Season 1 dan 2 ....
Yang seharusnya suami kini menjadi anaknya, yang seharusnya ayah mertua kini menjadi suaminya. Dan sahabatnya yang kini menikah dengan calon suaminya! Bagimana pernikahan bisa tertukar seperti ini? Apa sebenarnya yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rizal sinte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
"Om, aku mohon jangan seperti ini. Aku takut mereka..."
"Aku mencintaimu, Sera. Aku sudah jatuh cinta sama kamu sejak kejadian itu. Lalu bagaimana denganku?" saut Angga memotong cepat ucapan Sera. Angga menarik kembali dagu Sera, lelaki itu hendak mencium kembali bibir Sera yang terasa manis tersebut yang sudah membuatnya seakan menjadi candu.
Namun, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang, yang kemungkinan datang kearah dapur. Tentu saja itu membuat Sera panik lalu dengan spontan mendorong tubuh kekar Angga dan berlari sambil membawa teko air minum di tangannya..
"Apa aku boleh egois, Sera..." batin Angga menatap sendu.
"Loh, Sera! Kamu kenapa buru-buru gitu?" tanya Dewi yang ternyata dia lah orangnya yang berjalan menuju dapur.
"N-nggak apa-apa, mah."gugup Sera dengan wajah merona.
"Kamu sakit? muka kamu merah gitu." Dewi menempelkan tangannya ke keningnya Sera.
"Sera gak kenapa-kenapa kok, mah. Sera mau ke meja dulu."
Dewi hanya menggelengkan kepalanya, lalu ia kembali melanjutkan langkah menuju dapur untuk mengambil beberapa piring.
Angga yang baru saja keluar dari kamar mandi, matanya tertuju kearah Dewi yang sedang menyusun piring untuk di bawa ke meja makan. Angga pun berjalan mendekat.
"Sini, aku bantu bawa," ujar Angga secara tiba-tiba, dan itu mengejutkan Dewi yang hampir saja melepas piring yang ada di tangannya itu ke lantai.
"Astaghfirullah, Angga! Kamu ini ngagetin aja. Untung aku gak jantungan." Dewi mengelus dadanya beristighfar.
"Sorry-sorry, kamu nya aja yang melamun makanya gak tau kalau aku dateng," saut Angga santai dan langsung membawa beberapa piring yang sudah di susun itu ke depan dan meletakkan nya di meja makan.
Sera menelan ludahnya, ia pun menjadi gugup lagi. Kepalanya menunduk namun matanya sempat melirik sekilas pada Angga.
"Loh kok bisa kamu yang bawa?" tanya Boby.
"Sekalian lewat tadi, gak apa kok santai aja, jangan khawatir," ujar Angga menjawab.
"Siapa juga yang khawatir, gue cuma mau bilang ... sebelah sana ada buah semangka, lo belah deh tuh buah, lalu bawa ke sini buat cuci mulut," ucap Boby menyuruh seenaknya.
"Emang lo kira gue ini babu lo," sinis Angga lalu duduk santai di kursi meja makan. Angga terlihat biasanya saja seolah tidak terjadi apa-apa di antaranya, dan itu membuat Sera diam-diam memperhatikan sebal..
"Maaf ya semua, makanan nya hanya ada ini saja," ujar Dewi yang baru datang dari dapur membawa potong buah termasuk juga semangka.
"Ini juga sudah lebih dari cukup kok, Tante. Justru kami lah yang seharusnya minta maaf karena sudah merepotkan," jawab Leo bijak sembari tersenyum.
"Kamu memang calon menantu idamanku, tapi jangan panggil tante lagi dong. Panggil aja Mamah sama Papah kayak Sera panggil kita," kata Dewi sambil menarik kursinya dan duduk di samping Sera dan juga Boby.
"Iya, terima kasih Mah, Pah." Leo sedikit canggung dengan panggilan itu, apa lagi pada Dewi yang membuatnya teringat akan mendiang alhamrum ibunya.
Angga menghembuskan nafasnya, mungkin menyetujui datang ke rumah ini adalah sebuah kesalahan besar sehingga kehidupan kembali menyedihkan lagi.
"Seandainya calon menantu kalian itu adalah aku, apa aku juga termasuk idaman kalian atau tidak?" batin Angga menatap serius secara bergantian pada Boby dan juga Dewi.