Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.
Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Getar yang Tak bisa Disembunyikan
Ponsel itu bergetar lagi.
Sekali, lalu diam. Di ruang makan yang sunyi, bunyinya terdengar seperti ketukan di pintu yang tak seorang pun berani membuka.
Carlo menatap saku rok Andien. Lalu menatap wajah gadis itu. Andien merasa seluruh darahnya berkumpul di telapak kaki.
"Itu ponsel dari Mas," katanya cepat. Terlalu cepat. "Mungkin dari kantor."
"Ponsel dariku ada di meja rias kamarmu." Suara Carlo rendah dan datar. "Aku melihatnya waktu masuk tadi, masih terisi daya, kabelnya terpasang."
Andien membuka mulut, tetapi tak ada kata yang keluar.
"Dien." Carlo berdiri perlahan, kursinya bergesek di lantai. Ia tidak membentak, dan justru itu yang menakutkan. "Keluarkan."
"Mas..."
"Aku tidak akan merebutnya. Aku hanya minta kamu mengeluarkannya sendiri."
Andien menggenggam kain rok di atas saku itu. Di kepalanya, suara Laras berulang: *kalau ada bahaya, lupakan semuanya.* Tetapi ada hal lain yang berbisik lebih keras, suara kecil yang berasal dari malam di tepi sungai, ketika ia memilih menolong tanpa bertanya.
*Kamu tidak pandai berbohong, Dien.*
Perlahan, ia mengeluarkan ponsel hitam itu dan meletakkannya di meja.
Carlo menatapnya tanpa menyentuh. Layarnya menyala sebentar, memperlihatkan notifikasi tanpa nama: *Sudah sampai rumah? Jawab dengan "ya" saja.*
Ia tak perlu bertanya siapa pengirimnya. Ia sudah menikah dengan gaya mengetik itu selama dua tahun.
"Laras," katanya.
"Mas..."
"Sejak kapan?"
"Sejak kemarin." Andien menunduk. "Saya yang datang menemuinya. Bukan dia yang mencari saya."
Carlo duduk kembali, sangat pelan, seperti orang yang lututnya mendadak kehilangan tulang. Ia menutup wajah dengan kedua tangan. Bahunya tak bergetar, tak ada suara, tetapi Andien melihat sesuatu runtuh di balik jari-jari itu.
"Dia tahu semuanya," gumam Carlo dari balik telapak tangan.
"Dia tahu sebelum saya bilang."
"Dan dia tidak..." Carlo menurunkan tangannya. Matanya basah, dan untuk pertama kalinya Andien menyadari betapa lelahnya wajah itu. "Dia tidak melabrakmu? Tidak menyuruh orang menyakitimu?"
"Dia memberi saya bubur."
Carlo tertawa. Tawa yang pecah di tengah, lebih mirip isakan.
"Tentu saja," bisiknya. "Tentu saja dia memberimu bubur."
---
Mereka duduk berhadapan hingga bubur di kantong roti itu mendingin dan lilin di meja tinggal setengah.
Andien memutuskan satu hal. Ia tak akan memberikan rekaman itu kepada Carlo, karena itu rencana Laras, bukan rencananya. Tetapi ia juga tak akan lagi berbohong tentang hal lain.
"Hendra tahu soal Mas Carlo di desa," katanya pelan. "Dia tahu tentang sungai, tentang saya, tentang pernikahan kita. Mas bilang tidak memberi tahu siapa pun, kan?"
"Hanya sopirku. Pak Darto."
"Pak Darto bisa dipercaya?"
Carlo terdiam. Rahangnya bergerak. "Dua puluh tahun dia menyetir untuk ayahku. Aku mengira bisa..." Ia berhenti. "Aku mengira banyak hal."
"Mas harus periksa."
"Aku akan periksa." Carlo mengangkat wajah. Sorot matanya berubah dari lelah menjadi sesuatu yang lebih tajam, wajah pria yang pernah menang di ruang rapat. "Dien, dengarkan aku. Aku tidak berhak meminta apa pun darimu. Tapi aku minta satu hal. Jangan temui Hendra lagi, dan jangan beri tahu Laras bahwa aku sudah mengaku padamu."
"Kenapa?"
"Karena kalau Hendra tahu kita sudah saling mengetahui, dia akan bergerak lebih cepat dari Jumat."
Andien menimbang. Logikanya masuk akal. Tetapi sejak dua minggu terakhir, semua yang Carlo ucapkan selalu masuk akal.
"Mas," katanya. "Saya akan menuruti. Tapi dengan satu syarat."
"Sebutkan."
"Mulai sekarang, tidak ada lagi yang Mas sembunyikan dari saya. Tidak ada janji ketiga yang Mas patahkan."
Carlo menatapnya lama. "Kamu menghitung?"
"Iya."
"Berapa?"
"Tiga yang saya ingat. Pulang ke desa. Beberapa bulan lagi. Dan malam pengantin: *yang penting cuma kamu.*"
Carlo menutup mata. Rahangnya mengeras menahan sesuatu.
"Aku janji," katanya. "Dan kali ini..."
"Jangan bilang kali ini," potong Andien lembut. "Tunjukkan saja."
---
Siang harinya, Andien menyelinap ke taman belakang dan mengetik pesan ke Laras dari ponsel hitam itu, tangannya masih gemetar.
*Mas Carlo tahu kita bertemu. Ponselnya terlihat. Maaf, Bu. Saya tidak bisa berbohong lagi padanya.*
Balasan Laras datang setelah hampir sepuluh menit, dan Andien sempat mengira perempuan itu murka.
*Aku sudah menduga dia akan tahu. Carlo selalu menang membaca jeda orang lain. Yang penting: apa yang dia lakukan setelahnya?*
*Dia menangis, Bu. Lalu dia bilang akan memeriksa sopirnya, Pak Darto.*
Kali ini balasan Laras datang dalam hitungan detik.
*Jangan biarkan dia mendekati Darto sendirian. Aku sudah melacak Darto sejak kemarin. Dia tidak pulang ke rumahnya dua malam. Dan rekening anaknya baru menerima transfer dari perusahaan cangkang.*
Andien membaca pesan itu dua kali.
*Maksud Ibu... Pak Darto yang membocorkan?*
*Mungkin. Atau Darto hanya disuap untuk diam. Aku belum tahu. Tapi satu hal pasti: Hendra tidak bekerja sendirian, dan Carlo yang tak tahu siapa yang bisa ia percaya sedang berjalan lurus ke jebakan.*
Andien memandang jendela dapur. Dari balik kaca, ia melihat Carlo duduk di ruang tamu, ponsel di telinga, bicara cepat dengan seseorang. Wajahnya serius, bahunya tegang.
Mengetik dengan jari yang hampir tak terasa, ia membalas:
*Dia sedang menelepon sekarang, Bu. Kalau itu Pak Darto?*
Titik-titik tanda mengetik muncul dan hilang berkali-kali di layar sebelum balasan Laras akhirnya muncul.
*Pergi ke sana. Dengarkan. Jangan sampai Carlo bilang apa pun pada Darto tentang kita.*
---
Andien melangkah ke lorong dengan kaki telanjang agar tak bersuara. Dari balik pintu, suara Carlo terdengar jelas.
"... jam delapan malam ini. Antar aku ke rumah ayahku di Menteng. Tidak, jangan ke kantor. Aku butuh bicara dengan seseorang yang bisa kupercaya." Jeda. "Tidak. Bukan Hendra. Pak Darto, jangan sebut ini ke siapa pun."
Andien menahan napas. Orang di seberang telepon bicara, dan Carlo menjawab dengan suara lebih lembut.
"Tidak, Pak. Saya tidak curiga sama Bapak. Saya hanya butuh sopir yang saya kenal sejak kecil. Itu saja."
Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan sesuatu yang membuat dada Andien mencelos.
"Dan Pak, kalau suatu hari kamu terpaksa memilih, saya tidak akan menyalahkan. Saya hanya minta satu hal. Jangan pernah sentuh gadis di paviliun ini."
Hening panjang. Carlo mengangguk pada sesuatu yang didengarnya.
"Terima kasih. Sampai malam nanti."
Sambungan terputus. Andien mundur selangkah, tetapi lantai kayu berderit di bawah kakinya.
Carlo menoleh cepat. Mata mereka bertemu di celah pintu.
Ia tidak marah. Ia tidak terkejut. Ia hanya menatap Andien lama, lalu berkata pelan, "Kamu dengar semuanya."
"Maaf, Mas."
"Tidak apa-apa." Carlo mengusap wajah. "Mungkin lebih baik begini. Aku sudah bosan bicara sendirian."
Ia berdiri, mengambil jas dari sandaran kursi, dan berhenti di depan Andien. Untuk pertama kalinya, ia tidak menyentuhnya, tidak memeluknya, tidak mencoba meyakinkan dengan kata-kata manis. Ia hanya berdiri di sana dengan tangan di sisi tubuh.
"Malam ini aku akan pergi ke rumah ayahku. Kalau besok pagi aku belum menghubungimu, telepon Laras. Katakan padanya semua yang kamu tahu. Bukan karena aku memintamu mengkhianatiku, tetapi karena ia lebih pantas memegang kebenaran itu daripada aku."
"Mas, kenapa bicara seperti mau pergi selamanya?"
Carlo tersenyum tipis, dan senyum itu begitu lelah hingga Andien merasa dadanya diremas.
"Karena aku sudah terlalu sering lari," katanya. "Dan malam ini, untuk pertama kalinya, aku ingin berdiri."
Ia pergi tanpa menoleh.
Andien berdiri di lorong, menatap pintu yang menutup. Di tangannya, ponsel hitam bergetar. Pesan dari Laras:
*Dia pergi ke rumah ayahnya? Itu jebakan, Andien. Rumah itu kosong sejak ayahnya meninggal. Dan hanya Hendra yang punya kuncinya.*
Jantung Andien berhenti.
Ia berlari ke jendela tepat saat lampu belakang mobil hitam itu menghilang di tikungan, membawa seorang pria yang baru saja memutuskan untuk berhenti berbohong, menuju satu-satunya tempat di kota yang tak akan memberinya kesempatan untuk menebus apa pun.
---
*Bersambung ke Bab 11...*
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya