Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAUNGAN PERTAMA
Darah hitam berbau kebusukan menyembur dari rahang Beruang Zirah Besi, membasahi lantai batu dan bagian depan baju Lin Yuan. Rahang monster itu memang sudah miring terhantam gagang tombak, tetapi rasa sakit yang membakar justru memicu naluri kepunahan di dalam tubuh raksasa tersebut.
Matanya yang semula merah pekat kini berubah menyala seperti bara api.
ROAAAR!
Monster itu meraung melengking, sebuah suara kematian yang begitu memekakkan telinga hingga membuat beberapa genteng rumah warga di sepanjang lorong pecah berkeping-keping. Lempengan zirah hitam di dadanya mendadak memancarkan uap merah panas. Tanpa memedulikan kaki luarnya yang lumpuh, Beruang Zirah Besi itu menggunakan sisa dorongan kaki kanannya untuk menubrukkan seluruh badan empat tonnya lurus ke arah Lin Yuan.
Jarak mereka terlalu dekat. Tidak ada ruang bagi Lin Yuan untuk berguling atau melompat mundur.
Lin Yuan menegakkan badannya, menancapkan kedua kakinya ke lantai batu, lalu mengangkat poros tombak besi tua itu secara horizontal dengan kedua tangan untuk menahan tubrukan maut tersebut.
BAM!
Benturan dahsyat beradu di tengah lorong.
Suara derakan kayu yang sangat keras menggema. Poros kayu jati tua tombak yang sudah bertahan puluhan tahun itu tak sanggup lagi menampung tekanan dari bobot raksasa sang beruang. Kayu itu patah terbelah dua di tengah-tengah dengan serpihan tajam memercik ke mana-mana.
"Lin Yuan!" Teriak Paman Gu terperanjat dari balik pintu gudang, mencoba berlari pincang ke depan sambil mengangkat besi panjangnya.
Gaya dorong yang luar biasa hebat menghantam dada Lin Yuan. Tubuhnya terlempar ke belakang sejauh sepuluh langkah, menabrak tembok tiang utama kompleks klan dengan suara dentuman berat.
Brak!
Tembok batu itu retak membentang serabut. Lin Yuan jatuh berlutut di atas tanah, memuntahkan seteguk darah segar. Bebat linen di dadanya robek sepenuhnya, memperlihatkan tiga luka cakar semalam yang kini kembali terbuka dan bercucuran darah merah.
"Habis sudah..." Bisik Lin Heng dari balik barikade kayu dengan wajah sepucat mayat, bibirnya bergetar hebat. "Monster itu mengamuk gila... tidak ada yang bisa selamat dari tubrukan seperti itu!"
Beruang Zirah Besi itu menyeret kakinya yang terluka, melangkah cepat mendekati Lin Yuan yang berlutut tak berdaya di bawah tiang. Cakar depan kanannya—yang dilapisi tonjolan zirah besi seberat puluhan kilogram—terangkat tinggi ke udara. Monster itu hendak menancapkan cakar maut itu tepat ke kepala Lin Yuan untuk meremukkannya hingga tak berbekas.
Paman Gu yang berada belasan langkah di belakang berteriak histeris dengan mata melotot. "Lari, Bocah! Lari!"
Namun Lin Yuan tidak lari. Ia bahkan tidak berkedip saat menatap cakar raksasa yang membayang di atas kepalanya.
Di dalam kesadarannya, di tengah rasa sakit yang meremukkan seluruh persendian dan rusuknya, lautan jiwa Lin Yuan meledak total.
Samudera es yang telah hancur itu kini menjadi lautan api keemasan yang bergolak dahsyat. Di tengah-tengah pusaran energi purba itu, Kera Putih Raksasa berdiri tegap dengan kedua kakinya, mendongakkan kepala, dan menghantamkan kedua tinju besarnya ke dadanya sendiri.
ROAAAAR!
Sebuah raungan purba—bukan berasal dari tenggorokan manusia, melainkan bergema langsung dari dimensi jiwa—tertembak keluar menembus fisik Lin Yuan di dunia nyata.
Gelombang tekanan udara yang amat dingin dan berat mendadak merebak di seluruh lorong. Suhu udara pagi yang lembap langsung anjlok drastis dalam sekejap mata. Genangan air darah di lantai batu membeku seketika menjadi lapisan es tipis.
Lin Heng dan para pengawal yang berada puluhan meter di belakang mendadak terjatuh berlutut, napas mereka sesak seolah-olah ada telapak tangan raksasa tak kasat mata yang menekan pundak mereka dari atas.
"Tekanan ini... kekuatan apa ini?!" Pekik Lin Heng memegang lehernya, matanya membelalak penuh ketakutan murni.
Lin Yuan perlahan berdiri dari posisi berlututnya.
Di belakang punggungnya yang bersimbah darah, sebuah siluet raksasa berwujud Kera Putih bermata emas muncul sekilas di udara. Avatar bayangan setinggi lima meter itu diselimuti oleh aura perak keemasan yang begitu padat hingga membuat ruang di sekitarnya tampak bergelombang distorsi.
Beruang Zirah Besi yang hendak menghantamkan cakarnya mendadak terpaku di udara. Insting binatang buasnya mendeteksi ancaman kematian yang jauh lebih tinggi—sebuah hirarki pemangsa puncak dari zaman kuno yang berada jauh di atas tingkatannya.
Monster itu mencoba menarik kembali cakarnya untuk bertahan, namun sudah terlambat.
Lin Yuan mengepalkan tangan kanannya. Seluruh aliran *qi* yang membanjiri meridiannya, rasa sakit dari tulangnya yang retak, dan amarah murni dari jiwa Kera Putih terkumpul sepenuhnya di buku-buku jarinya. Kepalan tangannya dibalut oleh lapisan aura perak tebal yang berkilau tajam bagai kristal.
"Hancur." Bisik Lin Yuan datar dengan suara yang bergema ganda.
SREK!
Lin Yuan melangkah maju satu kali, menghentakkan tumitnya hingga lantai batu di bawahnya ambles beberapa senti. Ia memutar panggulnya, melayangkan satu pukulan lurus dari bawah menuju tepat ke dahi Beruang Zirah Besi.
Siluet Kera Putih raksasa di belakangnya meniru gerakan yang sama persis, menghantamkan tinju auranya dari udara ke bawah.
BAM!
Suara benturan yang tercipta bukan lagi suara daging atau tulang, melainkan ledakan meriam udara yang memecah keheningan fajar.
Lempengan zirah besi hitam di kepala beruang itu—yang sebelumnya tak sanggup digores oleh pedang berlapis *qi* para murid elit—hancur berkeping-keping bagai tembikar murah. Pukulan Lin Yuan menembus zirah tersebut, meremukkan tulang tengkorak raksasa sang beruang dan mendorong kepalanya menghantam lantai batu dengan kecepatan tinggi.
BOOM!
Lantai jalanan batu kompleks klan terbelah menjadi kawah selebar tiga meter. Tanah dan pecahan batu beterbangan ke udara bersama semburan darah hitam dan cairan otak monster.
Tubuh raksasa Beruang Zirah Besi itu kejang-kejang sekali di dalam kawah, sebelum akhirnya terkulai kaku sepenuhnya. Nyawanya putus seketika dalam satu kali pukulan murni.
Siluet Kera Putih di belakang Lin Yuan memudar pelan, menguap menjadi bintik-bintik cahaya perak yang terserap kembali ke dalam pori-pori kulit Lin Yuan.
Keheningan yang mencekam langsung menguasai seluruh lorong.
Tidak ada suara angin. Tidak ada suara jeritan. Bahkan dentang bel darurat di kejauhan seolah lenyap dari pendengaran orang-orang yang menyaksikan kejadian itu.
Lin Heng terduduk kaku di atas tanah basah, celananya agak basah oleh keringat dingin. Matanya melotot menatap kawah di depan lorong. "Satu... satu pukulan? Dia meremukkan Beruang Zirah Besi dengan satu pukulan tangan kosong?"
Para pengawal klan yang bersembunyi di balik barikade tidak sanggup mengeluarkan patah kata pun. Mereka menatap Lin Yuan seolah-olah pemuda yang selama ini mereka panggil "sampah" adalah sesosok iblis yang baru saja keluar dari neraka.
Di depan pintu gudang, Paman Gu memegang tongkat tuanya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tua itu menghembuskan napas panjang yang gemetar, matanya dipenuhi rasa takjub dan haru yang mendalam.
"Sekte Kera Putih..." Bisik Paman Gu serak dengan suara yang hampir tak terdengar. "Warisan itu... benar-benar masih hidup."
Di tengah kawah reruntuhan, Lin Yuan berdiri diam. Kepalan tangan kanannya yang bersimbah darah hitam monster memancarkan uap panas tipis. Kulit di sekitar buku-buku jarinya terkelupas, namun tidak ada satu pun tulangnya yang patah.
Lin Yuan perlahan menarik tangannya kembali, menatap telapak tangannya sendiri yang kini dialiri oleh ketenangan baru. Di dalam dadanya, Kera Putih bermata emas melingkarkan tubuhnya di atas lautan jiwa yang kini tenang kembali, menyerap sisa-sisa energi vital dari bangkai beruang raksasa di bawah kakinya.
Lin Yuan menghela napas panjang, lalu memutar badannya perlahan. Pandangan matanya yang dingin dan tajam menusuk lurus ke arah Lin Heng dan para murid klan yang masih ternganga ketakutan di kejauhan.