NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cinta Seiring Waktu / Fantasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Tidak pernah terpikirkan oleh Sarah bahwa dirinya akan diberi kesempatan kedua untuk kembali hidup.
Seumur hidup, hanya ia habiskan untuk berfoya-foya dan mengajar cinta Marvin yang tak pernah ia miliki hingga akhir hayatnya. Tak segan Sarah mencelakai wanita yang dicintai Marvin, Kayla. Namun di kehidupan sebelumnya, meskipun Sarah sering membawa kesialan dan membuat hidup Marvin dan Kayla menderita, mereka masih berbaik hati memberi Sarah bantuan ketika gadis itu sedang menghadapi masalah ekonomi karena ayahnya yang bangkrut.
Di kehidupan kali ini, Sarah hanya ingin mencoba membahagiakan dirinya sendiri dan melepas cinta pertama yang begitu membekas bagi dirinya.
Tapi siapa yang sangka kehidupan keduanya ternyata lebih rumit daripada yang Sarah bayangkan. Ia ditimpa bertubi-tubi kenyataan yang membuat logikanya tidak lagi berjalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

Seperti hari-hari biasanya, saat pulang sekolah semua siswa berhamburan keluar. Ada yang segera pulang ke rumah dan ada juga yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, bahkan ada yang memilih untuk tetap tinggal di kelas seperti Sarah contohnya.

Gadis itu masih merenungi nasibnya yang sepertinya ditakdirkan untuk selalu berurusan dengan Marvin. Padahal dengan susah payah ia membulatkan tekad untuk menjauh dan melupakan laki-laki itu, tapi entah kenapa kehidupannya kalau ini seakan takdir sengaja mempertemukan mereka terus-menerus. Kadang ia bertanya kenapa ada kehidupan sebelumnya mereka malah dijauhkan?

"Lo nggak pulang, Sar?" tanya seseorang yang membuyarkan lamunan Sarah. Gadis itu menoleh dan mendapati Fabian sedang berdiri di ambang pintu, sepertinya laki-laki itu akan keluar dari kelas.

Sarah menggeleng, Fabian menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu kembali masuk dan berjalan menuju meja Sarah, kemudian dia duduk di hadapan gadis itu.

"Muka lo kenapa kelihatan kayak anak kos di akhir bulan sih? Tertekan kah?"

Sarah terdiam sebentar lalu tiba-tiba dia tersenyum." Lo jago matematika nggak?" Tanya Sarah dengan kilatan mata yang penuh harap.

"Matematika sih gue bisa, tapi gue lebih jago kimia."

Sarah mengedipkan matanya beberapa kali dan senyuman yang dia tampakkan mulai luntur." Kalau gitu lo bisa nggak ngajarin matematika?"

Fabian terdiam sebentar nampak berpikir." Kalau buat ngajarin orang sih gue nggak percaya diri."

"Yah!"

Fabian tersentak, tiba-tiba saja Sarah terlihat sangat kesal. Apa ada yang salah dengan ucapannya?

"Lo itu sebenarnya Kenapa sih?"tanya Fabian heran.

Sarah kembali murung, ia hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Baru saja Fabian ingin menanyakan lagi alasan gadis itu terlihat murung, tapi panggilan dari temannya membuatnya tidak jadi bertanya.

"Gue udah dipanggil nih sama teman. Kalau gitu gue duluan ya."pamit Fabian dengan ramah dan hanya dibalas anggukan oleh Sarah.

"Jangan murung terus, mendingan lu pulang aja sana!"ucap Fabian sebelum akhirnya laki-laki itu pergi keluar kelas.

Sarah menatap Fabian yang sudah keluar kelas. Entah bagaimana ceritanya keduanya tiba-tiba menjadi dekat semenjak mereka berbicara di perpustakaan. Meskipun terkadang mereka masih terlihat canggung, setidaknya bagi laki-laki itu lili sama saja seperti teman perempuannya yang lain.

Saraf kemudian kembali melamun sembari menatap ke arah luar jendela, tiba-tiba matanya menangkap sosok laki-laki yang melangkah melewati kelasnya menuju ke gerbang sekolah. Dia adalah Marvin, laki-laki yang paling ingin dia hindari.

Tuhan, kenapa harus Marvin sih?

....

Entah berapa lama saraf sudah berdiri di gerbang sekolah, dan tentu saja tujuannya berada di sini adalah untuk menunggu seseorang.

"Cowok kutub itu mana sih?!" Ujar Sarah mengeluh, sudah beberapa kali Sarah berjongkok kemudian berdiri karena kakinya merasa pegal. Rasanya Sarah ingin pulang saja.

Tiba-tiba dia mendengar suara deru motor yang saling bersahutan, Sarah tebak itu adalah suara motor Marvin dan teman-temannya.

Baru saja dia akan memanggil nama laki-laki itu, tapi laki-laki itu langsung menghilang dari pandangannya bersama dengan motor yang dia bawa. Tangan kanan yang terangkat untuk menyapa sosok yang sedari tadi ditunggunya itu masih menggantung di atas. Kini dia terlihat seperti gadis bodoh, Marvin dan teman-temannya malah melewati Sarah begitu saja. Beberapa orang menetapnya dengan tatapan kasihan, untuk kesekian kali Sarah diacuhkan oleh laki-laki yang sama.

Detik itu juga, rasanya Sarah ingin menghilang saja.

....

Hari ini Sarah berangkat lebih awal dari biasanya, karena strateginya kemarin untuk menunggu Marvin saat pulang sekolah gagal. Maka dari itu ia akan mencoba di pagi hari.

"Mah aku berangkat dulu ya,"pamit Sarah pada orang tuanya lalu kemudian dia pergi keluar dari rumahnya.

Supaya lebih cepat sampai ke sekolah, untuk hari ini dia memakai mobil miliknya. Selama perjalanan menuju sekolah awalnya semua terlihat baik-baik saja, sampai di lampu merah terlihat orang yang sedang ingin menyeberang jalan namun tiba-tiba ia tersandung dan jatuh. Pergerakan orang itu sangat lambat, Sarah melihat ke arah lampu lalu lintas dan sebentar lagi lampu lalu lintas akan berwarna hijau.

"Ini nggak ada yang niat mau bantuin orang itu?"guman Sarah karena sepertinya tidak ada orang yang bersedia turun ke jalan dan membantu orang itu.

Dengan rasa simpati yang tinggi, cara akhirnya turun dari mobil dan membantu orang itu. Namun saat dia sedang membantu orang itu lampu tiba-tiba berubah menjadi hijau sehingga beberapa kendaraan sudah berlalu lalang terutama motor.

Suara klakson saling bersahutan membuat Sarah merasa gondok sendiri. "Santai aja dong?"teriak gadis itu.

"Makasih ya, nak." Ucap orang itu.

Setelah menolong orang itu Sarah segera menaiki mobilnya dan kembali melaju menuju sekolah, sesekali dia melirik jam tangannya sebentar lagi mungkin murid-murid yang lain akan segera berdatangan.

"Eh,kok? Yah kok mobilnya berhenti si?"

Sarah turun dari mobil dan melihat kondisi ban mobilnya, ternyata keempat ban mobilnya baik-baik saja. Dia lalu memeriksa mesin mobilnya, ternyata mobilnya mogok.

"Ya ampun, di saat genting begini kenapa harus mogok sih?"

Keluh Sarah.

Sarah mendengus keras, lalu mencari ponselnya di dalam mobil." Loh? Ini ponsel gue ke mana lagi?"

Sarah mencari di segala sisi mobilnya berharap jika ponselnya terjatuh, dia lalu mengecek kantong baju maupun roknya dan tidak menemukan benda yang dia cari. Cara menepuk jidatnya, dia lupa membawa ponselnya.

Sarah menghela napasnya." Oke Sarah, jangan panik. Kita minta tolong sama orang-" seketika Sarah mengantukkan bibirnya ketika melihat sekelilingnya tidak ada orang maupun kendaraan yang lewat. Lagi-lagi Sarah merutuki dirinya sendiri, dia baru ingat jika dirinya menggunakan jalur alternatif yang memang jarang dilewati oleh orang ataupun kendaraan. Tujuan awalnya menggunakan jalur itu supaya cepat sampai menuju sekolah tapi malah berujung seperti ini.

Sarah mengajak rambutnya frustasi. Sekarang Sarah bingung harus berbuat apa? Satu-satunya jalan yang bisa dia lakukan adalah menunggu di sana sampai ada orang yang lewat.

"Sial banget gue hari ini."

Sudah satu jam dia menunggu di sana dan sebentar lagi bel masuk sekolah akan berbunyi, namun tidak ada satupun orang maupun kendaraan yang lewat. Di tengah keputus asaan yaitu tiba-tiba terdengar suara motor dari kejauhan. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Sarah segera berlari ke tengah jalan sehingga membuat pengendara motor itu berhenti mendadak dan hampir membuatnya terjatuh.

"Lo gila ya?!" Bentak orang itu kepada Sarah.

Sarah tersentak, ia tahu perbuatannya salah tapi dia tidak menyangka jika pemilik motor yang dihentikan akan marah besar. Laki-laki yang merupakan pemilik motor itu membuka helmnya dan menatap tajam ke arah Sarah. Wajah laki-laki itu terlihat sangat kesal.

"Maaf, Vin. Tapi gue mau minta tolong." Ucap Sarah terbata-bata, dirinya tidak menyangka ternyata orang yang diberhentikannya adalah Marvin.

Marvin merapikan rambutnya ke belakang kemudian turun dari motor, mimik wajahnya yang datar dan tampak marah itu tidak luntur. Sarah sampai harus mundur beberapa langkah supaya laki-laki itu tidak marah lagi.

"Kenapa?" Tanya laki-laki itu.

"I-ni, mobilnya tiba-tiba mogok. Terus gue juga lupa bawa ponsel gue, jadi nggak ada yang bisa gue hubungi."

Marvin kemudian membuka kap mobil itu dan mengecek beberapa hal di sana. Entahlah sarah juga tidak paham apa yang laki-laki itu lakukan.

"Lu punya perkakas kan?"

" Punya."

"Bawa ke sini."

Sarah buru-buru mengambil perkakas yang diminta oleh Marvin di bagasi mobil, laki-laki itu terlihat fokus membenarkan mesin mobilnya, kemudian dia menyuruh gadis itu untuk mencoba menyalakan mesin mobilnya.

"Wah! Udah nyala mobilnya." Teriak Sarah sambil tersenyum lebar.

Marvin kemudian berjalan ke samping mobil dan mengetuk pintu kaca kemudi. Sarah pun menurunkan kacanya lalu Marvin menyerahkan perkakas milik Sarah dan berbalik menuju motornya kemudian bergegas pergi.

Sarah sampai tak habis pikir dibuatnya, dia bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih pada laki-laki itu.

...

Sial, Sarah tidak berhenti mengumpat dalam hati. Bagaimana tidak, ia dihukum karena terlambat dan hanya berjarak beberapa detik dari Marvin yang memasuki pintu gerbang. Hukumannya kali ini adalah mencabut rumput di halaman belakang.

Sebenarnya bisa saja salah mengabaikan hukuman ini, tapi mengingat Sarah adalah anak donatur utama di sekolah ini. Dan Sarah juga sudah menetapkan diri untuk berubah dan tidak ingin memanfaatkan kekuasaan orang tuanya.

"Gue yakin banget, gue ini dikutuk di kehidupan kali ini,"ocehnya di sela-sela hukuman.

"Tumben banget putri kerajaan mau dihukum,"ejek seorang siswa yang tak lain dan tak bukan adalah Tamara, musuh bebuyutannya sedari dulu.

Sarah tidak menggubris ucapan gadis itu, ia mau milih melanjutkan hukumannya agar cepat selesai. Tamara yang kesal karena ucapannya tidak digubris, menghantarkan kakinya namun karena tidak hati-hati dia tersandung dan terperosok tepat di samping Sarah yang sedang mencabut rumput.

"Tuh kan, makanya jangan suka ngejek orang. Kualat kan lo." Sarah tertawa puas dan Tamara mendorong Sarah sehingga garis itu ikut terjatuh.

"Lo ngapain sih dorong gue?"

"Suruh siapa lo ngejek gue?"

Mereka pun bertengkar di atas rumput yang kotor sehingga keadaan Mereka terlihat kacau. Tanpa sadar dari jauh ada Bu Rara yang menghampiri mereka.

"Sarah! Tamara! Apa yang kalian lakukan!"

"Mampus gue!"

1
Queen AL
baru satu bab, bab berikut2nya jangan pake gue lo thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!