Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jantung Sang Bumi
Udara di dasar Zona Mati tidak lagi berbau belerang busuk, melainkan beraroma besi cair dan abu vulkanik murni. Semakin Kaelen, Lyra, dan Silas melangkah masuk ke dalam gua raksasa tersebut, suhu meningkat drastis hingga napas mereka terasa membakar tenggorokan.
Di ujung lorong, pemandangan yang membuat bulu kuduk berdiri menyambut mereka.
Sebuah jurang raksasa menganga di tengah gua. Dari dasar jurang tak berdasar itu, menjulur naik pilar-pilar batu kemerahan yang berdenyut layaknya pembuluh darah—Akar Magma. Akar utama itu berdiameter sebesar menara kastil, memompa cairan lava magis yang bersinar jingga menyilaukan lurus ke atas, menembus lapisan kerak bumi menuju Kastil Adiwangsa. Energi panasnya begitu pekat hingga mendistorsi ruang di sekitarnya.
Namun, yang membuat Kaelen terdiam bukanlah ukuran akar tersebut, melainkan apa yang menjaga akar itu.
Di sekeliling pangkal akar utama, tidur melingkar seekor monster yang ukurannya sepuluh kali lipat dari Chimera rawa di arena Rexor. Tubuhnya terbuat dari obsidian murni dan lahar, dengan retakan-retakan jingga di sekujur punggungnya. Sepasang sayap batunya terlipat, dan napasnya menghembuskan gelombang panas yang melelehkan batu di sekitarnya.
"Golem Lava Purba..." bisik Silas, matanya membelalak ngeri dari balik kacamata pelindungnya. Ia mundur selangkah, kakinya gemetar. "Ini gila, Kaelen. Monster ini adalah manifestasi langsung dari roh bumi. Zirahnya tidak bisa ditembus senjata fisik, dan sihir elemen apa pun hanya akan membuatnya semakin kuat."
Lyra mencabut kedua belatinya, namun ia tahu senjata itu tidak lebih dari tusuk gigi jika berhadapan dengan monster gunung berapi tersebut. "Aku setuju dengan orang tua ini. Bagaimana kau mau memotong akarnya jika anjing penjaga raksasa ini tidur tepat di atasnya? Satu langkah salah, dan kita semua akan berubah menjadi keripik panggang."
Kaelen menatap Inti Leviathan di dadanya. Pendar birunya kini menyala sangat terang, bereaksi liar terhadap volume mana murni yang luar biasa masif di hadapan mereka. Sensasinya tidak seperti saat Kaelen menyerap sihir di arena atau di jembatan. Ini terasa seperti berdiri di depan matahari. Ada bisikan kelaparan di dalam jiwanya yang mendesaknya untuk maju, untuk menelan lautan api purba tersebut.
"Aku tidak butuh senjata fisik," ucap Kaelen, melangkah mendekati tepi jurang. Suaranya terdengar hampa, nyaris mekanis, seolah kesadarannya setengah menyatu dengan artefak kuno di dadanya. "Golem itu bukan makhluk biologis. Ia tercipta dari kepadatan mana api tingkat absolut. Dan aku... adalah ketiadaan."
"Kaelen, tunggu!" teriak Lyra, mencoba meraih lengan pemuda itu.
Namun Kaelen sudah melompat.
Bukan melompat ke arah golem itu, melainkan melompat turun menuju pilar utama Akar Magma yang memancarkan panas mematikan.
Di udara, Kaelen melepaskan pembatas pada Inti Leviathan. Pusaran kabut hitam keunguan meledak bukan hanya dari tangannya, tetapi menyelimuti seluruh tubuhnya, membentuk domain bola kegelapan absolut.
Saat tubuh Kaelen menghantam permukaan pilar batu kemerahan itu, suara mendesis yang memekakkan telinga memenuhi gua. Alih-alih terbakar menjadi abu, domain Null milik Kaelen mulai melahap energi panas dan mana purba dari akar raksasa tersebut.
Retakan-retakan obsidian di pilar itu seketika memudar, berubah menjadi batu kusam berwarna abu-abu. Cairan magma magis yang mengalir di dalamnya membeku dalam hitungan detik saat energi sihir penyokongnya disedot paksa.
Tindakan itu langsung membangunkan sang penjaga.
Golem Lava Purba meraung, suaranya menggetarkan dinding gua dan menjatuhkan bebatuan raksasa dari langit-langit. Monster itu bangkit, matanya yang berupa bola api putih menatap lurus ke arah anomali kecil yang menempel di sumber kehidupannya.
Golem itu mengangkat tinju raksasanya yang seukuran rumah, berniat menghancurkan Kaelen beserta pilar akar tersebut menjadi debu.
"Dia tidak akan sempat menelan sihirnya!" teriak Silas dari tepi jurang.
Namun Kaelen tidak sedang berusaha menelan Golem itu.
Saat tinju raksasa itu berjarak beberapa meter darinya, Kaelen memusatkan seluruh mana purba tak terbatas yang baru saja ia sedot dari Akar Magma, mengompresinya ke titik maksimal di dalam Inti Leviathan, lalu menembakkannya kembali bukan sebagai api atau sihir, melainkan sebagai gelombang kejut mana netral yang murni dan absolut.
Gelombang hitam tak kasat mata itu meledak ke atas, menghantam tinju sang Golem.
BOOM!
Ledakan energi kinetik murni tanpa elemen sihir itu begitu dahsyat. Alih-alih membakar atau melelehkan, gelombang itu menghancurkan kepadatan mana di dalam tubuh sang Golem dari tingkat molekuler. Lengan raksasa dari obsidian dan lahar itu hancur berkeping-keping di udara, runtuh menjadi hujan batu biasa yang kehilangan cahayanya.
Golem itu menggeram kesakitan, terhuyung ke belakang.
Memanfaatkan celah itu, Kaelen memutar tubuhnya, menanamkan tangannya lebih dalam ke permukaan Akar Magma. Ia menarik napas panjang, menahan rasa sakit dari Jangkar Mana-nya yang berputar terlalu cepat akibat menahan energi purba setingkat dewa.
"Mati kau, Paman Varian," geram Kaelen.
Ia memutus aliran magis dari bawah bumi. Dalam satu sentakan kuat, Kaelen menyerap habis seluruh mana di pilar utama yang menghubungkan jurang itu ke Kastil Adiwangsa. Pilar batu kemerahan itu berubah menjadi hitam kusam, kehilangan cahayanya secara total, lalu... retak.
Retakan itu menyebar cepat ke atas layaknya kilat hitam, menghancurkan jaringan akar purba yang menjadi nyawa bagi pertahanan Klan Adiwangsa di Distrik Atas.
Tanpa asupan energi dari akar, Golem Lava Purba yang tubuhnya kehilangan separuh itu tiba-tiba membatu sepenuhnya, lalu hancur berantakan menimpa dasar jurang tanpa sempat melakukan perlawanan lebih lanjut.
Di atas tebing, Kaelen berdiri terengah-engah, melepaskan pegangannya dari pilar mati tersebut. Hawa panas di gua raksasa itu lenyap seketika, digantikan oleh hawa dingin bawah tanah yang menusuk tulang.
Lyra dan Silas menuruni bebatuan dengan susah payah, menatap Kaelen dengan kekaguman yang bercampur kengerian. Pemuda itu tidak hanya mematikan pertahanan musuh; ia baru saja membunuh dewa pelindung bumi dengan tangan kosong.
"Kubah Matahari..." Silas bergumam, menatap ke arah langit-langit gua. "Tanpa energi dari Akar Magma ini, pelindung sihir dan seluruh sistem pertahanan otomatis di Kastil Adiwangsa akan padam malam ini. Seluruh klan akan buta dalam kegelapan."
Kaelen membalikkan badannya menatap kedua rekannya. Matanya kini memiliki pendar ungu kelam yang menetap—tanda bahwa jiwanya perlahan berevolusi, beradaptasi dengan energi purba yang baru saja ia tundukkan.
"Ini saatnya, Lyra," ucap Kaelen dengan suara yang sangat tenang. "Kirim pesan ke Bos Rexor. Suruh dia mengerahkan seluruh preman jalanan, algojo, dan pasukan bayarannya. Kita akan menyerang Kastil Adiwangsa malam ini. Tidak ada lagi bangsawan. Malam ini, Distrik Bawah yang akan memegang kendali atas Distrik Atas."