasa berada di puncak kemenangan karena berhasil mencuri uang itu," sambung Kai, melanjutkan jalan pikiran Alya, "kamu akan menjatuhkan jebakan audit resmi bersama pihak kejaksaan."

"Tepat," bisik Alya, menoleh menatap mata Kai. "Aku tidak cuma mau mereka dipecat atau dipenjara sebentar. Aku mau memastikan Rendy dan Siska hancur secara finansial, nama baik mereka busuk selamanya di dunia industri, dan mereka menghabiskan sisa umur mereka di balik jeruji besi tanpa ada celah untuk keluar."

Kai mengusap punggung tangan Alya dengan ibu jarinya, menyalurkan rasa tenang dan dukungan penuh yang tak terbatas.

"Aku akan menyuruh tim hukum dan auditor forensik terbaik dari perusahaanku untuk mengawasi setiap transaksi yang dibuat Siska mulai besok pagi," kata Kai mantap. "Satu sen pun uang yang mereka sentuh akan menjadi bukti mutlak di pengadilan nanti."

Alya menatap wajah tampan Kai yang begitu dekat darinya. Rasa syukur yang mendalam membuncah di dalam dadanya. Di kehidupan pertamanya, ia bertarung sendirian dalam kegelapan hingga akhirnya terbunuh secara tragis. Namun kini, ia tidak lagi sendirian. Di sampingnya berdiri seorang pria yang tidak hanya mencintainya dengan tulus, tetapi juga menjadi pelindung dan mitra yang sangat cerdas.

"Terima kasih, Kai," bisik Alya lembut, menyandarkan kepalanya di bahu tegap Kai. "Karena sudah percaya padaku dan membiarkanku memainkan permainan ini."

Kai merangkul bahu Alya secara protektif, mencium kening Alya dengan penuh kehangatan dan rasa sayang yang murni.

"Apapun yang ingin kamu lakukan, Alya... aku akan selalu berdiri di belakangmu untuk memastikan kamu tidak akan pernah jatuh lagi," bisik Kai di telinga Alya.

Mobil mewah itu meluncur mulus menembus keheningan malam. Di balik kegelapan Jakarta, dua benalu yang merasa telah berhasil membodohi sang ratu tidak pernah menyadari bahwa tali jerat hukum dan kehancuran total sudah melingkar erat di leher mereka sendiri—tinggal menunggu waktu bagi Alya untuk menariknya rapat-rapat.

1
Ayu Ara12
next
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NinLugas: ok kk d tnggu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!