NovelToon NovelToon
RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Anak Genius
Popularitas:294
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 4

Jek melangkah melewati ambang pintu batu, merasakan sensasi seperti melewati tirai air yang hangat. Di dalam, ruangan itu tidak gelap. Dinding-dinding gua yang semula terlihat alami berubah menjadi panel-panel kristal yang memancarkan cahaya pudar. Di tengah ruangan, sebuah meja batu besar dikelilingi oleh kursi-kursi yang terbuat dari material yang tampak seperti campuran antara obsidian dan serat karbon.

"Jek, lihat ini," bisik Rara, jarinya menunjuk ke arah relief di dinding.

Relief itu tidak menggambarkan peperangan dengan pedang dan panah biasa. Di sana terpahat gambar kapal-kapal besar yang melayang di atas laut, dan para prajurit yang mengenakan pelindung kepala dengan lensa transparan—persis seperti retina display yang dimiliki Jek.

"Ini bukan masa depan, Ra," kata Jek sambil menyentuh panel kristal yang tiba-tiba menyala saat mendeteksi keberadaannya. "Ini adalah teknologi yang pernah ada, namun sengaja dikubur agar tidak disalahgunakan oleh mereka yang haus kekuasaan. 'Sistem' ini... ia mencari inang yang tahu rasanya tidak memiliki apa-apa, agar saat ia memiliki segalanya, nuraninya tidak mati."

Tiba-tiba, suara deru mesin terdengar dari arah luar gerbang. Suara itu kontras dengan kesunyian hutan—suara mesin militer yang berat dan canggih.

Jek memejamkan mata. Melalui sistemnya, ia bisa melihat tiga helikopter siluman mendarat di kliring hutan, membawa pasukan paramiliter dengan zirah hitam tanpa lambang. Di tengah mereka, seorang wanita muda dengan kacamata pintar berdiri tegak. Ia adalah putri dari sang Arsitek, yang selama ini bergerak di bayang-bayang ayahnya.

"Mereka menemukan kita," kata Jek tenang. "Dan mereka tidak ke sini untuk bicara. Mereka ingin mengambil inti dari tempat ini."

Rara menatap Jek, tidak ada keraguan di matanya. "Apa yang harus kita lakukan? Kalau mereka mendapatkan teknologi ini, mereka akan mengulangi kesalahan yang sama seperti ayah mereka."

Jek tersenyum, namun kali ini ada kilat keemasan di matanya. Ia meletakkan telapak tangannya di pusat meja batu. "Sistem tidak hanya memilihku untuk membagikan energi, Ra. Ia memilihku untuk menjadi penjaganya."

"Otorisasi Diterima: Protokol Gajah Mada Aktif," suara sistem bergema kuat, kali ini terdengar oleh Rara juga.

Sekeliling mereka mulai bergetar. Tanah di depan gerbang luar tiba-tiba terbuka, memunculkan tiang-tiang pemancar kuno yang memancarkan gelombang elektromagnetik tingkat tinggi. Helikopter yang baru saja mendarat seketika mati total, sistem navigasi mereka terbakar dalam hitungan detik. Para tentara bayaran itu terpaku, senjata canggih mereka mendadak menjadi besi tua yang tak berguna.

Jek berbalik menghadap pintu masuk, di mana wanita muda itu kini berdiri dengan napas terengah-engah, memegang senjata manual yang gemetar.

"Tempat ini bukan milikmu, juga bukan milikku untuk dikuasai," kata Jek dengan suara yang berwibawa. "Kembalilah. Katakan pada mereka yang mengirimmu, bahwa 'Kaisar Bayangan' telah menemukan takhtanya yang sebenarnya. Dan takhta itu tidak ada di bursa saham, tapi di sini, menjaga warisan yang akan memastikan dunia ini tetap adil."

Wanita itu menjatuhkan senjatanya, terpesona sekaligus ketakutan melihat pendar cahaya yang keluar dari tubuh Jek.

Setelah mereka mundur, Jek kembali menoleh ke arah Rara. "Perjalanan kita baru saja dimulai, Ra. Dunia mungkin akan berubah besok, tapi malam ini, aku butuh kopi saset itu."

Rara tertawa kecil, air mata lega menggenang di sudut matanya. Ia mengeluarkan termos dan dua cangkir plastik dari tasnya. Di tengah kemegahan teknologi purba yang bisa menghancurkan atau membangun peradaban, mereka duduk bersila di lantai dingin, menikmati kebersamaan yang sederhana.

Jek menyesap kopi dari cangkir plastiknya, membiarkan uap panasnya menyentuh wajahnya. Di sekeliling mereka, teknologi purba itu berdenyut pelan, seperti jantung raksasa yang baru saja bangun dari tidur ribuan tahun.

"Tempat ini bisa melakukan segalanya, Ra," kata Jek sambil menatap deretan data yang mengalir di dinding kristal. "Memurnikan air laut menjadi air tawar dalam sekejap, menyerap karbon di atmosfer seolah itu bukan apa-apa, bahkan menyembuhkan tanah yang sudah mati karena limbah kimia."

Rara mengangguk, namun tatapannya tetap tertuju pada Jek. "Tapi harganya, Jek? Dunia di luar sana belum siap. Jika kamu mengubah dunia dalam semalam, mereka tidak akan belajar. Mereka hanya akan bergantung padamu sebagai 'Tuhan' baru, dan saat itu terjadi, kemanusiaan mereka yang hilang."

Jek tertegun. Kata-kata Rara selalu menjadi rem yang tepat di saat otaknya ingin melesat terlalu jauh. "Kamu benar. Kalau aku memberikan semuanya secara instan, akan ada perang baru untuk memperebutkan siapa yang paling berhak atas 'keajaiban' ini."

Tiba-tiba, sebuah proyeksi peta dunia muncul di tengah ruangan. Ribuan titik merah berkedip di sana—titik-titik kelaparan, krisis air, dan polusi ekstrem. Sistem di kepala Jek memberikan simulasi: jika ia mengaktifkan fitur restorasi global sekarang, probabilitas terjadinya konflik bersenjata global meningkat hingga 85% karena ketidakstabilan ekonomi mendadak.

"Aku tidak akan mengaktifkannya secara global," Jek akhirnya memutuskan. Jari-jarinya bergerak halus, memilah data. "Kita akan melakukannya lewat 'Eco-System J'. Secara bertahap, seolah-olah ini adalah hasil riset teknologi manusia masa kini. Kita akan menyamarkannya sebagai inovasi, bukan keajaiban."

Jek kemudian berdiri dan berjalan menuju salah satu pilar cahaya. Ia meletakkan tangannya di sana, dan sebuah kunci fisik kecil berbentuk kepingan logam hitam muncul dari celah dinding. Ia memberikannya kepada Rara.

"Ini adalah otorisasi kedua," bisik Jek. "Sistem ini memintaku untuk memiliki seorang 'Penjaga Nurani'. Jika suatu saat aku mulai kehilangan akal sehatku karena kekuatan ini, atau jika aku mulai berpikir seperti sang Arsitek... gunakan kunci ini untuk mematikan seluruh aksesku. Secara permanen."

Rara menerima kepingan logam itu dengan tangan gemetar. "Kamu memberikan kendali atas dunia padaku, Jek?"

"Bukan dunia, Ra. Kamu memegang kendaliku," jawab Jek tulus. "Karena tanpamu, aku hanya sekumpulan kode dan algoritma tanpa tujuan."

Di luar gua, fajar kedua sejak mereka memulai perjalanan ini mulai menyapa. Jek tahu bahwa saat mereka keluar dari tempat ini, ia tidak lagi sekadar seorang miliarder atau penguasa bursa saham. Ia adalah jembatan antara masa lalu yang agung dan masa depan yang penuh harapan.

Ia mengaktifkan mode kamuflase untuk tempat tersebut. Dalam sekejap, gerbang batu itu tampak kembali seperti dinding tebing biasa yang tertutup lumut. Tidak ada radar atau satelit yang bisa menemukannya lagi.

"Mari kita pulang," kata Jek sambil merangkul Rara. "Kita punya panti asuhan yang harus dikunjungi, dan sebuah dunia yang harus kita perbaiki... selangkah demi selangkah."

Sambil berjalan menuju mobil, Jek melirik notifikasi terakhir yang muncul di sudut matanya. Kali ini bukan tentang profit atau ekspansi, melainkan sebuah pesan sederhana dari Sistem yang seolah telah beradaptasi dengan hatinya: "Status Pengguna: Manusia seutuhnya. Misi: Menjaga Keseimbangan."

Jek tersenyum. Badai mungkin akan tetap datang, musuh baru mungkin akan muncul dari balik bayang-bayang politik, tapi selama ia memiliki Rara dan kopi saset di tasnya, sang Kaisar Bayangan tahu bahwa ia tidak akan pernah benar-benar kalah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!