"Kamu adalah luka paling berdarah dalam hidupku."
Satu hari aku tidak ada untukmu, dan kamu menghukumku dengan keheningan selamanya. Aku mencoba lari, aku mencoba mencintai orang lain, bahkan aku menjadi wanita yang buruk dengan mendua demi melupakan bayangmu. Tapi semua sia-sia. Kamu tetap pergi, dan yang paling menyakitkan... kamu memilih sahabatku untuk menggantikan posisiku.
Dapatkan luka ini sembuh saat penyebabnya kini bahagia dengan orang terdekatku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Fis? Kok bengong?"
Suara lembut Bintang membuyarkan lamunanku. Ia menyodorkan sebuah kantong kertas berisi roti hangat yang aromanya sangat kukenal. Namun, mataku justru tertuju pada tangannya yang lain—ia hampir saja menyentuh puncak kepalaku, sebuah kebiasaan yang biasa ia lakukan saat kami hanya berdua.
Aku mundur selangkah secara refleks. Mataku melirik ke arah pintu kelas yang terbuka lebar.
"Fis?" Bintang tampak bingung dengan reaksiku. Senyumnya sedikit luntur.
"Makasih, Bin. Tapi harusnya lo nggak perlu repot-repot ke sini," kataku dengan suara serendah mungkin, nyaris berbisik. Aku bisa merasakan jantungku berdegup kencang, bukan karena cinta, tapi karena takut rahasia ini terbongkar di saat yang salah.
"Tadi aku ke kantin, terus ingat kamu belum sarapan. Dimakan ya?" ucapnya tulus.
Tepat saat itu, Anjani—teman sekelasku yang terkenal paling ingin tahu—berjalan melewati kami untuk masuk ke kelas. Langkahnya melambat, matanya menatap tajam ke arah tangan kananku yang masih meremas tiket pertandingan dari Radit, lalu beralih ke kantong sarapan dari Bintang.
"Wah, Afisa... pagi-pagi udah dapet double servis nih?" sindir Anjani dengan nada yang cukup keras hingga beberapa orang di dalam kelas menoleh. "Tadi gue lihat lo bareng Radit di koridor depan, sekarang Bintang bawain sarapan. Laris manis ya?"
Wajah Bintang berubah kaku. Ia menatapku, lalu melirik tiket di tanganku. "Radit?" tanyanya pelan, suaranya mengandung luka yang berusaha ia sembunyikan.
"Bukan apa-apa, Bin. Ini cuma soal latihan debat," dustaku cepat, meskipun aku tahu tiket bola tidak ada hubungannya dengan debat.
Anjani tertawa kecil sambil bersandar di pintu kelas. "Debat apa nonton bola, Fis? Hati-hati lho, nanti ada yang cemburu. Eh, tapi siapa ya yang berhak cemburu? Kan nggak ada yang tahu lo milih siapa."
Aku mengepalkan tangan, menahan emosi yang meluap. Anjani benar-benar tahu cara mengorek luka. Aku menatap Bintang yang masih berdiri menungguku, sorot matanya yang jernih kini tampak mendung. Aku merasa seperti penjahat yang sedang menghujamkan pisau ke dada orang yang paling baik padaku.
"Gue masuk dulu," kataku pada Bintang tanpa berani menatap matanya. Aku merampas kantong roti itu dan melangkah melewati Anjani dengan bahu tegang.
"Fis," panggil Bintang lirih.
Aku tidak menoleh. Aku duduk di bangkuku, melempar tiket Radit dan sarapan dari Bintang ke dalam laci meja seolah-olah itu adalah barang terlarang. Di depan kelas, aku bisa merasakan tatapan Anjani yang masih menyelidik, dan di luar sana, aku tahu Bintang pergi dengan seribu tanya yang tidak akan pernah kujawab.
Hari ini baru saja dimulai, tapi aku sudah merasa ingin pulang dan bersembunyi selamanya.
Suasana kelas yang bising perlahan memudar saat aku menenggelamkan wajah di antara lipatan tangan di atas meja. Aroma roti dari laci meja dan bau kertas tiket itu seolah berebut masuk ke indra penciumanku, mengingatkanku betapa berantakannya hidupku hanya dalam satu jam pertama di sekolah.
Aku ingin menangis, tapi mataku terasa kering. Aku ingin berteriak, tapi tenggorokanku tercekat oleh rasa bersalah pada Bintang dan amarah pada diriku sendiri.
Braakk!
Suara buku tebal yang dihantamkan ke meja guru membuatku tersentak kaget. Aku refleks menegakkan punggung, mendapati Pak Danu, guru sejarah yang terkenal paling disiplin, sudah berdiri di depan kelas dengan kacamata yang melorot di hidungnya.
"Afisa! Kamu ini ke sekolah mau belajar atau mau pindah tidur?" tegur Pak Danu tajam. Seluruh pasang mata di kelas X IPS 2 kini tertuju padaku, termasuk Anjani yang menyeringai kecil dari bangku sebelah.
"Maaf, Pak. Saya kurang enak badan," jawabku pelan, berusaha mengontrol raut wajahku.
"Kalau kurang enak badan, ke UKS! Jangan jadikan meja kelas sebagai bantal. Sekarang buka buku paket kalian halaman 142. Kita bahas tentang dampak Perang Dunia, bukan dampak begadang!"
Aku membuka tas dengan tangan gemetar, mencari buku sejarah di antara tumpukan buku lainnya. Namun, bukannya buku yang kutemukan pertama kali, jemariku justru menyentuh sudut tajam tiket pertandingan sepak bola dari Radit yang tadi asal kumasukkan.
Aku terdiam sejenak. Pikiranku melayang ke lapangan sepak bola sore nanti. Guntur pasti ada di sana. Fita juga. Dan sekarang ada Radit yang menarikku masuk ke dalam pusaran ini.
"Fis, lo nggak apa-apa?" bisik Anjani tiba-tiba dari samping, suaranya kini tidak lagi menyindir, tapi penuh selidik. "Muka lo pucat banget. Gara-gara Bintang tadi? Atau gara-gara tiket Radit?"
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap lurus ke papan tulis, memperhatikan tulisan kapur Pak Danu yang berderit nyaring. Sejarah memang selalu tentang perang dan perebutan wilayah, pikirku pahit. Persis seperti apa yang terjadi di hidupku sekarang: perebutan hati yang sebenarnya sudah hancur sejak malam di Jogja itu.
Tiba-tiba, sebuah gumpalan kertas kecil mendarat di atas mejaku. Aku melirik ke arah pintu kelas yang tertutup. Dari celah kaca, aku melihat sekilas sosok Radit yang berjalan menjauh sambil melambaikan tangan tanpa menoleh.
Dengan tangan di bawah meja, aku membuka gumpalan kertas itu.
Jangan lupa makan rotinya. Jangan telat ke lapangan sore ini kalau nggak mau gue jemput paksa ke depan kelas lo.
Aku meremas kertas itu erat-erat. Radit benar-benar gila. Dia tidak sedang membantuku, dia sedang menjeratku dalam permainan yang lebih berbahaya. Sementara di suatu tempat di gedung ini, Bintang mungkin sedang menahan luka karena kebohonganku, dan Guntur... dia mungkin sedang menyiapkan dinding es yang lebih tinggi untuk menghancurkanku.
palingan dia cemburu dengar cerita dari Radit kalo Afis bersinar di UI dan lagi dekat sama Arkan
nggak usah ditanggapi Fis
muak Ama afis🤣
moga Afis dapat pendamping yang benar-benar membuat dia bahagia
lupakan Guntur dan segala penyesalan itu Fis
main gabung aja orang lagi asik b2