NovelToon NovelToon
CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

CINTA TERLARANG : BOSS DAN KARYAWAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Restoran bergaya kontemporer itu terasa begitu sunyi meski beberapa meja di sekitarnya terisi. Alunan musik jazz instrumen mengalun lembut, kontras dengan gemuruh di dada Dinda saat ia duduk berhadapan dengan Allandra Ryuga. Di atas meja, hidangan mewah yang disajikan seolah kehilangan selera bagi Dinda.

Alan meletakkan garpunya, menatap Dinda dengan intensitas yang tak tergoyahkan. "Saya sudah mendapatkan laporan terbaru dari tim dokter di Singapura. Ada sebuah rumah sakit yang memiliki spesialisasi dalam regenerasi sel darah untuk kasus leukemia langka seperti adik Anda."

Dinda tertegun, tangannya yang memegang sendok sedikit gemetar. "Singapura? Tuan, itu... itu terlalu jauh. Dan biayanya..."

"Biaya bukan variabel yang perlu Anda pusingkan, Dinda," potong Alan dingin, namun matanya tetap terkunci pada wajah Dinda. "Saya ingin membawa Dita ke sana bulan depan. Fasilitas di sana jauh lebih lengkap, dan kemungkinan kecocokan donor sumsum tulang belakang yang saya cari akan lebih cepat diproses di sana."

Dinda menunduk, menatap pantulan dirinya di permukaan meja kaca. "Tuan Alan... kenapa? Kenapa Anda melakukan ini semua? Saya hanya sekretaris Anda. Saya tidak akan pernah bisa membalas semua ini, bahkan jika saya bekerja seumur hidup untuk Ryuga Corp."

Alan menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di depan dada. "Saya tidak meminta Anda membalas dalam bentuk uang, Dinda. Anggap saja ini investasi untuk memastikan asisten pribadi saya tidak bekerja dengan pikiran yang terbagi karena mencemaskan adiknya."

"Tapi Dika..." Dinda menggantung kalimatnya, membayangkan reaksi adiknya jika tahu mereka harus pindah ke luar negeri atas biaya Alan. "Dika tidak akan pernah setuju. Dia lebih memilih menderita daripada harus berhutang budi pada pria yang dianggapnya ingin 'membeli' martabat keluarga kami."

Rahang Alan mengeras. "Adikmu itu masih remaja. Dia hanya melihat dunia dari sudut pandang hitam dan putih. Dia mengedepankan harga diri di atas nyawa. Tapi Anda, Dinda... Anda jauh lebih dewasa. Apakah Anda tega melihat Dita layu hanya karena ingin menjaga ego adik laki-laki Anda?"

Dinda terdiam. Kata-kata Alan menghantamnya tepat di ulu hati. Kejam, namun mengandung kebenaran yang tak terbantahkan.

"Saya tidak memaksa Anda menjawab sekarang," lanjut Alan, suaranya kembali datar dan dingin, namun penuh tekanan. "Tapi ingat satu hal: Penyakit Dita tidak menunggu keputusan Dika. Pikirkan baik-baik. Kesempatan ini tidak datang dua kali."

**

Makan siang itu berakhir dengan kecanggungan yang menggantung. Saat mereka melangkah keluar, sebuah sedan hitam sudah menunggu.

"Supir akan mengantar Anda kembali ke kantor. Saya ada urusan mendadak yang harus diselesaikan," ujar Alan singkat.

"Tuan tidak kembali ke kantor?" tanya Dinda heran.

"Ada panggilan dari Ibu saya. Sesuatu yang mendesak di rumah utama," Alan menjawab tanpa menoleh, matanya menatap layar ponselnya yang terus bergetar.

Dinda mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Terima kasih untuk makan siangnya."

Alan hanya mengangguk kecil, memberikan isyarat pada supir untuk segera berangkat. Ia berdiri di trotoar, menatap mobil yang membawa Dinda menjauh. Entah mengapa, setiap kali Dinda pergi dari pandangannya, ada rasa kosong yang aneh merayap di dadanya. Ketangguhan wanita itu, kesederhanaannya, dan caranya melindungi keluarganya telah menarik Alan masuk ke dalam pusaran emosi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

***

Sesampainya di kediaman mewah keluarga Ryuga, Alan disambut oleh suasana yang tidak biasa. Di ruang tamu utama yang luas, ibunya, Nyonya Sofia Ryuga, duduk bersama seorang pria paruh baya dan seorang wanita muda yang tampak sangat elegan dengan balutan dress desainer ternama.

"Alan, akhirnya kamu pulang," sapa Nyonya Sofia dengan senyum lebar yang dipaksakan.

Alan melangkah masuk dengan wajah datar. "Ada apa, Ma? Sepertinya ada tamu penting."

"Alan, kenalkan, ini Tuan Wardhana, rekan lama mendiang papamu. Dan ini putrinya, Carissa," Nyonya Sofia memperkenalkan mereka dengan nada bangga.

Carissa berdiri, mengulurkan tangan dengan senyum manis yang terlatih. "Halo, Alan. Senang akhirnya bisa bertemu langsung."

Alan menjabat tangannya singkat, nyaris dingin. "Selamat siang."

Tuan Wardhana berdehem, mencoba mencairkan suasana. "Alan, kami ke sini untuk membicarakan sesuatu yang serius. Papamu dan saya pernah memiliki kesepakatan informal untuk menyatukan Wardhana Group dan Ryuga Corp melalui sebuah ikatan keluarga. Kami pikir, sekarang adalah waktu yang tepat bagi kamu dan Carissa untuk mulai mengenal lebih jauh."

Nyonya Sofia menambahkan, "Carissa baru saja pulang dari London, Alan. Dia memiliki latar belakang manajemen yang sangat bagus. Dia akan menjadi pasangan yang sempurna untuk memimpin Ryuga Corp bersamamu."

Alan terdiam sejenak. Memorinya mendadak memutar kembali wajah Dinda yang sedang serius mengetik laporan, wajah Dinda yang pucat namun tegar, dan binar matanya saat membicarakan adik-adiknya. Perbandingan antara Carissa yang serba sempurna secara lahiriah dengan Dinda yang penuh luka kehidupan terasa sangat kontras di kepalanya.

"Maaf, Tuan Wardhana. Ibu," suara Alan terdengar berat dan tegas, memotong pembicaraan yang baru saja akan dimulai.

"Ada apa, Alan?" tanya Nyonya Sofia, senyumnya mulai memudar.

"Saya menghargai niat baik ini, dan saya sangat menghormati mendiang Papa. Tapi saya harus menolak perjodohan ini," ujar Alan mutlak.

Ruangan itu mendadak hening. Carissa tampak terkejut, sementara wajah Tuan Wardhana memerah karena merasa terhina.

"Alan! Apa maksudmu? Kamu tidak bisa menolak begitu saja tanpa mencoba!" tegur Nyonya Sofia dengan nada tinggi.

Alan menatap ibunya dengan tatapan tajam yang tidak bisa dibantah. "Saya menolak karena saya tidak bisa memberikan apa yang Carissa harapkan. Hati saya sudah tidak kosong lagi, Ma."

"Maksudmu?"

"Saya sudah memiliki kekasih," ucap Alan bohong, namun ia mengatakannya dengan keyakinan seolah itu adalah fakta. "Dan saya tidak memiliki niat sedikit pun untuk meninggalkannya demi kepentingan bisnis atau kesepakatan masa lalu."

"Siapa dia? Dari keluarga mana?!" Nyonya Sofia bertanya dengan nada menuntut.

"Dia bukan dari kalangan Anda, Ma. Dan itu tidak penting bagi saya. Yang penting adalah dia adalah wanita yang saya pilih. Maaf, saya harus kembali ke kantor. Permisi, Tuan Wardhana, Carissa."

Alan berbalik, melangkah keluar dengan gagah, meninggalkan kekacauan di ruang tamu tersebut. Di dalam mobilnya, Alan bersandar dan memejamkan mata. Ia tahu pengakuannya barusan akan membawa badai baru, terutama bagi Dinda jika ibunya mulai menyelidiki.

**

Sementara itu, di kantor, Dinda tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Pikirannya melayang pada tawaran Alan tentang Singapura. Ia membayangkan Dita yang bisa berlari kembali, Dita yang bisa tumbuh besar tanpa bayang-bayang jarum suntik setiap bulan.

Namun, ia juga membayangkan Dika. Dika yang bekerja keras di pasar, Dika yang membenci Allandra Ryuga dengan seluruh jiwanya.

"Apa yang harus aku lakukan?" bisik Dinda pada dirinya sendiri.

Ponselnya berdering. Pesan singkat dari Dika masuk.

“Kak, Dita tadi di sekolah senang banget. Nilai tugas matematikanya paling tinggi di kelas. Aku udah beliin buah-buahan buat di rumah. Jangan pulang terlalu malam ya, Kak.”

Air mata Dinda jatuh tanpa bisa dibendung. Kebahagiaan adik-adiknya adalah segalanya, namun harga yang harus dibayar terasa semakin mahal setiap harinya. Ia merasa seperti berjalan di atas tali tipis yang bisa putus kapan saja.

Di sisi lain kota, Alan sedang menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi, pikirannya hanya tertuju pada satu nama: Adinda.

"Dinda... entah kamu suka atau tidak, kamu sudah masuk ke dalam duniaku," gumam Alan tajam, matanya menatap lurus ke depan dengan tekad yang mengerikan.

***

Bersambung...

...****************...

Hai kak, yang suka cerita ini boleh komen ya kak.. Biar author lebih semangat buat bab selanjutnya...

🥰 terimakasih

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!