Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.
Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.
Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.
Talak.
Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.
Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.
Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Diundang Podcast
Pagi itu terasa hidup di halaman rumah kecil mereka. Udara masih segar, matahari belum terlalu tinggi, tapi sinarnya sudah cukup hangat menyentuh kulit.
Raya berjongkok di dekat taman kecil di depan rumah. Tangannya cekatan mencabuti rumput liar yang tumbuh di sela-sela tanah. Sesekali ia mengusap keringat di pelipis dengan punggung tangan, lalu kembali fokus mengganti bunga-bunga yang sudah layu dengan yang baru. Jemarinya kotor oleh tanah, tapi wajahnya justru terlihat tenang—seolah kegiatan sederhana itu membantu merapikan isi kepalanya juga.
Tak jauh dari situ, Raka berdiri dengan sebilah parang di tangan. Ia sibuk memotong batang-batang pohon mangga yang sudah lapuk. Setiap tebasan terdengar “tak!” yang cukup keras, disusul jatuhnya potongan kayu ke tanah.
"Ini udah gak bisa diselamatin lagi,” gumamnya sambil menghela napas, lalu kembali mengayunkan parang.
Di dalam rumah, suasana jauh lebih tenang. Rana duduk di ruang tamu dengan posisi setengah tengkurap di atas karpet, pensil warna berserakan di sekelilingnya. Ia menggambar dengan serius, alisnya sedikit mengernyit, lidahnya sesekali menjulur kecil—tanda ia sedang fokus penuh mengerjakan tugas sekolahnya.
Dari arah dapur, aroma harum mulai menyeruak keluar. Bu Rahma berdiri di depan kompor, membolak-balik pisang goreng yang mulai berwarna keemasan. Di sampingnya, blender berisi jus jeruk baru saja selesai berputar. Ia menuangkan jus itu ke dalam gelas-gelas tinggi, lalu menatanya di atas nampan bersama sepiring pisang goreng hangat.
Tak lama kemudian, mereka semua berkumpul di depan rumah. Raka duduk lebih dulu, napasnya masih sedikit terengah setelah bekerja.
"Wuiihhh, ada goreng pisang kesukaanku,” komentarnya dengan mata berbinar.
Raya ikut duduk di sampingnya, menerima segelas jus dari ibunya. Ia meneguknya perlahan, lalu tersenyum.
Wah, jusnya segar banget… makasih ya, Bu.”
Bu Rahma hanya mengangguk kecil, senyumnya tipis namun hangat.
Dari dalam rumah, Rana berlari kecil menghampiri mereka, masih membawa buku gambarnya.
"Bagianku mana?” protesnya dengan nada manja.
"Ya gak ada lah, orang gak bantuin,” sahut Raka dengan senyum jail.
Rana langsung manyun. “Ih jangan gitu dong, aku gak bantuin juga kan gak diem, tapi ngerjain tugas.”
"Iya iya, ini ibu bikinin semuanya,” kata Bu Rahma menenangkan.
Suasana pun mencair dengan tawa kecil. Mereka makan dan minum bersama, menikmati momen sederhana yang terasa hangat. Namun tiba-tiba—
Ting!
Suara notifikasi ponsel memecah suasana.
Raya yang duduk santai langsung mengambil ponselnya. Alisnya sedikit berkerut saat membaca pesan yang masuk.
"Guys… kalian tahu kan Bang Dansu? Danny Sumarno? Influencer terkenal itu?”
Raka langsung menoleh. “Ya tahu lah, kenapa emang, Kak?”
Raya menelan ludah pelan sebelum menjawab.
"Masa… dia ngundang kakak untuk jadi narasumber di podcast-nya?”
Seketika suasana berubah hening.
"O ya?” Rakha sedikit terkejut.
Raya mengangguk, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan, tapi jelas.
"Dia mau dengar cerita yang sebenarnya tentang kejadian sebulan lalu… pas kakak ditalak setelah akad nikah itu.”
Kalimat itu seperti menghantam udara di antara mereka.
Bu Rahma yang tadi tersenyum kini langsung terdiam. Tangannya berhenti bergerak. Rakha dan Rana pun ikut membisu, tak ada yang langsung merespons.
Beberapa detik berlalu, hanya suara angin yang terdengar.
"Menurut Ibu… Rakha… dan Rana, baiknya gimana ya?” tanya Raya akhirnya, suaranya lebih lembut, tapi menyimpan beban.
Bu Rahma menarik napas dalam, lalu menatap putrinya dengan penuh kasih.
"Kalau itu membuat lukamu terbuka kembali, membuat kamu sedih, gak usah, Ray. Tapi kalau kamu siap menceritakan semuanya… gak masalah.”
Rakha ikut bersuara, kali ini lebih serius.
"Kalau menurutku, gak masalah, Kak. Biar bisa jadi pembelajaran buat netizen. Jangan terlalu percaya sama perjodohan… karena kadang itu justru bikin kita terluka.”
Rana yang sejak tadi menahan diri akhirnya ikut bicara, nada suaranya sedikit emosi.
"Kalau menurutku ikut aja, Kak. Biar netizen gak suudzon sama kita. Soalnya beberapa tetangga suka nyindir… katanya ‘makanya jangan tergiur harta, dijodohin dengan orang kaya langsung mau’… dan lain-lain. Aku kesel dengernya.”
Bu Rahma lalu kembali menatap Raya.
"Kalau kamu sendiri gimana, Ray?”
Raya terdiam sejenak. Matanya menunduk ke gelas di tangannya. Jemarinya menggenggam erat, seolah sedang menguatkan diri. Lalu ia mengangkat wajahnya.
"Kalau aku… mau aja, Bu.”
Suaranya terdengar tegas, meski ada getaran emosi di dalamnya.
"Sekalian meluruskan hal-hal yang simpang siur di luar sana. Dan…” ia berhenti sejenak, matanya mulai berkaca-kaca.
"Juga membuktikan ke Si Kamil… kalau aku yang dia talak setelah akad itu… sekarang sudah bangkit. Sudah punya kerjaan layak. Tidak terpuruk.
Angin kembali berhembus pelan. Kali ini, bukan hanya halaman yang terasa hangat—tapi juga tekad dalam hati Raya yang perlahan mulai menguat.
"Tapi kamu perlu izin dulu gak ke atasan kamu di kantor, Ray?” tanya Bu Rahma dengan nada hati-hati.
Raya mengangguk pelan mendengar pertanyaan ibunya. Ia memutar gelas jus di tangannya, menatap cairan oranye itu sejenak sebelum menjawab.
"Oh itu pasti, Bu. Aku harus bilang dulu,” jawab Raya mantap, meski sorot matanya masih menyimpan banyak hal yang belum selesai.
Raka menyandarkan tubuhnya ke kursi, menyilangkan tangan di dada. “Iya sih, Kak. Takutnya jadwalnya bentrok atau kantor gak setuju kakak tampil di publik.”
Rana yang sejak tadi menyimak, tiba-tiba ikut menyela dengan nada penuh harap,
Raya menoleh ke arah adiknya, lalu tersenyum kecil. “Iya… semoga aja. Aku juga berharap begitu. Soalnya ini kan menyangkut nama baik tempat aku kerja juga.”
"Iya, aku juga kepikiran itu,” lanjut Raya. "Apalagi ini bukan sekadar podcast biasa… pasti bakal ramai.”
"Tapi kan dr. Akmal, CEO skincare dan klinik kecantikan, juga seorang influencer terkenal… moga aja beliau ngizinin ya, Kak?”
"Iya, amin. Moga diberi kemudahan."
Rana mengerutkan kening, lalu kembali bertanya, "Kak… kamu gak takut nanti malah makin banyak yang ngomongin?”
Raya terdiam sebentar. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
"Takut… pasti ada,” ujarnya jujur. “Tapi kalau aku terus diam, orang bakal terus nebak-nebak seenaknya. Ceritanya bisa makin jauh dari yang sebenarnya.”
Bu Rahma mengangguk pelan, memahami. “Yang penting kamu siap mental, Nak. Jangan sampai setelah itu kamu malah jatuh lagi.”
Raya menoleh ke arah ibunya, senyumnya tipis tapi tulus. “InsyaAllah, Bu… kali ini aku gak mau lari lagi.”
Raka tersenyum kecil, lalu menepuk pundak kakaknya pelan. “Nah gitu dong. Biar sekalian 'tampar halus’ juga buat orang-orang yang suka meremehkan.”
"Rakha…” Bu Rahma menegur lembut, meski sudut bibirnya ikut terangkat.
Rana ikut menimpali, kali ini dengan semangat. "Aku dukung Kak Raya! Nanti kalau ada yang jahat di komentar, biar aku yang bacotin balik!”
Semua langsung tertawa kecil mendengar itu.
"Kamu tuh ya…,” gumam Raya sambil menggeleng, matanya sedikit berbinar sekarang.
Suasana yang tadi sempat berat perlahan mencair lagi.
Bu Rahma lalu berdiri, merapikan piring di atas nampan. “Ya terserah kamu lah, ibu hanya bisa mendoakan apa yang terbaik buat kamu.”
Raya ikut berdiri, menghampiri ibunya, lalu memeluknya dari samping.
"Terima kasih ya, Bu…” bisiknya pelan.
Bu Rahma menepuk tangan putrinya dengan lembut. “Yang penting kamu bahagia… itu saja.”
Raya mengangguk dalam pelukan itu. Untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, langkah yang akan ia ambil terasa lebih ringan—bukan karena masalahnya hilang, tapi karena ia tahu, ia tidak sendirian.
Suasana yang sempat hangat kembali hening sejenak, seolah semua sedang memberi ruang bagi Raya untuk benar-benar mantap dengan keputusannya.
Raka akhirnya memecah keheningan, nadanya santai tapi penuh dorongan,
“Ya udah, jawab DM Bang Dansu-nya. Ok-in aja… tapi bilang mau diobrolin dulu sama atasan.”
Raya menoleh ke arah adiknya, lalu mengangguk pelan. Ada keyakinan yang mulai terbentuk di wajahnya.
"Oke deh.”
Ia langsung membuka ponselnya lagi. Jemarinya bergerak pelan di atas layar, mengetik dengan hati-hati—seolah setiap kata yang ia pilih membawa konsekuensi besar.
Sesekali ia berhenti, menghapus, lalu mengetik ulang.
Rana mengintip dari samping, penasaran. “Nulis apa, Kak?”
Raya tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangan dari layar. “Bilang terima kasih atas undangannya… terus aku tertarik, tapi perlu diskusi dulu sama atasan.”
Raka mengangguk puas. “Nah, itu aman.”
Beberapa detik kemudian, Raya menarik napas dalam-dalam… lalu menekan tombol kirim.
"Terkirim,” gumamnya pelan.
Entah kenapa, setelah itu dadanya terasa sedikit lebih lega—meski ia tahu, ini baru langkah awal.
Bu Rahma yang sejak tadi memperhatikan, menatap putrinya dengan lembut. “Semoga dimudahkan ya, Nak.”
"Aamiin…” sahut Raya lirih.
Angin siang itu kembali berhembus pelan, membawa suasana tenang. Namun kali ini berbeda—ada harapan baru yang ikut mengalir di antara mereka.
mantappp