Mary terpaksa pulang kampung setelah cita-citanya untuk menjadi desainer pakaian harus kandas.
Di kampung, ia dijodohkan dengan Jono, calon anggota dewan yang terobsesi pada Mary.
Demi terhindar dari perjodohan yang dilakukan orang tuanya dan pergi dari kampung halamannya, Mary nekat memaksa seorang duda galak dan dingin bernama Roseo untuk menikahinya.
Sandiwara tergila-gila duda itu akankah berhasil atau justru membuatnya tergila-gila duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vlav, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
003
“Wah, hebat sekali, si Tuti itu Jah, tiga kali menikah, pelet apa yang dia pakai,” Mary terheran-heran.
“Entahlah, yang pasti aku sudah tiga kali menerima undangan pernikahannya yang selalu digelar besar-besaran!” Cerocos Jijah.
“Waw, aku sungguh tak bisa berkata-kata,” ucap Mary.
“Makanya itu, kenapa kau bisa bareng dia? Jangan-jangan kau turut diincarnya, hehe,” Jijah terkekeh.
“Aduh Jah, sungguh aku hanya kebetulan bertemu dengan Tuti. Aku sedang dalam kondisi krisis kehidupan, barang bawaanku hilang, baterai ponselku habis, aku tidak bawa uang tunai, dan aku terdampar di kota antah berantah,” keluh Mary.
“Haha, tapi, kau tidak diapa-apain sama dia kan?” Tanya Jijah penuh selidik.
“Idih, diapa-apain apanya?” Sewot Mary.
“Yah, namanya dia sudah duda tiga kali, siapa tahu, dia lagi gatal dan minta digaruk,” ceplos Jijah.
“Haha, dasar kau ini Jah, otak mesum”, cibir Mary.
“Oh ya, ngomong-ngomong, apa kau sudah tahu, siapa saja calon suamimu?” Tanya Jijah.
Mary terperangah mendengar pertanyaan Jijah.
“Siapa saja? Berarti lebih dari satu?” Tanya Mary.
Jijah mengangguk penuh semangat. Ibu dua anak itu benar-benar menantikan kisah petualangan cinta sepupunya itu.
“Eh, Mar, aku harus balik ya, sudah waktunya jemput anak-anakku dari sekolah,” Jijah berpamitan.
“Ya elah, Jijah, kok malah pergi,” keluh Mary.
“Lebih baik kau beristirahat, karena mulai nanti malam, kau akan sibuk mendapat kunjungan dari para calon suamimu, hehe,” Jijah terkekeh.
Mary merebahkan dirinya di tempat tidur yang ada di kamarnya.
Siapa yang akan menduga bahwa ia akan kembali pulang ke kampung halamannya.
Tak terbayangkan oleh Mary bahwa ia harus menerima takdir yang dua puluh tahun silam sudah berusaha ia ubah.
Merantau ke kota besar begitu lulus dari sekolah menengah untuk masuk ke sekolah kejuruan tata busana hingga lanjut menempuh pendidikan di sekolah fashion design dengan biaya yang tidak sedikit jumlahnya.
Setelah lulus Mary harus magang dibanyak tempat untuk mendapatkan banyak pengalaman sebelum akhirnya bisa bekerja di salah satu rumah mode ternama.
Mary merasa kerja kerasnya selama dua puluh tahun menjadi sia-sia jika ia harus berakhir di kampung halamannya dengan menikahi salah satu dari beberapa calon suami yang sudah disiapkan oleh kedua orang tuanya.
Itu artinya ia harus menyerah terhadap mimpi yang bahkan belum bisa dicapainya.
Apa yang harus kulakukan agar terhindar dari perjodohan ini? Batin Mary.
***
Mary harus memakai kebaya milik ibunya ketika masih muda lantaran Mary tidak memiliki pakaian lain yang bisa dipakainya pasca kehilangan koper berisi barang bawaannya.
Sesuai perkataan Jijah tadi siang bahwa mulai malam ini, Mary harus bertemu dengan para pria yang menjadi calon suaminya.
Bagi penduduk di kampung halaman Mary, keluarga Mary begitu disegani dan dihormati sebagai salah satu keluarga terkaya di kampung.
Pak Sumarto dan Bu Marni pasti sudah melakukan seleksi ketat terhadap para pria yang akan menjadi calon menantu mereka.
Terlebih Mary memiliki kecantikan di atas rata-rata yang membuat banyak pria ingin meminangnya.
Dari banyaknya kandidat, Pak Sumarto dan Bu Marni hanya mengambil nama-nama yang masih bertahan hingga belasan tahun dalam menunggu Mary kembali dari kota besar.
Mary benar-benar terkejut saat melihat pria yang datang ke rumah orang tuanya.
Pria itu menyunggingkan senyum penuh seringaian di wajah sangarnya.
Dengan jenggot putih tebal yang ditata rapi, pria paruh baya itu melangkah masuk bersama seorang pria berkumis hitam tebal dan jenggot yang ditata rapi.
Kedua pria itu disambut baik oleh ayah dan ibu Mary.
Mereka adalah Pak Bejo dan anak laki-lakinya yang bernama Jono.
Jono sendiri merupakan kakak kelas sewaktu Mary masih di sekolah menengah pertama.
Jono yang tergila-gila bahkan begitu terobsesi pada Mary.
Mary sungguh tak bisa memaafkan perbuatan Jono yang kala itu nyaris melakukan pelecehan seksual terhadapnya.
Pria yang dulu hampir memperkosa Mary, justru datang untuk meminang Mary.
Sungguh pria menjijikan! Batin Mary mengumpat kesal.
***
Trakk!!
Mary dengan sengaja menghentakan nampan berisi cangkir untuk menghidangkan teh.
“Mawary,” Bu Marni melotot ke arah Mary.
Mary memasang ekspresi masam yang tak dapat disembunyikannya sementara Jono tersenyum sumringah sambil memilin kumis tebalnya.
“Mawary, begitu lama tak bertemu, semakin cantik saja,” Jono melontarkan pujian.
Pujian Jono malah membuat ekspresi Mary semakin masam.
Jono, pria bertubuh gempal, berkulit gelap dengan rambut yang sudah mulai botak. Tatapan mata Jono seakan berusaha menelanjangi Mary yang duduk di hadapannya.
“Tak salah Pak Marto selalu membanggakan Mawary, Mawary memang patut untuk dibanggakan,” Pak Bejo menimpali.
“Haha, saya hanya mengatakan apa adanya, tidak ada maksud melebih-lebihkan,” Pak Marto tertawa renyah.
“Silahkan dicicipi, kudapannya, Pak Bejo, Jono,” ucap Bu Marni.
“Memang tak salah, selama ini saya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan dalam menunggu Mawary,” tukas Jono.
“Jujur lho, Pak, Bu, saya tidak mau menikah dengan wanita lain, selain dengan Mawary,” lanjut Jono.
Mary merasa perutnya kram dan ingin muntah mendengar ucapan Jono.
Mary beranjak dari tempat duduknya, seketika Bu Marni menahannya.
“Mawary, mau kemana?” Tanya Bu Marni.
“Mau ke belakang sebentar Bu,” jawab Mary.
Mary beranjak pergi diikuti tatapan mata Jono.
Mary langsung menghampiri Jijah yang mengintip dari dapur.
“Jijah! Yang benar saja, apa tidak salah, aku dijodohkan dengan Jono?!” Geram Mary.
Jijah mengendikan bahunya.
“Aku harus protes! Mana mau aku dijodohkan dengan kriminal macam Jono!” Ketus Mary.
“Mary, apa kau tahu, selama dua puluh tahun ini, Jono terus menerus meneror ayah dan ibumu! Jono bilang dia mau bertanggung jawab atas perbuatan yang dulu pernah dilakukannya terhadapmu,” kata Jijah.
“Apa?! Tanggung jawab?! Dasar bajingan bejat itu!” Geram Mary.
Mary sungguh tak bisa memaafkan perbuatan yang pernah dilakukan Jono terhadapnya.
Jono pernah mencoba mencium Mary secara paksa hingga membuat Mary merasa trauma.
Bahkan selama berkencan dengan mantan kekasihnya, Mary tidak berani untuk berciuman.
Di saat ia akan berciuman, kenangan buruk saat Jono mencoba menciumnya langsung membuat seluruh sel syaraf di tubuhnya menolak.
Meski kejadian itu sudah terjadi begitu lama, namun trauma pasca kejadian tersebut masih tetap ada dan begitu setia menghantui Mary.
“Mawary, kok malah nongkrong di dapur? Lekas temui Jono”.
Bu Marni muncul di dapur untuk menyusul Mary yang tak kunjung kembali ke ruang tamu.
“Ibu, yang benar saja, kenapa aku harus dijodohkan dengan Jono? Apa tidak ada pria baik-baik lain yang lebih pantas untukku? Kenapa harus kriminal itu?” Protes Mary.
“Hush! Mary, jaga ucapanmu,” tukas Bu Marni. “Selama dua puluh tahun ini, Jono sudah menunggumu, dia sudah beritikad baik untuk menebus kesalahannya. Apa salahnya memberi kesempatan untuk Jono?”
“Lagipula, Jono sudah menunjukan prestasi yang bagus, Jono sudah lulus S2 dan dengar-dengar sedang menempuh pendidikan S3. Jono bahkan sudah berkarir di dunia politik dan kedepannya akan mengikuti pemilihan anggota dewan”.
Mary mendelik gusar mendengar portofolio Jono.
Mary sungguh menentang perjodohan ini!
***
Bonus Visual
Jono
karakternya unik2
seru