NovelToon NovelToon
The Last Horizon: Zero To Heroes

The Last Horizon: Zero To Heroes

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Lamunan Malam

Siapa aku, seorang pecundang?

Mengikuti kisah Lyan Clament, seorang penyihir tingkat Saint. Walaupun masih remaja, ia mengejutkan banyak orang dengan kemampuannya. Tapi kekuatan sihir bukanlah penentu utama.

Di dunia ini, Benua Ostland menjadi tempat Kekaisaran melakukan invasi tanpa henti. Tidak ada yang murni baik atau buruk; semua orang memiliki alasan masing-masing untuk bertahan hidup.

Tingkat Saint? Hah...

Gelar itu tidak membuat Lyan spesial di antara puluhan penyihir lainnya. Meski hanya satu dari seratus orang yang bisa menggunakan sihir, untuk apa kemampuan tersebut jika dihadapkan dengan kekuatan Kekaisaran?

Lyan baru saja kehilangan kedua orang tuanya, dan tetap bernapas sampai sekarang adalah sebuah keajaiban. Dendam di dalam hati sempat membutakannya untuk membalas kematian orang tuanya. Namun, semua itu perlahan berubah ketika ia bertemu dengan Steven dan Sandra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lamunan Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 14 Kembali Melihat Istarloth

"... Kalau begitu, hati-hati di jalan, ya!"

"Terima kasih atas semuanya, Leograd!"

"Loh! Sejak kapan kau tahu namaku?!"

Sebelum matahari terbit, kami memutuskan untuk segera pulang. Leograd, beberapa pelayan guild, serta warga Qianlo yang rela bangun lebih pagi telah berkumpul di depan gerbang desa untuk mengantar keberangkatan kami.

Usai melontarkan ucapan perpisahan—serta sesi pembagian tanda tangan oleh Sandra—kami melambaikan tangan dari atas kereta yang mulai melaju, meninggalkan desa yang kini dihiasi karangan bunga.

"Kenapa kita harus buru-buru pulang, sih?" protes Sandra. "Padahal aku masih punya banyak cerita untuk dibagikan!"

"Kaslana menyuruh kita segera kembali untuk melanjutkan kompetisi," jawabku.

"Kompetisi?" sahut Steven mengernyit.

"Meskipun tribunnya sempat runtuh, Colosseum sudah selesai diperbaiki. Duke Welding menolak untuk menghentikan turnamen," jelasku sambil menghela napas panjang. "Dan besok adalah giliran pertandingan kelas Wizard. Singkatnya, aku yang akan bertanding."

"Bukankah itu bagus untukmu, Lyan?" sindir Sandra tersenyum tipis.

"Bagus dari mananya!"

"Maksud Sandra, lewat kompetisi itu kita bisa melihat sejauh mana batas kemampuanmu," sela Steven mendadak. "Coba ingat, kapan terakhir kali kau kalah? Dari goblin sampai wyvern bisa kau tumbangkan dengan mudah. Tidak ada salahnya melihatmu kewalahan sekali-sekali—"

"Jadi kau bakal senang kalau aku kalah, begitu?" pangkasku tajam.

"Bukan begitu! Maksudku, kelas Saint bukanlah tingkatan yang rendah. Pihak penyelenggara pasti sudah menyiapkan penghalang magis khusus untuk menahan dampak dari mantra-mantra dahsyat yang kalian keluarkan."

"Benar juga..." gumamku merenung.

Kaslana sebenarnya sudah memberi tahu kabar ini lewat surat burung merpati yang kuterima tadi tengah malam. Pertandingan di Colosseum besok akan digelar tanpa penonton; hanya Duke Welding dan Kolonel Nicholas Hoult yang akan mengawasi langsung. Warga sipil dilarang mendekat demi mencegah kerusuhan seperti pada babak sebelumnya.

Mengenai 'penghalang magis' itu, Kaslana sempat menyinggungnya sepintas di dalam surat, walau ia tidak menjelaskan secara rinci seperti apa bentuk pertahanan yang digunakan.

Tengah hari, kami tiba di Landmine. Pasukan penjaga menggeledah kereta kami sebelum akhirnya membukakan gerbang. Sang kusir pamit berpisah untuk menuju perkumpulannya di Tremisland, sementara kami bertiga melangkah menuju Guild yang tampak dipadati oleh para petualang. Saat kami menyelinap di antara kerumunan, orang-orang sibuk menempelkan lembaran papan permintaan.

"... Sandra!" teriak Kaslana kewalahan dari balik meja layanan. "Bantu aku dulu!"

"Hah?" Sandra menunjuk dirinya sendiri. "Kenapa harus aku?"

"Kalian berdua juga!" serunya menunjuk ke arahku dan Steven.

Sebelum kami sempat melangkah mundur untuk melarikan diri, Kaslana sudah lebih dulu menyadari niat kami. Sandra menahan tawa melihat wajah pasrahku.

"Memangnya ada apa dengan semua orang ini?" tanyaku heran melihat tumpukan dokumen yang menggunung.

"Setelah pencopotan Count Maxus, Duke Welding menyadari banyaknya masalah di Istarloth akibat Guild yang sempat ditutup. Dia menyuruhku membuka kembali tempat ini tanpa menunggu pengawas administrasi..." Kaslana mendadak menghentikan kalimatnya dan melayangkan pukulan keras ke arah seorang pria yang mencoba mengambil kesempatan menyentuh bokongnya. "Dasar mesum, kau pikir aku tidak tahu?!"

"Agh!" pria itu meringis kesakitan sebelum tersungkur ke lantai.

"... Dan beginilah hasilnya," lanjut Kaslana mengusap tangannya. "Pengajuan permintaan membeludak! Para petualang dan warga berkumpul di saat yang bersamaan!"

"... Lalu?" tanyaku singkat.

"Lalu bantu kami di sini! Delapan staf tidak akan cukup untuk memilah daftar sebanyak ini!"

"Bagaimana kalau kami menolak?" sahut Sandra bersedekap dada.

Kaslana memutar bola matanya lalu menghela napas panjang. "Aku bayar bantuan kalian!"

Melompat ke balik loket, Sandra langsung tersenyum berseri-seri. Sebaliknya, meski diimbalan uang, tidak ada sedikit pun semangat terpancar dari wajahku dan Steven. Aku sangat menyesal melangkahkan kaki ke sini; seharusnya aku langsung beristirahat di penginapan. Padahal tujuanku menemui Kaslana lebih awal hanya untuk menanyakan dua hal: detail kompetisi besok dan apakah ia tahu sesuatu tentang Chisa.

Tapi ya sudahlah. Daripada membuang energi untuk mengeluh, lebih baik kuselesaikan tumpukan kertas ini secepat mungkin menggunakan sihir.

"Oh... Dewi Gramoe, berikan aku kekuatan untuk mempelajari ilmu pengetahuan di dunia~"

Tumpukan perkamen di meja mendadak melayang rapi. Klip-klip kertas yang menyertainya bergerak otomatis menempelkan tiap lembaran permintaan ke papan Guild.

Bicara soal Dewi Gramoe, Charlotte, Dewa Astromov, Dewi Tremis, dan sejenisnya—mereka adalah wujud transcender dari Prinsip Langit. Mereka merupakan satu kesatuan yang terpisah akibat tragedi penciptaan dunia. Mengenai latar belakang itu, nanti akan kujelaskan di trivia terpisah. Singkatnya, mantra sihir umumnya dapat dirapal dengan mengutip nama awal mereka diikuti kalimat pemanggil. Mantra tidak diciptakan sembarangan karena seluruh strukturnya telah terikat dalam Book of Magic, membuat manipulasi susunannya menjadi hal yang hampir mustahil.

Namun, selalu ada pengecualian bagi penyihir tingkat Emperor ke atas. Mereka mampu memendekkan kalimat mantra, atau bahkan mengabaikan pengucapannya sama sekali. Dalam kasusku, aku menguasai teknik Silent Casting—proses perapalan mantra dapat dialirkan murni melalui niat dalam pikiran. Teknik ini hanya memangkas suara, bukan menghapus aturan sihir yang berlaku. Berharap untuk naik satu tingkat lagi tentu bukan hal yang mustahil, walau rasanya tingkat Saint sudah menjadi batas mentok bagi kemampuanku.

"Hufh... Akhirnya selesai juga!" ucapku sambil mengusap keringat di dahi.

Tanpa kusadari, pendar cahaya senja telah menerobos masuk membasahi seisi aula. Hari rupanya sudah berganti sore. Kaslana memutuskan untuk menutup operasional Guild lebih awal, mungkin karena staminanya juga sudah terkuras habis. Sementara itu Sandra, yang awalnya paling bersemangat, kini telah tertidur lelap di salah satu kursi kayu.

Setelah membalik papan petunjuk di pintu dari 'Buka' menjadi 'Tutup', Kaslana berjalan menghampiriku dan menyerahkan selembar bayaran yang nilainya jauh dari kata spektakuler. Sebenarnya aku ingin memprotes, "Hei, apa-apaan cuma segini?!" Tapi niat itu seketika kuurungkan begitu ingat pada dua pertanyaan penting yang ingin kutanyakan padanya.

"... Nih, bayaran kalian."

"Terima kasih," balasku singkat.

"Kalau begitu, aku mau pulang duluan—"

"Tunggu dulu!" pangkasku cepat sebelum ia sempat melangkah pergi.

"Bisakah kita duduk sebentar?" lanjutku.

"Baiklah, tapi tidak bisa lama-lama. Adikku bisa mengamuk kalau aku pulang terlambat," jawabnya mengalah.

Kami memilih meja terdekat. Aku menarik kursi lalu duduk berhadapan dengan Kaslana.

"Langsung saja... Apakah kau tahu tentang seseorang bernama Chisa?" tanyaku menatap matanya.

"Chisa?" gumamnya perlahan. Alisnya terangkat saat ia menyilangkan tangan di dada, berusaha menggali ingatan. "Mungkin aku salah, tapi seingatku dulu pernah ada laporan tentang anak hilang dari Desa Qianlo. Memangnya ada apa?"

"Aku baru saja dari sana untuk menyingkirkan para goblin," jawabku singkat tanpa membeberkan isi surat Grimaldi.

"Oh! Aku baru ingat, bagaimana dengan buruan utama kalian, Jenderal Iblis Zigurad?" tanya Kaslana mengalihkan topik.

"Kami membatalkannya."

"Pilihan bijak," balasnya dengan raut lega bercampur murung. "Misi itu memang mustahil untuk kalian. Aku justru akan jantungan kalau kalian mengaku berhasil mengalahkan makhluk yang bahkan membuat Rydruc Smith kewalahan."

Rydruc Smith? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu di suatu tempat, tetapi aku lupa di buku mana.

"Kembali ke topik awal, apa kau punya petunjuk lain tentang anak itu?"

"Tidak ada," jawabnya jujur. "Laporannya sudah bertahun-tahun lalu, aku bahkan hampir lup—"

Brak!

Seseorang mendobrak pintu Guild dengan keras, sama sekali tak peduli pada papan 'Tutup' yang terpampang jelas.

"Kenapa Mbak belum pulang juga, sih?!"

Teriakan melengking seorang bocah laki-laki menggema di seluruh ruangan, seketika membangunkan Sandra yang tertidur dan membuat Steven hampir menyayat jarinya sendiri saat mengasah belati.

"Gyadmo! Sudah kubilang bersabar sedikit, kan?!"

Kaslana langsung melangkah cepat lalu menjewer gemas telinga bocah laki-laki yang kelihatannya baru berumur sekitar enam tahun itu.

Yah... Beruntung sekali punya kakak perhatian seperti Kaslana.

"Lepaskan! Sakit, tahu!" bentak Gyadmo sambil menggembungkan pipinya yang kemerahan.

Usai melepaskan jewerannya, Kaslana berbalik dan pamit padaku. Tak lama kemudian, beberapa pelayan Guild tersisa juga bersiap menyapu ruangan dan meminta kami untuk menyudahi kunjungan.

Tanpa pilihan lain, Steven terpaksa membopong Sandra yang kembali terlelap di punggungnya. Kami berjalan menyusuri jalanan kota yang mulai remang, berbincang santai untuk mengusir rasa bosan.

"Bicara soal makanan enak di Desa Qianlo kemarin... bagaimana dengan kelanjutan misi kita sebenarnya?" tanya Steven membuka obrolan baru.

"Kau baru ingat sekarang?" tanyaku menoleh padanya.

"Bagaimana bisa tidak lupa? Misi kita sebelumnya luar biasa menguras tenaga. Aku bahkan tidak tahu kalau ada kelanjutan misi, bahkan Leograd pun tampaknya tidak menyadarinya," balas Steven menggeleng pelan. "Jadi, apa langkah kita selanjutnya?"

"Aku sudah membatalkannya."

"Kenapa kau membatalkannya?!" teriak Sandra yang mendadak terbangun dan langsung melompat turun dari punggung Steven. "Kita harus melanjutkannya!"

"Kau juga baru ingat sekarang?" cibirku.

"Itu... itu... Ah, sudahlah! Pokoknya kita harus lanjut!" desaknya tidak mau kalah.

"Keputusan sudah bulat. Kaslana sendiri setuju untuk mengakhiri misi itu dan menganggapnya sebagai langkah bijak," pangkasku tenang.

"Tapi—"

"Toh, kita sudah dapat imbalan uang yang jauh lebih dari cukup dari menumpas goblin di Puncak Zantur. Untuk apa lagi memaksakan misi berbahaya yang imbalannya saja tidak jelas dari pihak Guild Landmine?" potongku, mencoba menyakinkan mereka berdua.

"Baiklah kalau begitu!" Ucap Sandra akhirnya menyerah. Ia berjalan menghentakkan kaki dan mempercepat langkahnya mendahului kami. "Tapi lain kali harus ada keputusan bersama!"

Aku tersenyum tipis dalam hati. Dari awal, hanya aku yang benar-benar memahami arah misi ini. Baguslah jika mereka berhenti bertanya.

Aku memang tidak ingin mereka terlibat lebih jauh. Begitu ada kesempatan, aku harus kembali menemui Nyonya Mener—mungkin saja ia tahu sesuatu tentang Jenderal Iblis ini.

Bersambung...

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
ka mau masuk grup aku gak tempat berbagi cerita . dan saling support
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!