Evina adalah wanita biasa yang hidupnya penuh dengan luka. ketika kecil dia pernah dilecehkan oleh orang dekatnya. Ia juga harus menerima segala sakit fisik maupun mental karena keluarganya yang berantakan. Dan Fahri sang pujaan hatinya yang dia kira akan menyelamatkan hidupnya. Nyatanya justru menjadi puncak dari segala dukanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuisakura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EP. 14 KEPUTUSAN
Fahri di dera perasaan tak menentu. Jatungnya berdegup kencang memandangi pujaan hatinya itu. Perlahan namun pasti dibelainya pipi Evina. Evina merasakan ada yang menyentuh wajahnya, namun rasa kantuk yang teramat sangat mendera tak membuat ia tersadar.
Fahri lalu menyandarkan badan Evina ke badannya. Sesaat ia tersadar, apa yang di lakukannya tak seharusnya terjadi. Ia berusaha menahan niatnya untuk mengecup Evina. Kini pandangannya ia alihkan ke arah lain.
Tak berapa lama munculah rombongan dari arah pemukiman penduduk. Sepertinya itu pak Khafid dan pak Tedy serta beberapa orang temannya. Fahri segera memindahkan badan Evina agar bersandar pada tembok.
Fahri segera bangkit menghampiri rombongan itu.
“ Gimana, pak?” tanya Fahri penasaran. Namun terlihat raut wajah kedua guru itu sepertinya tidak enak.
“ Ngga ada hasilnya. Warga di sini juga tidak bisa memberi keterangan lebih,” ujar pak Khafid.
“ Lalu bagaimana pak? Kasian dua adek itu, barang – barangnya di dalam tas semua kayaknya,” ujar Fahri bingung.
“ Sementara kita istirahat dulu Fahri. Pasti semua orang sudah capek. Solusinya kita pikirkan besok pagi, kasian kalian kalau harus begadang,” ujar pak Tedy yang terlihat lelah.
Pak Tedy dan pak Khafid segera bergegas menuju tempat guru. Sementara Fahri membangunkan teman – temannya yang ada di pos supaya berpindah ke tenda masing – masing.
“ Trus dia gimana?” gumam Fahri seraya memandang ke arah Evina. Ia tak tega jika harus membangunkannya.
Fahri melihat Aris yang sayup- sayup terbangun. Ia segera beranjak meninggalkan pos bersama Cahyo yang tak kalah linglung. Namun Aris kembali lagi menghampiri Fahri.
“ Kalau ngga berani bangunin, kamu mesti gendong,” ujar Aris menggoda Fahri.
Fahri yang merasa di goda temannya itu memukul pundak Aris. Aris pun tertawa meski matanya hanya setengah yang terbuka.
Fahri pun memberanikan diri untuk membangunkan Evina. Didekatinya Evina, lalu ditepuknya pundak gadis itu perlahan.
“ Vi, bangun dulu, yuk. Pindah ke tenda. Di sini dingin,” ujar Fahri mencoba membangunkan. Namun Evina hanya menggeliat pelan. Fahri mencoba mengeraskan tepukannya di pundak Evina. Kali ini Evina membuka matanya sayup.
“ Heeemmmhh,” Evina hanya bergumam. Fahri tersenyum memandang Evina.
“ Ayo, bangun dulu. Kita pindah ke tenda. Kasusnya di urus besok pagi kata pak Tedy,” ujar Fahri. Dengan setengah sadar Evina bangkit. Karena masih mengantuk langkahnya pun sempoyongan. Fahri segera bergegas memegangi badan Evina.
“ Ati- ati, Vi,” ujar Fahri masih memegang badan Evina. Evina menatap ke arah Fahri. Tapi kali ini ia tak bisa merasakan apapun karena terlalu mengantuk.
Akhirnya Fahri melingkarkan tangan Evina ke lengannya, lalu berjalan bersama. Ia tahu ia salah, karena menyentuh wanita yang bukan muhrimnya. Namun ia senang sekali karena kali ini Evina tak menolaknya. Mereka pun berjalan menuju tenda perkemahan.
😶😶😶😶😶😶😶😶😶😶😶😶😶😶😶😶😶😶😶😶😶😶😶
Beberapa hari berlalu sejak perkemahan. Pada akhirnya tas yang hilang tak dapat di temukan. Dan pengurus pramuka berupaya untuk mengganti kerugian adik kelas. Syukurlah adik – adik kelas itu mau menerima ganti rugi dari pihak pengurus pramuka.
Sementara Fahri sedang di liputi perasaan bahagia karena ia terbayang – bayang Evina ketika di perkemahan. Sepanjang hari wajahnya tampak sumingrah. Padahal hari ini banyak pelajaran yang tidak ia sukai seperti fisika, kimia dan matematika.
“ Gila, ni bocah,” ujar Aris yang sedang duduk makan di kantin bersama Fahri.
Fahri hanya melemparkan senyum tampannya sambil melahap soto yang dipesannya. Aris pun geleng – geleng kepala melihat temannya itu.
Tak lama kemudian, adik kelas bernama Dian datang ke kantin bersama temannya Anis. Ia melihat ada Fahri yang sedang makan di kantin. Ia lalu menghampiri Fahri.
“ Mas Fahri,” sapa Dian. Fahri pun menoleh ke arah Dian, lalu melemparkan senyumnya. Aris yang tak mau menyia- nyiakan kesempatan pun mulai mengajak ngobrol Dian.
“ Eh, Dian. Mau jajan juga? Sini duduk bareng kita,” ajak Aris.
“ Boleh mas?” tanya Dian seraya menoleh ke arah Fahri. Fahri tak berbicara apa pun, karena asyik makan.
“ Ya, udah aku pesen dulu ke ibunya ya,” ujar Dian seraya menuju ke ibu kantin lalu memesan makanan bersama Anis.
Tak berapa lama Dian dan Anis sudah kembali membawa makanan pesanannya tadi. Ia lalu meletakan dimeja tepat di depan Fahri. Dengan malu-malu Dian duduk, begitu juga Anis.
Fahri hanya tersenyum, sambil tetap fokus makan. Sebenarnya ia tak nyaman, karena belum terlalu kenal dengan Dian. Tapi mau bagaimana lagi. Aris sudah terlanjur memintanya duduk bareng.
“ Ngga usah malu gitu udah makan aja,” ujar Aris. Dian dan Anis pun tersenyum kikuk.
“ Iya, mas. Tapi kog kayaknya mas Fahri ngga welcome gitu,” kata Dian.
“ Aku kenapa? Aku santai aja, makan aja. Santai aja!” ujar Fahri
Sedikit demi sedikit mereka pun mulai bisa mengobrol santai. Namun Aris lebih banyak mendominasi. Karena Fahri bukan tipe orang yang banyak bicara pada wanita.
Ketika sedang asyik ngobrol, Fahri melihat sosok Evina yang lewat. Namun ia tak menyadari ada Fahri di kantin. Karena sepertinya bukan kantin tujuan Evina.
Ketika itu matanya mencuri pandang ke arah Evina. Fahri segera bergegas menyusulnya.
“ Mau kemana?” tanya Aris heran. Fahri kembali lagi ke arah Aris dan memberikannya uang sepuluh ribu.
“ Ini, tolong bayarin sotoku,” Fahri bergegas pergi.
Fahri mengikuti Evina yang ternyata pergi ke perpustakaan. Fahri pun menepuk pundak Evina pelan. Seketika itu juga Evina menoleh ke arah Fahri.
“ Eh, kamu, Ri,” ujar Evina datar.
“ Mau ngapain?” tanya Fahri sambil tersenyum ramah.
“ Mau minjem buku lah. Mau ngapain lagi di perpustakaan?” ujar Evina cuek.
“ Iya, tahu,” ujar Fahri yang cemberut dengan jawaban Evina.
“ Ya, terus kenapa nanya?” tanya Evina.
“ Iiiiihhhh, nih bocah,” ujar Fahri sembari mengusap wajah Evina. Evina lalu menutupi wajahnya dengan tangannya.
Evina merasa aneh dengan perlakuan Fahri. Ia tak mau menggubris Fahri lalu masuk ke ruang perpustakaan. Fahri pun masih setia mengikutinya.
Sementara itu Aris yang ditinggalkan Fahri, masih tetap ngobrol bersama Dian dan Anis.
“ Mas Fahri kog tiba – tiba pergi? Ada pa sih mas?” tanya Dian.
“ Biasa, orang kalau lagi jatuh cinta ya gitu,” jawab Aris.
“ Jatuh cinta? Mas Fahri lagi naksir anak satu sekolah?” tanya dian penasaran. Dan
Aris pun mengangguk.
“ Siapa mas?” tanya Anis menambahi.
“ Evina...” jawab Aris datar. Dian dan Anis melongo tak percaya.
“ Ngga usah heran, temenku satu itu emang seleranya.....” Aris tak melanjutkan kalimatnya.
Mereka pun akhirnya malah bergosip dikantin.
Kembali ke Fahri dan Evina di perpustakaan. Evina heran kenapa Fahri mengikutinya terus.
“ Kamu kenapa sih, Ri?” tanya Evina heran. Ia sedang asyik memilih buku yang ingin ia pinjam.
“ Kenapa? Engga pa pa? Emang kenapa, sih? Aku ngga boleh di perpustakaan?” kata Fahri menggoda Evina.
“Siapa bilang ngga boleh? Bukan, tadi kan kamu lagi makan di kantin sama adik kelas. Ngapain tiba – tiba di sini ngikuti aku?” ujar Evina.
Fahri terkejut mendengar kata – kata Evina. Apakah itu berarti Evina cemburu? Fahri senang sekali mendengarnya. Evina berpindah tempat ke rak buku lain karena belum menemukan buku yang ingin ia baca.
" Kamu, tau aku dikantin kenapa ngga nyapa aku, sih?" tanya Fahri. Namun Evina tak meresponnya.
“ Marah, ya? Kesel, ya? Iya, deh, lain kali makan bareng kamu,” goda Fahri lagi.
Evina menatap tajam ke arah Fahri. Fahri tak menghindari tatapan tajam Evina. Ia justru balik menatap ke arah Evina lebih dekat.
“ Aku suka banget kalau kamu cemburu gini,” ujar Fahri seraya tersenyum.
Membuat Evina jadi salah tingkah. Fahri justru semakin intens memandangi Evina. Melihat Evina salah tingkah seperti itu sungguh membuat hatinya berbunga – bunga.
Tanpa sadar Evina perlahan memegang wajah Fahri. Kini mereka saling berpandangan. Terlihat jelas perasaan yang sedang menderu diantara dua insan remaja ini. Evina tersadar lalu melepaskan tangannya dari pipi Fahri.
Namun dengan sigap Fahri menarik tangan Evina. Kali ini ia sudah memutuskan. Fahri meraih tangan Evina menarik mendekat kepadanya. Fahri mulai menunduk karena Fahri yang terlalu tinggi. Tanpa permisi dikecupnya bibir Evina. Dan seketika Evina terkejut seraya membelalakan matanya.
Terima kasih sudah bersedia membaca novel pertama saya. Semoga ceritanya enak untuk didengarkan ya...
Jangan lupa tinggalkan comment, like, vote serta beri rate pada episode ini. Terima kasih......
mampir juga di karyaku My Kids My Hero
mampir juga di karyaku
Kangen fahri evina,,