Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.
Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.
Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Malam Pertama di Pengungsian
Mereka tiba di Dusun Karangtengah menjelang magrib, ketika langit sudah berubah keunguan dan udara pegunungan mulai menusuk tulang. Dusun itu kecil, hanya terdiri dari belasan rumah panggung yang berjejer di lereng bukit, dikelilingi kebun kopi dan ladang jagung yang menghijau samar dalam cahaya senja yang meredup.
Penduduk dusun, yang sudah diberi tahu sebelumnya oleh kenalan Kiai, menyambut rombongan dengan hangat meski sumber daya mereka terbatas. Beberapa rumah kosong dan lumbung dikosongkan untuk menampung para santri, dipisahkan seperti biasa antara putra dan putri, meski kali ini hanya dibatasi oleh dinding bambu tipis dan kesepakatan tak tertulis untuk saling menjaga sopan santun di tengah keterbatasan.
Zaki dan Darto mendapat tempat di sebuah lumbung besar bersama belasan santri putra lainnya, beralaskan tikar pandan yang sudah usang. Tubuhnya terasa remuk setelah berjalan lebih dari dua belas jam, tapi pikirannya masih terlalu penuh untuk segera tidur.
"Kang," bisik Darto dalam gelap, suaranya lirih menahan lelah, "kita berhasil sampai."
"Alhamdulillah," jawab Zaki pelan. "Tapi ini baru awal, kan?"
"Iya. Baru awal." Darto terdiam sejenak. "Besok kita harus mulai mengatur hidup di sini. Cari air, cari kayu bakar, bantu penduduk sekitar."
Zaki mengangguk dalam gelap, meski Darto tidak bisa melihatnya. Ia menoleh ke arah dinding bambu tipis yang memisahkan lumbung mereka dengan tempat santriwati beristirahat. Dari sana, samar-samar terdengar suara perempuan-perempuan yang berbisik lelah, dan sesekali suara batuk kecil, mungkin dari salah satu santriwati yang kedinginan.
Ia berharap salah satu suara itu adalah Nafisah, sehat dan selamat.
Keesokan paginya, kesibukan baru dimulai. Kiai Wahid mengumpulkan seluruh santri untuk membagi tugas: sebagian membantu penduduk dusun mengurus ladang sebagai balas budi atas tempat tinggal yang diberikan, sebagian lain ditugaskan mendirikan dapur umum sederhana untuk memasak bagi seluruh rombongan, dan sisanya melanjutkan kegiatan mengaji seperti biasa, meski dengan fasilitas yang jauh lebih sederhana.
Zaki dan Darto ditugaskan membantu mendirikan dapur umum di dekat sungai kecil yang mengalir di pinggir dusun. Bersama beberapa santri lain, mereka menyusun batu-batu menjadi tungku sederhana dan mengumpulkan kayu bakar dari hutan sekitar.
"Kang, lihat," bisik Darto sambil menunjuk dengan dagu.
Zaki menoleh. Di seberang sungai, sekelompok santriwati sedang mencuci pakaian dan mengambil air, dipimpin oleh Bu Nyai yang mengawasi dengan sabar. Di antara mereka, Nafisah terlihat sedang mengisi sebuah kendi besar, wajahnya lelah tapi tampak baik-baik saja.
Untuk sesaat, mata mereka bertemu dari kejauhan. Nafisah tersenyum tipis, dan Zaki membalas dengan anggukan kecil, cukup untuk menyampaikan bahwa mereka berdua sama-sama selamat, sama-sama bertahan.
"Kang Zaki, jangan bengong," tegur seorang santri lain sambil menyerahkan kayu bakar. "Tungkunya belum selesai."
"Iya, maaf." Zaki kembali fokus pada pekerjaannya, meski senyum kecil itu masih tertinggal di sudut hatinya, memberi kehangatan di tengah dinginnya udara pegunungan dan beratnya keadaan yang mereka hadapi.
Dapur umum di pengungsian jauh berbeda dari dapur umum di Al-Hikmah. Tidak ada lubang pemberian yang memisahkan sisi putra dan putri. Sebagai gantinya, ada sebuah area terbuka di dekat sungai, tempat kedua kelompok bekerja berdampingan dalam jarak yang diawasi ketat oleh para ustaz dan ustazah, tapi tidak lagi terhalang tembok bata yang kokoh.
Sore harinya, ketika Zaki ditugaskan mengantar kayu bakar ke area masak, ia berpapasan dengan Nafisah yang sedang membawa keranjang berisi sayuran hasil kebun penduduk.
"Kang Zaki," sapanya pelan, berhenti sejenak dengan jarak yang aman, sekitar dua meter, meski tidak ada Ustaz Malik yang mengawasi seperti biasa. "Alhamdulillah, Kang selamat."
"Alhamdulillah, Mbak Nafisah juga selamat." Zaki tersenyum, meski lelah masih terasa di seluruh tubuhnya. "Bagaimana keadaan di sana?"
"Berat, tapi kami bertahan. Bu Nyai sangat sabar mengurus kami semua." Nafisah menatap sekeliling, memastikan tidak ada yang terlalu memperhatikan, lalu melanjutkan lebih pelan, "Kang, terima kasih sudah selamat sampai sini. Semalam saya tidak bisa tidur karena khawatir."
"Saya juga," jawab Zaki jujur. "Setiap kali dengar suara asing, saya langsung berpikir yang tidak-tidak."
Mereka berdiri sejenak dalam diam yang nyaman, meski di sekitar mereka kesibukan pengungsian terus berjalan: suara kapak memotong kayu, suara air mengalir, suara anak-anak kecil yang menangis karena lapar atau lelah.
"Kang," kata Nafisah lagi, suaranya lebih pelan. "Saya tidak tahu berapa lama kita akan di sini. Tapi saya ingin Kang tahu, keadaan seperti ini tidak mengubah apa yang sudah kita bangun. Justru mungkin menguatkannya."
Zaki menatapnya, dada penuh oleh sesuatu yang sulit ia ungkapkan dengan kata-kata sederhana. "Saya setuju, Mbak. Zaman boleh berubah, tapi hati yang jujur tidak akan goyah karenanya."
Dari kejauhan, terdengar suara Bu Nyai memanggil, dan Nafisah buru-buru mengangguk pamit, membawa keranjang sayurannya kembali ke arah dapur umum. Zaki menatap punggungnya yang menjauh, lalu kembali ke tugasnya sendiri dengan hati yang, meski di tengah keadaan yang serba tidak pasti, terasa sedikit lebih ringan.
Malam itu, ketika seluruh rombongan berkumpul untuk salat isya berjamaah di sebuah lapangan terbuka, diterangi obor-obor kecil yang ditancapkan di tanah, Kiai Wahid memimpin doa panjang, memohon keselamatan bagi seluruh santri, bagi desa yang mereka tinggalkan, dan bagi seluruh negeri yang sedang berjuang mempertahankan kemerdekaannya.
Zaki duduk di antara para santri putra, menundukkan kepala dalam doa, dan di tengah keheningan malam pegunungan yang dingin, ia merasakan sesuatu yang aneh: di tengah ketidakpastian dan ketakutan, ada juga rasa syukur yang tumbuh diam-diam, karena ia masih diberi kesempatan untuk berjuang, untuk berharap, dan untuk mencintai, meski dengan cara yang jauh lebih sederhana dari yang pernah ia bayangkan.