"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.
"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"
"Kecuali apa, hm?"
Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.
✧✧✧
Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.
Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.
Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?
*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Menurutnya rasanya berbeda.
"Kak Abel. Kenapa belum pulang, Kak?" tanya Khaira.
Dia pikir, Abel sudah pulang karena jam kerja Abel sudah selesai sekitar 20 menit yang lalu.
"Kepala perpustakaan minta kakak buat lembur. Katanya pekerjaan sekarang lagi banyak banget," ucap Abel, sambil menghembuskan napasnya dengan pasrah.
Hembusan napas itu bukan karena dia merasa sangat lelah karena lembur, tetapi karena dia hanya memiliki sedikit waktu dengan pacarnya.
Abel mengambil jadwal kerja dari pagi hingga malam, karena dia sudah lulus sekolah.
Tidak seperti Khaira yang harus mengambil kerja part time, karena dia harus membagi waktu antara sekolah dan pekerjaan.
Bekerja di perpustakaan Galaksi adalah impian semua orang yang menyukai ketenangan. Impian bagi semua orang yang menyukai keramaian dalam diam.
"Mmm, sepertinya memang sedang sibuk sekali, apalagi ini akhir bulan. Kepala Perpustakaan minta aku juga buat nambahin jam kerja," ucap Khaira, mengatakan kembali hal yang disampaikan oleh Kepala Perpustakaan.
"Nah, kan!" sahut Abel, menegaskan.
"Yasudah, kakak mau beli kopi dulu, supaya kerjanya tambah semangat," ucap Abel, yang kemudian melangkah ke arah meja panjang, khusus tempat pemesanan.
"Eh, Ezar! Kamu ke mana aja?" tanya Abel.
Dia baru menyadari kehadiran Ezar di sana.
Dia sama seperti Khaira, selama satu minggu ini tidak melihat Ezar berada di sana.
"Gue sakit, Kak," jawab Ezar.
Dia memanggil Abel dengan panggilan seperti itu, karena Abel memang dua tahun lebih tua darinya.
"Sakit? Kenapa kita ga tau? Sekarang keadaan kamu gimana?" tanya Abel.
"Alhamdulillah, sudah baikkan. Syukurlah kalau begitu." Abel langsung bernapas lega.
"Mau pesan apa, Kak?" tanya Ezar, sambil menujukkan buku menu yang disediakan di sana.
"Kopi hitam, sama... nuget!" pesan Abel.
"Selalu ga nyambung," ledek Ezar, sambil terkekeh pelan.
Abel langsung menyambutnya dengan hal yang sama.
Bagaimana Ezar tidak berkata seperti itu, jika kopi hitam digabungkan dengan nuget. Hal itu memang tidak masalah sebenarnya, hanya saja terkesan tidak selaras.
"Enak tau. Cobain makannya," ucap Abel, menawarkan.
"Ngga, makasih," jawab Ezar, yang langsung disambut tawa pelan, dari Abel dan juga Khaira.
Walaupun dibujuk dengan bayaran, Ezar sama sekali tidak mau meminum kopi hitam bersamaan dengan memakan nuget. Hal itu sungguh di luar pemikirannya.
"Mau ke atas sekarang?" tanya Abel, beralih kepada Khaira.
Khaira langsung mengangguk pelan. "Iya, Kak. Pekerjaan aku hari ini banyak banget. Jadi harus segera aku selesaikan, supaya ga terlalu pulang malam."
Abel mengangguk paham.
"Oke, deh, kalau gitu."
"Aku duluan, ya, Kak," pamit Khaira, dan langsung mendapat anggukkan setuju dari Abel.
Setelah itu, dia mengalihkan tatapannya kepada Ezar yang tengah sibuk membuat kopi hitam pesanan Abel.
"Duluan, Zar."
Ezar langsung menoleh ke arah Khaira. "Iya, Khai."
"Assalamu'alaikum," ucap salam Khaira, sebelum dia benar-benar berlalu pergi dari sana.
"Wa'alaikumsalam," jawab Abel dan Ezar secara bersamaan.
Di luar dugaan, tidak hanya mereka yang menjawab, tetapi berberapa pengunjung cafe yang sedang asik menikmati minuman dan makanan mereka, juga ikut menjawab salam Khaira.
Para pengunjung yang ada di dalam cafe itu adalah tipe orang-orang yang suka belajar dan membaca buku sambil menikmati makanan dan minuman.
Tidak berselang lama setelah Abel keluar dari cafe itu dan kembali ke meja kerjanya, munculan sekumpulan anak muda yang sangat Ezar kenal.
"Wey, semangat banget kayanya. Padahal baru keluar dari rumah sakit," ucap Daris, dengan suara yang sedikit kerasa, seperti biasanya.
"Shtt! Jangan berisik." Faiz membungkam mulut Daris, karena salah satu sahabatnya itu memang sulit sekali menyesuaikan diri dengan situasi.
"Lepasin! Tangan lo asin!" kesal Daris, sambil menepis tangan Faiz dengan sedikit kuat.
Sehingga hal itu langsung membuat Faiz melepaskan telapak tangannya dari mulut Daris.
"Ini perpustakaan bukan basecamp." Faiz mengingatkan.
Sementara Daris hanya terkekeh pelan. "Sory!"
"Ngapain kalian ke sini?" tanya Ezar, begitu melihat mereka memasuki cafe Galaksi secara bersamaan.
Kehadiran mereka bahkan mengambil alih perhatian para pengunjung yang ada di sana. Namun, dengan cepat, mereka kembali memfokuskan pandangan mereka ke buku yang sedang mereka baca.
"Kita yang harusnya nanya. Ngapain lo di sini?" Daris kembali bertanya.
"Jelas, gue kerja," jawab Ezar.
Pertama kali melihat para sahabatnya itu memasuki pintu cafe, Ezar langsung menggelenkkan kepalanya, sambil menghembuskan napasnya dengan jengah.
Dia sudah bisa memprediksi apa yang akan terjadi, jika mereka berkumpul dalam satu tempat seperti itu.
Dia hanya bisa berharap, semoga mereka tidak mengganggu pekerjaannya.
Sebenarnya, tidak semua sahabatnya seperti itu. Galvin, Fardan, dan Izan adalah sahabatnya yang bisa dibilang aman.
Sementara tiga lainnya, yaitu Daris, Faiz, dan Dafa, sangat jauh dari kata aman. Mereka adalah dalang keributan.
"Kalian mau ngapain di sini?" tanya Ezar, kepada ketiga sahabatnya yang tergolong ke dalam kelompok tidak aman.
"Mau liat orang yang ga denger ucapan sahabatnya. Di suruh istirahat, malah ngeyel tetep masuk kerja," jawab Daris.
Dia sengaja mencibir Ezar yang tidak mau mendengarkan apa yang dokter katakan. Selain itu, Ezar juga tidak mau mendengarkan ucapan mereka.
Ezar malah dengan santainya masuk kerja, sementara mereka khawatir dengan keselamatannya.
"Bener. Padahal bosnya aja nyuruh dia jangan dulu kerja," timpal Dafa, sambil melirik sekilas ke arah Galvin yang sudah duduk di salah satu kursi yang ada di cafe Galaksi.
"Gue bosen kalau cuma diam di rumah. Lagian gue juga udah ga papa," ucap Ezar, jujur.
Sehari saja di rumah sudah membuatnya merasa begitu bosan, apalagi dokter memintanya untuk beristirahat beberapa hari kedepan. Hal itu tentu saja tidak bisa dia lakukan.
"Belum satu hari diam di rumah, udah bilang bosen," cibir Faiz.
"Kayanya lo lebih nyaman di perpustakaan ini dari pada di rumah lo sendiri," sambung Dafa, ikut mencibir.
"Lo bener. Gue lebih nyaman di sini dari pada di rumah," jawab Ezar dengan yakin.
Jawaban itu membuat ketiga sahabatnya langsung diam secara serentak. Terutama Dafa, dia langsung merasa bersalah karena telah berbicara seperti itu.
Melihat ketiga sahabatnya yang langsung diam, membuat Ezar tahu apa yang sedang mereka pikirkan tentangnya.
Dia tahu, mereka pasti merasa bersalah padanya. Padahal dia sendiri tidak masalah akan hal itu, karena dia sudah bisa berdamai dengan hidupnya.
"Kenapa lo senyam-senyum kaya gitu? Gue jadi takut liatnya, njir!" Daris bergidik ngeri, sambil melangkah mundur, menjauhi Ezar.
"Dari pada senyam-senyum ga jelas, mending lo buatin kita kopi. Bos kita yang bayar!" ucap Dafa sambil menunjuk ke arah Galvin.
Galvin tidak menentang itu, yang berarti dia menyetujui apa yang Dafa katakan.
Bukan masalah baginya jika hanya mentraktir mereka di cafe miliknya sendiri.
"Gue bantu siapin," ucap Izan.
Dia sedikit ahli dalam hal itu. Sehingga Ezar percaya semua akan berjalan dengan lancar, jika Izan yang membantunya.
Sementara sisanya langsung menunggu di meja bundar yang belum terisi, dan cukup bagi mereka berkumpul di sana.
"Gue salut banget sama lo. Bisa ngurus perpustakaan ini sekaligus ngurus bengkel dalam waktu yang bersamaan," ucap Fardan, bangga akan keberhasilan Galvin.
"Mereka yang hebat bukan gue," jawab Galvin, sambil menunjuk ke arah para karyawan yang sedang fokus bekerja di perpustakaan itu.
"Lo juga hebat karena udah mempekerjakan orang-orang yang kompeten, termasuk dia." Fardan menunjuk Ezar menggunakan gerakan mata.
Sementara Ezar tengah fokus mempersiapkan pesanan mereka, dibantu oleh Izan yang terlihat kompeten juga.
"Gue jadi sadar, kenapa lo ga nerima gue kerja di sini." Daris bergumam pada dirinya sendiri, tetapi ucapan itu tertuju kepada Galvin.
Gumaman Daris mengundang perhatian Faiz, sehingga Faiz langsung melirik sinis ke arah Daris. "Bagus. Akhirnya lo sadar diri," ucapnya, sambil menepuk pundak Daris beberapa kali.
"Lo itu cocoknya kerja di bengkel. Karena lo berisik. Perlatan bengkel sama berisiknya kaya lo. Jadi lo cocok di sana. Bukan di perpustakaan ini yang identik dengan ketenangan," sambungnya kembali, berupa cibiran.
Di luar dugaan, bukannya marah mendapat cibiran sepedas itu, kali ini Daris malah langsung mengangguk setuju.
"Lo bener juga. Kayanya gue ga tahan kerja di sini." Daris mengakui itu dan dia terima, karena itu memang benar adanya.
"Setiap hari gue pasti ngerasa lagi dihantui," gumamnya kembali, dengan pelan, tetapi masih terdengar jelas oleh yang lainnya.
"Dihantui?" tanya Dafa, sambil menaikkan salah satu alisnya.
Daris mengangguk. "Ya. Buku-buku itu hantunya. Gue ga habis pikir, dia setiap sudut tempat ini kenapa ada banyak buku? Bahkan di cafenya aja ada lemari buku," ungkapnya, dengan segala keheranannya.
Daris bukanlah termasuk orang-orang pecinta buku. Justru sebaliknya, dia orang yang takut melihat buku.
Baginya, buku jauh lebih horor dari pada hantu.
"Dan liat orang-orang itu." Dia melihat ke sekelilingnya. "Mereka ga pusing dan gak bosen, apa? Terus-terusan liat tulisan."
"Ga, lah. Mereka, kan, rajin. Ga kaya lo, masuk sekolah cuma buat titip absen doang," timpal Dafa.
"Lo juga," balas Daris.
"Dih, lo lupa, kalau gue wakil ketua OSIS di Glory High School? Gue itu anak rajin. Iya, ga, Paketu?" tanya Dafa, melirik ke arah Galvin, untuk mendapatkan validasi.
Sementara itu, Galvin meresponnya hanya dengan sebuah gumaman saja.
Yang satu sekolah dengannya hanyalah Galvin saja, sementara sahabatnya yang lain bersekolah di Diamond High School.
"Di sini cuma lo yang males," cibir Faiz, yang memang selalu berada di pihak berbeda dengan Daris.
"Ngaca sana! Lo juga sama malesnya," kesal Daris, dengar nada bicaranya yang sedikit keras, hingga membuat pengunjung lain melirik ke arah mereka.
"Tapi lebih parah lo," timpal Faiz, dengan suaranya yang sama keras seperti Daris.
"Keluar! Di sini bukan tempat buat ribut." Galvin akhirnya bersuara.
Awalnya, dia masih membiarkan kedua sahabatnya itu berdebat, karena mereka berdebat dengan suara yang bisa dibilang pelan, sehingga tidak mengganggu kenyamanan yang lain.
Namun, semakin lama dibiarkan, perdebatan mereka mengusik telinga pendengar. Hal itu tentu saja mengganggu ketenangan.
"Lo, sih!" Faiz menyalahkan Daris, atas marahnya Galvin kepada mereka.
"Lo—!" timpal Daris, tidak tuntas, karena dia lebih dulu mendapat tatapan tajam dari Galvin.
"Sory, Gal!" ucapnya, pelan.
"Udah tau punya ketua galak, masih aja bikin ulah," cibir Dafa.
Mendengar Dafa berbicara seperti itu, Daris dan Faiz langsung melirik ke arah Dafa dengan tatapan kesal.
Pasalnya, Dafa ikut berdebat dengan mereka, tetapi Dafa tidak menerima amarah Galvin, karena Dafa tidak berdebat hingga akhir.
Setelah mendapat teguran dari Galvin, mereka tidak lagi berdebat hingga mengganggu ketenangan, mereka hanya berbincang santai.
Namun, yang berbincang hanyalah teman-temannya, sementara Galvin asik sendiri dengan dunianya.
Saat ini, Galvin menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, dengan kedua kelopak matanya yang tertutup sempurna.
Tidak lupa juga kedua tangannya dia lipat di depan dada. Dengan salah satu kakinya yang dia letakkan di atas satu kaki yang lainnya.
Mereka tahu, jika Galvin tidak tertidur. Galvin hanya memejamkan mata, serta menenangkan pikirannya.
Tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahui isi pikiran Galvin, ketika Galvin mencari ketenangan seperti itu.
Tidak ada satu pun dari mereka yang berani mengganggu ketenangan ketuanya itu.
"Gue penasaran, apa yang dia pikiran kalau lagi diem kaya gitu," bisik Daris, kepada mereka yang mendengarnya.
"Tanyain ke orangnya langsung," timpal Faiz.
"Mana berani gue," ucap Daris, dengan ekspresi takut.
Membayangkannya saja dia tidak berani, apalagi mengganggu Galvin secara nyata, tentu saja hal itu mustahil untuk dia lakukan.
Galvin mendengar bisikkan teman-temannya itu, tetapi dia memilih untuk mengabaikannya.
Pikiran Galvin tidak ada bersama mereka, melainkan berada di lantai dua, di mana terdapat Khaira yang sedang bekerja di sana.
Kapan lo selesai kerja, Khaira? batin Galvin, dengan kedua matanya yang masih terpejam sempurna.