Bima Sakti hanyalah seorang sopir di Garuda Group yang dikenal malas, sering terlambat, dan suka menggoda perempuan cantik. Namun, di balik sikapnya yang sembrono, Bima menyimpan identitas dan kemampuan luar biasa yang tidak diketahui siapa pun.
Kehidupan santainya berubah ketika ia harus berurusan langsung dengan Sari Lingga, Presiden Direktur Garuda Group yang dijuluki "Si Cantik Gunung Es". Di tengah persaingan bisnis yang kejam dan kejaran pria-pria berkuasa, Bima hadir bukan hanya sebagai sopir, melainkan sebagai pelindung rahasia bagi Sari.
Dari ruang kantor yang kaku hingga konflik dunia bawah Jakarta, Bima menunjukkan bahwa ia jauh lebih berbahaya daripada sekadar sopir armada biasa. Akankah si "Gunung Es" Sari Lingga akhirnya luluh oleh pesona sang sopir misterius ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Namun Dewi sama sekali tidak memedulikannya. Ia terus meyakinkan Sari. “Begini, Bu Sari. Belakangan ini Departemen SDM sedang kewalahan menangani beberapa proyek ekspansi. Kami benar-benar kesulitan mencari orang yang bisa dipercaya untuk mengurus perekrutan ini. Padahal keamanan perusahaan sangat vital.”
“Lagipula Asisten Bima sekarang tidak terlalu sibuk. Daripada menganggur dan hanya menggoda staf wanita, biarkan dia mencobanya. Dia punya insting yang bagus soal orang.”
Sari merenung sebentar, lalu mengangguk setuju. “Benar juga. Dia memang menganggur sepanjang hari dan tidak pernah melakukan pekerjaan yang serius di kantor. Sudah waktunya memberinya tanggung jawab.”
“Kalau begitu sudah diputuskan.” Dewi segera menimpali dengan senyum penuh kemenangan. “Saya akan menyuruh staf publikasi mengumumkan lowongan ini. Ketika waktu wawancara tiba, saya akan memberi tahu Asisten Bima.”
Di samping mereka, Bima merasa seolah dirinya baru saja ditumbalkan. “Kalian berdua tidak boleh menindas orang lemah seperti ini!” protesnya dengan wajah serius. “Aku ini cuma sopir kecil, tapi kalian malah menyuruhku mengurus seleksi satpam?”
“Jabatanmu sekarang adalah Asisten Direktur,” koreksi Dewi.
“Asisten direktur apanya!” gerutu Bima. “Itu cuma gelar kosong yang bikin repot! Gajiku tetap gaji sopir! Kerja sebanyak itu dengan bayaran segitu? Kalian pikir aku sapi yang cuma makan rumput tapi disuruh menghasilkan susu emas?”
Ia merasa dirinya lebih teraniaya daripada tokoh-tokoh dalam legenda drama tragis. Sebaliknya, melihat wajah kesal Bima justru membuat Sari merasa sangat senang.
Melihat reaksinya begitu keras, Sari yang sebelumnya masih sedikit ragu langsung memantapkan keputusan. Ia menepuk meja dengan keras. “Baik! Aku akan menaikkan gajimu dua ratus ribu rupiah!”
“Masalah ini selesai! Kalau kamu berani mengacaukannya, aku tidak akan mengampunimu!”
“Dua ratus ribu… bahkan tidak cukup untuk beli pulsa sebulan…” Bima bergumam lemas. Menghadapi dua wanita yang begitu dominan ini, Bima benar-benar tak berdaya.
“Cuaca hari ini sebenarnya cukup bagus, ya,” ujar Sari tiba-tiba. Melihat ekspresi penderitaan Bima, suasana hatinya mendadak menjadi sangat baik. Senyum langka bahkan muncul di wajah cantiknya.
“Lumayan. Mendung seperti ini lebih cocok untuk olahraga di tempat tidur,” gumam Bima pelan namun terdengar jelas.
“BIMA, DASAR BAJINGAN! Apa hubungannya cuaca mendung dengan olahraga di tempat tidur?!” Sari hampir meledak marah lagi. Otak pria ini sepertinya memang hanya dipenuhi hal-hal mesum.
“Tentu saja ada hubungannya,” Bima menjawab dengan wajah sangat serius, seolah sedang menjelaskan teori fisika. “Kalau cuaca mendung, orang jadi malas keluar rumah. Lebih baik berbaring di tempat tidur. Kalau tidak bisa tidur, ya olahraga sedikit di atas kasur. Misalnya sit-up, push-up, dan sebagainya—melatih otot perut. Yang berpikir kotor itu kamu, Bos. Bagaimana bisa pikiranmu tidak sehat begitu?”
“Kamu…!” Sari benar-benar hampir gila dibuatnya. Pada akhirnya, justru dia yang dianggap berpikiran mesum?
Tepat saat itu ponsel Dewi berdering, memotong pertengkaran mereka. Ia berjalan ke samping untuk menjawab telepon. Ketika kembali, ekspresinya terlihat agak rumit dan serius.
“Kak Dewi, ada apa?” tanya Sari. Saat tidak ada orang lain, Sari memang biasa memanggil Dewi dengan Kak Dewi karena hubungan mereka yang sangat akrab layaknya sahabat.
“Barusan orang dari Cahaya Group menelepon,” kata Dewi perlahan. “Mereka mengatakan bahwa Direktur Hartono sudah tiba di Jakarta hari ini. Dia ingin bertemu denganmu secara pribadi malam ini untuk membicarakan proyek agen ekspor senilai puluhan miliar rupiah.”
“Pak Hartono dari Cahaya Group ingin berbicara denganku?” Sari sedikit mengernyit. Insting bisnisnya langsung mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Beberapa hari lalu mereka telah sepakat untuk mengadakan pertemuan, namun ketika Sari tiba di lokasi, Dimas Prawira sudah lebih dulu hadir dan dengan jelas menyatakan bahwa ia akan mewakili Direktur Hartono dalam negosiasi proyek tersebut. Menurut dugaan Sari, kontrak itu pasti telah direbut oleh Prawira Group.
Lalu mengapa hari ini Direktur Hartono tiba-tiba ingin berbicara dengannya lagi?
“Bu Sari,” kata Dewi serius, “di luar sana sudah beredar kabar bahwa proyek Cahaha Group itu telah dimenangkan oleh Prawira Group. Bahkan dikatakan kedua pihak sudah menandatangani perjanjian, hanya saja belum diumumkan secara resmi. Sekarang Pak Hartono tiba-tiba ingin bertemu lagi dengan Anda. Menurut saya, motifnya tidak murni.”
“Bukan sekadar tidak murni,” sela Bima dari samping. “Motifnya sangat busuk! Orang bernama Hartono itu jelas sedang mempermainkan kita. Bisa jadi ini hanya sandiwara yang diatur oleh Tama Prawira dan anaknya, si Dimas itu.”
“Kamu tahu apa soal bisnis?” Sari melotot ke arah Bima. “Bagaimanapun juga ini sebuah kesempatan emas. Mungkin Prawira Group dan Cahaya Grup belum mencapai kata sepakat! Kalau begitu, kita masih punya harapan untuk mendapatkan proyek ini.”
Ia lalu menoleh pada Dewi. “Dewi, segera balas pihak Cahaya Group. Katakan aku akan datang tepat waktu malam ini.”
“Tidak dipikirkan lagi, Sari?” Dewi mencoba menasihati sahabatnya. “Bagaimana kalau benar seperti yang dikatakan Bima—ini hanya jebakan dari Prawira Group dan Cahaya Group?"
Sari menggelengkan kepalanya pelan, mencoba menepis kekhawatiran sahabatnya.
“Kemungkinannya kecil, Dewi. Cahaya Group adalah perusahaan besar dengan reputasi internasional, mereka tidak akan melakukan hal konyol atau membosankan seperti menjebak mitra bisnis,” ujar Sari yakin.
“Lagipula, tidak ada permusuhan besar antara aku dan Prawira Group. Tama Prawira mungkin kompetitor yang keras, tapi mereka tidak perlu sampai membuat jebakan kriminal untukku.”
Di sampingnya, Bima hanya menyeringai tipis. Tidak ada permusuhan besar? batinnya geli.
Putra mahkota Tama Prawira, yaitu si brengsek Dimas, hampir saja hancur masa depannya setelah bagian vitalnya dihantam teknik “Tendangan Bor Naga Sakti” milik Bianca tempo hari. Kalau itu belum disebut permusuhan besar yang bisa membuat tujuh turunan dendam kesumat, lalu apa lagi?
Tentu saja, Tama Prawira pasti menutup rapat-rapat berita memalukan tentang putranya yang "cedera burung" itu. Dan Bianca juga tidak mungkin menceritakan detail kejadian brutal tersebut kepada Sari. Jadi wajar saja jika Sari masih merasa dunia ini aman-aman saja.
“Baiklah. Kalau begitu aku akan menghubungi Cahaya Group untuk konfirmasi jam pertemuannya,” Dewi mengangguk mantap selaku Manajer HRD yang merangkap asisten strategis.
Masalah ini pun akhirnya diputuskan.