Nomella Kamiyama, mahasiswi pindahan dari New York, tiba di California dengan satu misi: mempertahankan kesempurnaan hidupnya—mulai dari penampilan, kecerdasan, hingga kontrol diri yang absolut.
Namun, panggung sempurnanya terusik oleh kehadiran Zeus Sterling, pria paling populer di kampus yang dikenal sangat hangat, narsis, dan gemar menebar pesona.
Di mata Nomella, Zeus hanyalah gangguan visual yang "sok ganteng," sementara bagi Zeus, Nomella adalah tantangan bagi egonya yang setinggi langit.
Namun, di balik senyum menawan dan keramahan yang luar biasa, Zeus menyimpan rahasia kelam. Ia adalah pria yang aslinya dingin dan hancur, yang kini hidup dalam "identitas" kakaknya, Zayn, yang tewas dalam kecelakaan balap tragis. Zeus menolak semua wanita dan hanya ingin langsung menikah, sebuah bentuk duka ekstrem yang ia jalani demi memenuhi ekspektasi orang tuanya dan dunia.
Ketegangan memuncak saat Nomella mulai membongkar topeng Zeus, memicu sisi gelap sang pria yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keajaiban dalam labirin kebohongan
Ponsel di atas nakas bergetar singkat, menampilkan sebuah pesan masuk yang sudah sangat akrab bagi Nomella selama sebulan terakhir. Itu dari Elena Sterling, ibu mertuanya.
Dengan jemari yang sedikit gemetar setelah percakapan telepon misterius di balkon tadi, Nomella membuka pesan itu.
"Mella, Sayang... Mama tidak bisa berhenti berterima kasih padamu. Melihat Zeus tertawa lagi, melihatnya begitu bersemangat menyiapkan masa depan untuk kalian dan bayi itu... kau adalah mukjizat bagi keluarga ini. Terima kasih telah menyembuhkan putraku, Mella. Mama tahu dia bahagia bersamamu."
Nomella menatap layar itu dengan perasaan yang remuk. Menyembuhkan? batinnya menjerit. Elena tidak tahu bahwa kebahagiaan Zeus dibangun di atas fondasi delusi yang sangat rapuh. Ibu mertuanya mengira Zeus sudah sembuh, sementara Nomella baru saja menyadari bahwa suaminya hanya sedang "bersembunyi" di dalam sebuah mimpi indah yang tidak nyata.
Ia menoleh, menatap Zeus yang sedang bersiul kecil sambil merapikan kerah kemejanya di depan cermin. Pria yang awalnya ia benci dengan seluruh sel tubuhnya, pria narsis yang ingin ia hancurkan, kini tampak seperti anak kecil yang baru saja menemukan dunianya kembali.
Nomella merasa seperti seorang penipu ulung yang sedang menuntun seorang buta menuju tepi jurang.
Perjalanan menuju rumah sakit terasa sangat menyesakkan. Nomella yang biasanya penuh dengan kata-kata tajam, kini lebih banyak terdiam menatap ke luar jendela Mercedes mereka. Pikirannya kalut antara telepon psikiater tadi dan fakta bahwa ia harus terus bersandiwara tentang janin yang tidak ada.
"Kenapa kau diam saja, Mommy?" Zeus bertanya dengan nada lembut sambil mengemudi. Tangan kanannya menjangkau tangan Nomella, menggenggamnya erat. "Apa mualnya datang lagi?"
Nomella menarik napas panjang, amarahnya tiba-tiba meluap karena rasa frustrasi yang tak tertahankan. "Hentikan, Zeus! Aku muak! Aku muak dengan panggilan itu, aku mual, sangat mual dengan akting ini!"
Nomella menatap Zeus dengan mata memerah. "Berhentilah bertingkah seolah ada kehidupan di dalam perutku! Kita berdua tahu itu bohong! Kau hanya sedang lari dari kenyataan, dan aku muak terseret dalam kegilaanmu!"
Mendengar ledakan itu, Zeus tidak membalas dengan amarah. Ia justru menepikan mobilnya di bahu jalan yang sepi. Ia menoleh, menatap Nomella dengan pandangan yang begitu teduh hingga Nomella ingin berteriak.
Zeus meletakkan telapak tangannya di perut Nomella, lalu berbisik dengan nada yang sangat rendah dan penuh permohonan.
"Nak... jangan siksa Mommy-mu hari ini, oke? Papa tahu kau ingin bermain, tapi Mommy sedang lelah. Tolong... tenangkan dirimu di dalam sana agar Mommy bisa tersenyum lagi."
Nomella sudah siap untuk memaki, namun tiba-tiba, rasa mual yang sejak pagi melilit lambungnya secara ajaib menghilang. Rasa sesak di dadanya mengendur. Keheningan yang aneh menyelimuti kabin mobil itu.
Berhenti. Mualnya benar-benar berhenti.
Nomella tertegun, menatap tangan Zeus di perutnya.
Apakah ini kekuatan sugesti? Ataukah kegilaan Zeus memang sekuat itu hingga bisa memengaruhi fisiknya?
Tanpa kata lagi, Zeus kembali menjalankan mobilnya menuju pusat medis ternama tempat mereka sudah memiliki janji USG.
Di dalam ruang periksa yang serba putih, Nomella berbaring di atas ranjang periksa dengan jantung yang berdegup tak beraturan. Ia sudah menyiapkan skenario: ia telah menyuap perawat agar menampilkan rekaman USG lama milik orang lain. Ia harus menjaga delusi Zeus agar pria itu tidak hancur di sini.
Dokter kandungan, yang merupakan kenalan keluarga Sterling, mengoleskan gel dingin di perut Nomella. Zeus berdiri di sampingnya, menggenggam tangan Nomella begitu kencang, matanya terpaku pada layar monitor hitam putih di depan mereka.
Layar itu awalnya hanya menampilkan bintik-bintik abu-abu. Namun, saat dokter menggerakkan alatnya, sebuah titik kecil muncul. Sebuah kantung kecil dengan denyut yang sangat lemah namun konstan.
Dug... dug... dug...
Nomella tidak bergeming. Ia menatap layar itu dengan napas yang tertahan. Tunggu, ini bukan rekaman yang aku pesan, batinnya. Titik itu terlihat sangat nyata. Ukurannya pas. Posisinya pas.
"Selamat, Tuan dan Nyonya Sterling," ujar Dokter itu dengan senyum tulus. "Kehidupan ini sudah berjalan sekitar empat minggu. Sangat sehat. Denyut jantungnya kuat."
Dunia seolah runtuh bagi Nomella. Ia merasa kepalanya berputar. Empat minggu? Itu tepat satu bulan yang lalu—malam pertama mereka. Malam di mana ia mengira mereka hanya saling menyakiti.
Nomella segera menepis kenyataan itu. Pikirannya langsung beralih pada kecurigaan. Ini pasti skenario ibu mertuaku. Elena pasti tahu Zeus masih sakit.
Elena pasti bekerja sama dengan dokter ini untuk menciptakan kebohongan yang lebih besar agar Zeus tidak jatuh ke dalam depresi lagi. Nomella yakin, ini adalah manipulasi tingkat tinggi keluarga Sterling untuk menjaga "warisan" mereka tetap stabil.
Namun, saat ia menoleh ke arah Zeus, Nomella melihat sesuatu yang menghancurkan seluruh pertahanannya.
Zeus tidak bersorak. Ia tidak tertawa narsis. Pria itu justru jatuh berlutut di samping ranjang periksa, membenamkan wajahnya di telapak tangan Nomella, dan menangis tersedu-sedu. Tubuhnya bergetar hebat. Isakannya terdengar begitu menyayat hati, sebuah tangisan syukur dari seorang pria yang merasa telah diberikan kesempatan kedua oleh Tuhan untuk menghapus dosanya sebagai seorang pembunuh.
"Dia ada, Mella..." bisik Zeus di sela isakannya. "Dia benar-benar ada. Aku bukan monster... aku akan punya keluarga..."
Melihat Zeus yang begitu hancur dalam kebahagiaan, Nomella tidak peduli lagi apakah ini skenario Elena atau bukan. Entah ini nyata atau hanya permainan medis, melihat Zeus yang selama ini ia anggap sebagai predator berubah menjadi manusia yang begitu rapuh, membuat hati Nomella luluh total.
Apapun yang terjadi, ia tidak bisa menghancurkan momen ini.
Nomella mengulurkan tangannya, membelai rambut Zeus yang masih berlutut di sampingnya. Ia menarik Zeus ke dalam pelukannya yang erat.
"Iya, Zeus..." bisik Nomella, air matanya sendiri ikut jatuh membasahi kemeja suaminya. "Dia ada di sana. Anak kita nyata."
Di ruang yang sunyi itu, Nomella memutuskan untuk membuang segala dendamnya. Jika kehamilan ini adalah sebuah kebetulan biologis ataukah hanya trik medis mertuanya, ia akan menjaganya seolah-olah itu adalah kebenaran mutlak. Ia memeluk Zeus lebih erat, berjanji dalam hati bahwa ia akan menjadi pelindung bagi suaminya yang masih sakit itu, meski ia sendiri harus ikut terjun ke dalam labirin delusi yang tak berujung.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰